Di Antara jutaan dunia kecil yang tersebar di multiverse, ada pola yang selalu berulang:
seorang protagonis pria jatuh cinta pada protagonis wanita, akan berubah obsesif, posesif, tak terkendali—hingga menghancurkan dunia mereka sendiri ketika cintanya tak berbalas.
Dari luar, tragedi itu tampak seperti bencana alam atau keruntuhan energi dunia.
Namun di baliknya, penyebab utamanya selalu sama:
hati seorang pria yang terlalu mencintai, hingga menghancurkan segalanya
Karina Wilson, seorang pekerja admistrasi ruang. Yang di beri tugas oleh sistem untuk “menebus” para pria posesif itu.
Bukan dengan paksaan.
Tapi dengan mengajari mereka cara mencintai tanpa menghancurkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Ketika Karina Wilson kembali ke kamarnya, dia menyadari bahwa Axel Madison berdiri tepat di luar pintu.
Begitu dia membuka pintu, dia melihatnya berdiri di ambang pintu.
“Axel?” panggilnya terkejut, sambil menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Axel tampak kesulitan berbicara, wajahnya memperlihatkan sedikit keraguan.
Karina merasa hal itu agak menggelikan. Bukankah Axel selalu tipe orang yang melakukan apa pun yang dia inginkan? Biasanya, setiap kali melihatnya, dia akan langsung memeluk dan menciumnya kapan pun dia mau. Mengapa sekarang dia tampak begitu aneh?
Axel tiba-tiba bertanya dengan suara rendah,
“rina, apakah kau akan membenciku?”
Karina terkejut. Saat perayaan ulang tahunnya kemarin, semuanya baik-baik saja. Jadi mengapa dia menanyakan hal seperti ini sekarang?
Sama seperti sikapnya sejak pagi tadi.
Melihat Karina tidak segera menjawab, Axel tampak sedikit gugup, tetapi tetap berkata dengan sungguh-sungguh,
“Aku… aku melakukan hal seperti itu padamu saat pikiranku tidak jernih. Apakah kau akan membenciku?”
Setelah itu, dia segera menambahkan,
“Aku menyukai rina, dan aku hanya pernah melakukan hal semacam itu denganmu. Aku akan bertanggung jawab.”
Saat itu, Karina akhirnya mengerti mengapa dia tampak begitu bimbang—dia takut.
Axel Madison, yang mahir dalam hampir segala hal, ternyata juga takut kehilangan orang yang disukainya.
Baginya, Karina adalah segalanya.
Saat ini, Axel bukan lagi pria jenius dengan IQ luar biasa yang seolah bisa menyelesaikan apa pun. Dia hanyalah seorang pria biasa yang dengan rendah hati mencari cinta.
Karina bertanya pelan,
“Kamu takut?”
Axel menjawab jujur,
“Iya.”
Aku takut kau akan membenciku.
Karina berkata dengan lembut,
“Aku tahu kondisi tubuhmu kemarin tidak baik. Aku tidak menyalahkanmu.”
Tentu saja, Karina tidak mengatakan hal-hal lain yang terlintas di benaknya. Bagaimanapun juga, dia masih harus berpura-pura tenang.
Saat itu, Axel tiba-tiba berkata lagi,
“Sebenarnya… bukan hanya karena aku kambuh kemarin. Aku sudah lama ingin melakukan itu.”
Karina mengangguk, lalu bertanya,
“Sejak pertama kali aku mendekatimu?”
Saat itu, Axel menindihnya di sofa dan hampir kehilangan kendali.
Axel membuka bibirnya, jelas teringat kejadian itu.
Tidak sembarang orang bisa mendekatinya, tetapi sejak melihat Karina, dia selalu memiliki dorongan untuk lebih dekat—terlalu dekat.
Sampai-sampai kemudian, dia selalu ingin menciumnya, memeluknya, dan merasakan kehangatan kulit mereka bersentuhan.
Melihat Axel terdiam, Karina sengaja berkata,
“Axel Madison, aku benar-benar tidak menyangka kau orang seperti ini.”
Bagaimanapun glamornya seseorang, dia tetap manusia biasa, dengan emosi dan keinginan.
Axel perlahan mendekat, memaksanya mundur hingga ke tepi tempat tidur, membuat Karina jatuh terduduk di atas kasur.
Ingatan malam sebelumnya kembali menyeruak. Karina sempat berniat bangkit, mengingat kondisi Axel.
Namun Karina tiba-tiba meraih kerah bajunya dan tersenyum tipis.
“Aku punya ide lain.”
“Ide lain?” Axel tampak ragu.
“Iya.”
Tak lama kemudian, Axel memahami maksud Karina. Perasaan asing—campuran kegembiraan dan keterkejutan—muncul di dadanya.
Di luar dugaan, Karina jauh lebih berani dan menarik daripada yang ia bayangkan.
Beberapa saat kemudian.
Melihat Karina dengan telaten merapikan pakaiannya dan mengaitkan kembali bra-nya, suara Axel sedikit bergetar.
“Kamu tidak perlu melakukan itu.”
Walaupun dia menyimpan banyak pikiran dalam hatinya, melihatnya seperti itu justru membuatnya lebih merasa kasihan.
“Tapi kau senang, kan?” Karina bertanya balik.
Axel terdiam.
Memang, setiap pria akan senang ketika orang yang disukainya melakukan hal itu untuknya—terlebih ketika fantasi bertemu dengan kenyataan.
Karina kembali bertanya,
“Kamu mau kembali dan beristirahat?”
Axel menggeleng. Menatapnya, dia berkata,
“Hari ini masih hari ulang tahunku.”
Karina mencondongkan tubuh dan mencium bibirnya, lalu berbisik,
“Selamat ulang tahun.”
Mereka berpelukan di atas tempat tidur. Kali ini, Axel jauh lebih patuh, hanya memeluknya tanpa melakukan apa pun. Keheningan menyelimuti kamar.
Karina menguap kecil.
“Tidurlah. Sudah larut.”
Axel memejamkan mata dan tertidur bersamanya.
Pada hari Festival Lentera,
Mengetahui Karina masih ingin mengunjungi kota kuno itu, Axel membawanya ke sana sekali lagi.
Mereka sengaja datang menjelang malam. Lentera-lentera tergantung di bawah atap, menerangi jalanan berbatu dan menciptakan suasana meriah.
Mereka kembali ke salon yang sama seperti sebelumnya. Sang pemilik langsung mengenali mereka.
“Kalian datang lagi.”
Karina mengangguk dan memilih pakaian bersama Axel.
Kali ini, Karina memilih gaun merah—tampak seperti pendekar wanita pengembara yang bebas dan berani. Rambutnya diikat tinggi, dan di tangannya ada pedang hias yang aman.
Pakaian merah itu terbuat dari satin, dengan manset pas, ikat pinggang merah, serta sulaman benang perak di tepinya.
Entah karena riasan atau penataan, Karina yang biasanya lembut kini tampak tegas dan penuh aura.
Axel berganti mengenakan jubah brokat putih pucat, memegang kipas lipat, rambutnya setengah terikat. Pola awan samar di kerah dan ikat pinggang giok gelap mempertegas posturnya. Liontin giok di pinggangnya berdenting pelan saat bergerak.
Saat melihat Karina, mata indahnya melengkung. Kipas di tangannya terbuka dengan suara lembut, membuatnya tampak seperti tuan muda bangsawan dari kisah lama.
Pemilik salon tertegun.
Dia tahu mereka tampan dan cantik, tetapi tidak menyangka pesona mereka dalam busana kuno akan sedemikian memikat.
Setelah sadar, sang bos segera bertanya,
“Bolehkah saya mengambil foto kalian berdua? Saya ingin memajangnya di dekat pintu.”
Karina tersenyum.
“Tentu saja, tidak masalah.”