Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjalan tanpa sadar
Di istana, sang Kaisar sedang berada di kamarnya, Dia berbicara dengan salah satu pengawal bayangan kepercayaannya, sang pengawal memberi informasi mengenai apa yang dilakukan oleh permaisuri terbuang. ketika dia mendapatkan kabar dari sang pengawal bayangan Kaisar Han seperti tidak percaya, pengawal bayangan menceritakan mengenai Apa yang dilakukan oleh istri terbuang sang Kaisar.
Pengawal itu menceritakan mengenai bagaimana Ling Xu-mei berada di rumah judi, bertengkar berkelahi bahkan dia dengan begitu mudahnya mengambil beberapa barang tanpa ada yang menyadari. Kaisar Han yang mendengar informasi itu dia terbelalak tidak percaya, dia meminta pengawal bayangan untuk mengulangi kembali setiap informasi yang dia dapatkan, bahkan sang Kaisar seolah mendapatkan sebuah cerita yang kemungkinan tidak akan diam percayai.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan ini?" Kaisar Han berulang kali menanyakan hal itu.
Tetap saja pengawal bayangan menganggukkan kepalanya dan mengiyakan semua yang dia katakan. sang kaisar kemudian mencoba untuk memahami bahkan mencerna setiap informasi yang diberikan orang oleh orang kepercayaannya itu. "Baiklah kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu terus ikuti wanita itu kemanapun dia pergi, jika dia melakukan kesalahan langsung saja kamu bereskan dia." perintah sang Kaisar.
Pengawal bayangan itu menganggukkan kepalanya kemudian pergi. Malam itu karena begitu banyak permasalahan dan begitu banyaknya pekerjaan yang harus dia kerjakan, sang Kaisar lebih memilih untuk melarang para selirnya untuk menemui dirinya, kaisar melangkah, berjalan tanpa dia sadari pergi ke suatu tempat, langkah kaki itu terhenti di sebuah tempat yang tidak pernah dia datangi. namun malam itu dia mendatangi tempat itu.
Saat tersadar Kaisar menatap tempat keberadaannya, dia melihat bangunan sederhana yang sekarang sudah berubah. "Kenapa tiba-tiba aku ada di sini?" ucap Kaisar Han ketika dia melihat keberadaannya, tanpa dia sadari lamunannya membawa ke paviliun tanpa nama yang sekarang menjadi rumah kebahagiaan.
"Yura, cepat kamu bawa makanan itu kemari!" seru Ling Xu-mei yang meminta Yura untuk membawa makanan.
Mendengar suara teriakan yang begitu keras membuat sang Kaisar berjalan semakin mendekat, ketika dia memasuki pintu pagar tempat Ling Xu-mei berada.. pria itu sempat terbelalak tidak percaya. Bangunan yang dulu terlihat lusuh kotor dan tidak terawat itu kini telah berubah, tempat itu terlihat nyaman bahkan di sana sudah terlihat rapi dan bersih.
"Nyonya, apa nyonya mau ke tempat itu lagi?" tanya Yura.
Tanpa menjawab Ling Xu-mei melahap makanan yang ada di depannya. "Kita makan dahulu tidak usah membahas hal itu." jawab Ling Xu-mei yang terlihat makan dengan begitu rakusnya, dia tertawa ketika menceritakan mengenai apa yang mereka lakukan tadi siang.
Sang Kaisar menatap Ling Xu-mei, dia menatap wanita yang selalu dia hindari bahkan status istri itu hanyalah status palsu saja. Suara canda tawa teriakan bahkan suara nyanyian terdengar keluar dari mulut Ling Xu-mei, Kaisar Han yang melihat itu entah mengapa tiba-tiba saja jantungnya berdebar begitu kencang. bibir yang tidak pernah tersenyum kepada Ling sungai itu entah mengapa sekarang tiba-tiba tersirat senyuman lembut. Ketika sang Kaisar tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba suara seseorang membangunkan lamunan sang Kaisar, suara dari penasehat kerajaan Gu Yanzel.
"Wanita itu benar-benar sulit diprediksi, yang mulia. Dia yang benar-benar memuakkan itu sekarang telah berubah." ucap Gu Yanzel. pria itu tiba-tiba berada di belakang tubuh Kaisar Han hingga membuat Kaisar seketika menoleh, suara itu membuyarkan lamunannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kaisar Han ketika melihat Gu Yanzel berada di tempat Ling Xu-mei.
Gu Yanzel tersenyum, Dia kemudian menatap kaisar yang juga berada di tempat itu juga. "Yang mulia Kaisar juga kenapa ada di sini? bukankah pertanyaan itu juga harus ditanyakan kepadamu?" tanya Gu Yanzel balik.
Pertanyaan yang ditanyakan oleh Gu Yanzel membuat Kaisar Han kebingungan, raut wajahnya langsung kebingungan dan dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Ketika dia sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan dari penasehat kerajaannya, tiba-tiba saja Ling Xu-mei langsung muncul di sebelah mereka titik hal itu membuat Kaisar Kaisar Han ataupun Gu Yanzel terkejut bukan kepalang.
"Ha..,"
Kaisar Han dan Gu Yanzel terkejut ketika tiba-tiba Ling Xu-mei sudah ada di samping mereka, menatap mereka berdua dengan tajam sembari tangannya memegang mangkuk berisi nasi juga ikan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ling Xu-mei. Dia menatap Kaisar Han kemudian beralih menatap Gu Yanzel, kedua matanya memperhatikan dua pria itu dengan seksama.
Karena terlanjur tertangkap basah Gu Yanzel tersenyum kikuk, Dia kemudian menyentuh tengkuk lehernya. "Sebenarnya tadi aku mau ke tempat Ibu suri.., ternyata Ibu suri tidak ada, aku kira dia di sini." jawab Gu Yanzel sembari tersenyum bingung.
Sedangkan Kaisar Han Dia kemudian menganggukkan kepalanya. "Hahaha.. benar, aku tadi juga mencari Ibu suri, kata pelayan Ibu suri ada di sini jadi, aku mau memanggil Ibu suri untuk berbicara." jawab Kaisar Han yang nampak meremas tangannya. Baru kali ini Dia terlihat salah tingkah di depan seorang wanita, padahal dia mempunyai banyak selir.
"Oh begitu ya, tapi Ibu suri tidak ada di sini." kata Ling Xu-mei yang kemudian menggerakkan tangannya tanda mengusir dua pria itu. kemudian dia langsung menutup pintu pagar rumahnya.
Mendapati pengusiran seperti itu Kaisar Han dan Gu Yanzel dibuat terkejut, mereka saling menatap dengan gerakan mata isyarat mereka diusir. "Berani sekali dia mengusirku, aku belum mengatakan apapun dia langsung menutup pintu di depan mukaku." kata Kaisar Han.
"Iya, berani sekali dia mengusir kita, padahal kita belum berbicara apa-apa tapi dia langsung menutup pintu seperti itu." Gu Yanzel ataupun Kaisar Han akhirnya pergi dengan raut wajah kesal. sedangkan Ling Xu-mei kemudian melanjutkan makan bersama dengan Yura.
Keesokan pagi seperti biasanya Ling Xu-mei dan Yura pergi ke tempat Ibu suri, dia ingin menanyakan mengenai desa yang terisolir itu. Saat dia mau masuk ke tempat Ibu suri, Ling Xu-mei langsung dihentikan oleh pelayar pelayan selir Me-ang.
"Mau apa kalian kemari?" tanya pelayan selir Me-ang.
Yura menatap pelayan selir Me-ang yang bersikap begitu sombong. "Aku dan nyonya aku mau bertemu dengan yang mulia Ibu suri." jawab Yura.
kemudian pelayan selir Me-ang tersenyum sembari menatap Yura. "Kamu dan nyonyamu itu tidak diterima, kalian itu sudah dibuang jadi kalian jangan berani masuk ke tempat ini." ujar pelayan selir Me-ang.
"Benarkah?" tanya Ling Xu-mei yang kemudian mendekati pelayan selir Me-ang yang bersikap sok tersebut.
Dulu pemilik tubuh asli itu hanya diam dan mengalah, namun wanita yang ada di depan pelayan itu wanita yang berbeda. Ling Xu-mei langsung memberikan tamparan kepada pelayan selir Me-ang, wanita itu tidak terima ketika dirinya mendapatkan tamparan dari wanita yang sudah dibuang oleh kaisar Han.
"Beraninya kamu menamparku, dasar wanita rendahan!" seru si pelayan.
Ling Xu-mei kemudian memberikan tamparan kembali kepada pelayan itu, bukan sekali namun beberapa kali, hal itu membuat pelayan itu memegang wajahnya yang terasa panas. "Dengarkan aku baik-baik pelayan, jika kamu berani berucap lagi bukan hanya tamparan itu yang akan aku berikan padamu, tapi aku akan membuatmu tidak bisa berjalan kembali." ujar Ling Xu-mei yang kemudian masuk ke dalam paviliun Ibu suri. pelayan matanya berkaca-kaca, pipinya terasa sakit bahkan pipinya seolah bengkak karena tamparan itu.
"Dasar wanita tidak tahu diri, beraninya kamu menamparku." ucap pelayan ketika melihat sudah masuk ke paviliun Ibu suri.
*bersambung*
semangat berkaryaa