Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kitab pusaka 'Napas Naga Langit part 2
Perjalanan dari lereng Gunung Lawu menuju pesisir selatan ditempuh Satya dengan langkah gontai. Sesekali ia menggerutu, meratapi nasibnya yang baru saja lepas dari maut malah kini harus berurusan dengan urusan "internasional".
Desa Samudra Bening ternyata adalah sebuah desa nelayan yang tenang, namun anehnya, bau kemenyan dan dupa tercium lebih kuat daripada bau amis ikan. Satya menemukan sebuah gubuk yang berdiri kokoh di atas karang yang menjorok ke laut. Di depannya, seorang pria tua bertubuh kekar dengan rambut putih panjang yang dikuncir rapi sedang duduk bersila di tengah kepulan asap dupa.
"Permisi, Kek... eh, maksud saya, Ki Ageng Menyan?" sapa Satya sambil tetap menjaga jarak, takut dilempar sandal lagi seperti oleh Eyang Sableng.
Pria itu membuka matanya. Tatapannya setajam elang, membuat Satya mendadak merasa telanjang. "Murid si Sableng itu ya? Bau monyetmu sudah tercium dari jarak tiga desa."
"Waduh, Ki... saya sudah mandi di Curug kemarin!" Satya protes. "Saya ke sini disuruh Eyang buat tanya soal Kitab Napas Naga Langit dan si Bhirawa Hitam yang wajahnya mirip pantat kuali itu."
Ki Ageng Menyan terdiam sejenak. Ia berdiri dan mendekati Satya, lalu tiba-tiba menghantamkan telapak tangannya ke dada Satya. Satya yang sigap langsung memutar tubuhnya, menggunakan teknik Langkah Awan, namun tekanan angin dari pukulan itu tetap membuatnya terpental tiga langkah.
"Cukup bagus. Gerakanmu lincah, tapi batinmu masih berisik seperti pasar," ujar Ki Ageng. Ia menyerahkan sebuah kalung dengan liontin batu hitam pekat. "Bawa ini. Ini adalah Mustika Penjara Langit. Jika kau bertemu Bhirawa, batu ini akan bergetar jika dia mengeluarkan energi dari kitab itu. Kau harus menyentuhkan Toyamu ke batu ini, lalu hantamkan ke tanah untuk menciptakan medan penawar energi."
"Wah, canggih juga! Terus ke Indianya gimana, Ki? Berenang?"
Ki Ageng menunjuk ke ufuk barat. "Ada kapal dagang dari Kerajaan Chandravatya yang sedang berlabuh di pelabuhan besar. Katakan pada kaptennya kau adalah utusan 'Penjaga Laut Selatan'. Mereka berutang nyawa padaku."
Satya akhirnya berhasil naik ke kapal besar itu. Namun, dasar sifat "sableng"-nya tidak hilang, ia lebih memilih tidur di antara tumpukan rempah-rempah daripada di kabin bawah yang pengap. Selama berminggu-minggu, Satya harus bertahan dengan goyangan ombak yang membuatnya mual dan hanya ditemani Toya Emasnya yang sesekali ia ajak bicara karena saking bosannya.
"Toya, Toya... nanti kalau sampai India, kamu jangan kaget ya kalau lihat gajah pakai baju zirah," gumamnya sambil mengunyah dendeng sisa bekalnya.
Begitu kapal merapat di pelabuhan selatan India, Satya melompat turun dengan semangat. Namun, langkahnya langsung terhenti. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya.
India sangat berbeda dengan Jawa. Jika di Jawa bangunan didominasi kayu jati dan batu andesit dengan ukiran halus, di sini kuil-kuil menjulang tinggi dengan warna-warni yang mencolok dan ukiran patung dewa-dewi yang sangat kompleks dan padat. Udaranya terasa lebih kering dan panas, dipenuhi aroma rempah yang jauh lebih menyengat daripada pasar di Majapahit.
Satya berjalan menyusuri pasar yang ramai. Ia tampak sangat mencolok dengan pakaian kain lurik lusuhnya dan ikat kepala khas Jawa. Namun, yang paling menarik perhatian adalah Toya Emas yang disampirkan di punggungnya.
Masyarakat menepi, memberi jalan sambil berbisik-bisik. Di sudut jalan, seorang prajurit berpakaian zirah perunggu ringan dengan kumis melintang berbisik kepada seorang ksatria yang memegang pedang Talwar.
"Dekho (Lihat)..." bisik sang prajurit. "Siapa orang asing itu? Pakaiannya seperti rakyat jelata atau pengembara kasta rendah, tapi kenapa dia membawa senjata di punggungnya?"
Sang ksatria menyipitkan mata, tangannya refleks memegang hulu pedangnya. "Di tanah Bharata, hanya kaum Ksatria yang diizinkan memegang senjata dan mempelajari ilmu perang. Orang ini... penampilannya tidak menunjukkan dia seorang bangsawan, tapi cara jalannya sangat stabil. Dia memiliki tenaga dalam."
Satya, yang tidak mengerti bahasa mereka, hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangan. "Halo! Achachaaa! Ada yang tahu di mana tempat cari Gada besar yang katanya punya Bima?"
Suasana pasar mendadak sunyi. Bagi orang India, menyebut nama ksatria legendaris seperti Bima dengan sembarangan adalah hal yang tabu. Para prajurit mulai mengepung Satya, merasa harga diri kasta ksatria mereka ditantang oleh seorang pemuda "sableng" dari seberang lautan.
Satya menggaruk kepalanya. "Waduh... kok malah dikepung? Saya cuma tanya alamat, bukan mau minta sumbangan!"