Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Antara kecepatan cahaya dan sinyal lemah 2
Karya Vian's
Sesi training kilat pun dimulai. Kedai belum resmi dibuka, namun suasananya sudah seperti barak militer. Sila mengambil alih Mika, sementara Farel bertanggung jawab menjinakkan Arka di balik mesin espresso.
"Mika, fokus! Lihat tanganku," ujar Sila dengan nada yang ditekan-tekan agar tetap sabar. "Kalau ada yang pesan Americano, kamu ambil cangkir ini, isi air panas, baru espresso. Jangan dibalik, jangan dicampur sirup cokelat, dan jangan nunggu ilham datang dulu baru gerak. Paham?"
Mika menatap cangkir itu seolah sedang mencoba berkomunikasi batin dengannya. Dua detik kemudian, ia mengangguk pelan. "Paham... air dulu... baru... kopi. Kalau... air mata... boleh?"
Sila nyaris tersedak air ludahnya sendiri. "Mika! Jangan drama! Kita jualan kopi, bukan jualan kesedihan!"
Di sisi lain, Farel sedang berjuang menahan tangan Arka yang bergerak secepat kilat. "Arka, pelan-pelan! Kamu mencet tombolnya jangan kayak lagi main game online! Mesin ini harganya lebih mahal dari motor kamu!"
"Siap, Bang Farel! Saya cuma mau memastikan molekul kopinya bergetar dengan kegembiraan!" sahut Arka sambil melakukan gerakan putar-putar portafilter yang hampir saja melayang ke arah kaca depan.
Pukul delapan tepat, pintu kedai dibuka. Pelanggan pertama pun masuk—seorang pria paruh baya yang tampak sangat terburu-buru.
"Satu Cappuccino panas, bawa pulang," pesannya singkat.
"SIAP, PAK! PESANAN AKAN MELUNCUR SECEPAT KOMET!" teriak Arka yang membuat si bapak terlonjak kaget. Arka langsung menyambar cangkir, tapi karena terlalu semangat, ia malah menabrak bahu Farel hingga susunya tumpah sedikit ke apron barunya.
Sementara itu, Mika bertugas menyiapkan paper cup. Sila mengawasi dari belakang dengan jantung berdebar. Mika mengambil cup itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, menatapnya dari berbagai sudut, lalu mulai menulis nama pelanggan.
"Mika, cepat sedikit, bapaknya sudah melirik jam terus," bisik Sila gemas.
Setelah menunggu hampir dua menit hanya untuk menulis nama, Mika menyerahkan cup itu ke Arka. Sila mengintip tulisan di cup tersebut dan seketika ia ingin menghilang dari bumi. Mika menulis nama pelanggan itu dengan huruf kaligrafi yang sangat indah, namun hanya satu huruf per sepuluh detik.
"Mika! Bapak ini namanya Pak Budi, kenapa kamu baru nulis huruf 'B' doang dengan aksen bunga-bunga?!" Sila frustrasi sambil memijat keningnya.
"Biar... estetik... Kak," jawab Mika tanpa dosa.
Drama belum berakhir. Arka yang sudah selesai meracik kopi dengan kecepatan cahaya, bermaksud menyerahkannya dengan gaya barista profesional. Ia melakukan gerakan memutar badan, namun sialnya, tutup cup-nya belum rapat.
"Ini dia, kopi penuh cinta untuk Bapak!" seru Arka.
PLUP!
Sedikit busa cappuccino memercik ke arah ujung sepatu si bapak. Suasana mendadak hening. Farel mematung, Sila menahan napas, dan Savya yang sedang menata buku di rak hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan.
Arka terdiam sejenak, lalu dengan cepat ia berlutut dan meniup-niup sepatu si bapak. "Maaf Pak! Ini tadi 'berkah' dari surga kopi! Sepatu Bapak sekarang punya aroma Arabica kelas dunia!"
Si bapak yang tadinya mau marah, malah jadi bingung melihat tingkah ajaib Arka dan tatapan kosong Mika yang seolah tidak merasa ada masalah. Akhirnya, ia hanya menggelengkan kepala, mengambil kopinya, dan pergi sambil bergumam, "Kedai ini... isinya orang aneh semua."
Sila langsung lemas di balik kasir. "Mbak Savya... hari ini baru berjalan sepuluh menit, tapi rasanya aku sudah mau pensiun dini."
Siang hari tiba, dan kedai mulai dibanjiri pengunjung yang mencari asupan kafein di jam istirahat. Di balik bar, suasana sudah seperti medan perang yang jenaka. Sila dan Farel tampak seperti pejuang yang kehabisan amunisi kesabaran, sementara Arka dan Mika masih asyik dengan dunia mereka sendiri.
Puncak Kerusuhan di Jam Makan Siang
Antrean mulai mengular sampai ke pintu depan. Sila di bagian kasir sudah berbicara dengan kecepatan robot agar antrean cepat bergerak.
"Satu Iced Latte, satu Croissant cokelat. Mika, ambilkan croissant-nya sekarang!" perintah Sila tanpa menoleh.
Mika mengangguk. Ia berjalan menuju etalase kaca dengan gerakan yang sangat berwibawa... namun sangat lambat. Ia membuka pintu kaca seolah-olah itu adalah gerbang istana yang berat. Lima detik berlalu, ia hanya memandangi croissant itu.
"Mika! Jangan diajak kenalan dulu croissant-nya! Ambil!" teriak Sila dengan urat leher yang mulai terlihat.
"Sabar... Kak," bisik Mika datar. "Saya... lagi... cari... yang... paling... bahagia."
"Gak ada croissant yang bahagia, Mika! Semuanya udah dipanggang!" Sila hampir saja menangis frustrasi di depan pelanggan yang hanya bisa melongo melihat interaksi itu.
Sementara itu, di bagian mesin kopi, Farel sedang berjuang menepis tangan Arka yang mencoba melakukan gaya freestyle saat menuang susu.
"Bang Farel, lihat ini! Teknik tuang 'Naga Terbang Menembus Awan'!" seru Arka. Ia mengangkat teko susu tinggi-tinggi, mencoba membuat latte art yang rumit, namun karena tangannya terlalu enerjik, susu itu justru memuncrat ke hidung Farel.
Farel memejamkan mata, membiarkan setetes susu jatuh dari ujung hidungnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat cicilan motornya agar tidak meledak saat itu juga. "Arka... cukup. Tuang saja seperti biasa. Jangan ada naga, jangan ada awan, cukup kopi!"
"Siap, Bang Senior! Maaf, naganya tadi sedikit bersin!" jawab Arka sambil tertawa tanpa beban, lalu dengan sembrono ia mengelap hidung Farel menggunakan kain lap meja yang baru saja dipakai.
Savya yang sedari tadi mengawasi dari balik rak buku hanya bisa memegangi perutnya. Berkali-kali ia harus menutup mulut dengan punggung tangan agar tawa ledakannya tidak mengganggu pelanggan. Ia melihat betapa kontrasnya tim barunya ini: Sila yang sudah hampir menyerah pada "sinyal lemah" Mika, dan Farel yang tertekan oleh "kecepatan cahaya" Arka.
Sesekali, Savya berjalan mendekat untuk memberikan arahan dengan suara lembut dan senyuman hangat yang menenangkan.
"Arka, fokus ke pesanan ya, jangan atraksi dulu," ucap Savya sambil menepuk bahu Arka pelan. Kemudian ia menoleh ke arah Mika, "Mika, ambilkan saja yang paling dekat, semuanya enak kok."
Sentuhan ketenangan dari Savya sedikit meredakan ketegangan, meskipun hanya bertahan selama tiga puluh detik sebelum Arka kembali berteriak, "PESANAN NOMOR LIMA! KOPI SPESIAL DARI CALON BINTANG FILM!"
Sila hanya bisa menyandarkan dahinya ke mesin kasir yang dingin. "Mbak Savya... tolong bilang kalau ini cuma mimpi. Aku lebih milih ngadepin tujuh saudaraku yang lagi berantem daripada sehari lagi sama mereka berdua," gumam Sila melas.
Savya hanya tersenyum lebar. Baginya, kekacauan ini adalah "warna" yang ia cari—sebuah keramaian jujur yang perlahan mulai menyembuhkan sisa-sisa luka di hatinya.
Membayangkan Sila yang harus menghadapi kelemotan Mika sambil menahan emosi benar-benar menjadi bumbu komedi yang pas untuk cerita ini. Sepertinya keputusan Savya merekrut mereka memang tepat untuk menghidupkan suasana kedai, meskipun harus mengorbankan ketenangan Farel dan Sila.
Kerusuhan ini adalah "warna" baru yang membuat kedai Savya terasa lebih manusiawi dan hangat.
Malam harinya......saat waktu pulang kerja.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Papan tanda di depan pintu sudah dibalik menjadi CLOSED. Di dalam kedai, suasana tidak lantas menjadi tenang. Justru, babak baru dimulai: sesi beres-beres.
Arka dengan semangat yang entah datang dari mana, menyambar alat pel seolah-olah itu adalah tongkat estafet olimpiade. Ia mulai mengepel lantai dengan gerakan dansa yang sangat ekspresif. "Lantai bersih, hati senang! Mari kita hapus jejak kaki pelanggan dengan cinta!" serunya sambil berputar-putar. Namun, karena terlalu semangat, ia tidak sengaja menyenggol ember hingga air sabun meluap ke mana-mana.
"ARKA! Jangan atraksi lagi, aku mau pulang!" teriak Sila yang sedang duduk lemas di kursi kasir, kepalanya benar-benar terasa berat setelah seharian menghadapi "keajaiban" dunia.
Di sisi lain, Mika sedang bertugas mengelap meja nomor empat. Sejak tiga puluh menit yang lalu, ia hanya berada di meja yang sama. Ia mengelap permukaannya dengan sangat perlahan, searah jarum jam, lalu berhenti untuk menatap serat kayu meja tersebut.
Farel yang lewat sambil membawa nampan cucian hanya bisa berhenti dan menatap Mika dengan pandangan kosong. "Mika... meja itu sudah mengkilap sampai bisa buat ngaca. Pindah ke meja lain, ya?"
Mika menoleh pelan. "Satu... debu... lagi... Bang. Dia... minta... diperhatikan."
Farel hanya bisa menghela napas panjang dan berjalan menuju dapur. Ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat. "Mbak Savya, besok tolong bawakan aku stok kopi dua kali lipat lebih kuat. Aku butuh kafein ekstra buat bertahan hidup," gumam Farel saat berpapasan dengan Savya.
Savya yang baru saja selesai menghitung pendapatan hari itu hanya tersenyum hangat. Ia melihat Arka yang sekarang malah sibuk meminta maaf pada lantai yang basah, dan Mika yang masih setia dengan satu debu "kesayangannya". Meskipun hari ini penuh dengan drama, teriakan gemas Sila, dan kecemasan Farel, Savya merasa kedainya tidak pernah sehidup ini.
Ia berjalan ke tengah ruangan, menatap mereka semua dengan tatapan yang menyejukkan. "Terima kasih untuk hari ini, semuanya. Kalian hebat."
Sila mengangkat kepalanya sedikit. "Hebat bikin aku darah tinggi ya, Mbak?"
Savya tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat tulus hingga membuat suasana yang tadinya tegang menjadi cair. "Pulanglah. Istirahat yang cukup. Besok kita mulai lagi dengan... harapan baru, dan mungkin nampan yang tidak jatuh lagi, ya, Arka?"
"SIAP, MBAK BOS SAVYA! Besok saya akan pastikan nampannya punya lem di bawahnya!" sahut Arka dengan hormat grak yang membuat Sila kembali menghela napas panjang.
Satu per satu mereka mulai meninggalkan kedai. Savya berdiri di depan pintu, memandangi jalanan yang mulai sepi. Ia menyadari bahwa kesembuhan hatinya tidak hanya datang dari kedamaian yang ia bangun sendiri, tapi juga dari kekacauan penuh tawa yang dibawa oleh orang-orang baru ini.
..."Story by Vian's."...