NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan yang Tiba-tiba

Waktu bergulir dengan sangat cepat di tengah kesibukan area tambang yang seolah tidak pernah tidur. Hari-hari yang dilewati Rana di Warehouse terasa lebih monoton sejak kepergian Pradika ke tanah Kalimantan Tengah, namun di sisi lain, hari-hari itu pula yang membantunya mengumpulkan sisa-sisa kekuatan mentalnya. Hingga akhirnya, hari cuti tahunan yang dinanti-nantikan Rana tiba juga.

Permintaan Bu Retno satu bulan lalu yang bersikeras meminta Rana untuk pulang, ironisnya justru memberikan sebuah celah keuntungan tersendiri bagi gadis itu. Biasanya, setiap kali tanggal gajian tiba, Rana akan langsung mengirimkan setengah upahnya ke rekening sang ibu dan tambahan berikutnya, tanpa berani menyisakan banyak untuk dirinya sendiri.

Namun, karena titah pulang kampung itu, Rana memiliki alasan logis yang kuat untuk tidak mengirimkan uang gajinya seperti biasa. Gaji bulan kemarin, ia hanya mengirimkan satu juta rupiah saja ke rumah, dan ajaibnya, Bu Retno tidak melayangkan protes atau amukan seperti yang biasa wanita itu lakukan jika jatah uangnya berkurang. Bu Retno tampaknya terlalu fokus pada "urusan penting" yang terus-menerus ia rahasia-rahasiakan.

Berkat kelonggaran finansial yang langka itu, Rana akhirnya bisa menginjakkan kakinya di bus karyawan jurusan kota untuk menempuh perjalanan pulang ke Jawa besok. Setelah menempuh perjalanan darat beberapa jam dari area mess, bus karyawan menurunkannya di tepi jalan utama Kota Batulicin yang mulai temaram.

Rana menggendong tas ransel besarnya secara hati-hati. Sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya, ia memilih melangkah masuk ke dalam sebuah rumah makan khas Banjar yang terletak di pinggir jalan raya untuk menikmati makan malam lebih dulu.

Berdasarkan jadwal yang tertera di tiket digitalnya, armada travel berjenis elf yang akan membawanya menuju Kota Banjarmasin baru akan menjemputnya di setelah ibadah salat Isya selesai ditunaikan.

Suasana rumah makan itu cukup ramai oleh para pelintas jalan dan supir truk logistik. Kebisingan suara denting sendok dan deru mesin kendaraan di luar sempat mengaburkan pendengaran Rana, sampai sebuah suara lantang memanggil namanya dari arah pintu masuk.

"Rana!"

Rana yang baru saja menyendok kuah soto Banjar yang hangat spontan menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menoleh ke arah sumber suara di dekat pintu rumah makan. Sepasang matanya sedikit melebar saat menemukan sosok Hasrul, salah satu mekanik senior dari dealer yang merupakan rekan kerja satu tim Pradika, sedang berjalan lebar ke arahnya.

Hasrul yang masih mengenakan sanksi kemeja kerja lapangan berlogo perusahaan tampak tersenyum ramah. Tanpa basa-basi atau menunggu undangan, pria yang terkenal humoris itu langsung menarik kursi kayu di depan Rana dan mendudukinya.

"Malam-malam begini, kamu turun dari site sama siapa, Na?" tanya Hasrul, menatap tas ransel besar yang diletakkan Rana di kursi sebelah.

"Pakai bus karyawan, Kak," jawab Rana sopan, sedikit memundurkan posisi duduknya karena merasa canggung.

"Oh, bus karyawan. Apa kamu mau pulang ke kampung halaman?" tanya Hasrul, melirik sekilas ke arah pelayan rumah makan untuk memesan segelas teh es manis dan sepiring nasi kuning.

Rana menganggukkan kepalanya perlahan sebagai jawaban konfirmasi.

"Apa Pradika sudah tahu kalau kamu cuti dan pulang kampung?" tanya Hasrul lagi, menyelidiki dengan tatapan mata yang sarat akan rasa ingin tahu.

Rana kembali menganggukkan kepalanya pelan, tepat saat pelayan meletakkan pesanan Hasrul ke atas meja.

"Sudah tahu, Kak. Kemarin sempat berkirim pesan lewat WA."

Hasrul terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenapa kamu tidak menunggunya beberapa hari lagi, Na? Sebentar lagi Pradika juga cuti. Kalau menunggunya, kalian bisa kembali ke Jawa bersama. Jadi ada yang menjaga kamu di jalan."

Rana buru-buru menelan makanannya, merasa pipinya mendadak menghangat mendengar implikasi dari ucapan Hasrul.

"Tidak bisa, Kak. Di rumah ada urusan keluarga yang mendesak, jadi saya harus pulang besok."

"Oh, begitu..." Hasrul mengangguk-angguk paham.

Percakapan mereka terhenti sejenak, saat keduanya menikmati makanan masing-masing dalam keheningan yang ditemani suara bising jalan raya. Setelah selesai makan dan membersihkan sisa makanan dengan tisu, Rana merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Ia ingin memantau apakah ada pesan masuk terbaru dari pihak agen travel mengenai posisi penjemputan armada mereka.

Sementara di seberang meja, Hasrul tampak sibuk mendekatkan ponselnya ke telinga, melakukan sebuah panggilan keluar ke nomor seseorang dengan nada yang sengaja disamarkan.

Ting!

Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi dari ponsel Rana. Namun, begitu matanya menatap layar, nama pengirim yang tertera di sana bukanlah dari pihak agen travel, melainkan sebuah nama yang belakangan ini selalu berhasil mengusik ketenangannya: Pradika.

Pradika: Cutiku terpaksa diundur sebulan lagi, Rana. Proyek di site Kalteng ini sedang banyak-banyaknya, tapi kami malah kekurangan manpower. Padahal... tadinya aku ingin sekali menyusulmu ke Jawa.

Rana menatap aneh dan lama ke arah baris kalimat yang dikirimkan oleh Pradika. Dadanya mendadak terasa sesak oleh sebuah debaran yang asing.

Mengapa laki-laki ini selalu saja berhasil membuat darahnya berdesir hebat dan wajahnya memanas setiap kali mengirimkan pesan? Kata 'menyusul' itu terasa terlalu intim untuk diucapkan oleh seorang pria yang statusnya hanya sebatas rekan kerja dari luar divisi.

Rana menarik napas, mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum mengetikkan balasan.

Rana: Iya, Mas. Tidak apa-apa. Jangan lupa jaga kesehatan di sana.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik bagi layar ponsel Rana untuk kembali berkedip, menampilkan sebuah pertanyaan lanjutan dari Pradika yang kali ini benar-benar terasa seperti hantaman bom spiritual bagi pertahanan mental Rana.

Pradika: Rana... kalau nanti cutiku sudah turun, apa kamu mau aku datang menemui orang tuamu untuk melamar?

Uhuk!

Rana hampir saja tersedak air putih yang baru saja diteguknya. Pertanyaan dari Pradika yang datang teramat sangat tiba-tiba, tanpa ada aba-aba atau pengantar apa pun, sukses membuat seluruh sendi tubuh Rana bergetar hebat karena terkejut dan salah tingkah yang luar biasa.

Ia menatapi layar ponsel itu dengan mata membelalak, bingung, apakah pria yang ada di provinsi berbeda itu sedang kehilangan akal sehatnya atau sedang bercanda dengannya?

Hasrul yang duduk tepat di depan Rana tentu saja tidak buta melihat perubahan drastis pada raut wajah gadis admin itu. Melihat kedua pipi Rana yang mendadak merona merah pekat seperti tomat matang dengan gerak-gerik yang mendadak gelisah, Hasrul langsung mengulas senyum menggoda yang sangat lebar.

"Ehem... Apa Pradika yang baru saja mengirimkan pesan?" goda Hasrul jahil, sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan meja.

Rana dengan panik langsung memalingkan wajahnya ke arah samping, berpura-pura menatap truk yang melintas di jalan raya demi menyembunyikan wajahnya yang sudah matang karena malu.

"Bukan, Kak. Ini dari... dari grup internal kantor."

Hasrul tertawa renyah, jelas tidak memercayai kebohongan defensif yang dilontarkan Rana.

"Sayangnya, anak itu nasibnya kurang beruntung bulan ini. Cutinya terpaksa diundur bulan depan. Dia tidak bisa menyusulmu pulang ke Jawa."

Mendengar ucapan Hasrul yang begitu akurat menebak isi pesan Pradika, Rana spontan kembali menatap wajah mekanik senior itu dengan pandangan heran bercampur tanya.

Hasrul yang bisa menebak dengan mudah apa yang ingin ditanyakan oleh Rana lewat tatapan matanya, segera mendahului dengan melambaikan ponselnya sendiri di udara.

"Aku baru saja menghubungi dia lewat telepon tadi. Dia mengeluh panjang lebar kepadaku tentang sistem kerja di site barunya yang kekurangan orang, makanya cutinya ditahan sebulan lagi. Karena itulah, mumpung aku malam ini sedang senggang dan tidak ada jadwal standby, aku dititipkan tugas oleh Pradika untuk menemanimu di sini sampai mobil travelmu datang menjemput."

Rana hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan kaku, menyembunyikan jemarinya yang saling bertautan di bawah meja.

Di dalam benaknya yang terdalam, sebuah pertanyaan besar merayap naik.

Kenapa... kenapa Pradika dan orang-orang di sekitarnya, seperti Mas Budi, Dino, dan sekarang Kak Hasrul, selalu saja berbicara dan bertindak dengan cara yang begitu blak-blakan kepadanya? Rana merasa sangat heran sekaligus asing dengan perlakuan semacam ini.

Jika dipikir secara logika yang jernih, ia dan Pradika baru bertemu beberapa kali saja di lingkungan Warehouse, dan itu pun hampir sebagian besar terjadi karena urusan pekerjaan serah terima komponen mesin atau karena tragedi mobil mogok dan malam pencegatan Sapo di mess dulu.

Mereka tidak memiliki kedekatan historis yang lama. Namun, kenapa pria itu dan rekan-rekannya memperlakukan Rana dengan begitu tulus, penuh rasa protektif, dan penuh hormat, seolah-olah mereka telah mengenalnya selama bertahun-tahun dan sebagai bagian penting dari hidup mereka?

Bahkan... bahkan ibu kandungnya sendiri, Bu Retno, atau adiknya, Rani, tidak pernah sekalipun seumur hidup memperlakukan Rana dengan kehangatan dan kepedulian sedalam ini.

Di rumah Bojonegoro, keberadaan Rana hanya akan dianggap penting jika ada lembaran uang kiriman yang datang, atau jika ada pekerjaan rumah tangga yang melelahkan yang perlu diselesaikan. Kontrasnya perlakuan yang ia terima di tanah perantauan ini membuat sudut hati Rana terasa hangat sekaligus perih di saat yang bersamaan.

Setengah jam kemudian, di tengah lamunan Rana yang kian meluas, suara klakson mobil yang khas terdengar dari arah depan rumah makan. Sebuah mobil elf travel berwarna silver dengan plat nomor Banjarmasin berhenti di tepi jalan dengan lampu hazard yang berkedip-kedip. Supir travel turun, memastikan nama penumpang yang hendak dijemput.

"Itu travelmu sudah datang, Na," kata Hasrul sambil berdiri, dengan cekatan langsung menyambar tas ransel besar milik Rana yang berat dan membawakannya keluar menuju bagasi belakang mobil travel.

Rana mengikuti dari belakang setelah menyelesaikan pembayaran makan malamnya di kasir. Sebelum Rana melangkahkan kakinya masuk ke dalam pintu kabin mobil travel yang sejuk oleh semburan AC, Hasrul menghentikan langkah gadis itu sesaat. Pria paruh baya itu menatapnya dengan raut wajah seorang kakak yang penuh wejangan aman.

"Rana, dengarkan," kata Hasrul serius, suaranya sedikit diredam agar tidak terdengar oleh oleh penumpang lain.

"Nanti kalau kamu sudah sampai di Banjarbaru, jangan langsung nekat menunggu atau tidur di bandara sampai penerbangan pagimu tiba. Suasana bandara kalau malam terlalu rawan untuk perempuan yang sendirian sepertimu. Lebih baik kamu menyewa kamar hotel kecil yang dekat dengan area bandara saja untuk beristirahat dengan aman sampai subuh, mengerti?"

Mendengar perhatian yang begitu detail dan tulus itu, Rana merasakan matanya sedikit memanas. Ia menganggukkan kepalanya dengan khidmat, sebuah senyuman tulus terbit di bibirnya.

"Baik, Kak Hasrul. Terima kasih banyak atas sarannya. Terima kasih juga sudah mau menemani saya menunggu di sini."

"Sama-sama, Na. Hati-hati di jalan, sampaikan salamku untuk keluargamu di Jawa. Dan jangan lupa... balas itu pesan si Pradika, kasihan anak orang bisa tidak fokus bongkar mesin besok pagi kalau pesannya kamu gantung terus," seloroh Hasrul di akhir kalimatnya, kembali menampilkan senyum jahilnya yang khas.

Wajah Rana kembali memerah sempurna. Tanpa berani menjawab candaan itu, ia bergegas naik ke dalam kabin travel dan menutup pintunya. Mobil bergerak perlahan meninggalkan area rumah makan Banjar, membelah kegelapan malam menuju kota Banjarbaru.

Di dalam pelukan kursi travel yang empuk, Rana menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, menatapi ponselnya yang masih menampilkan ruang obrolan dengan Pradika. Pertanyaan tentang 'lamaran' itu masih menggantung di sana, menanti sebuah jawaban yang bahkan Rana sendiri belum tahu bagaimana cara merangkainya dari dalam lubuk hatinya yang tidak memiliki kepercayaan diri.

1
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!