Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Motor besar Kaisar berhenti tepat di depan gerbang rumah Melody. Suara mesinnya yang gahar perlahan mati, menyisakan kesunyian yang sedikit canggung di antara mereka. Melody turun dari motor, melepas helmnya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan kena angin.
"Sip, thanks ya udah nganterin bidadari pulang. Anggap aja ini suatu kehormatan luar biasa buat elo, bisa bonceng aset negara yang paling berharga," ucap Melody pede abis sambil memberikan helmnya ke Kaisar.
Kaisar menerima helm itu, menaruhnya di atas tangki motor tanpa melepas pandangannya dari Melody. Matanya yang tajam menatap gadis itu datar.
"Besok gue jemput," ucap Kaisar singkat, padat, dan terdengar lebih seperti perintah daripada tawaran.
Melody yang sudah mau melangkah masuk langsung ngerem mendadak. Ia membalikkan badan dengan gerakan dramatis, matanya melotot tajam.
"Kagak! Kagak usah repot-repot ya, Bapak Kaisar yang terhormat!" seru Melody sambil berkacak pinggang. "Gue punya kaki, punya aplikasi ojek online, punya harga diri juga! Jemput aja sana bidadari kesayangan elo, si Mbak Zoya yang kalau kena debu dikit langsung asma itu!"
Kaisar masih tetap pada posisinya, tidak bergerak sedikit pun. "Gue nggak minta pendapat lo. Jam tujuh gue udah di sini."
"Dih! Pemaksaan ini namanya! Polisi mana polisi?!" Melody mulai sewot. "Lagian elo tuh maunya apa sih? Tadi di depan temen-temen lo, lo bela dia. Sekarang di depan rumah gue, lo mau jadi supir pribadi gue. Lo kira hati gue ini bengkel? Bisa lo bongkar pasang sesuka hati?!"
Kaisar menyalakan kembali mesin motornya, membuat suaranya menenggelamkan ocehan Melody sejenak. Ia memajukan motornya sedikit, mendekat ke arah Melody hingga gadis itu refleks mundur selangkah.
"Lo bukan bengkel," gumam Kaisar dengan suara beratnya yang nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Tapi lo itu... berisik. Dan gue cuma mau mastiin sumber berisik gue nggak diculik psikopat lagi."
"Halah, alasan! Bilang aja kangen!" ejek Melody sambil menjulurkan lidahnya.
"Jam tujuh. Telat semenit, gue masuk ke kamar lo," ancam Kaisar datar, lalu tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik gas dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan Melody yang misuh-misuh sendirian.
"Sinting! Bener-bener itu kulkas berjalan!" teriak Melody ke arah jalanan yang sudah kosong. "Dikiranya kamar gue itu minimarket apa, bisa main masuk aja?! Mana pake acara jam tujuh segala lagi, emangnya gue mau upacara?!"
Meskipun mulutnya terus mengomel, Melody berjalan masuk ke rumah dengan senyum tipis yang nggak bisa ia sembunyikan.
Di dalam kamar yang seharusnya sunyi senyap, suasana justru mencekam. Bukan karena ada hantu, tapi karena suara langkah kaki Melody yang bolak-balik dari kasur ke kamar mandi sudah mirip langkah tentara lagi baris-berbaris.
"Aduh... aduh... ampun mak mak!" rintih Melody sambil memegangi perutnya yang rasanya kayak lagi diaduk-aduk pake mesin semen.
Baru saja ia mau merebahkan pantatnya di kasur, tiba-tiba ada sinyal "panggilan alam" jilid sepuluh yang berbunyi di perutnya. Kruyuukk... kruyuukk... duarr!
"ASTAGA! Belum juga lima menit merem!" seru Melody dramatis sambil lari terbirit-birit masuk ke kamar mandi lagi.
Di dalam kamar mandi, sambil duduk merenung meratapi nasib, Melody mulai mengomel pada dirinya sendiri.
"Melody... Melody... lo tuh ya, bidadari kok ususnya lemah banget!" omelnya pada bayangannya sendiri di pintu kamar mandi. "Udah tau itu seblak warnanya kayak genangan darah di film horor, masih aja lo sikat sampe bersih! Mana pake sok-sokan nantangin kaisar lagi!"
Ia memukul pelan dahi sendiri. "Gaya banget tadi siang 'Ayo Mang, pedesin!'. Sekarang rasain tuh, perut lo lagi ngadain konser heavy metal di dalem! Mana besok si Kulkas mau jemput jam tujuh pagi. Kalau gue masih nongkrong di jamban pas dia dateng, mau ditaruh di mana muka cantik gue?!"
Setelah merasa sedikit "lega", ia keluar dengan jalan merambat di tembok, wajahnya sudah pucat pasi kayak kertas HVS. Ia melirik botol minyak kayu putih di atas meja rias seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga.
"Gue kutuk ya itu kencur sama cabai setannya! Kenapa mereka kompak banget ngeroyok lambung gue yang mungil ini?" gerutunya sambil mengolesi seluruh perutnya dengan minyak kayu putih sampai aromanya memenuhi satu kelurahan.
Ia naik ke kasur dengan lemas, mencoba memejamkan mata. Namun baru sedetik merem, perutnya kembali memberikan notifikasi push yang sangat mendesak.
"ALLAHUAKBAR! LAGI?!" teriaknya frustrasi. "Thomas diculik, Kaisar posesif, Zoya sok polos, sekarang usus gue sendiri ikut-ikutan mau khianatin gue?! Dunia ini bener-bener nggak adil buat orang cantik!"
Malam itu, Melody tidak tidur nyenyak. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermeditasi di atas kloset.