Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Amarah Gallelio
Mobil Gallelio memasuki gerbang rumah mewah berlantai dua dengan gaya modern yang kokoh. Pria itu keluar dan membanting pintu mobilnya dengan sangat keras. Dia melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sarat akan amarah yang memuncak.
Rumah itu terasa sunyi. Lampu-lampu ruangan hanya menyisakan cahaya redup yang temaram. Gallelio berjalan menyusuri anak tangga dengan dada yang terasa sesak. Setiap dinding di rumah itu dipenuhi foto bahagia dari sosok wanita cantik yang kini seakan menatapnya dengan pandangan penuh kebencian. Setiap langkah yang dia ambil terasa seperti memijak beling tajam yang menghujam jauh ke dalam lubuk hatinya.
Gallelio sempat menutupi wajah dengan telapak tangannya untuk menghalau bayang-bayang itu. Begitu sampai di lantai dua, dia tersentak saat lampu lorong tiba-tiba menyala terang.
"Kak... kok lama pulangnya?" Suara itu terdengar lembut namun serak.
Seorang gadis cantik berdiri di depannya. Dia baru saja keluar dari kamar dan menyadari kepulangan Gallelio. Namun, Gallelio tidak memberikan jawaban apa pun. Dia hanya menatap gadis itu sekilas dengan pandangan yang sedingin es, lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Pintu ditutup dengan bantingan kasar yang membuat gadis di luar itu mendelik kaget.
"Kenapa sih orang itu? Bangkrut kali ya?" gumam gadis itu sambil menempelkan telinganya ke pintu kamar Gallelio.
Dia tidak mendengar suara apa pun dari dalam.
"Sudahlah, masa bodoh! Aku ke bawah dulu," ujarnya kemudian berlalu. Ternyata dia terbangun hanya karena ingin mengambil air minum.
Sementara itu, di dalam kamar yang sangat luas, pemandangan jauh lebih menyesakkan. Setiap dinding dipenuhi foto wanitanya yang kini seperti sedang menatap Gallelio sambil menangis. Gallelio melemparkan tas kerjanya ke sembarang arah. Kamar yang didominasi warna abu-abu itu terasa begitu dingin, seolah sedang merefleksikan kegelapan jiwa pemiliknya.
Gallelio menyalakan saklar lampu. Cahaya yang benderang justru membuat suasana di sana terasa semakin mencekik.
PRANG!
Tangannya menyapu meja kerja dengan kasar hingga gelas yang ada di atas sana terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
"Sialan!" pekik Gallelio melampiaskan amarah yang sedari tadi tertahan.
BUGH! BUGH! BUGH!
Tinju mentahnya menghantam dinding berkali-kali.
"Argh! Brengsek!"
Tangannya bersimbah darah, namun rasa perih itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hati Gallelio. Ikrar suci yang baru saja dia ucapkan untuk wanita lain terasa seperti sebuah pengkhianatan besar terhadap wanitanya sendiri.
"Tidak! Itu tidak sah, Sayang..." ujarnya lirih dengan nada penuh frustrasi.
Gallelio terduduk lemas di lantai kamar. Wajahnya mendongak, menatap sebuah pigura besar yang memajang foto pernikahannya dengan sang istri di sana. Mata Gallelio seketika berkaca-kaca. Dia menatap wajah cantik istrinya yang tersenyum sangat indah, sebuah senyum yang kini justru mengiris bagian terdalam hatinya. Dia merasa telah melakukan dosa besar.
"Maaf... maafkan aku, Sayang..."
Gallelio menangkupkan kedua tangannya di depan dada, membentuk sebuah permohonan maaf yang sangat dalam terhadap foto tersebut.
"Itu tidak sah, sungguh..." lanjutnya lagi, dan kali ini satu tetes air matanya berhasil jatuh membasahi pipi.
"Aku mencintaimu... hanya kamu," isaknya tertahan dengan bahu yang berguncang hebat.
Gallelio merangkak mendekat, menyentuh bingkai foto itu dengan jemarinya yang masih penuh darah. Cairan merah itu kini menodai kaca yang melindungi wajah cantik sang istri, seakan menjadi segel pedih dari rasa bersalahnya yang kian meluap. Dia merasa menjadi pria paling kotor di dunia karena telah mengucap nama wanita lain di hadapan Tuhan, sementara hatinya masih terkunci rapat di dalam wanita di foto itu.
"Dia bukan siapa-siapa... dia hanya pengganggu, Sayang. Aku akan segera menyingkirkannya, aku janji..."
Suara Gallelio melemah, berubah menjadi bisikan yang mengerikan di tengah kesunyian kamar. Matanya yang merah menatap nanar ke arah foto itu, mencari pengampunan yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh benda mati.
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di sini. Tidak gadis itu, tidak siapa pun!"
Pria itu kemudian menyandarkan kepalanya di kaki meja, membiarkan tubuhnya lunglai di lantai yang dingin. Di bawah temaram lampu kamar, Gallelio terlihat seperti pria yang kehilangan jiwanya. Pernikahannya dengan Aurin bagi pria itu bukanlah awal dari sebuah cerita baru, melainkan sebuah dosa besar yang harus dia tebus dengan kebencian yang akan dia tumpahkan kepada gadis yang saat ini tengah berjuang nyawa di rumah sakit.
...****************...
"Revan, Gallel di mana?" tanya Mama Amanda.
Wanita itu baru menyadari bahwa putranya tidak ada di sana setelah beberapa lama berlalu. Mereka sudah kembali ke dalam ruang rawat Aurin setelah tim medis selesai membersihkan luka-luka gadis itu dan mengeluarkan semua serpihan kaca yang sempat tertancap dalam di kakinya.
Gadis itu masih belum sadarkan diri. Mama Amanda, suaminya, serta Revan memutuskan untuk menginap di sana demi menemani gadis malang tersebut.
"Tuan sepertinya tidak datang ke sini, Bu," jawab Revan dengan suara pelan dan penuh kehati-hatian.
"Anak sialan! Cepat hubungi dia! Ini istrinya sedang sakit, dia malah seenaknya pulang ke rumah. Telepon sekarang, Revan!" titah wanita itu dengan nada geram yang tidak bisa disembunyikan lagi.
'Istri... apa Tuan akan benar-benar menganggap gadis ini sebagai istrinya nanti?' batin Revan meringis.
Dia menatap iba ke arah Aurin yang masih berbaring lemah di ranjang dengan wajah pucat pasi. Revan membayangkan bagaimana tuannya akan memperlakukan gadis itu ke depannya. Sebagai orang yang paling tahu banyak tentang Gallelio, Revan paham betul bagaimana pria itu telah menutup rapat pintu hatinya demi menjaga sebuah kesetiaan di masa lalu. Memikirkan hal itu, rasanya mustahil jika gadis di hadapannya ini akan diterima dengan baik.
"Revan!"
"Eh, iya Bu. Ini saya hubungi sekarang!" jawab Revan gelagapan sambil terburu-buru mengeluarkan ponsel dari saku jasnya untuk menghubungi sang bos.
*****
Gallelio menangis tersedu sembari memeluk erat foto istrinya. Dering ponsel yang berkali-kali membelah kesunyian kamar terus dia abaikan begitu saja.
"Aku tidak akan pernah mengingkari janji, Sayang..." gumamnya dengan suara serak yang sangat lirih.
Pria itu bangkit dengan tubuh lemas namun tetap mendekap foto tersebut. Dia melangkah menuju ranjang dan memposisikan tubuhnya berbaring. Gallelio menjadikan bingkai foto besar itu sebagai sandaran tidurnya, seperti yang selama ini selalu dia lakukan agar merasa wanitanya tetap hadir menemani, bukan orang lain.
DRETTTT!
"Sial, mengganggu!" umpatnya kasar saat ponsel itu seolah tidak mau menyerah meski sudah diabaikan berkali-kali.
"Kenapa?!" tanyanya dengan suara sedingin es saat akhirnya menjawab panggilan itu.
"Tuan, Ibu menyuruh Anda datang ke rumah sakit—"
"Tidak sudi! Saya tidak akan pernah ke sana!" jawab Gallelio dengan rahang mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol, memperlihatkan kemarahan yang sudah di ubun-ubun.
"Gallelio, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab! Dia istri ka—"
"Istri aku hanya Sera, Ma! Hanya Seravina Alastar! Tidak ada yang lain dan tidak akan pernah ada siapapun selain Sera, camkan itu! Pernikahan barusan tidak sah sama sekali, dia hanya gadis gila!" bentak Gallelio dengan suara menggelegar. Dia langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Napasnya memburu. Gallelio kembali bangkit dari tempat tidur dengan wajah memerah padam. Dia mulai membanting meja dan menendang apa pun yang berada di dalam jangkauan kakinya.
BRAK! BRAK! BRAK!
Keributan hebat itu menciptakan gema yang mengerikan di seluruh penjuru rumah, memicu kepanikan dua penghuni lainnya yang berada di luar.
"ISTRI SAYA HANYA SERA! TIDAK ADA YANG LAIN, SIALAN!"
BUGH! BUGH! BUGH!
Tinjunya menghantam apa saja hingga tangannya kembali terluka.
"Kakak, stop! Stop, Kak!"
Suara teriakan adiknya dari balik pintu mulai terdengar panik, namun Gallelio sudah kehilangan akal sehatnya malam ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...