NovelToon NovelToon
Menyingkirkan Gundik Suamiku

Menyingkirkan Gundik Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Pelakor jahat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.

Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.

Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.

Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.

Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.

Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Adam melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang tertahan, seolah ada beban tak kasatmata yang menekan dadanya. Rumah itu masih sama, aroma khas bunga lily dari sudut ruang keluarga, cahaya lampu gantung yang hangat, l6namun suasananya terasa berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu dingin.

Di ruang keluarga, Kiandra terlihat duduk santai di sofa, kedua kakinya terlipat anggun, sebuah tablet berada di tangannya. Tatapannya lurus ke layar, ekspresinya datar, seolah dunia di sekitarnya tak ada artinya. Adam yakin istrinya mendengar suara langkahnya, juga salam yang ia ucapkan dengan nada serendah mungkin.

“Assalamualaikum.”

Namun Kiandra tetap bergeming. Tak ada senyum, tak ada lirikan mata, bahkan sekadar anggukan pun tidak.

Adam menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia berusaha mengendalikan diri. Ia tak ingin suasana semakin keruh. Dengan wajah setenang mungkin, Adam mendekat, lalu menundukkan tubuhnya sedikit dan mengecup kening Kiandra, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap pulang dari perjalanan.

“Aku pulang, tapi… kenapa kamu tidak menyambutku?” tanyanya lembut agar tidak menyinggung perasaan Kiandra.

Nada suaranya dibuat serendah dan selembut mungkin, seperti berjalan di atas kaca rapuh. Ia tahu, sedikit saja salah langkah, semuanya bisa pecah.

Kiandra akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar. Matanya menatap Adam sekilas, dingin dan tajam, lalu kembali menunduk. Senyumnya terbit di sudut bibirnya, mirip dengan ejekan.

“Aku tidak tahu kamu akan pulang,” jawabnya tenang, tapi sarat makna. “Katanya dua minggu. Tapi kenapa baru seminggu sudah pulang?”

Kalimat itu terdengar sederhana, namun menusuk. Ada sindiran halus yang sengaja dibiarkan menggantung di udara. Adam menghela napas panjang, mencoba menenangkan gelombang dalam dadanya. Ia lalu duduk di samping Kiandra, menjaga jarak sedikit, seolah menghormati tembok tak terlihat yang kini berdiri di antara mereka.

“Aku merindukan mu dan juga Zayyan,” jawabnya singkat.

Kiandra merotasi bola matanya malas. Ia mematikan tablet, meletakkannya di atas meja, lalu menyilangkan tangan di dada. Tatapannya lurus ke depan, entah memikirkan apa. Dalam diamnya, Adam bisa merasakan jarak yang semakin nyata, jarak yang tak bisa dijembatani hanya dengan kata rindu.

Belum sempat Adam berkata apa-apa lagi, suara langkah kecil terdengar dari arah lorong. Disusul teriakan penuh semangat yang memecah keheningan.

“DADDY CUDAH PULANG!”

Zayyan berlari secepat kaki kecilnya mampu, wajahnya berseri-seri. Tanpa ragu, bocah itu langsung naik ke pangkuan Adam dan memeluk leher ayahnya erat-erat, seolah takut lelaki itu akan menghilang lagi.

Adam refleks memeluk tubuh kecil itu, menghirup aroma rambut putranya yang selalu menenangkan. Senyum tulus akhirnya muncul di wajahnya, senyum yang sejak tadi tak mampu ia tampilkan di hadapan Kiandra.

“Iya, sayang, daddy pulang” ucap Adam lembut.

“Aku kangen daddy,” ujar Zayyan polos, suaranya sedikit teredam di dada Adam. “Daddy jangan pelgi lama-lama lagi.”

Adam mengelus punggung putranya perlahan. “Daddy janji,” katanya, meski ia sendiri tak yakin pada janji itu.

"Tapi aku malah cama daddy" ucap Zayyan sambil melipat kedua tangannya, wajahnya cemberut menatap sang ayah.

"Marah kenapa?" tanya Adam seakan lupa dengan janjinya.

"Daddy bohong, katanya mau kabalin Zay, tapi campai cekalang pulang daddy nda pelnah telpon Zay" cerocos Zayyan.

"Daddy cebenalnya macih ingat anaknya nda cih? atau daddy mau mommy cali daddy balu untuk Zay" tanya Zayyan dengan alia menukik tajam.

Adam menghela nafas panjang, dia merasa bersalah dengan putranya. Kebersamaannya dengan Nayla selama satu minggu ini membuat dia lupa dengan anak dan juga istrinya.

"Maaf sayang, daddy sibuk dengan pekerjaan" ucap Adam bohong.

Zayyan mengangguk, "Telus cekalang, mana oleh-oleh untuk Zay?" tanya Zayyan sambil menengadahkan tangannya.

Lagi-lagi Adam menghela nafas, dia tidak membelikan apapun untuk putranya. Tapi dia membelikan semuanya untuk kekasih gelapnya.

Kiandra memperhatikan pemandangan itu dari samping. Tatapannya melembut sejenak saat melihat putranya, namun hanya sesaat. Hatinya tetap mengeras. Dalam benaknya, ada terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak kecurigaan, dan terlalu banyak luka yang belum sembuh.

"Lain kali tidak usah berjanji kalau memang tidak bisa menepatinya. Dari awal aku dan Zayyan memang tidak terlalu penting untuk mu" ucap Kiandra.

Kiandra bangkit dari tempat duduknya dan mengambil alih putranya dari atas pangkuan Adam, dia tidak ingin putranya mendengar kebohongan lagi dari suaminya.

"Ayo istirahat, sudah malam kamu harus tidur" ucap Kiandra.

Zayyan mengangguk, dia merebahkan kepalanya di bahu ibunya. Kiandra merasa bersyukur karena sang putra tetap tenang meskipun suaminya tidak membelikan mainan yang putranya inginkan.

Adam menatap punggung Kiandra yang kian menjauh. Perasaan bersalah dan menyesal terus menyelimutinya.

******

Setelah memastikan buah hatinya terlelap dengan napas yang teratur dan wajah polos yang sama sekali tak mengetahui badai di antara kedua orang tuanya, Kiandra melangkah keluar dari kamar anak itu. Pintu ia tutup perlahan, seolah takut suara kecil saja bisa membangunkan si kecil. Namun, ketenangan di luar kamar sama sekali tidak ia rasakan.

Langkahnya terasa berat saat menuju kamar pribadi yang selama ini ia bagi bersama Adam. Setiap jejak di lantai seakan membawa kembali ingatan yang membuat dadanya sesak. Ketika pintu kamar itu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok Adam yang duduk di sofa dekat jendela. Pria itu terlihat gelisah, kedua tangannya saling bertaut, sorot matanya menunggu dengan harap yang rapuh.

“Sayang—” suara Adam terdengar pelan, seolah takut nada sedikit lebih keras akan membuat Kiandra marah.

Namun belum sempat kata itu selesai, Kiandra sudah menghentikannya. Wajahnya dingin, datar, tanpa sisa kelembutan yang biasanya selalu ada untuk suaminya.

“Jangan diteruskan, aku sedang tidak ingin mendengarkan apa pun dari mulutmu, Adam.” ucapnya tegas.

Ia melangkah melewati Adam tanpa melirik sedikit pun, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Selimut ia tarik sekadar menutup sebagian tubuhnya, kemudian ia memutar badan, memunggungi Adam. Jarak di antara mereka bukan hanya beberapa langkah, melainkan jurang yang terasa sangat dalam.

Adam bangkit dari duduknya. Ia mendekat dengan langkah ragu, hatinya berdegup lebih cepat. “Tapi kamu harus mendengar penjelasan dariku,” katanya memaksa, nada suaranya sarat dengan penyesalan dan ketakutan kehilangan.

Kiandra mengepalkan tangannya di balik selimut. Rahangnya mengeras. “Aku tidak butuh penjelasan apa pun!” suaranya meninggi, bergetar oleh emosi yang selama ini ia tahan.

“Sudah cukup kamu membohongiku selama ini, Adam. Cukup.”

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk, namun Kiandra tak peduli. Ia memilih memejamkan mata, berpura-pura tidur, meski dadanya terasa nyeri dan napasnya tak lagi beraturan. Air mata menggenang di sudut matanya, tapi ia menahannya keras-keras. Ia menolak terlihat lemah di hadapan pria yang telah menghancurkan kepercayaannya.

Adam berdiri terpaku di belakangnya. Ia ingin meraih Kiandra, ingin meminta maaf, ingin menjelaskan semuanya. Namun punggung yang membelakanginya malam itu terasa lebih dingin daripada sikap mana pun. Ia akhirnya hanya terdiam, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, kata-kata tak lagi cukup untuk menjembatani luka yang telah ia buat sendiri.

1
pink blossoms
ini kowh ga lanjut2 pdhal seru lho thor
Sunarmi Narmi
lnjutt thor
Sunarmi Narmi
Fi blokir Adam...ngapain cuma dimatikan...🥴🥴
Sunarmi Narmi
Demi moment ini kita memang hrs berjuang bertahan Kiandra....Semangat hempaskan pelakor 💪💪💪💪
Sunarmi Narmi
Kiadra..klo kmu pngen menang permainan Ranjangmu hrs lebih binal dri pelakor..toh suami SAH..aman ngak usah malu " Gass kan....sampai menttok dn milik suamimu kebas dn kenyang ...ngak ada wktu melirik yg lain🤣🤣🤣
Sunarmi Narmi
Perjuangan yg amat berat bagi seorang berstatus istri dan seorang ibu..klo demi ego jelas males buat kembali sama suami..tpi klo demi anak dn keluarga hrs jdi prioritas..disitulah kdang kita merasa berat buat memilih..rata" EGO yg dominan..baca kisah ini jujur jiwa dn hatiku tersentuh Thor....pokoke karyamu is the best 👍👍👍👍♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sunarmi Narmi
Kata" tulisanya keren Thor...mengena di hati dn bermakna dlm...👍👍👍👍
louis
dasar gundik tak tahu malu dan tidak ada akhlak
louis
dasar laki2 bejat. lihatlah karma akan menimpamu karena telah mengkhianati istrimu.
Sunarmi Narmi
Blm mau Coment karena cerita ino terlalu bagus..cuma satu kata untukmu Thor LANJUTKAN💪💪💪💪
Isabela Devi
laki laki gitu buat dia menyesal seumur hidup aja thor, apa lagi ga menghargai wanita gitu
Isabela Devi
lanjut thor, buat laki laki itu jadi gembel aja thor
Bunda Kevin
Lanjut
Sunarmi Narmi
Wah keren karyamu Thor..kita di sini bila berhadapan dgn pelakor balasnya hrs elegan,cantik dn kontrol emosi....berat jg ya...lanjut thor 💪💪💪💪😘😘😘😘😘😘😘😘😘🤔♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!