NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Beberapa hari kemudian, hari yang dinantikan pun tiba.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan akhir, dokter akhirnya menyatakan bahwa kondisi fisik Gayuh sudah sangat stabil dan memperbolehkannya untuk pulang dari rumah sakit.

Jati dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian membantu Gayuh pindah ke kursi roda.

Ia sendiri yang mendorong kursi roda itu menyusuri lorong rumah sakit, menolak bantuan dari para perawat maupun Pak Gunawan.

Di lobi utama, sebuah mobil sport mewah berwarna hitam mengilap sudah terparkir gagah, siap menyambut mereka.

Setelah memastikan Gayuh duduk dengan nyaman di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengamannya dengan lembut, Jati segera masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobil sport-nya membelah jalanan kota.

Namun, setelah beberapa puluh menit perjalanan, Gayuh mulai menyadari ada yang aneh.

Jalanan yang mereka lalui tampak begitu asing, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan deretan perumahan elite, sangat jauh dari kawasan padat penduduk tempat ia tinggal selama ini.

"Jati, ini bukan arah ke rumahku," ucap Gayuh sambil menoleh ke arah Jati dengan kening berkerut bingung.

Jati tetap fokus menatap jalanan di depannya, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan. "Memang iya, Sayang. Karena sekarang kamu tidak akan kembali ke sana lagi. Kamu akan tinggal di mansionku."

"Apa?" Gayuh terkejut hingga membetulkan posisi duduknya.

"Jati, kita belum menikah! Apa kata orang-orang nanti kalau aku tinggal di rumahmu? Tetangga, media, atau keluargamu, mereka pasti akan berpikiran buruk tentangku."

Jati menepikan mobil sport-nya sejenak di bahu jalan yang sepi.

Ia memutar tubuhnya menghadap Gayuh, lalu menggenggam jemari wanita itu dengan sangat erat.

Tatapan matanya yang tadi santai, kini berubah menjadi begitu intens dan penuh kesungguhan.

"Kalau begitu, kita akan menikah besok," jawab Jati dengan nada suara yang teramat santai seolah sedang membicarakan menu makan siang.

Gayuh membelalakkan matanya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Jati, jangan gila! Menikah itu butuh persiapan, bukan seperti membeli martabak di pinggir jalan!"

"Aku serius, Gayuh," potong Jati dengan suara baritonnya yang berat dan tegas, mengunci pandangan mata Gayuh agar tahu bahwa ia tidak sedang bercanda sedikit pun.

"Aku tidak mau mengambil risiko kehilanganmu lagi. Menikah besok atau tidak, kamu tetap akan aman di bawah perlindunganku di mansion itu mulai hari ini."

Mobil sport mewah berwarna hitam itu melaju perlahan memasuki gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis.

Gayuh menatap tak percaya ke luar jendela. Sebuah halaman luas dengan hamparan rumput hijau yang rapi, air mancur megah di bagian tengah, dan sebuah bangunan arsitektur klasik modern berdiri dengan begitu kokohnya.

Ini bukan sekadar rumah besar, ini adalah sebuah mansion yang sesungguhnya.

Jati memarkirkan mobilnya tepat di depan tangga lobi utama.

Begitu mesin mobil mati, beberapa pria berjas rapi dengan sigap membukakan pintu untuk mereka.

Jati turun terlebih dahulu, lalu berjalan memutar dengan langkah tegapnya yang berwibawa.

Dengan sangat hati-hati, ia membantu Gayuh keluar dari mobil, seolah wanita itu adalah porselen rapuh yang berharga.

Sesampainya di dalam mansion, langkah Gayuh mendadak terhenti.

Di hadapan mereka, puluhan pelayan berpakaian seragam rapi dan beberapa pengawal pribadi sudah berdiri berbaris dengan sangat tertib, terbagi menjadi dua lajur yang menyisakan jalan di bagian tengah.

Secara serentak, para pelayan itu membungkuk hormat, memberikan penghormatan tertinggi yang biasa diberikan untuk sang pemilik takhta J-Corp.

"Selamat datang, Tuan Jati dan Nona Gayuh," ucap mereka serempak dengan nada suara yang penuh takzim dan sopan.

Gayuh seketika meremas pelan lengan kemeja Jati, merasa gugup sekaligus terkejut dengan sambutan yang begitu luar biasa ini.

Ia, yang terbiasa hidup mandiri di rumah kontrakan sempit, tiba-tiba dihadapkan pada kemewahan dan formalitas dunia Jati.

Jati yang merasakan kegugupan wanita di sampingnya langsung menggenggam jemari Gayuh, memberikan kehangatan yang menenangkan. Jati mengangguk kecil ke arah para pelayannya.

"Semuanya, perkenalkan, ini Gayuh Leksananingtyas," ucap Jati dengan suara baritonnya yang tegas dan menggema di langit-langit mansion yang tinggi.

"Mulai hari ini, hormati dan layani dia dengan baik sama seperti kalian menghormatiku. Karena sebentar lagi, dia yang akan menjadi nyonya besar di mansion ini."

Mendengar pengumuman mutlak dari sang tuan muda, para pelayan kembali membungkuk lebih dalam, sementara pipi Gayuh mendadak merona merah muda menahan rasa malu sekaligus bahagia yang membuncah di dalam dadanya.

Kemudian Jati mengajaknya masuk ke dalam kamar agar Gayuh bisa istirahat.

"Aku keluar sebentar," ucap Jati.

Gayuh menganggukkan kepalanya ke arah Jati yang kemudian keluar dari kamar.

Ia duduk termenung di tepi ranjang berukuran king size yang dilapisi sprei sutra lembut berwarna putih gading.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar tidur utama mansion yang kini menjadi tempat tinggalnya.

Kamar ini luar biasa luas, bahkan mungkin lebih luas daripada seluruh area rumah kontrakan lamanya.

Ada lampu gantung kristal yang berkilauan di langit-langit, sofa beludru yang nyaman di sudut ruangan, dan balkon besar yang menghadap langsung ke taman belakang.

Perasaan canggung dan asing seketika menyergap hatinya.

Gayuh merasa seperti seorang penyusup di tengah kemewahan yang tak semestinya ini. Namun, lamunannya buyar saat pintu kamar diketuk perlahan dan seorang pelayan paruh baya masuk membawa nampan berisi buah-buahan segar.

Atas perintah mutlak dari Jati, seluruh pelayan di mansion ini memperlakukan Gayuh layaknya seorang ratu yang paling diagungkan.

Tenggorokan Gayuh tiba-tiba terasa kering. Ia berniat mengayunkan kakinya turun dari tempat tidur untuk mengambil segelas air putih yang terletak di meja seberang ruangan. Namun, baru saja ujung kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, pelayan tersebut langsung membelalakkan mata dan setengah berlari menghampirinya.

"Astaga, Nona Gayuh! Jangan turun dari tempat tidur dulu, silakan berbaring kembali," ucap pelayan itu dengan nada panik sekaligus sangat hormat, buru-buru menaruh nampan dan mengambilkan segelas air untuk Gayuh.

"Tuan Jati sudah berpesan dengan sangat tegas, Nona tidak boleh kelelahan atau melakukan apa pun sendiri. Jika Nona butuh sesuatu, cukup panggil kami. Kami tidak ingin Tuan Jati mengamuk jika tahu Nona mengabaikan masa pemulihan."

Gayuh hanya bisa menghela napas pasrah sekaligus menerima gelas itu dengan senyuman canggung.

Perlakukan super protektif ini benar-benar membuatnya tak berkutik.

Tidak berselang lama, pintu kamar kembali terbuka. Sosok tegap Jati melangkah masuk.

Pria itu masih mengenakan kemeja kerja formalnya, namun dasinya sudah dilonggarkan dan beberapa kancing teratasnya sengaja dibuka.

Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah laptop, sementara tangan kirinya membawa nampan kecil berisi obat-obatan dan kotak perlengkapan medis.

Melihat kedatangan Jati, sang pelayan segera membungkuk hormat lalu undur diri dari kamar, meninggalkan sepasang kekasih itu dalam keheningan yang intim.

Seketika itu juga, aura CEO J-Corp yang dingin dan berwibawa luruh sepenuhnya dari tubuh Jati.

Berganti dengan sisi 'bucin' tingkat akut yang hanya ia tunjukkan di depan wanita pilihannya.

"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Ada yang sakit? Kenapa mukanya ditekuk begitu, hmm?" tanya Jati bertubi-tubi dengan nada suara yang teramat manis.

Ia duduk di pinggir ranjang, meletakkan laptopnya di nakas, lalu mengusap puncak kepala Gayuh dengan sayang.

"Pelayanmu berlebihan, Jati. Aku bahkan dilarang turun kasur hanya untuk mengambil minum," adu Gayuh dengan sisa rasa canggungnya.

Jati justru terkekeh pelan. "Mereka hanya menjalankan perintahku dengan baik. Nah, sekarang waktunya minum obat. Sini, biar aku suapi."

Dengan penuh kesabaran, Jati membantu Gayuh meminum beberapa butir obat pasca-operasi, lalu membantunya berbalik perlahan agar membelakanginya.

"Sekarang, giliranku mengganti perban di punggungmu. Katakan padaku ya kalau rasanya perih atau sakit."

Jati membuka plester perban lama dengan gerakan yang luar biasa lembut, seolah-olah kulit Gayuh adalah sutra yang bisa robek kapan saja.

Ia membersihkan sekitar luka tusukan dengan cairan antiseptik, lalu meniupnya perlahan setiap kali merasakan tubuh Gayuh sedikit menegang.

Setelah memastikan lukanya kering dan tidak perih, ia memasang perban baru yang bersih dengan sangat rapi.

"Selesai," ucap Jati setelah membantu Gayuh kembali ke posisi bersandar yang nyaman pada tumpukan bantal.

Gayuh melihat Jati yang kemudian membuka laptopnya di atas meja nakas tepat di samping ranjang.

Pria itu mulai memeriksa beberapa dokumen digital, namun tangannya yang satu lagi tetap menggenggam erat jemari Gayuh.

"Jati, kenapa kamu tidak bekerja di ruang kerja atau di kantor saja? Memangnya tidak terganggu jika bekerja di sini?" tanya Gayuh merasa tidak enak hati.

Jati menoleh, lalu mengecup punggung tangan Gayuh dengan tatapan mata yang begitu memuja.

"Pekerjaan bernilai triliunan pun tidak akan ada artinya kalau fokusku tertinggal di kamar ini, Sayang. Aku mau bekerja di sini saja, agar setiap kali aku mendongak, aku bisa langsung melihat wajah cantik wanita yang paling aku cintai."

Suasana di dalam kamar utama mansion terasa begitu tenang dan hangat.

Hanya terdengar suara ketukan pelan dari jemari Jati yang sesekali memeriksa dokumen di laptop, serta suara baritonnya yang mengalun rendah saat berbicara menggunakan bahasa Inggris formal.

Gayuh berbaring miring di atas ranjang, menjadikannya pangkuan Jati sebagai bantalan paling nyaman di dunia.

Matanya yang sayu menatap lekat garis rahang tegas pria itu yang tampak begitu berwibawa.

Jati sedang melakukan panggilan video penting dengan salah satu klien bisnis internasional dari J-Corp.

Aura kepemimpinannya terpancar kuat, sangat kontras dengan posisi duduknya yang saat ini sedang lesehan di karpet bulu samping ranjang demi bisa menemani wanitanya.

Namun, di tengah keseriusannya bernegosiasi tentang proyek bernilai triliunan, perlakuan Jati pada Gayuh sama sekali tidak berubah.

Tangan kiri Jati yang bebas bergerak perlahan, menyelipkan jemarinya di antara helai rambut hitam Gayuh.

Ia membelai rambut wanita itu dengan gerakan yang teramat lembut dan konstan.

Sentuhan hangat yang berulang itu terasa seperti melodi pengantar tidur bagi Gayuh.

Rasa kantuk akibat pengaruh obat pasca-operasi mulai menyerangnya.

Perlahan tapi pasti, kelopak mata sang penulis novel terasa semakin berat, hingga akhirnya ia tertidur pulas dalam dekapan kehangatan pria yang teramat dicintainya.

Menyadari napas Gayuh yang mulai teratur dan dalam, Jati melirik ke bawah.

Sudut bibirnya terangkat, menciptakan seulas senyuman tipis yang sarat akan rasa sayang.

Tanpa membuang waktu, Jati langsung mengalihkan perhatiannya kembali ke layar laptop.

"Kita lanjutkan pembahasan kontrak ini melalui surel besok pagi. Sekretaris saya akan mengirimkan detailnya," ucap Jati singkat kepada kliennya di seberang sana dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

Sebelum kliennya sempat merespons lebih jauh, Jati sudah memutuskan panggilan video tersebut secara sepihak dan menutup layar laptopnya.

Baginya, urusan bisnis terbesar di dunia pun bisa menunggu, tetapi kenyamanan tidurnya Gayuh adalah prioritas utama yang tidak bisa diganggu gugat.

Jati menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke wajah tenang Gayuh yang tampak begitu damai tanpa beban.

Ia mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh perasaan di kening wanita itu.

"Selamat istirahat, Sayang," bisik Jati dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai desiran angin malam.

Sambil terus membiarkan Gayuh tertidur di pangkuannya tanpa berniat menggeser tubuhnya sedikit pun agar tidak membangunkan sang pujaan hati, Jati meraih ponsel pintarnya di atas nakas.

Dengan gerakan satu tangan yang cekatan, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan sebuah perintah mutlak untuk orang kepercayaannya.

[Pesan kepada: Pak Gunawan]

Pak Gunawan, saya tahu Anda ada di lantai bawah. Hubungi pihak Wedding Organizer terbaik malam ini juga. Katakan pada mereka untuk menyiapkan seluruh keperluan acara pernikahan saya dengan Gayuh. Saya mau semuanya siap dalam waktu singkat. Tidak ada penundaan.

Setelah menekan tombol kirim, Jati meletakkan kembali ponselnya.

Ia kembali memfokuskan seluruh atensinya pada wajah tertidur Gayuh, memeluknya dengan protektif seolah sedang menegaskan pada semesta bahwa esok hari, wanita ini akan resmi menjadi miliknya seutuhnya.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!