NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

semakin curiga..

Arjuna berdiri dengan gerakan yang terlalu tenang—sebuah ketenangan yang mematikan. Ia tahu jika ia tampak panik, Clarissa akan semakin menggali.

​"Itu lemari penyimpanan dokumen lama yang sangat rahasia, Clarissa. Terhubung langsung dengan brankas bawah. Tentu saja ada kuncinya," ucap Arjuna dingin sembari melangkah mendekat, mencoba mengalihkan perhatian wanita itu dari pintu tersebut.

​"Tapi kenapa aku tidak pernah melihat kuncinya di gantungan biasanya?" Clarissa mencoba memutar tuas yang tidak bergerak sedikit pun. "Dan bau susu itu... sumbernya seolah dari balik dinding ini, Juna."

​Arjuna hampir kehilangan kesabarannya. "Sudah kubilang itu bau terapi. Kalau kau terus berhalusinasi dan menginterogasiku seperti detektif, lebih baik makan malam ini dibatalkan saja. Aku tidak punya waktu untuk kecurigaan konyolmu."

​Clarissa cemberut, merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Arjuna. Ia akhirnya melepaskan handel pintu itu dan berjalan kembali ke sofa dengan gaya manja yang dipaksakan. "Galak sekali. Ya sudah, aku tidak akan tanya-tanya lagi. Tapi besok aku akan panggil petugas kebersihan untuk menyemprot ruangan ini, baunya benar-benar membuatku mual."

​Sementara itu, di paviliun belakang, Indira duduk di meja makan dapur dengan segelas jus alpukat di depannya yang belum tersentuh. Kata-kata ibunya terus terngiang. Menolong nyawa Arjuna? Kenapa harus dia? Kenapa harus dengan cara yang begitu memalukan?

​"Indira, kenapa belum diminum jusnya? Katanya lapar?" Bik Siti menepuk bahunya pelan.

​"Ah, iya Bik," Indira memaksakan senyum.

​Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, tapi ia sangat tahu siapa pemiliknya.

​Arjuna: "Besok pagi jam 6, ke kamarku. Kau harus mengosongkan 'stokmu' sebelum aku berangkat ke kantor. Dan ingat, pakai baju yang tidak menyulitkanku."

​Tangan Indira gemetar membaca pesan itu. Rasa mual yang sama seperti yang dirasakan Clarissa tadi mendadak muncul di perutnya, tapi karena alasan yang berbeda. Ia merasa seperti sapi perahan yang dijadwalkan.

​"Ada apa, Nak? Wajahmu pucat," tanya Darsih cemas.

​"Tidak apa-apa, Bu. Hanya... agak pusing," dusta Indira. Ia segera menandaskan jusnya dan beranjak. "Aku masuk kamar duluan ya, mau belajar."

​Malam semakin larut. Di kamar utama, Clarissa akhirnya tertidur di sofa setelah memaksa Arjuna menemaninya makan malam yang kaku. Arjuna menyelimuti wanita itu, lalu ia berjalan perlahan menuju lemari buku rahasianya.

​Ia menekan tombol di balik bingkai foto, dan pintu itu terbuka sedikit. Ia melangkah masuk ke lorong kecil yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Indira. Dari celah pintu di ujung lorong, ia bisa melihat Indira sedang duduk di tepi tempat tidur, membelakanginya.

​Gadis itu tampak sedang mencoba memijat dadanya sendiri yang mulai terasa penuh dan nyeri, sesekali meringis tertahan.

Rupanya Indira sedang pumping asinya yang penuh.

karena biasanya setiap malam sebelum tidur,Arjuna sudah menguras habis cairan itu.

Karena kekasihnya menginap dikamarnya,membuat obatnya sedikit dilupakan.

​Arjuna terdiam di kegelapan lorong. Ada rasa aneh yang bergejolak di dadanya—bukan rasa lapar akan ASI yang biasanya ia rasakan, melainkan sesuatu yang lebih gelap dan posesif. Ia benci melihat Indira kesakitan, tapi ia lebih benci lagi membayangkan jika cairan itu harus diberikan kepada orang lain atau dibuang begitu saja.

​Tiba-tiba, Indira menoleh ke arah pintu, seolah merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya.

​"Siapa di sana?" bisik Indira dengan suara gemetar.

​Arjuna tidak menjawab. Ia segera menutup pintu rahasia itu kembali sebelum Indira menyadari kehadirannya. Namun, satu hal yang pasti, aroma "susu bayi" yang dibenci Clarissa itu justru adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Arjuna tenang saat ini.

​Esok paginya, saat matahari bahkan belum sepenuhnya terbit, pintu penghubung itu terbuka lagi. Indira yang masih mengenakan piyama tipis tersentak kaget.

​"Tuan... ini baru jam setengah enam," protes Indira lemas.

​Arjuna masuk dengan wajah tanpa ekspresi, mengunci pintu di belakangnya. "Aku ada rapat pagi. Dan dadamu sudah terlihat sangat bengkak dari sini, Indira. Jangan membuang-buang waktu."

​Tanpa menunggu persetujuan, Arjuna melangkah mendekat, memaksa Indira untuk menghadapi kenyataan bahwa ia belum benar-benar lepas dari cengkeraman "pengobatan" pria itu.

​"Duduk," perintah Arjuna pendek.

​Indira menurut dengan tubuh gemetar. Ia duduk di tepi tempat tidur, sementara Arjuna berlutut di lantai di hadapannya—sebuah posisi yang seharusnya merendahkan bagi pria seberkuasa Arjuna, namun justru membuat Indira merasa terintimidasi.

​"Tuan... pelan-pelan," bisik Indira saat tangan dingin Arjuna mulai membuka kancing piyamanya satu per satu.

​Arjuna tidak menjawab. Matanya tertuju pada dadanya yang memang sudah mengeras dan membiru karena produksi ASI yang berlebih sejak semalam. Tanpa basa-basi, Arjuna memulai "ritual" pengobatannya.

​"Eungh..." Indira memejamkan mata erat-erat, tangannya meremas sprei tempat tidur hingga kukunya memutih. Rasa nyeri yang awalnya menyiksa perlahan berganti dengan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya saat Arjuna menguras habis cairan itu dengan rakus.

​Setiap tarikan dan hisapan Arjuna terasa begitu menuntut. Pria itu seolah tidak ingin menyisakan setetes pun. Bagi Arjuna, cairan ini adalah candu; satu-satunya hal yang bisa meredakan badai di kepalanya dan rasa sakit kronis yang selama ini menghantuinya.

​Suasana hening, hanya terdengar suara napas Arjuna yang memburu dan isakan kecil dari bibir Indira yang ia gigit sendiri agar tidak mengeluarkan suara.

​"Sakit, Tuan... sudah..." rintih Indira saat merasa payudaranya sudah mulai melunak dan kosong.

​Namun Arjuna seolah tuli. Ia mencengkeram pinggang Indira, menarik gadis itu lebih dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Ia baru berhenti ketika benar-benar yakin tidak ada lagi yang bisa ia dapatkan.

​Arjuna menjauhkan wajahnya, ada sisa putih di sudut bibirnya yang membuatnya tampak seperti pemangsa yang puas. Ia menatap Indira yang terkulai lemas dengan mata berkaca-kaca.

​"Sudah habis," ucap Arjuna dengan suara serak yang berat. "Kau bisa beristirahat sekarang."

​Ia merapikan kembali pakaian Indira dengan gerakan yang hampir terlihat lembut—sebuah kontras yang membingungkan bagi Indira. Setelah itu, Arjuna berdiri, kembali menjadi sosok pria es yang angkuh.

​"Ingat, jangan keluar dari kamar ini sampai Clarissa pergi dari rumah utama. Aku tidak mau dia melihat wajahmu yang... berantakan seperti ini," pesan Arjuna sebelum melangkah menuju pintu rahasia.

​Begitu pintu itu tertutup dan terkunci, Indira jatuh terjerembap di atas bantalnya. Ia merasa kosong, baik secara fisik maupun jiwa.

​Di sisi lain, Clarissa terbangun di sofa karena mendengar suara samar dari balik dinding. Ia mengucek matanya dan melihat jam. Masih jam 6 pagi.

​Ia menoleh ke arah tempat tidur Arjuna, tapi pria itu tidak ada di sana. Matanya kemudian tertuju pada pintu lemari buku yang semalam ia curigai. Ia melihat sedikit bayangan yang bergerak di balik celah bawah pintu tersebut sebelum akhirnya menghilang.

​"Juna? Kau di dalam?" panggil Clarissa dengan suara serak khas orang bangun tidur.

​Tepat saat itu, Arjuna keluar dari balik pintu rahasia dengan kemeja yang sudah rapi, namun ada sesuatu yang berbeda pada auranya—ia tampak lebih segar dan tenang, sangat kontras dengan kondisinya semalam.

​"Kau sudah bangun?" tanya Arjuna dingin.

​Clarissa berjalan mendekat, hidungnya yang sensitif kembali mencium aroma itu. Kali ini lebih kuat. Aroma susu segar yang bercampur dengan parfum maskulin Arjuna.

​"Bau itu lagi..." gumam Clarissa. Ia menatap bibir Arjuna yang tampak sedikit basah. "Juna, apa yang baru saja kau lakukan di balik lemari itu?"

​Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!