Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
“Kau mengejar mereka?”
Raka tidak langsung menjawab. Ia mengambil kursi yang tadi terbalik, lalu mendudukannya kembali dengan tenang.
“Tidak jauh.”
Pak Harun menghela napas pelan.
“Apa yang kau lakukan?”
Raka menatap pria tua itu.
“Memastikan mereka tidak kembali.”
Pak Harun terdiam.
Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi wajah Raka membuatnya menahan diri. Bukan karena takut sepenuhnya. Lebih karena ia tahu ada bagian dari pemuda itu yang sedang berubah terlalu cepat.
Pak Harun pernah melihat Raka sebagai anak muda pendiam yang sering duduk di pojok warung, menghitung uang receh sebelum memesan kopi. Ia pernah melihat Raka menunduk saat dihina. Ia pernah melihat Raka menahan lapar tanpa mengeluh.
Tapi malam ini, Raka berdiri seperti seseorang yang telah melewati batas yang tidak bisa dilihat orang lain.
Pak Harun berkata pelan, “Raka, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi satu hal yang harus kau ingat, jangan sampai orang-orang jahat membuatmu menjadi seperti mereka.”
Raka menatap meja yang masih basah oleh kopi tumpah.
“Aku tidak ingin jadi seperti mereka, Pak.”
Pak Harun menatapnya.
Raka melanjutkan, suaranya tenang.
“Mereka menyakiti orang lemah karena merasa kuat. Aku menghukum mereka karena mereka memakai kekuatan untuk menyakiti orang yang tidak bersalah.”
Pak Harun diam.
Raka mengangkat wajah.
“Bedanya ada di situ.”
Pak Harun menatap mata Raka cukup lama. Ia melihat ketegasan di sana. Dingin, keras, tapi belum kosong.
Akhirnya pria tua itu menghela napas.
“Kalau begitu, jaga batas itu baik-baik.”
Raka mengangguk.
“Saya akan coba.”
Sistem berbisik di dalam jiwanya.
[Manusia tua itu memahami sebagian kecil dari beban kekuatan.]
[Menarik.]
Raka menjawab dalam hati, “Dia bukan manusia lemah.”
[Secara kekuatan, ia lemah.]
“Tapi hatinya tidak.”
Sistem tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, suara wanita itu terdengar lebih pelan.
[Benar.]
Raka duduk di kursi dekat pintu, menatap jalanan malam di luar warung. Beberapa pelanggan sudah pergi. Yang tersisa hanya dua orang yang duduk agak jauh, masih terlalu takut untuk bicara keras.
Tidak lama kemudian, Dimas datang terburu-buru.
Pemuda itu mengenakan jaket biru gelap, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya penuh panik. Begitu melihat kondisi warung yang berantakan, ia langsung berhenti.
“Lah, ini kenapa? Perang dunia ketiga pindah ke warung Pak Harun?”
Pak Harun meliriknya.
“Mulutmu tetap saja seperti radio rusak.”
Dimas menoleh ke Pak Harun dan langsung kaget melihat luka di bibirnya.
“Pak Harun! Siapa yang mukul?”
Raka tidak menjawab.
Pak Harun berkata lebih dulu, “Sudah selesai.”
Dimas menatap Raka.
“Ka?”
Raka mengangkat wajah sedikit.
Dimas memperhatikan temannya itu lebih lama. Ada sesuatu yang berbeda dari Raka. Bukan hanya wajahnya. Bukan hanya cara duduknya. Tapi udara di sekelilingnya.
Dulu Raka terlihat seperti orang yang selalu menahan beban.
Sekarang, Raka terlihat seperti orang yang membuat beban itu berpindah ke bahu orang lain.
Dimas menarik kursi dan duduk di depan Raka.
“Aku dengar kabar aneh dari pasar. Katanya kau bikin preman mungutin sayur.”
Raka diam.
Dimas melanjutkan, “Terus sekarang warung Pak Harun rusak. Jangan bilang ini semua kebetulan.”
Pak Harun berdiri perlahan.
“Aku buatkan kopi dulu.”
Dimas menoleh. “Pak, bibir Bapak masih berdarah.”
“Bibir berdarah masih bisa buat kopi. Yang tidak bisa itu kalau dapur ikut dihancurkan.”
Dimas menatap Pak Harun dengan wajah tidak percaya.
Pak Harun berjalan ke belakang, memberi ruang bagi Raka dan Dimas untuk bicara.
Dimas menatap Raka lebih serius.
“Ka, sebenarnya kau ada masalah apa?”
Raka menatap sahabat lamanya.
Dimas adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak pernah meremehkannya. Banyak bicara, kadang menyebalkan, tapi selalu datang saat Raka benar-benar butuh bantuan. Bahkan ketika Raka tidak meminta.
Karena itu, Raka tidak ingin menyeretnya.
“Bukan masalahmu.”
Dimas tertawa pendek.
“Kalau sudah sampai Pak Harun dipukul, berarti ini bukan cuma masalahmu.”
Raka tidak menjawab.
Dimas mencondongkan tubuh.
“Dengar. Aku tahu kau orangnya tertutup. Tapi aku juga tahu kau bukan tipe yang tiba-tiba bikin preman nangis tanpa alasan.”
Raka menatapnya.
“Siapa bilang mereka nangis?”
Dimas mengangkat alis.
“Jadi benar?”
Raka diam.
Dimas menghela napas panjang.
“Ya ampun, Ka. Kau ini makin serem saja.”
Raka menunduk sebentar. “Lebih baik kau menjauh dulu dariku.”
Kalimat itu membuat Dimas terdiam.
Beberapa detik kemudian, ekspresi santainya menghilang.
“Kau ngomong begitu karena kau takut aku kena masalah?”
Raka tidak menjawab.
Dimas menepuk meja pelan.
“Kalau iya, harusnya dari dulu aku menjauh. Hidupmu dari dulu sudah masalah, Ka.”
Raka menatapnya.
Dimas tersenyum kecil, tapi matanya serius.
“Kau yatim piatu, sering dihina, kerja serabutan, kadang makan saja susah. Aku tetap jadi temanmu bukan karena hidupmu aman.”
Raka terdiam.
Dimas melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Aku jadi temanmu karena kau Raka. Itu saja.”
Untuk beberapa saat, warung itu hening.
Raka tidak tahu harus berkata apa.
Sistem berbicara di dalam jiwanya.
[Manusia ini bodoh.]
Raka hampir tersenyum tipis.
Sistem melanjutkan.
[Namun kesetiaannya tidak palsu.]
Raka menjawab dalam hati, “Aku tahu.”
Pak Harun kembali membawa kopi untuk Dimas dan Raka. Ia meletakkan dua gelas itu di meja.
Dimas langsung mengambil gelas, lalu berkata, “Pak, ini gratis kan? Warung lagi suasana bencana, harusnya ada diskon trauma.”
Pak Harun menatapnya datar.
“Kopimu dua kali harga normal.”
Dimas langsung menoleh ke Raka.
“Ka, setelah kau jadi orang sakti, tolong gunakan kekuatanmu untuk menurunkan harga kopi.”
Raka menatapnya sebentar.
Lalu untuk pertama kalinya sejak malam itu, ia mengembuskan tawa kecil.
Pendek.
Hampir tidak terdengar.
Tapi cukup membuat suasana warung sedikit lebih ringan.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Di tempat lain, rumah besar keluarga Mahendra dipenuhi ketegangan.
Reza Mahendra berdiri di ruang tengah dengan wajah merah karena marah. Di hadapannya, Joni dan empat preman lain berlutut dengan tubuh gemetar.
Mereka belum berhenti berkeringat sejak kembali.
Surya Mahendra duduk di kursi utama, menatap mereka dengan wajah dingin. Bram berdiri di samping, wajahnya pucat. Ia melihat keadaan anak buahnya dan langsung tahu Raka tidak sekadar mengusir mereka.
Raka menghukum mereka.
Reza menendang meja kecil hingga bergeser.
“Jadi kalian berlima kalah?”
Joni menunduk dalam.
“Maaf, Bang.”
“Maaf?” Reza tertawa kasar. “Kalian dibayar untuk membawa Raka. Bukan pulang sambil menangis!”
Joni gemetar.
“Dia… dia bukan manusia biasa, Bang.”
Reza melangkah mendekat dan menamparnya.
PLAK!
Joni terjatuh ke samping.
Namun saat Reza mengangkat tangan lagi, Joni tiba-tiba menjerit.
Bukan karena tamparan.
Tanda mahkota retak di dalam dadanya berdenyut.
Tubuhnya mengejang.
“Ampun! Ampun! Jangan suruh saya lagi! Jangan suruh saya mukul orang biasa lagi!”
Reza membeku.
Surya menyipitkan mata.
Bram menelan ludah.
Joni mencengkeram dadanya dengan mata melotot.
“Pedang itu… pedang itu lihat saya…”
Reza menatapnya jijik.
“Gila.”
Surya berdiri perlahan.
“Bukan gila.”
Reza menoleh.
Surya berjalan mendekati Joni, lalu memperhatikan wajah dan napasnya. Pria tua itu tidak bisa melihat tanda di dada Joni, tapi ia bisa melihat ketakutan yang terlalu nyata.
“Dia ditandai.”