Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Toko Pandai Besi II
Tanpa pikir panjang, Alexia berjalan mendekati tong yang penuh dengan berbagai senjata rusak itu. Ia berhenti dan menatap ke senjata yang bentuknya menyerupai tongkat.
Sebuah tongkat berwarna coklat tua memberikan kesan yang misterius dan berbeda, seakan-akan Alexia melihat sebuah senjata yang belum menunjukkan nilai sejatinya.
Hal itu justru membuatnya semakin penasaran.
"Senjata apa ini?"
Alexia menunjuknya sambil bertanya pada wanita itu.
"Senjata yang mana?" wanita itu menyeka bir yang masih membekas di bibirnya dan melanjutkan, "Oh itu? Jika aku boleh berkata jujur, aku sebenarnya juga tidak tahu pasti."
"Kau juga tidak tahu?" Alexia mengulangi.
Wanita itu mengangguk sambil berjalan ke meja kasir.
"Kalau melihat dari bentuknya, itu sama seperti tongkat kayu." jelasnya sambil meneguk bir, tapi botolnya sudah kosong. "Tapi orang yang memberikan senjata itu bilang jika itu adalah pedang. Aku tidak yakin apa dia bercanda."
Dia lalu membuang botol birnya dan duduk di kursi.
Setelah mendengar penjelasannya, Alexia semakin yakin dengan perasaannya. Entah kenapa, ia merasa bahwa itu bukanlah tongkat, melainkan sebuah pedang yang masih menunggu orang yang layak agar bisa bersinar kembali.
Dan pada saat Alexia mengamatinya lebih teliti, dia bisa merasakan suatu energi yang stagnan di dalam tongkat.
'Tunggu, bukankah ini ...?!' pikir Alexia, mulai mengerti.
"Nona pemilik, apa aku boleh—"
"Panggil saja aku, Lina." kata wanita itu setelah ia dengan sengaja memotong perkataan Alexia "Panggilan nona itu sedikit terdengar aneh, jadi kau bisa memanggilku Lina."
Alexia terdiam sesaat dan mengangguk ringan.
"Baiklah, Lina." Alexia kemudian menunjuk tongkat kayu itu sekali lagi. "Apakah aku boleh mengambil tongkat ini"
"Hah? Ah, ambil saja." Lina menyetujui permintaan Alexia sambil melambaikan tangan. "Lagipula, tongkat kayu itu juga bukan karya yang aku buat. Aku senang kalau kamu mau mengambilnya, hitung-hitung mengurangi sampah."
Alexia mendapatkan izinnya, jadi dia mengambil tongkat itu. Dan waktu pertama kali ia menyentuhnya, Alexia bisa merasakan kalau energi yang stagnan itu mulai bergerak.
"Sudah kuduga, pedang ini hanya kehabisan energi."
"Hmm? Apa maksudmu kehabisan energi?" tanya Lina.
Alexia berbalik dan menatapnya dengan tajam.
"Aku akan menunjukkannya padamu, tapi ..." Alexia maju dan bertanya untuk memastikannya lagi. "Kau tidak akan mengambil senjata ini dariku setelah tahu nilainya, kan?"
Lina memiringkan kepalanya, sedikit kebingungan.
"Y-ya, aku sudah memberikan tongkat itu padamu. Mana mungkin aku akan mengambilnya kembali." katanya dan tersenyum. "Apa kau sangat menyukai tongkat kayu itu?"
Alexia menyeringai dan bertanya, "Apa kau ingat dengan yang dikatakan orang yang memberikanmu senjata ini?"
Pertanyaan itu menimbulkan tanda tanya di kepalanya.
"Tentu saja! Dia bilang, kalau tongkat itu adalah sebuah pedang ..." Lina tiba-tiba berhenti bicara saat mengingat sesuatu. "Benar juga, aku ingat orang itu bilang kalau tongkat itu hanya bisa digunakan oleh orang yang lay—"
Sringg
Suara berdesing membuat Lina langsung terdiam.
Di depannya, Alexia sedang menarik tongkat kayu secara perlahan hingga tampak bilah yang tajam. Atmosfer di sekitarnya langsung berubah total dan membuat semua senjata yang berjejer di dalam toko senjata itu bergetar.
"T-tunggu, apa yang ...!?" katanya dengan mata melebar.
Lina benar-benar terkejut saat sebuah cahaya bersinar di dalam tokonya. Senjata yang ia pikir adalah tongkat kayu sederhana, sebenarnya adalah pedang yang berkilau dan indah layaknya sebuah mahakarya yang jatuh dari langit.
Dia yang menekuni bidang penempaan dan pembuatan senjata, baru kali ini melihat pedang seindah itu. Saking tajamnya, bayangan di sekitarnya tampak pada bilahnya.
"Pedang yang indah." ucap Alexia sambil mengangkatnya di depan dadanya. "Pegangan yang sangat pas di tangan dan juga ringan. Ini adalah senjata yang sedang aku cari."
Bentuknya yang sederhana menyembunyikan kekuatan yang luar biasa. Di luar tampak tidak mencolok, namun menyimpan keindahan yang tiada banding di dalamnya.
Alexia puas dan menyarungkan pedangnya kembali.
Namun, seseorang yang terkejut membuat keributan.
"Apa yang barusan terjadi?!" tanya Lina sambil mendekat dan mengamati pedang yang dipegang Alexia. "K-kenapa tongkat kayu yang tampak biasa ini bisa menjadi pedang yang sangat indah? Apakah aku baru saja berhalusinasi?"
Tidak bisa dipercaya, tapi buktinya berada tepat di depan matanya. Lina bahkan tidak bisa berkata-kata lagi selain mengagumi dan menyesal telah memberikan pedang itu.
"Ini membuatku gila. Bagaimana bisa tongkat yang—"
Belum menyelesaikan kata-katanya, Alexia tiba-tiba dan tanpa aba-aba menarik Lina ke belakang punggungnya.
"AH?! A-apa yang sedang kau lakukan ..."
Duar!
Tak lama dari itu, pintu depan tokonya meledak.
Asap tebal menutupi pandangannya, apalagi puing-puing pintu kayu hampir menusuk tubuh mereka. Tapi dengan intuisi yang sangat tajam, Alexia berhasil menangkisnya.
Cough cough
"Apa yang baru saja terjadi?"
Lina mengibaskan tangan untuk menyingkirkan kepulan asap yang membuatnya sulit bernafas. "Kenapa tokoku tiba-tiba meledak? Padahal aku dari dulu sudah berhenti membuat peledak. Apa masih ada yang tersisa di sini?"
"Kau membuat peledak ...?" Alexia menurunkan alisnya, tidak tahu harus terkejut atau menyesal mendengarnya.
Tidak lama setelah itu, sebuah kilatan putih melesat ke arah Lina. Dengan refleks cepat Alexia, dia pun berhasil menangkap kilatan itu sebelum mengenai kepala Lina.
Dan yang ia tangkap ternyata adalah sebuah jarum besi.
"Sebuah jarum?" gumam Alexia sambil mengamatinya.
'Jarum ini beracun!' batin Alexia dan membuang jarum itu sebelum lebih banyak racun yang mempengaruhinya.
Beberapa saat kemudian, asap yang tebal kian memudar dan memperlihatkan sosok yang melemparkan jarum itu.
Dua orang berjubah hitam tengah berdiri di kepulan asap sambil menatap mereka berdua dengan pandangan sinis dan benci, seolah mereka menyimpan dendam padanya.
"Siapa mereka? Apa mereka musuhmu?" tanya Alexia.
"Tidak," Lina menggelengkan kepala. "Aku tidak punya musuh di sini! Aku adalah orang yang suka berteman."
"Kalau begitu, coba jelaskan padaku mengenai peledak yang kau sebutkan tadi?!" kata Alexia dengan nada kesal.
Mereka berdua saling memandang dalam keheningan.
Tak lama kemudian...
Trangg
Salah satu sosok berjubah melempar jarum lagi, namun Alexia berhasil menangkisnya. Jarum yang dilemparkan terlihat tidak sederhana, apalagi jarum itu dilapisi racun.
Alexia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyentuh, tapi racun dari jarum yang dia tangkap sebelumnya telah mempengaruhinya. Tubuhnya yang ringan pun jadi berat.
'Aku bisa menyelesaikan pertarungan ini dalam sekejap, tapi toko ini mungkin akan hancur.' batinnya, memikirkan kerusakan yang akan ia buat jika menggunakan sihirnya.
Alexia bisa mengendalikan tubuhnya dengan bebas, tapi kecepatan dan kekuatannya sangat berkurang. Ditambah lagi, ia juga belum terbiasa dengan tubuh gadis manusia.
Dan sekarang, dia kena racun untuk kedua kalinya.
"Kenapa aku selalu bertemu dengan pengguna racun?!"
"A-anggap saja mereka ingin membunuhmu, jadi lawan mereka semua." kata Lina dan langsung bersembunyi di belakang punggung Alexia. "A-aku akan mendukungmu."
Alexia menurunkan alisnya dan berkata,
"Apa kau yakin kalau mereka ingin membunuhku?"
Pandangan mereka memang tertuju pada Alexia, namun serangan mereka selalu melesat dan tertuju ke arah Lina.
Belum sempat memikirkan jalan keluar, sosok berjubah menendang tanah dan langsung menerjang ke arahnya.
Alexia dengan sigap memutar pedangnya dan menahan dua serangan dari dua arah secara bergantian. Serangan sosok berjubah terpental, tapi mereka tidak berhenti dan melancarkan serangan kedua berupa tebasan diagonal.
Melihat arah serangan mereka, Alexia melompat mundur ke belakang sambil menyilangkan pedangnya. Tebasan yang mengincar kepala dan tangannya berhenti di sana.
"Aku tidak tahu kau siapa, tapi nasibmu sedang sial saja karena bertemu dengan wanita pemabuk itu." kata salah satu sosok berjubah sambil menekan pedang ke depan.
Mereka tampak tidak takut walaupun sudah melihat ban lengan dengan lambang keluarga Swan di lengan Alexia.
Daripada takut, mereka terlihat sangat emosi dan benci.
Hal seperti apa yang menyebabkan kebencian mereka?