NovelToon NovelToon
Putri Titipan Mantan

Putri Titipan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Karita Ta

"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.

Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.

"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.

Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.

Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM | BAB 23

Malam itu, Dinda tidak langsung tidur meski tubuhnya terasa sangat lelah.

Wanita itu duduk sendirian di atas ranjang sambil memandangi cardigan miliknya yang tertinggal aroma bayi Glenka. Sesekali jemarinya menyentuh bagian lengan kain tersebut pelan.

Dan tanpa sadar—ia tersenyum kecil.

“Astaga...” gumamnya lirih. “Kenapa jadi kepikiran terus sih?” Padahal baru beberapa hari mengenal bayi itu.

Namun Glenka terasa begitu dekat dengannya. Cara bayi kecil itu mencari pelukannya, cara ia menangis saat Dinda menjauh. Dan panggilan kecil “ma” yang tanpa sadar terus terngiang di kepala wanita itu.

Seketika dada Dinda terasa nyeri.

Karena dulu—ia pernah sangat menginginkan semua itu hadir dalam rumah tangganya. Namun sekarang, justru anak dari orang lain yang perlahan mengisi kekosongan tersebut.

Ponselnya tiba-tiba bergetar pelan di atas kasur. Satu pesan masuk, dari Raka.

Makasih udah bantuin hari ini.

Disusul pesan berikutnya beberapa detik kemudian.

Glenka nyariin lo lagi sekarang.

Refleks, sudut bibir Dinda terangkat kecil. Dan entah kenapa—hatinya terasa hangat. Namun sebelum sempat membalas pesan itu, panggilan lain justru masuk.

Mas Ervin Calling.

Senyumnya langsung memudar perlahan.

Sudah beberapa hari terakhir, Ervin seperti tidak pernah benar-benar berhenti mencoba masuk kembali ke hidupnya.

Kadang Dinda merasa iba, kadang marah, kadang justru ikut hancur. Namun yang paling membuatnya lelah—ia masih mencintai pria itu.

Dengan napas panjang, akhirnya Dinda mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?”

“Ganggu ya?”

Suara Ervin terdengar pelan. Serak, seperti orang yang kelelahan.

“Nggak.”

Untuk beberapa detik, pria itu hanya diam. Sampai akhirnya terdengar suara helaan napas berat dari seberang sana.

“Aku habis pulang dari rumah sakit.”

Deg.

Jantung Dinda langsung berdetak pelan.

“Jenita gimana?”

“Baik.” Jawaban itu terdengar datar.

Tidak ada kehangatan, tidak ada kebahagiaan seorang suami baru. Dan entah kenapa—itu justru membuat hati Dinda semakin sakit.

“Anaknya juga sehat,” lanjut Ervin lirih.

Dinda menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku senang dengernya.” Hatinya sangat sakit mengatakan hal tersebut. Karena sejujurnya, ia terlalu munafik.

Namun setelah itu—suasana justru berubah hening. Sampai akhirnya Ervin tertawa kecil hambar.

“Bohong ya kalau aku bilang semuanya baik-baik aja.”

Deg.

“Aku capek, Din.” Suara pria itu mulai terdengar rapuh. “Sumpah... aku capek hidup kayak gini.”

Dinda langsung memejamkan mata. Karena ia tahu—yang dirasakan Ervin sekarang bukan kebahagiaan. Melainkan penyesalan yang datang terlambat.

“Aku pulang ke apartemen rasanya sesak,” lanjut pria itu pelan. “Setiap lihat bayi itu... aku malah kepikiran kamu.”

Dan lagi-lagi—kalimat itu sukses menghantam hati Dinda. Karena bayi tersebut tidak bersalah. Namun, keberadaannya selalu menjadi pengingat bahwa rumah tangga mereka telah hancur.

“Mas...” lirih Dinda.

"Aku jahat banget ya?”

Air mata wanita itu langsung menetes pelan. Karena untuk pertama kalinya—Ervin terdengar benar-benar sadar atas semua luka yang ia ciptakan.

“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu segini dalam,” bisik pria itu serak. “Tapi tiap hari aku malah bikin semuanya makin rusak.”

Dinda menundukkan wajahnya. Dadanya terasa penuh—sangat penuh. Dan yang paling menyakitkan, ia masih bisa merasakan cinta dalam setiap penyesalan Ervin.

“Aku dulu mikir... Kalau cinta aja cukup buat bertahan. Tapi... ternyata enggak ya, Din?”

Tangis Dinda pecah pelan. Karena kalimat itu terasa sangat nyata. Sangat manusiawi, dan sangat terlambat.

*****

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah, wanita muda itu berdiri diam di depan pintu kamar bayi, sambil memperhatikan Ervin yang sejak tadi menggendong putri mereka tanpa bicara sepatah kata pun.

Tatapan pria itu kosong—sangat kosong. Sedangkan bayi kecil tersebut sudah tertidur di dadanya.

“Vin,” panggil Jenita pelan. Namun Ervin tidak menjawab. Tatapannya masih lurus ke depan. Seolah pikirannya berada di tempat lain.

“Kamu habis telepon Dinda ya?”

Pertanyaan itu akhirnya membuat Ervin menoleh pelan. Dan untuk pertama kalinya—Jenita melihat mata pria itu benar-benar lelah.

“Aku nggak tahu harus gimana lagi, Jen.”

Kalimat itu sukses membuat dada wanita muda tersebut terasa sesak. Karena kini ia sadar—bahkan setelah semua yang terjadi, hati Ervin masih tertinggal pada Dinda.

“Aku tahu kamu nyesel,” lirih Jenita pelan.

Ervin tertawa kecil hambar. “Nyesel aja nggak cukup untuk semua ini."

“Terus kamu mau apa?” tanya Jenita.

Pria itu menundukkan wajahnya cukup lama. Sampai akhirnya menjawab dengan suara sangat pelan—“Aku pengen pulang.”

Deg.

Air mata Jenita langsung jatuh begitu saja. Karena ia tahu—rumah yang dimaksud Ervin bukan apartemen ini.

Melainkan Dinda.

Dan itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kebencian.

*****

Keesokan harinya, Dinda kembali datang ke butik seperti biasa. Namun, baru saja dirinya duduk di ruang desain—suara kecil yang sudah mulai familiar kembali terdengar dari arah depan butik.

“Daaa...”

Refleks, kepala Dinda langsung menoleh cepat. Dan benar saja—Raka kembali datang sambil membawa Glenka.

“Astaga...” gumam salah satu pegawai butik sambil tertawa kecil. “Datang lagi anak lucu itu.”

Sedangkan Glenka langsung tersenyum lebar begitu melihat Dinda. Bahkan bayi kecil itu menggerakkan tubuhnya aktif meminta digendong.

“Dia serius nyariin Mbak Dinda terus,” celetuk pegawai lainnya gemas.

Dinda sendiri langsung salah tingkah. Namun saat dirinya mendekat—Glenka justru tertawa kecil sambil memeluk lehernya erat begitu dipangku. Hati Dinda terasa hangat.

“Kamh nggak sibuk?” tanya Dinda pada Raka. Pria itu menggeleng kecil.

“Meeting gue online.” sahutnya enteng.

“Kok jadi sering kesini?” Dinda menelisik wajah pria itu, yang kemudian membuat Raka tersenyum kecil.

“Mau jujur?” tanya si pria dengan wajah nakalnya.

“Hm?” Dinda dibuat penasaran oleh wajah-wajah Raka yang menyebalkan itu.

“Karena... dia lebih gampang makan kalau sama lo.” Jujur Raka dengan menoel pipi gembul putri semata wayangnya.

Dinda langsung terkekeh geli.

“Oh... Aku dimanfaatin ternyata.”

“Sedikit,” Raka nyengir dengan matanya yang semakin menyipit. Hal itu membuat Dinda melayangkan cubitan kecil di lengan kekarnya.

Percakapan kecil itu membuat suasana terasa sangat ringan. Sangat nyaman. Dan tanpa sadar—Dinda mulai menikmati kehadiran mereka.

Namun saat dirinya sedang membantu Glenka berdiri di atas sofa kecil butik—suara langkah seseorang mendadak terdengar dari arah pintu masuk.

Dan saat menoleh—senyum di wajah Dinda langsung menghilang.

Ervin datang. Pria itu berdiri diam di depan butik dengan tatapan lurus ke arah dirinya dan Glenka.

Sedangkan untuk pertama kalinya—Glenka terlihat bingung menatap sosok asing tersebut.

Namun yang paling membuat suasana berubah adalah, cara Ervin memandang Dinda saat itu. Bukan marah, bukan emosi. Melainkan tatapan seorang laki-laki yang perlahan sadar bahwa,

Perlahan, dirinya benar-benar mulai kehilangan rumahnya sendiri.

1
vita
jd penasaran apa yg d lakukan raka, apa berobat ya.
Happy Kids
pertanyaan macam apa ini
Happy Kids
inget bukkk.. yg bikin dinda gini ya anakmuuu.. gila ibuknya bener bener
Happy Kids
pret
Happy Kids
asli ni perempuan muna bgt. gatau malu.
Happy Kids
krn dirimu dah nemu yg baru wkwkkw jenita ups
Happy Kids
caper. aslinya bersorak soraii. orang kl emng nyesel nyakitin rumah tangga org lain hrs nya sadar diri. bukan malah living together 🤣 inimah nikmati aja dia alurnya 😅
Happy Kids
kasih tau tu anaknya. jgn kumpul kebo mulu
Happy Kids
apasiiii kepoo. bukan istri tp kaya nuntut laporan mulu. sbnernya dah niat bgt tu jenita ngerebut. tp sok sok an aku gamau nyakitin orang. hilih
Happy Kids
kan uda ada jenita yg masih kinyis kinyis trs kasih anak ke dia..
Happy Kids
kalau kaya gtu, dirimu yg semena mena dong wkwk slalu anggap bakal dimaafin mulu
Happy Kids
mreka tinggal bareng? kumpul kebo?
Happy Kids
munak aja ni anak org 🤣
Happy Kids
pulang? wajib bgt gtu? lagian ibu nya jenita katanya kecewa, tp dianya sendiri ngebiarin anaknya sering2 interaksi sama bojo orang 😅 pada ga punya pendirian dan prinsip. hrsnya dg gt dia ajak anaknya pulang dan awasi biar gausa aneh aneh. kl ngebiarin gini ya sama aja dia ga didik. pake sok sok an bilang gagal didik anak.
Happy Kids
anak org caper bgt
Happy Kids
nah mulai dia ga bisa lepas dr jenita. itulah. dahlah sama jenita aja
Happy Kids
katanya lelah nyakitin org. tp dianya nempelin ervin mulu dan berharap dicintai ervin. muna bgt dah
Happy Kids
punya otak? menurutmu?
vita
hanya bs kasih secangkir kopi n seiket bunga buat nemenin nulis ceritanya 💪💪💪💪
Karita Ta: Hai kaak vitaa, salam kenal dari karitaa yaa. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan tinggalkan jejaknya. Semoga hari-harimu menyenangkan yaa 😍🫰
total 1 replies
vita
sll suka sama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!