Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALASAN DI BALIK KEPUTUSAN
Siang itu, Evan mengundang Rina dan beberapa teman dekatnya ke kedai kopi kecil yang biasa mereka kunjungi setelah sekolah. Tempat yang biasanya ramai dengan tawa dan obrolan santai kini terasa lebih tenang, karena semua orang ingin mendengar penjelasan Evan tentang keputusannya yang mengejutkan – mendaftar menjadi tentara sambil melanjutkan kuliah kedokteran.
Setelah pesanan mereka datang, Evan mulai membuka pembicaraan dengan tatapan yang jelas dan penuh keyakinan. "Saya tahu kalian semua mungkin merasa heran atau bahkan khawatir ketika mendengar bahwa saya akan mendaftar menjadi tentara. Jadi saya ingin menjelaskan alasan sebenarnya di balik keputusan ini."
Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Sejak Kakek Darmo pergi, saya merasa ada tanggung jawab yang lebih besar untuk menggunakan ilmu yang diajarkan padaku dengan cara yang paling bermanfaat. Saya tahu bahwa melanjutkan kuliah kedokteran adalah langkah penting untuk menggabungkan ilmu tradisional dan modern. Tapi saya juga merasa bahwa hanya bekerja di rumah sakit atau membuka klinik tidak cukup."
Rina mengangguk dengan penuh perhatian, sementara teman-teman lain mendengarkan dengan seksama.
"Ketika saya mengunjungi kantor rekrutmen tentara kemarin," lanjut Evan, "saya menyadari bahwa menjadi tentara bisa memberikan kesempatan yang luar biasa. Pertama, saya bisa melayani negara dan membantu melindungi orang-orang yang tidak berdaya. Kakek Darmo selalu mengajarkan saya bahwa ilmu beladiri bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, namun juga untuk melindungi orang lain. Sebagai tentara, saya bisa mengaplikasikan nilai itu secara luas."
Ia menjelaskan lebih lanjut, "Kedua, sebagai bagian dari korps medis militer, saya akan memiliki kesempatan untuk bekerja di daerah-daerah terpencil atau bahkan di luar negeri di tempat-tempat yang membutuhkan bantuan kesehatan. Di sana, ilmu pengobatan tradisional yang saya pelajari dari Kakek akan sangat berharga – terutama ketika fasilitas kesehatan modern tidak tersedia atau sulit dijangkau."
"Saya juga akan bisa mengembangkan kemampuan saya dengan baik," tambah Evan dengan semangat. "Militer memiliki program pelatihan yang sangat baik untuk ilmu pertahanan diri, manajemen darurat, dan juga penelitian medis. Saya bisa belajar teknik baru yang bisa saya gabungkan dengan ilmu tradisional, sehingga bisa memberikan perawatan yang lebih efektif bagi pasien."
Salah satu teman, Budi, mengangkat tangan untuk bertanya. "Tapi tidak takutkah kamu dengan risiko yang mungkin kamu hadapi sebagai tentara? Apalagi jika harus ditempatkan di daerah konflik atau tempat yang berbahaya?"
Evan tersenyum lembut sebelum menjawab. "Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya tidak takut. Tapi saya percaya bahwa setiap pekerjaan yang bermanfaat memiliki risikonya sendiri. Selain itu, saya telah belajar ilmu beladiri dari Kakek Darmo bukan hanya untuk menyerang, namun juga untuk menghindari bahaya dan melindungi diri serta orang lain dengan cara yang bijak."
Ia melanjutkan, "Selain itu, Angkatan Darat memiliki prosedur dan perlengkapan yang baik untuk melindungi personelnya. Dan saya tidak akan ditempatkan di medan perang begitu saja – saya akan menjadi bagian dari korps medis, yang tugas utamanya adalah menyelamatkan nyawa dan membantu orang yang sakit atau terluka."
Rina kemudian berbicara dengan suara yang penuh dukungan. "Saya mengerti alasanmu, Evan. Sejak dulu kamu selalu ingin membantu sebanyak mungkin orang. Menjadi tentara memang akan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk itu. Dan dengan ilmu kedokteran yang kamu pelajari, kamu bisa menjadi orang yang sangat berharga bagi banyak orang."
Ia menambahkan, "Kita semua tahu bahwa kamu tidak akan membuat keputusan sembarangan. Kamu pasti sudah mempertimbangkannya dengan matang dan tahu apa yang kamu lakukan."
Evan merasa sangat bersyukur memiliki teman-teman yang memahaminya. Ia kemudian menjelaskan tentang program kolaborasi antara universitas dan militer yang akan memungkinkannya untuk melanjutkan studi sambil menerima pelatihan militer. "Saya akan kuliah seperti mahasiswa biasa selama beberapa tahun, namun juga akan mengikuti pelatihan militer secara berkala. Setelah lulus, saya akan ditempatkan di unit medis militer sesuai dengan kebutuhan dan keahlian saya."
"Saya juga berencana untuk mengembangkan program khusus di dalam militer tentang pengobatan komplementer," ujar Evan dengan mata yang bersinar. "Saya ingin mengajarkan kepada rekan-rekan medis lainnya tentang manfaat ilmu pengobatan tradisional dan bagaimana cara menggunakannya dengan aman dan efektif bersama dengan pengobatan modern."
Setelah mendengar penjelasan lengkap dari Evan, semua teman nya merasa lebih mengerti dan memberikan dukungan penuh. Mereka bahkan menawarkan bantuan untuk membantu Evan dalam persiapan seleksi – mulai dari membantu belajar untuk tes akademik hingga berolahraga bersama untuk meningkatkan kondisi fisiknya.
"Saya akan membantu kamu belajar tentang ilmu kedokteran dasar," ujar Rina dengan antusias. "Karena saya akan kuliah di fakultas farmasi, saya juga bisa membantu kamu mempelajari tentang interaksi antara obat tradisional dan obat modern."
Budi juga menawarkan bantuan. "Saya sudah pernah mengikuti tes fisik untuk masuk akademi militer beberapa waktu lalu. Saya bisa mengajari kamu teknik yang benar untuk lari, push-up, sit-up, dan tes fisik lainnya."
Evan merasa hati nya penuh dengan rasa syukur dan semangat. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan ia tempuh tidak akan mudah, namun dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman seperti ini, ia merasa bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai.
Pada malam hari, Evan kembali ke kosannya dan membuka kotak kayu berisi warisan Kakek Darmo. Ia mengambil buku catatan kuno yang berisi teknik beladiri dan pengobatan, serta surat terakhir dari Kakek Darmo. Ia membaca kembali pesan leluhurnya dengan hati-hati:
"Ilmu yang kamu miliki adalah anugerah yang harus kamu gunakan untuk kebaikan. Jangan pernah ragu untuk mengambil jalan yang berbeda jika itu adalah jalan yang benar dan bisa membawa manfaat bagi banyak orang."
Evan tersenyum sambil menyentuh kalung batu giok di lehernya. Ia tahu bahwa Kakek Darmo pasti akan sangat bangga dengan keputusannya. Dengan menggabungkan pendidikan kedokteran modern, ilmu tradisional leluhur, dan layanan sebagai tentara, ia akan bisa mencapai tujuan yang lebih besar – membantu melindungi dan menyembuhkan sebanyak mungkin orang, serta membawa perubahan positif bagi masyarakat dan negara.
Dengan tekad yang semakin kuat dan hati yang penuh harapan, Evan bersiap menghadapi babak baru dalam hidupnya. Ia tahu bahwa ada banyak tantangan yang menanti di depan, namun ia juga yakin bahwa setiap langkah yang ia ambil akan membawa dia lebih dekat untuk mewujudkan impian yang telah ia bangun bersama leluhurnya.