NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman dibalik Pagar Rumah

Matahari sore sudah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala, menyisakan langit berwarna ungu kelam yang perlahan berubah menjadi gelap. Lampu-lampu jalan di perumahan sederhana itu mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya kuning redup yang menari-nari di atas aspal jalanan yang sedikit berdebu. Suasana terasa tenang, damai, dan sunyi—sesuatu yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk dan darah pertempuran yang baru saja Rio tinggalkan di sekolah beberapa jam yang lalu.

Rio berjalan menyusuri gang sempit menuju rumahnya dengan langkah yang terasa berat namun tetap teratur. Kelelahan fisik akibat pertarungan hebat melawan Dika masih terasa menjalar di setiap urat ototnya, terutama di bahu dan punggung yang sempat tertindih beban berat tubuh raksasa itu. Namun, kelelahan itu sama sekali tidak terasa jika dibandingkan dengan beban berat yang kini mengganjal di dalam hatinya.

Sejak ia meninggalkan gerbang sekolah tadi, ia bisa merasakannya. Bukan lagi sekadar rasa diawasi atau dibayangi. Kali ini rasanya jauh lebih dingin, jauh lebih mengerikan. Seolah-olah ada sepasang mata tajam yang mengawasinya bukan hanya dari balik semak-semak atau sudut jalan, tapi jauh lebih dalam... menembus hingga ke dalam dinding rumahnya sendiri.

Rio berhenti sejenak tepat di depan pagar rumahnya yang berwarna hijau pudar dan sedikit berkarat. Ia menatap bangunan sederhana itu—temboknya tidak terlalu tinggi, atapnya genteng tanah liat, dan halamannya yang kecil ditumbuhi beberapa tanaman hias kesayangan ibunya. Di balik jendela kaca ruang tengah, ia bisa melihat cahaya lampu kuning yang menyala terang, dan samar-samar bayangan ibunya yang sedang bergerak-gerak menyiapkan makan malam.

Pemandangan itu seharusnya membuatnya lega dan bahagia. Itulah tujuan segalanya—berjuang agar ibunya bisa hidup tenang dan bahagia. Namun malam ini, dada Rio justru terasa sesak dan penuh kekhawatiran. Ia teringat kembali kata-kata Dinda di gudang tua beberapa hari lalu: "Mereka udah nyari alamat rumah lo, Rio..." dan kata-kata ancaman Raka yang terakhir kali terdengar di lapangan belakang: "Lo gak bakal bisa ngamanin seluruh hidup dia..."

“Raka bener-bener gila,” batin Rio bergumam, tangannya mencengkeram pagar besi itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Dia kalah di sekolah, dia malu di depan semua orang, dan sekarang dia mau main kotor. Dia tau betul kalau ibunya gue itu satu-satunya hal yang bisa bikin gue runtuh. Dia mau nyerang di sini, di tempat yang harusnya paling aman buat gue.”

Rio menghela napas panjang, berusaha menenangkan gejolak amarah dan rasa takut yang mulai membara di dadanya. Ia tidak boleh panik. Ia tidak boleh terlihat cemas. Kalau ibunya tahu ada bahaya mengancam, wanita itu pasti akan khawatir dan sakit hati. Rio harus bertindak cerdas, tenang, dan waspada—persis seperti yang diajarkan ayahnya dulu.

Dengan gerakan tenang, Rio membuka pagar dan melangkah masuk ke halaman rumah. Belum sempat ia menutup pintu pagar di belakangnya, pintu rumah sudah terbuka lebar. Di ambang pintu, berdiri sosok wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat cantik dan lembut meski guratan lelah kehidupan sudah mulai terukir jelas di sana. Itu adalah ibunya, Bu Sari. Wanita itu tersenyum lebar begitu melihat sosok anak laki-lakinya, matanya berbinar penuh kasih sayang.

"Rio... kamu pulang, Nak?" sapa Bu Sari lembut, melangkah keluar menyambut anak tunggalnya itu. Ia langsung menyeka keringat di dahi Rio dengan ujung kain celemeknya, lalu menatap wajah anaknya lekat-lekat. Senyumnya perlahan berubah menjadi kerutan halus di kening. "Loh... kok wajah kamu keringatnya banyak banget? Baju kamu kotor kena debu begini... kamu main olahraga apa di sekolah sampai keringetan begini? Atau... ada apa?"

Jantung Rio berdegup kencang. Ia hampir saja terkejut dan kehilangan kendali saat ibunya menatapnya begitu tajam. Ia tahu ibunya sangat peka. Sedikit saja ada yang berubah dari nada bicaranya atau ekspresi wajahnya, ibunya pasti langsung curiga.

Rio segera memasang senyum paling tulus dan santai yang ia mampu, lalu mencium punggung tangan ibunya dengan hormat.

"Iya, Bu... tadi habis pelajaran olahraga terus lari-larian sama temen-temen," jawab Rio dengan nada suara ceria yang ia paksa sebaik mungkin. Ia mengibaskan debu di bajunya dengan santai. "Panas banget mataharinya, makanya keringetan sampe basah kuyup gini. Maaf ya kalau kotor, Rio gak sengaja."

Bu Sari menggeleng pelan sambil tersenyum kembali, meski rasa khawatir masih sedikit tersisa di matanya. Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut.

"Kamu ini... ya sudah, sana masuk dulu. Cuci muka dan ganti baju, terus makan. Ibu masak sayur asem sama ikan asin kesukaan kamu lho. Kebetulan tetangga bagi ikan, lumayan segar."

"Siap, Bu! Wah enak banget tuh," jawab Rio antusias, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Namun saat ia melewati samping ibunya, mata Rio menangkap sesuatu yang aneh. Di atas meja kecil di ruang tamu, tergeletak sebungkus rokok merek mahal yang bukan milik ayahnya—bahkan ayahnya sudah lama meninggal, dan Rio sendiri tidak merokok. Di samping bungkus rokok itu, ada bekas gelas teh yang masih sedikit berisi, dan ada jejak sepatu kotor yang tercetak samar di lantai keramik dekat pintu masuk.

Jantung Rio seketika berhenti berdetak sesaat. Indra keenamnya yang tajam langsung menangkap sinyal bahaya. Ada orang asing yang datang ke sini. Ada orang yang masuk ke rumahnya, berbicara dengan ibunya, dan duduk di situ. Dan dari merek rokok mahal itu... Rio sangat yakin itu bukan tamu biasa atau tetangga. Itu pasti anak buah Raka.

Rio berhenti melangkah, menoleh perlahan ke arah ibunya yang sedang membereskan bantal sofa. Ia berusaha bertanya dengan nada biasa saja, meski suaranya terasa kaku.

"Bu... tadi ada orang ke sini ya? Ada tamu?"

Bu Sari berhenti bergerak sejenak, wajahnya sedikit berubah menjadi canggung dan tidak nyaman. Ia mengangguk pelan, lalu kembali sibuk dengan bantalannya untuk menghindari tatapan mata anaknya.

"Eh... iya... tadi ada," jawab Bu Sari pelan. "Ada anak-anak muda... katanya teman sekelas kamu, Rio. Namanya... Kevin sama Rian gitu deh. Katanya mereka mau main ke sini, mau nyari kamu. Ibu bilang kamu belum pulang, terus mereka duduk sebentar, minum teh, terus pamit."

Kevin... Rian...

Nama itu berdengung keras di kepala Rio seperti guntur menggelegar. Amarah yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga kini meluap naik ke leher dan wajahnya. Tangan Rio mengepal erat di sisi tubuhnya, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa sakit. Bajingan-bajingan itu... mereka benar-benar berani. Mereka datang ke sini, ke rumahnya, menghadapi ibunya, berpurapura jadi teman baiknya. Mereka pasti sengaja datang untuk menakut-nakuti, untuk memberikan pesan, atau sekadar untuk memastikan bahwa mereka bisa masuk ke benteng pertahanan terakhir Rio kapan saja mereka mau.

"Bu..." suara Rio terdengar rendah dan bergetar, berusaha menahan kemarahan agar tidak meledak. Ia melangkah mendekat ke arah ibunya. "Mereka ngomong apa aja sama Ibu? Apa mereka ngomongin hal aneh? Atau... ngomongin Rio?"

Bu Sari menoleh, melihat ekspresi wajah anaknya yang berubah menjadi sangat serius dan tegang. Rasa khawatirnya kembali muncul, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Ia duduk di pinggir sofa, menghela napas panjang.

"Mereka... mereka ngomong banyak hal, Rio," jawab Bu Sari perlahan, matanya menatap lurus ke depan seolah mengingat kembali kata-kata yang menusuk hati itu. "Mereka bilang... kamu sekarang jadi orang penting di sekolah. Kamu jadi pemimpin geng, kamu suka berantem, kamu sering bikin masalah sama anak-anak lain... Mereka bilang kalau kamu orang yang berbahaya, dan kalau Ibu gak nasihatin kamu... bakal ada hal buruk yang kejadian sama kamu, atau sama kita berdua."

Suara Bu Sari mulai bergetar, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah. Ia menatap Rio dengan pandangan sedih dan kecewa yang begitu dalam hingga hati Rio terasa seperti tercabik-cabik.

"Ibu kaget banget denger itu, Rio... Ibu gak percaya. Ibu bilang anak Ibu itu anak baik, dia rajin belajar, dia gak berantem. Tapi mereka... mereka ketawa, Rio. Mereka ketawa sambil ngomong kalau Ibu gak tau apa-apa. Mereka bilang... sekolah itu tempat keras, dan musuh kamu banyak banget. Mereka bilang... kalau Ibu sayang sama kamu, sebaiknya Ibu ngomong sama kamu buat nurut sama mereka, atau... kita bakal susah. Bahkan..."

Bu Sari berhenti bicara, menyeka air mata yang lolos menetes di pipinya.

"Apalagi, Bu?" tanya Rio lembut, mendekat dan memegang bahu ibunya dengan lembut, meski hatinya sedang terbakar api dendam yang luar biasa. "Apa lagi yang mereka bilang?"

"Mereka bilang..." suara Bu Sari hampir tak terdengar, penuh ketakutan. "...mereka tau di mana kita tinggal. Mereka tau Ibu jualan kue di pasar. Mereka tau jam berapa Ibu pergi dan pulang. Dan mereka bilang... kalau ada apa-apa sama kamu di sekolah, atau kalau kamu ngelawan temen-temen kamu itu... Ibu harus hati-hati pas lagi di jalan atau di pasar. Mereka bilang 'kecelakaan' bisa kejadian kapan aja sama siapa aja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!