NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Dokumen yang Tidak Seharusnya Muncul

Suara hujan masih terdengar menghantam atap mobil ketika Almira dan Reynard menatap map abu-abu yang kini berada di tangan mereka.

Beberapa detik sebelumnya, mereka masih membahas kunjungan yang terasa buntu.

Sekarang?

Situasinya berubah total.

Karena dokumen yang baru ditemukan itu bisa menjadi petunjuk terbesar sejak investigasi dimulai.

Atau jebakan paling berbahaya.

Dan untuk saat ini, mereka belum tahu yang mana.

Mobil terus melaju menembus kemacetan Jakarta.

Sementara itu, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada isi map.

Almira membuka halaman kedua.

Kemudian halaman ketiga.

Lalu halaman keempat.

Semakin banyak yang ia baca, semakin dalam kerutan di dahinya.

"Ini bukan laporan biasa."

gumamnya.

Reynard mengangguk.

"Aku juga berpikir begitu."

Dokumen itu berisi daftar transaksi.

Namun bukan transaksi keuangan secara langsung.

Melainkan transaksi akses.

Izin sistem.

Perubahan otorisasi.

Perpindahan hak akses dari satu server ke server lain.

Hal-hal yang biasanya hanya dipahami oleh tim teknologi informasi.

Namun ada sesuatu yang membuat dokumen itu mencolok.

Sebuah nama.

Nama yang muncul berulang kali.

Leonard Kusuma.

Salah satu direktur senior yang terlibat dalam proyek kerja sama antara Valencia Group dan Mahardika Holdings.

Seorang profesional berpengalaman.

Memiliki reputasi baik.

Dan selama ini dianggap sebagai salah satu orang paling dapat dipercaya dalam tim.

Namun kini namanya muncul dalam dokumen internal Nusantara Connect.

Berulang kali.

Terlalu sering.

"Ini bisa berarti banyak hal."

kata Almira.

"Atau hanya satu hal."

jawab Reynard.

Almira menoleh.

"Jangan langsung menyimpulkan."

"Aku tidak menyimpulkan."

"Lalu?"

"Aku hanya tidak suka kebetulan."

Almira terdiam.

Karena ia juga tidak menyukai kebetulan.

Dan akhir-akhir ini jumlah kebetulan dalam hidup mereka sudah terlalu banyak.

Setelah tiba di kantor pusat Mahardika Holdings, mereka memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan di ruang rapat pribadi.

Tempat yang lebih aman.

Lebih tertutup.

Dan jauh dari telinga yang tidak seharusnya mendengar.

Begitu pintu tertutup, Almira langsung mengambil laptop.

"Kita harus memverifikasi semuanya."

"Setuju."

"Tidak boleh ada asumsi."

"Setuju."

"Kalau ternyata dokumen ini palsu?"

"Itu juga kemungkinan."

Untuk pertama kalinya sejak menemukan map tersebut, keduanya mulai berpikir lebih hati-hati.

Karena semakin besar temuannya, semakin besar pula kemungkinan mereka sedang diarahkan ke jalan yang salah.

Dua jam berikutnya dihabiskan untuk memeriksa setiap halaman.

Setiap kode.

Setiap tanggal.

Setiap tanda tangan digital.

Dan hasilnya membuat situasi semakin rumit.

Karena sejauh yang bisa mereka lihat...

Dokumen itu asli.

Sangat asli.

Terlalu asli untuk dipalsukan dalam waktu singkat.

"Kalau ini benar..."

Almira menghentikan kalimatnya.

Reynard menyelesaikannya.

"Leonard terlibat."

Hening.

Ruangan terasa lebih dingin.

Karena jika seorang direktur senior benar-benar terlibat, maka masalah ini jauh lebih dalam daripada yang mereka kira.

Namun ada satu hal yang masih mengganjal.

Sesuatu yang tidak masuk akal.

Almira memutar kursinya perlahan.

"Lupakan Leonard sebentar."

"Apa?"

"Map ini."

Reynard mengernyit.

"Kenapa dengan map ini?"

"Kenapa bisa ada di mobil kita?"

Pertanyaan sederhana.

Namun dampaknya besar.

Karena semakin dipikirkan, semakin aneh semuanya.

Mobil yang mereka gunakan hari itu adalah kendaraan perusahaan.

Sopir resmi.

Rute resmi.

Tidak ada alasan sebuah dokumen rahasia Nusantara Connect bisa muncul begitu saja di sana.

Kecuali...

Seseorang sengaja meletakkannya.

"Jadi kita diarahkan."

kata Reynard.

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Aku belum yakin."

Reynard menyandarkan tubuh ke kursi.

"Lalu ada kemungkinan lain?"

Almira berpikir beberapa saat.

Kemudian menggeleng.

"Tidak banyak."

Artinya seseorang ingin mereka menemukan dokumen tersebut.

Pertanyaan berikutnya adalah:

Kenapa?

Apakah orang itu membantu mereka?

Atau justru memanipulasi mereka?

Ponsel Reynard bergetar.

Pesan dari salah satu staf IT.

Ia membaca cepat.

Lalu ekspresinya berubah.

"Ada apa?"

tanya Almira.

"Mereka menemukan sesuatu di server."

"Apa?"

"Log akses milik Leonard."

Almira langsung berdiri.

"Dan?"

Reynard menyerahkan ponselnya.

Data yang ditampilkan cukup jelas.

Akun Leonard memang pernah digunakan untuk mengakses jalur yang sama dengan aktivitas mencurigakan.

Namun ada satu masalah besar.

Waktu akses tersebut terjadi ketika Leonard sedang berada di luar negeri.

Terdokumentasi.

Lengkap.

Tidak mungkin secara fisik melakukannya sendiri.

"Jadi dia dijebak?"

tanya Almira.

"Mungkin."

"Atau akunnya dicuri."

"Itu juga mungkin."

Almira menghela napas panjang.

Baru saja mereka merasa menemukan jawaban.

Kini semuanya kembali kabur.

Sore hari.

Mereka memutuskan menemui Leonard secara langsung.

Tanpa tuduhan.

Tanpa konfrontasi.

Hanya mengamati.

Karena terkadang reaksi seseorang lebih penting daripada jawabannya.

Kantor Leonard berada di lantai dua puluh satu Valencia Group.

Ketika mereka masuk, pria berusia lima puluh tahunan itu tampak cukup terkejut melihat keduanya datang bersama.

"Almira? Reynard?"

Leonard berdiri.

"Ada masalah?"

"Tidak."

jawab Almira cepat.

"Kami hanya ingin bertanya beberapa hal tentang proyek."

Leonard tersenyum.

"Tentu."

Percakapan berlangsung hampir empat puluh menit.

Dan selama empat puluh menit itu, Almira memperhatikan setiap detail.

Nada suara.

Gerakan tangan.

Ekspresi wajah.

Cara pria itu menjawab pertanyaan.

Namun hasilnya justru membuatnya semakin bingung.

Karena Leonard terlihat tulus.

Sangat tulus.

Tidak tampak seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu.

Setelah keluar dari kantor tersebut, Reynard langsung berbicara.

"Menurutmu?"

"Aku tidak tahu."

"Itu jawaban kedua yang paling sering kamu gunakan akhir-akhir ini."

"Lalu yang pertama?"

"'Ini aneh.'"

Almira menatapnya datar.

"Kamu menghitung?"

"Mungkin."

Mereka berjalan menuju lift.

Masih memikirkan pertemuan tadi.

Sampai tiba-tiba seseorang keluar dari lift yang baru terbuka.

Dan orang itu hampir menabrak Almira.

"Maaf."

kata pria tersebut cepat.

"Tidak apa-apa."

jawab Almira.

Namun beberapa langkah kemudian ia berhenti.

Karena wajah pria itu terasa familiar.

Sangat familiar.

"Reynard."

Pria itu menoleh.

"Apa?"

"Orang tadi."

"Kenapa?"

"Aku pernah melihatnya."

"Di mana?"

Almira mencoba mengingat.

Gudang.

Kantor.

Rapat.

Tidak.

Bukan di sana.

Lalu tiba-tiba ingatan itu muncul.

"Nusantara Connect."

katanya pelan.

Reynard langsung berhenti berjalan.

"Kamu yakin?"

"Aku melihatnya kemarin."

"Sebagai apa?"

"Itu masalahnya."

Almira mengerutkan dahi.

"Aku tidak tahu."

Keduanya langsung berbalik.

Namun pria tersebut sudah menghilang.

Seolah ditelan keramaian gedung.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, mereka merasakan sesuatu yang sangat jelas.

Mereka sedang diawasi.

Malam harinya, mereka kembali berkumpul di ruang rapat kecil.

Dokumen berada di atas meja.

Catatan memenuhi papan tulis.

Nama-nama mulai terhubung satu sama lain.

Leonard.

Nusantara Connect.

Server perantara.

Data yang hilang.

Pria misterius.

Semuanya membentuk pola.

Namun pola itu belum lengkap.

Masih ada bagian yang hilang.

"Aku merasa kita sedang melihat gambar puzzle."

kata Almira.

"Tapi setengah bagiannya masih belum ada."

jawab Reynard.

"Tepat."

Mereka terdiam.

Kemudian Reynard menunjuk salah satu nama.

"Dimas."

Staf gudang dari Makassar.

"Kenapa dia?"

"Aku baru sadar."

"Apa?"

"Sejak kita kembali dari Makassar, dia menghilang."

Almira langsung menegakkan tubuh.

"Menghilang?"

"Tidak masuk kerja dua hari."

Hening.

Kemudian keduanya saling menatap.

Karena jika Dimas memang menghilang tepat setelah investigasi dimulai...

Maka itu bukan kebetulan.

Dan jika itu bukan kebetulan...

Maka mereka baru saja menemukan benang merah pertama yang sesungguhnya.

Di sebuah tempat yang tidak diketahui, seorang pria duduk sendirian di ruangan gelap.

Ponselnya menyala.

Menampilkan satu pesan singkat.

Dimas tidak bisa dihubungi.

Pria itu membaca pesan tersebut tanpa ekspresi.

Lalu perlahan mematikan layar.

"Akhirnya."

gumamnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Bukan senyum kemenangan.

Melainkan senyum seseorang yang tahu bahwa permainan telah memasuki babak berikutnya.

Babak yang jauh lebih berbahaya.

Karena mulai saat ini, bukan hanya data yang hilang.

Orang pun mulai menghilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!