Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.Bisikan Takdir di Balik Pintu Kayu
Udara sore musim semi menggantung tipis di sepanjang lorong batu Akademi Junior Nuoding. Hangat yang semu, sebab ia sama sekali tidak cukup tangguh untuk mengusir hawa dingin yang merayap konstan dari lantai batuan obsidian di bawah pijakan kaki.
Yu Xiaogang berjalan dengan kedua tangan tersembunyi di balik jubah akademisnya yang longgar. Setiap ujung jemarinya bergetar samar—bukan karena beratnya usia yang mulai menggerogoti fisik, bukan pula lantaran kelelahan fisik setelah menempuh perjalanan jauh. Melainkan karena di sampingnya, berjalan dengan langkah-langkah pendek namun berirama mutlak konstan, ada seorang anak laki-laki dengan manik mata yang terlampau tua untuk ukuran usianya.
Tang San.
Di bawah ketiak pria paruh baya itu, sebuah buku catatan usang bersampul kulit domba yang telah retak-retak terjepit erat. Buku itu nyaris hancur, benang jilidnya mencuat lapuk akibat terlalu sering dibuka-tutup selama lebih dari dua dekade. Di dalam lembaran-lembaran kuningnya, tertuang deretan hipotesis dan teori yang selama ini menjadi bahan tertawaan yang renyah bagi para Master Roh di seantero Benua Douluo. Teori-teori yang dicemooh dalam diskusi formal, dihina di kedai-kedai minuman, dan dianggap sebagai omong kosong tak berdasar dari seorang pecundang yang cacat secara kultivasi.
Namun sore ini, eksistensi anak di sebelahnya seolah menjadi jawaban instan atas pembuktian hidupnya.
"Guru?" Suara Tang San terdengar lirih, memotong arus lamunan yang sempat mengunci kesadaran Yu Xiaogang.
Yu Xiaogang tersentak kecil, menghentikan langkah kakinya tepat di bawah pilar batu yang berlumut tipis. Bibirnya yang kering, tipis, dan pucat mencoba membentuk seulas senyuman yang sudah terlampau lama absen dari wajah kaku itu. Sebuah lengkungan canggung, bahkan terasa menyayat hati bagi siapa pun yang mampu membaca guratan sejarah panjang penolakan serta isolasi sosial yang pernah dialaminya.
"Aku bukan guru sembarangan, San Kecil," sahut Yu Xiaogang dengan suara parau, serak layaknya seseorang yang telah menyimpan ribuan kalimat di tenggorokan tanpa pernah menemukan lawan bicara yang sepadan. "Gelar itu... tidak bisa kau sematkan begitu saja pada pundakku. Kecuali, di dalam lubuk hatimu yang paling dalam, kau benar-benar telah menyerahkan seluruh kepercayaanmu untuk menjadikanku satu-satunya penuntun jalarmu."
Tang San menghentikan pergerakannya. Sinar matahari senja yang menerobos celah-celah kisi atap kayu tua menyinari separuh wajahnya. Tidak ada ekspresi tegang, tidak ada binar kekaguman anak-anak. Wajah bocah itu layaknya permukaan danau purba di pagi buta—tanpa riak, pekat, menyimpan kedalaman psikologis yang sulit diukur oleh mata telanjang.
"Kalau begitu," kata Tang San pelan, kedua tangannya terkulai alami di sisi paha, "bisakah Guru menjabarkan kepadaku mengenai metode yang tepat dalam mengidentifikasi dan merawat tanaman herbal?"
Yu Xiaogang hampir saja melepaskan tawa getirnya. Bukan karena pertanyaan itu jenaka, melainkan karena ironi yang terkandung di dalamnya begitu pekat. Bocah ini—yang beberapa jam lalu di aula kebangkitan menyembunyikan eksistensi roh kembar dengan sangat rapi, yang setiap refleks gerakannya mengandung aroma warisan bertarung tingkat tinggi—justru membuka percakapan pertama mereka dengan urusan botani.
"Tentu saja bisa," jawab Yu Xiaogang. Ia perlahan menekuk kedua lututnya yang kaku, merendahkan posisi tubuhnya hingga tatapan matanya sejajar dengan manik mata Tang San. "Namun, pengetahuan yang kuperoleh selama hidup jauh lebih luas daripada sekadar klasifikasi flora. Transformasi esensi wujud roh, batasan absolut usia penyerapan cincin spiritual, metodologi membedakan umur binatang roh tanpa perlu mengakhiri hidup mereka, hingga pemetaan jalur kultivasi... Aku, Yu Xiaogang, jika berbicara dalam ruang lingkup teori..."
Ia mengulurkan tangannya yang kasar, mencengkeram kedua bahu kecil Tang San dengan tekanan yang sarat akan ambisi yang lama terpendam.
"...tidak akan menemukan tandingan yang sepadan di seluruh bentangan benua ini."
Sepasang kelopak mata Tang San menyipit tipis, sebuah gerakan refleks sehalus benang yang hanya bertahan sepersekian detik. Namun, durasi singkat itu sudah lebih dari cukup bagi Yu Xiaogang untuk menyadari satu hal: bocah di hadapannya ini tidak memiliki kesamaan sedikit pun dengan murid-murid akademis biasa. Ada aura kewaspadaan yang pekat, sejenis insting bertahan hidup dari seekor predator muda yang terbiasa tidur di ujung belati.
"Lalu, Guru," nada suara Tang San bergeser satu oktaf lebih dalam, "apa sebenarnya makna mendasar dari 'roh kembar'? Saya masih belum mampu mencerna..."
Yu Xiaogang tersenyum lagi, kali ini guratannya tampak jauh lebih organik. Ia menarik keluar lembar dokumen bukti kebangkitan milik Tang San yang sempat ia periksa secara sekilas beberapa saat lalu. Jari-jarinya yang dipenuhi kapalan menunjuk baris tulisan dengan akurasi yang dingin.
"Buktinya telah tertulis di sini, San Kecil. Catatan kebangkitanmu tidak bisa membohongi hukum alam."
[ `*-*` *Proses selanjutnya bergulir menjadi sebuah dialog teoritis yang panjang dan mendalam di bawah naungan pohon beringin tua di halaman belakang akademi. Angin sore berembus lambat, membawa serta aroma khas tanah basah pasca-hujan dan patahan daun-daun kering yang memenuhi rongga penciuman. Yu Xiaogang memaparkan hipotesisnya tentang evolusi bentuk roh, stabilitas dual spirit, hingga rancangan struktural bagaimana seorang Master Roh berkekuatan penuh bawaan mampu menyentuh takhta Title Douluo tanpa harus mengorbankan salah satu esensi rohnya. Pria paruh baya itu berbicara dengan gairah yang membara, seolah seluruh jiwanya yang sempat membusuk kini menemukan setitik alasan konkret untuk kembali hidup. Tang San mendengarkan tanpa memotong, menyerap setiap untai kalimat dengan saksama. Kewaspadaan di matanya perlahan mencair, runtuh oleh rasa hormat yang tulus terhadap kapasitas intelektual pria di hadapannya.* ]
Sampai pada akhirnya, di atas hamparan rumput yang mulai menggelap, Tang San menurunkan lututnya, berlutut dengan khidmat ke arah tanah.
Bukan karena tuntutan formalitas sosial, bukan pula karena silau akan kekuatan fisik. Namun karena untuk pertama kalinya dalam rentang dua kali menempuh kehidupan, ia menemukan sebuah jiwa yang mampu membaca rahasia terdalamnya secara akurat.
"Guru."
Satu kata, namun diucapkan dengan bobot komitmen yang mutlak.
Yu Xiaogang merasa pasokan udara di dalam dadanya mendadak menyempit, menyisakan rasa sesak yang emosional. Selama puluhan tahun, dunia luar melabelinya sebagai sampah Aula Roh, pecundang yang mandek di tingkat dua puluh sembilan, seonggok daging tak berguna yang tidak layak menyandang predikat 'Grandmaster'. Dan sore ini, seorang jenius monster yang hanya lahir sekali dalam rentang seribu tahun sedang berlutut di bawah kakinya, menyerahkan garis takdirnya dengan sebutan guru.
Tangannya yang gemetar naik perlahan, menyentuh puncak kepala Tang San dengan kelembutan yang kaku.
"Bangunlah, San Kecil. Tanah sore hari terlalu lembap untuk lututmu. Mari, kakek—maksudku, aku akan mengantarmu menuju meja registrasi asrama."
Ia meraih telapak tangan kecil Tang San. Terasa hangat, berbanding terbalik dengan hawa dingin yang selama dua puluh tahun ini membekukan dinding hatinya.
Di belakang punggung mereka, dedaunan kering melepaskan diri dari ranting, jatuh berputar mengikuti arus angin yang lambat.
Sementara itu, di depan area selasar kantor registrasi murid baru...
Xiao Xuan baru saja mendorong pintu kayu mahoni yang berat, melangkah keluar sambil mendekap dua pasang seragam akademi di lengan kirinya. Aroma kapur barus yang menyengat bercampur dengan bau kain drill baru langsung menguar dari lipatan pakaian tersebut. Teksturnya terasa agak kasar saat bergesekan dengan ujung-ujung jarinya—jelas bukan pintalan sutra kualitas atas, bukan pula katun halus milik anak-anak bangsawan kota. Namun bagi seorang anak yang secara administratif tercatat sebagai yatim piatu dari Desa Roh Suci, pakaian ini adalah tameng legalitas yang sudah lebih dari cukup.
Ia berjalan santai menyusuri teras, membiarkan sisa-sisa kehangatan matahari sore menyentuh tengkuk lehernya yang terbuka.
Tepat saat ia memutari pilar ketiga, sudut matanya menangkap dua siluet familiar yang baru saja menginjakkan kaki di area halaman registrasi.
Yu Xiaogang dan Tang San.
Ada transformasi visual yang kentara pada diri sang Grandmaster. Jika biasanya pria itu berjalan dengan bahu yang melorot lesu seolah-olah memikul seluruh beban penderitaan dunia di pundaknya, sore ini... sepasang manik matanya memancarkan sejenis binar kepuasan yang intens. Seperti seorang penjudi ulung yang baru saja memenangkan taruhan terbesar dengan mempertaruhkan sisa umurnya.
Xiao Xuan mengembulas napas pendek lewat hidung, gerakannya sangat halus.
*Alur dunia ini memang memiliki daya rekat yang luar biasa,* batinnya, wajahnya tetap sedatar air di dalam tempayan.
Ia melanjutkan langkah kakinya, bergerak mendekat ke arah posisi mereka berdua. Tidak mempercepat tempo, tidak pula memperlambatnya—hanya langkah-langkah kaki pendek yang terukur agar tidak menimbulkan kesan mencolok atau agresif. Ketika jarak di antara mereka menyusut hingga menyisakan tiga ketukan langkah, Xiao Xuan menghentikan gerakannya sejenak, menurunkan sedikit sudut kepalanya dalam gestur penghormatan yang proporsional.
"Selamat sore, Guru."
Nada suaranya sopan, berada di frekuensi yang pas, tidak menyiratkan kesan menjilat ataupun ketakutan yang berlebihan.
Yu Xiaogang mengalihkan fokus pandangannya sekilas—hanya sebuah kerlingan dingin yang bertahan kurang dari satu detik—sebelum akhirnya memberikan anggukan kepala yang kaku tanpa melepaskan satu patah kata pun sebagai balasan. Tidak ada senyuman ramah yang tersisa. Matanya dengan cepat kembali terkunci pada sosok Tang San yang berjalan di sisi kanannya, memperlakukan eksistensi Xiao Xuan tak lebih dari seonggok bayangan dekoratif yang kebetulan melintas di koridor.
Xiao Xuan menarik kembali sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang hampir tidak terlihat.
Sama sekali tidak ada rasa gusar atau ketersinggungan yang memicu emosinya. Mengapa harus membuang energi spiritual untuk hal sekecil itu?
Lagipula, di saat yang bersamaan, pandangan batinnya justru disuguhi oleh fenomena visual yang jauh lebih berbobot dari sekadar pengakuan seorang pria paruh baya yang frustrasi.
Di atas kepala Yu Xiaogang, kabut keperakan tipis mendadak memadat, memuntahkan guratan teks spiritual yang berdenyut lambat.
【 📝 *Panel Entri Kehidupan - Yu Xiaogang* 】
【 🔴 *Menerima Tang San sebagai Murid Utama (Peringkat: Merah)!* 】
[ ( ̄ー ̄) *Ding! Seorang teoritikus paruh baya yang penyendiri akhirnya berhasil mengklaim kanvas terbaik untuk menumpahkan ambisi hidupnya. Langit tidak pernah benar-benar buta, ia hanya senang menumpuk penderitaan manusia hingga tiba waktu yang tepat untuk sebuah ledakan drama!* 🔥 ]
【 🔵 *Titik Balik Nasib Aktif (Peringkat: Biru)!* 】
[ (◕‿◕) *Dari kubangan takdir yang membusuk di dasar jurang, seberkas harapan baru mulai menyulut sumbu kehidupan. Sejarah Benua Douluo bersiap mengukir nama ini—bukan sebagai gladiator berdarah dingin, melainkan sebagai arsitek di balik tirai legenda.* 📜 ]
Xiao Xuan mengerjapkan kelopak matanya sekali, menahan riak kejut di dalam dadanya agar tidak merembes ke ekspresi fisik.
Pada sesi pemindaian di Desa Roh Suci beberapa hari lalu, panel kehidupan Yu Xiaogang hanya memajang satu entri berwarna putih kusam bertuliskan: *Titik Terendah Dalam Hidup*. Namun sore ini, entri merah menyala itu berdenyut konstan, memancarkan tekanan spiritual yang samar namun pekat layaknya detak jantung seekor binatang buas.
Merah. Tingkatan tertinggi yang melambangkan anugerah ekstrem dari hukum dunia.
*Jadi, pengikatan takdir antara guru dan murid ini memiliki bobot sebesar itu di mata dunia?* pikir Xiao Xuan, sudut matanya menganalisis teks tersebut dengan cermat sebelum akhirnya mematikan fungsi panel batinnya. Wajah kecilnya kembali bertransformasi menjadi topeng ketenangan yang absolut.
Yu Xiaogang dan Tang San berjalan melewati posisinya tanpa menghentikan ritme. Debu-debu halus mengepul dari sol sandal kayu usang milik sang Grandmaster, meninggalkan kepulan aroma tipis di udara koridor—sebuah perpaduan antara bau keringat lama, kertas buku tua yang lembap, dan aroma pahit yang khas dari sisa rebusan kopi murah atau ramuan medis berkadar rendah.
Saat jarak di antara mereka telah merenggang sekitar sepuluh meter, sebuah bisikan lirih yang dilepaskan Yu Xiaogang berbelok pelan bersama arah angin sore, singgah secara akurat di indra pendengaran Xiao Xuan yang telah dipertajam oleh latihan awal *Sutra Hati Agung*.
"San Kecil, apakah bocah berbaju abu-abu yang tadi menyapa kita adalah sesama penduduk dari desamu?"
Jawaban Tang San terdengar agak mengambang, namun artikulasinya tetap tertangkap jelas.
"Benar, Guru. Dia adalah Xiao Xuan, anak yang dibesarkan di kediaman Kepala Desa Jack."
Keheningan sempat menjeda langkah mereka selama dua ketukan, sebelum akhirnya Yu Xiaogang kembali mengeluarkan kalimatnya dengan nada suara yang datar, dingin, dan sarat akan penghakiman objektif khas seorang teoritikus:
"Kepadatan kekuatan rohnya berada di titik terendah, San Kecil. Struktur potensi tulang dan esensi roh tongkat besinya terlalu terbatas untuk menembus batas evolusi yang tinggi. Di masa depan, selama berada di akademi ini, batasi interaksi sosialmu dengannya. Jalan kalian berdua telah terpisah sejak hari ini... Kau membawa takdir untuk menyentuh takhta Title Douluo, sementara dia? Jika dewi keberuntungan berpihak padanya, mungkin ia hanya akan berakhir sebagai seorang Master Roh tingkat dua puluh di sisa hidupnya."
Xiao Xuan menghentikan ayunan langkah kakinya tepat di ujung anak tangga selasar.
Di bawah siraman cahaya senja yang kian memerah dan terasa menyengat di kulit, seulas hawa dingin yang tipis seolah menyapu permukaan tengkuknya.
Bukan karena egonya terluka. Bukan pula karena amarah kekanak-kanakan yang menuntut pembuktian diri.
Tetapi lebih kepada rasa geli atas ironi sosial yang baru saja tersaji. Pria yang beberapa jam lalu ia ketahui menampilkan citra sebagai 'intelektual tertindas yang bijaksana', di balik punggung langsung menjatuhkan vonis mati terhadap masa depan seorang anak berusia enam tahun hanya berdasarkan angka angka mentah di atas kertas kebangkitan.
*Logika dunia ini memang tidak pernah berubah, baik di kehidupan lampau maupun di sini,* pikir Xiao Xuan, bibirnya membentuk senyuman sarkas yang dingin saat ia kembali mengayunkan kakinya menuruni anak tangga.
Kenapa ia harus memusingkan untai kalimat dari seorang pria yang bahkan tidak mampu memecahkan kutukan batasan tingkat dua puluh sembilan miliknya sendiri tanpa bantuan obat dewa di masa depan?
Jemari tangan kanannya meremas lipatan seragam akademi di pelukannya dengan tekanan yang konstan.
*Kau tidak akan pernah tahu, 'Grandmaster' Yu Xiaogang... bahwa bocah dengan 'bakat terbatas' yang baru saja kau coret dari daftar pergaulan muridmu ini, memiliki akses untuk menjungkirbalikkan seluruh isi perpustakaan teori yang sangat kau banggakan itu,* batin Xiao Xuan tenang.
**Asrama Tujuh — Menjelang Senja**
*Krieeek...*
Pintu kayu ek berukuran besar itu didorong terbuka, melepaskan suara gesekan engsel besi yang berkarat, berat, dan rendah. Aroma pekat dari kayu lapuk yang lembap bercampur dengan partikel debu halus yang beterbangan langsung menyergap indra penciuman Xiao Xuan—sebuah kombinasi aroma yang tidak asing, mengingatkannya pada atmosfer bangsal-bangsal penampungan kelas bawah.
Xiao Xuan melangkah masuk, kelopak matanya berkedip pelan untuk menyesuaikan diri dengan pencahayaan ruangan.
Spasial asrama ini tergolong luas, memiliki bentangan area sekitar tiga ratus meter persegi dengan langit-langit yang cukup tinggi, menyebabkan setiap gema langkah kaki atau suara gesekan kecil bertransformasi menjadi gaung yang hidup di telinga. Puluhan ranjang kayu berukuran *single* berjejer rapi dalam dua baris memanjang, menciptakan pemandangan yang sekilas menyerupai barisan kaku yang dingin.
Namun, dari sekian banyak ranjang yang tersedia, hanya ada sebelas tempat tidur yang telah dilengkapi oleh perlengkapan seprai dan bantal. Sisanya hanyalah kasur kapuk telanjang dengan bantal kusam yang kainnya telah menguning akibat noda keringat menahun.
Di area tengah ruangan, sekitar tujuh atau delapan anak laki-laki dengan rentang usia antara delapan hingga dua belas tahun sedang asyik bergulat, saling piting, dan melepaskan tawa yang nyaring. Suara mereka memantul di sudut-sudut dinding batu, menciptakan atmosfer kontradiktif: sebuah ruang yang ramai oleh aktivitas, namun terasa sepi dan menyedihkan di saat yang bersamaan.
Begitu tumit sandal Xiao Xuan mengetuk lantai bagian dalam, seluruh aktivitas pergulatan itu mendadak terhenti seketika. Satu per satu kepala menoleh ke arah pintu.
Seseorang di barisan belakang melepaskan siulan panjang yang bernada provokatif.
Dari tengah-tengah kerumunan anak-anak tersebut, seorang bocah dengan postur tubuh yang lebih tinggi, kekar, dan agak gempal melangkah maju dengan gaya yang diatur seangkuh mungkin. Wajahnya bulat, dengan sebaris bekas luka sayatan tipis yang telah mengering di sudut bibir bawahnya—sebuah fitur fisik yang membuatnya tampak terlalu matang untuk ukuran anak akademi junior. Sepasang matanya yang tajam menyapu penampilan Xiao Xuan dari ujung rambut hingga ke ujung sandal abu-abunya, layaknya seorang mandor pasar yang sedang menakar nilai ekonomi dari barang dagangan baru.
"Mahasiswa baru dari program kerja sambil belajar?" Suara bocah gempal itu terdengar berat, seng sengau yang dipaksakan. "Siapa namamu? Sebutkan jenis rohmu!"
Xiao Xuan menegakkan pandangannya, menatap lurus ke arah anak di depannya tanpa ada getaran kecemasan sedikit pun di bola matanya.
Wang Sheng. Tokoh figuran klasik yang ditakdirkan menjadi batu loncatan pertama bagi Tang San untuk menegaskan dominasi fisiknya di asrama ini.
"Xiao Xuan. Berasal dari Desa Roh Suci. Rohku... hanya sebatang Tongkat Besi biasa," jawabnya dengan nada suara yang terkontrol, datar, dan bersih dari intonasi menantang.
Ia mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan. Sinar putih keperakan yang sangat redup dan tipis menyala sekilas, sebelum akhirnya mewujudkan sebatang tongkat besi hitam pekat sepanjang satu meter di genggamannya. Bobotnya terasa mantap, permukaannya kasar tanpa hiasan ornamen estetik apa pun—hanya silinder logam pekat dengan kedua ujung yang tumpul.
Bagi anak-anak lain, itu hanyalah roh alat kelas rendah yang tidak memiliki nilai jual. Namun bagi Xiao Xuan, ini adalah medium fisik yang akan ia gunakan untuk menghancurkan setiap penghalang di masa depan.
Wang Sheng terdiam selama beberapa detik. Kelopak matanya berkedip cepat, seolah-olah skenario yang telah ia susun di dalam kepalanya mendadak kehilangan momentum. Biasanya, anak-anak baru dari program kerja akan langsung menunjukkan ekspresi ketakutan, atau justru membusungkan dada menantang duel demi harga diri. Namun, bocah berbaju abu-abu di hadapannya ini terlalu tenang. Matanya sedatar air, dan caranya menyodorkan roh miliknya terasa seperti seorang pekerja yang sedang menunjukkan kartu identitasnya kepada petugas keamanan—patuh, efisien, dan tanpa emisi ego.
"Aku... Aku Wang Sheng, *Spirit Scholar* tingkat delapan," ujar bocah gempal itu akhirnya, sedikit terbata-bata karena kehilangan ritme intimidasi. Ia berdeham keras untuk mengembalikan wibawanya yang sempat goyah. "Aku adalah kepala asrama sekaligus bos di ruangan ini. Mulai detik ini, setiap aturan dan perkataanku adalah hukum yang harus kau patuhi. Paham?"
Xiao Xuan menarik sudut bibirnya, menampilkan seulas senyuman tipis yang netral, bebas dari kesan sarkasme luar maupun kepasrahan yang menjijikkan.
"Dimengerti, Bos Wang Sheng. Jika tidak ada urusan lain... bolehkah saya menempati salah satu ranjang kosong di sudut?"
Wang Sheng menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, wajah gempalnya menampilkan ekspresi bingung yang kentara.
"Ah? Oh... iya, silakan. Cari saja ranjang yang belum ada pemiliknya. Nanti... nanti setelah kau selesai berkemas, aku akan menyuruh yang lain untuk menunjukkan letak kafetaria..."
Anak-anak asrama yang berdiri di belakang Wang Sheng saling pandang satu sama lain. Ada yang mengangkat alisnya tinggi-tinggi, ada pula yang mendengus kecewa sambil mengernyitkan dahi. Mereka semua telah bersiap untuk menikmati tontonan 'upacara penyambutan' yang melibatkan adu fisik dan tangisan anak baru, namun ketenangan Xiao Xuan yang bersikap menyerah sebelum perang dimulai membuat seluruh ketegangan itu menguap menjadi antiklimaks yang hambar.
Xiao Xuan melangkah melewati kerumunan tersebut, berjalan menuju area sudut ruangan yang paling dekat dengan jendela tinggi menghadap ke arah timur—posisi strategis yang memungkinkannya mendapatkan paparan cahaya matahari pagi yang optimal untuk latihan *Sutra Hati Agung*.
Ia menurunkan bundelan kain kecil berisi pakaian ganti dan selimut tipis pemberian Kakek Jack, lalu mulai merapikan permukaan kasur jerami yang agak berdebu dengan gerakan tangan yang lambat, ritmis, dan sangat teratur.
*Membuang-buang energi spiritual hanya untuk memperebutkan takhta kekuasaan di sebuah kamar anak-anak adalah puncak dari kebodohan yang tidak produktif,* batin Xiao Xuan sambil menekan ujung-ujung seprainya agar terpasang kencang.
Jika ia memilih untuk menantang dan merubuhkan Wang Sheng sekarang, maka sesuai dengan hukum rimba asrama, ia akan otomatis dinobatkan sebagai 'Bos Asrama Tujuh'. Konsekuensi logisnya? Dalam hitungan menit ke depan, ketika Tang San melangkah masuk membawa perlengkapan tidurnya yang mewah pemberian Yu Xiaogang, Xiao Xuan-lah yang harus berdiri di garis depan untuk menguji kekuatan sang tokoh utama.
Jika ia menang melawan Tang San—sebuah probabilitas yang sangat merepotkan mengingat Tang San memiliki *Langkah Bayangan Hantu* dan *Tangan Giok Misterius* yang telah matang—maka ia akan menarik perhatian penuh dari Yu Xiaogang dan pihak manajemen akademi terlalu dini. Jika ia sengaja mengalah, ia harus menurunkan harga dirinya untuk memanggil Xiao Wu—bocah kelinci yang akan tiba besok—dengan sebutan 'Kakak Besar Xiao Wu'.
*Skenario yang sangat tidak efisien dan melelahkan,* pikirnya dingin.
Lebih baik menyerahkan posisi bos itu sejak awal kepada Wang Sheng. Sederhana, praktis, dan menempatkan dirinya dalam posisi penonton yang tidak tersentuh konflik. Lagipula, dari analisis intuisinya, Wang Sheng sendiri saat ini sedang berada di bawah tekanan psikologis yang hebat—terjepit di antara arogansi kelompok murid bangsawan pimpinan Xiao Chenyu dari luar akademi, dan tuntutan untuk tetap terlihat kuat di depan adik-adik asramanya. Bocah gempal itu sebenarnya butuh tameng, bukan musuh baru.
Xiao Xuan menyelesaikan lipatan terakhir selimutnya.
Ia meraih sebuah gelas tanah liat yang terletak di atas meja kecil di samping ranjang, berjalan menuju sudut ruangan untuk mengisinya dengan air dari teko keramik yang permukaannya telah dipenuhi retakan rambut.
*Glek... Glek...*
Air dingin itu mengalir melewati tenggorokannya. Ada sedikit aroma tanah kering yang tertinggal di lidah, namun kesegarannya cukup untuk menurunkan sisa-sisa suhu panas kultivasi siang tadinya.
Tepat saat ia meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja kayu, indra pendengarannya yang tajam menangkap getaran frekuensi baru dari balik lorong batu di luar asrama.
Sebuah ritme langkah kaki yang sangat teratur. Ringan, presisi, berjarak konstan di setiap ketukan sandal, dan sama sekali tidak tergesa-gesa—karakteristik pergerakan dari seseorang yang memiliki kontrol mutlak atas pusat gravitasi tubuhnya.
Xiao Xuan menggeser posisi berdirinya, bersandar santai pada pilar kayu di dekat ranjangnya sembari melipat kedua tangan di depan dada. Manik mata hitamnya menyipit tipis, fokus pandangannya terkunci lurus ke arah daun pintu kayu yang setengah terbuka.
Angin sore berembus agak kencang menerobos kisi-kisi jendela timur, menerbangkan beberapa helai daun kering ke atas lantai batu, membawa serta aroma samar dari bubuk besi pandai besi dan wewangian herbal yang sangat spesifik.
Tang San telah menginjakkan kakinya di ambang pintu Asrama Tujuh. Drama babak pertama bersiap dimulai, dan Xiao Xuan telah mengamankan kursi penonton terbaiknya di sudut ruangan.