Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapan?
Melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat barusan, Hannah dan Bobby amat terkejut.
Apa yang dilakukan Dea? Apa wanita itu tengah kesurupan sekarang?
Bukan hanya hanya dua manusia itu saja yang kaget. Perhatian para pengunjung di kantin seketika terpusat pada meja di tengah-tengah kantin tersebut. Rasa penasaran mereka terlalu tinggi dengan apa yang terjadi di depan mata mereka sekarang.
Berbeda dengan Vero, dia sudah tahu apa yang membuat Dea marah besar, semua itu karena ulahnya sendiri yang menyebar rumor tak benar tentang Casey dan Jayden yang satu mobil kemarin.
Bobby hendak memegang tangan Casey. Namun, Jayden sudah terlebih dahulu bergerak menyentuh tangan Casey.
"Kenapa kau menyerang dokter Casey?" Jayden tiba-tiba memandang Dea dengan sorot mata yang tak seperti biasa, dingin dan terasa mencekam, hingga Hannah, Bobby, dan Vero saling tukar pandang dengan sikap Jayden sekarang.
Dea hendak membalas. Namun, pemandangan di depan matanya, membuat dadanya terasa panas seperti api unggun yang membara-bara.
"Kau nggak apa-apa?" tanya Jayden pada Casey, dengan ekspresi datar.
"Jayden! Kenapa kau pegang-pegangnya tangan wanita ini hah?!" Casey tak sempat membalas, karena Dea tiba-tiba menarik tangan Jayden.
"Casey ini siapamu?! Kenapa kau lebih perhatian dengan dia dari pada aku!? Aku ini kekasihmu Jayden! Apa jangan-jangan rumor itu benar kalau kau berselingkuh dariku! Cepat jawab aku!?" teriak Dea.
Mendengar Dea berteriak sangat nyaring, raut wajah Jayden terlihat semakin tak bersahabat. Aura yang menguar tubuhnya bertambah dingin. "Dia is–"
"Aku sepupu Jayden, nggak usah marah-marah Dea, kau salah paham, aku nggak tahu rumor apa yang kau dengar tentang kami," sela Casey cepat.
Sontak, perkataan Casey membuat pupil mata Dea melebar sempurna.
"Sepupu? Casey sepupumu? Itu nggak mungkin ...." Dea melirik Casey dan Jayden bergantian.
Casey kembali membalas,"Iya, dan–eh Dok!"
Casey terperanjat, Jayden tiba-tiba menyeretnya keluar dari kantin, dan meninggalkan Dea menjerit histeris memanggil-manggil Jayden.
Sementara Hannah, Bobby dan Vero saling lirik satu sama lain, merasa sedikit risih dengan teriakan Dea sekarang.
"Jayden!" panggil Dea lagi sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai dengan sangat geram.
"Aku belum selesai bicara, Jayden!" serunya, melihat Jayden dan Casey telah hilang di lorong lain.
"Kau kenapa sih?! Lepaskan tanganku!" Sesampainya di lorong sepi, Casey berusaha menghempas tangan Jayden sambil melayangkan tatapan tajam.
Namun, tangannya tak juga terlepas. Genggaman tangan Jayden terlalu kuat. Pria itu malah bersikap biasa saja dan kini justru menatap tangan Casey yang terlihat merah.
"Kulit kau merah, ayo ke ruanganku sekarang nanti aku obati."
"Ck!" Casey berdecak kesal, dengan kekuatan penuh menghempas lagi tangan Jayden, dan akhirnya tangannya pun terlepas. "Nggak usah sok perhatian deh, ini juga gara-gara pacarmu, aku bisa obati sendiri! Sebaiknya kau temui saja pacarmu itu dan katakan padanya jangan ganggu aku lagi!"
Setelah mengeluarkan uneg-unegnya, Casey melengoskan muka kemudian melangkah pergi dari situ dengan sangat cepat.
"Casey, tunggu ...." Jayden hendak mengejar Casey. Namun, alarm jadwal operasi yang selalu dia aktifkan, tiba-tiba terdengar dari saku jas.
Secepat kilat Jayden menyambar gawainya sambil sesekali memandang punggung Casey mulai menghilang dari pandangannya.
Jayden menarik napas berat, dilema dan harus mempriotaskan mana yang harus dia lakukan. Dalam hitungan detik dia akhirnya memutuskan pergi ke ruang operasi, ada nyawa yang harus dia segera tolong. Dia berencana akan menemui Casey nanti sore saja.
Kira-kira pukul lima sore, menjelang malam, Jayden akhirnya kembali ke ruang pribadinya. Dengan raut wajah sangat lelah, Jayden menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil menunggu kedatangan Casey sekarang.
Melalui Vero, tadi Jayden sudah meminta Casey untuk datang ke ruangannya. Sejak tadi Jayden melirik-lirik ke arah pintu ruangan, berharap Casey dapat segera muncul.
Dan tiba-tiba pintu terbuka lebar.
Jayden reflek beranjak dari kursi. "Casey ...."
Akan tetapi, yang datang bukan Casey, melainkan Dea. Wanita bertubuh langsing itu langsung masuk tanpa permisi dan bergerak cepat, menghampiri Jayden dengan bola mata tampak berair dan sedikit merah.
Detik itu pula riak muka Jayden mendadak tak bersahabat, dan Dea menyadari hal itu, ekspresi wajah yang kerap kali dia sangat tak sukai.
Saat berdekatan, air mata langsung menetes dari sudut mata Dea.
"Kenapa kau nggak mengangkat teleponku Jayden! Ada apa denganmu!? Akhir-akhir ini sikapmu berubah! Walaupun Casey sepupumu, aku tetap nggak suka dia! Aku mencintaimu, Jayden! Kapan kau menikahi aku!? Apa yang harus aku agar kau mau menikahi aku! Aku mencintaimu Jayden! Aku mencintaimu!" Dea berkata dengan penuh emosional sambil menarik kerah kemeja Jayden seketika.
Dea hendak mencium kekasihnya itu. Sudah terlampau lama Dea menahan diri. Dia menginginkan sentuhan dari sang kekasih sekarang juga.