Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh
Dari balik jendela kaca bening, Dami bisa melihat dengan jelas hamparan danau yang membentang luas, airnya berkilau bagaikan cairan perak terkena sinar matahari yang mulai menembus sela-sela kabut tipis. Di tepiannya tumbuh rerumputan hijau lembut dan pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, menciptakan pemandangan yang begitu tenang dan memukau, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat ini.
Namun perlahan, pandangannya teralihkan dari keindahan alam itu. Matanya tanpa sadar melayang kembali ke arah tempat tidur, menatap sosok Bima yang terlelap di dalam sana. Ia menatapnya lama sekali, membiarkan pandangannya menjelajahi garis wajah yang tegas namun kini tampak lebih santai saat tertidur, turun ke leher yang kekar, lalu ke bahu dan dada bidang yang terbuka bebas.
Di bawah cahaya lembut ruangan itu, setiap lekuk ototnya terlihat jelas dan terawat, membuatnya terlihat jauh lebih gagah dan seksi dari biasanya. Jantung Dami kembali berdegup kencang, ia juga bingung kenapa.
Kemudian, pikirannya kembali bekerja. Ia merasakan hembusan udara dingin dari pendingin ruangan yang berhembus cukup kencang, dan ditambah lagi suhu alam luar yang rendah, ia khawatir Bima akan masuk angin atau kedinginan. Tidak baik membiarkan tubuh terbuka seperti itu di tempat sedingin ini.
Dami pun bangkit perlahan, melangkah hati-hati mendekati sisi tempat tidur untuk mencari remot pengatur suhu. Ia melihat benda itu tergeletak di meja kecil tepat di samping kepala Bima. Dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan, ia menjulurkan tangannya. Namun tepat saat jarinya hampir menyentuh benda itu, kakinya tanpa sengaja tersangkut ujung karpet tebal yang ada di lantai.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan seketika. Ia tidak sempat berteriak atau menahan diri, tubuhnya langsung jatuh tepat menindih dada bidang Bima yang masih terlelap.
BUKK!
Dami kaget luar biasa, wajahnya menempel tepat di dada suaminya, bisa merasakan detak jantung yang kuat dan teratur di bawah telapak tangannya. Dalam hati ia langsung mengutuk dirinya sendiri,
Sialan! Kenapa bisa ceroboh sekali? Malu sekali rasanya!
Pikirnya, wajahnya seketika terasa panas membara, bahkan mungkin lebih panas dari suhu tubuhnya sendiri.
Bima yang tadinya tidur nyenyak langsung terkejut dan terbangun. Matanya terbuka lebar, dalam sepersekian detik ia menyadari ada beban yang menindih tubuhnya. Saat pandangannya fokus, ia melihat Dami yang tergeletak di atasnya, wajahnya memerah padam, matanya terbelalak ketakutan dan malu, seolah ingin segera menghilang masuk ke dalam tanah.
Keduanya terdiam sejenak, hanya mendengar suara napas mereka yang mulai memburu. Posisi mereka sangat dekat, terlalu dekat, hanya beberapa senti saja yang memisahkan wajah mereka. Dami bisa mencium aroma khas tubuh Bima, membuat kepalanya terasa sedikit pusing.
"Kau ... sedang apa?" tanya Bima dengan suara serak, masih setengah sadar namun tatapannya kini terfokus tajam namun ada kilatan kejutan dan rasa geli yang tak bisa disembunyikan di balik matanya. Tangannya secara refleks menahan pinggang Dami agar wanita itu tidak tergelincir.
Dami tersentak kaget, segera berusaha bangkit dan menjauh, namun tangannya malah tergelincir dan membuat posisinya semakin canggung.
"Maaf! Maafkan aku, kak Bima! Aku tidak sengaja! Kakiku tersandung ..." ucapnya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar karena malu yang meluap-luap. Matanya tidak berani menatap lurus, hanya menunduk melihat dada bidang yang baru saja ia injak.
Akhirnya ia berhasil bangkit dan mundur beberapa langkah, berdiri dengan punggung sedikit membungkuk, tangannya meremas ujung bajunya dengan gugup. Wajahnya masih terasa sangat panas, dan ia merasa seluruh tubuhnya terbakar karena kecerobohannya sendiri.
Bima masih berbaring, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa terkejut, tapi juga senyum tipis yang perlahan terukir di sudut bibirnya, sesuatu yang jarang sekali terlihat sejak ketegangan yang terjadi di antara mereka. Ia mengangkat satu alisnya, lalu berkata dengan nada yang sedikit menggoda namun tetap tenang.
"Jadi begini caramu membangunkan seseorang? Atau memang sengaja ingin menindihku?"
Mendengar kalimat itu, wajah Dami makin memerah, ia. menunduk malu dan kesal pada dirinya sendiri.
"Bukan! Benar-benar tidak sengaja! Aku hanya ingin menurunkan suhu AC-nya, takut kak Bima kedinginan bertelanjang dada begini di tempat sedingin ini..." jelasnya tergesa-gesa, berusaha meyakinkan.
Bima terdiam sejenak, lalu menatap tubuhnya sendiri yang masih terbuka, kemudian kembali menatap Dami yang terlihat sangat gelisah. Ia terus menatap wanita itu dengan mata besarnya yang tajam dan indah. Sungguh, Dami malu sekali dan merasa tidak sanggup di tatap seperti itu.
Kalau itu Bima yang dulu, dia tidak perlu canggung karena hubungan mereka masih sangat baik dan sikap pria itu padanya begitu lembut. Tapi yang ada di depannya sekarang adalah sosok yang berbeda. Yang masih menganggapnya jijik dan menjaga jarak dengan dirinya.
Bima tidak mengatakan apapun, lelaki itu turun dari kasur dan mengenakan kembali kemeja yang ia letakkan di sofa tadi sambil menatapnya lekat-lekat. Pria itu menghela napas panjang, lalu raut wajahnya perlahan kembali menjadi datar dan dingin seperti biasa, seolah ingin menutupi reaksi geli yang tadi sempat terlihat.
"Lain kali hati-hati. Kalau kau jatuh di lantai, dampaknya tidak main-main." akhirnya pria itu angkat suara.
Nadanya datar, tanpa nada lembut maupun keras, hanya sekadar peringatan biasa yang terdengar dingin. Bima mengancingkan kemejanya satu per satu dengan gerakan tenang, matanya tidak lagi menatap Dami seolah kejadian tadi hanyalah hal sepele yang tidak perlu dipikirkan lebih jauh. Dami hanya mengangguk pelan.
"Aku akan mengikuti pembukaan pelatihan sore ini. Kau bisa jalan-jalan kalau bosan, kegiatanku selesai jam enam sore. Setelah itu kita makan bersama." katanya lagi.
Dami lagi-lagi mengangguk. Ia menatap kepergian laki-laki itu hingga punggungnya benar-benar menghilang dari hadapannya. Begitu pintu tertutup rapat, Dami segera menjatuhkan diri ke kursi dekat jendela sambil menepuk-nepuk dadanya yang masih berdebar kencang.
Rasanya napasnya baru bisa kembali normal setelah kehadiran Bima tidak lagi terasa begitu dekat. Wajahnya masih terasa hangat, dan bayangan insiden tadi terus terlintas di pikirannya, membuatnya menggeleng-gelengkan kepala sendiri karena merasa sangat ceroboh.
"Dasar bodoh, kenapa harus tersandung begitu?" gumamnya pelan, tersenyum malu sendiri. Meskipun sikap Bima kembali dingin, setidaknya ia tidak memarahi atau menjauhinya seperti beberapa minggu terakhir ini, itu sudah cukup membuat hatinya sedikit lega.
Ia memandang keluar jendela lagi, menikmati keindahan danau yang kini mulai terlihat lebih jelas seiring kabut yang menghilang perlahan. Udara sejuk yang masuk lewat celah jendela membuatnya merasa tenang. Ia lalu berdiri, seperti yang dikatakan Bima tadi, dia akan jalan-jalan di sekitar tempat ini.
klo pake logika sih,laki2 yg sudah melihat istrinya di sentuh laki lain,pasti akan meninggalkanyaa.
tapi othor menciptakan karakter lali2 yg tidak biasa.
kereen thor, biasanya laki2 kayak gini kebanyakan di jumpai di negara western atau America.
jika ada laki2 kayak gini di Indonesia, super keren sih
jeremy merelakan dan mengikhlaskan dami bahagia bersama bima...
seandainya dami jatuh cinta bima, mungkin jeremy bisa rela dan ikhlas bersama bima, tuk sekarang ini jeremy tahunya dami masih mencintai jeremy...
untuk mengganggu...
kasian kamu jer jer
kok jdi khawatir jeremy ngikutin dami sampai ke puncak..jgn smpai bima salah paham lagi