NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Betrayal Night

Gema jentikan jari Aurelia yang ketiga belum sepenuhnya lenyap dari udara ketika kesunyian di Aula Utama itu pecah menjadi badai kehancuran.

DOR!

Tembakan pertama tidak datang dari para pengawal di pintu belakang, melainkan dari moncong Glock 19 milik Kael Arden. Dengan kecepatan refleks seorang predator yang telah mengendus bahaya sejak awal, Kael menarik tangannya dari balik mantel hitamnya dan melepaskan tembakan presisi tepat ke arah dada pengawal yang berdiri di sisi kanan Marcus. Pria bertubuh besar itu tersentak ke belakang, senapan taktisnya terlepas dari tangannya saat tubuhnya menghantam pilar batu gotik, meninggalkan jejak darah yang masif di dinding kuno.

"Kudeta!" teriakan Luciani Volkov, kepala keamanan pribadi Aurelia, menggelegar membelah ruangan.

Dalam sekejap, Aula Utama berubah menjadi arena pembantaian yang kacau. Marcus, yang menyadari bahwa rencananya telah terendus sebelum sempat mengeksekusi Aurelia, langsung melompat ke balik meja bundar besi hitam sembari menarik sebuah granat asap dari rompi taktisnya. Psssshhh! Asap tebal berwarna abu-abu pekat langsung menyembur, menelan cahaya lampu gantung kristal dan membutakan pandangan semua orang di dalam ruangan dalam hitungan detik.

"Tembak wanita itu! Jangan biarkan dia keluar dari aula ini hidup-hidup!" suara Marcus terdengar melengking di antara desing kepulan asap.

Suara rentetan tembakan otomatis langsung memekakkan telinga. Peluru-peluru kaliber 9mm dan 5.56mm menghantam meja besi hitam, memantulkan percikan api yang menerangi kegelapan dalam kilatan-kilatan mikro yang mengerikan. Para bos mafia, Nikolai, Tanaka, dan Alejandro dengan sigap menjatuhkan diri mereka ke lantai, berlindung di balik kursi-kursi beludru merah yang kini hancur tercabik-cabik oleh timah panas. Pengawal pribadi mereka yang berada di luar aula mencoba mendobrak pintu besi raksasa, namun sistem keamanan kastil telah dikunci dari dalam oleh jaringan enkripsi milik Marcus.

Di tengah kekacauan yang membutakan itu, Kael Arden bergerak bukan sebagai seorang politisi yang ketakutan, melainkan sebagai perisai hidup yang didorong oleh kegilaan obsesi mutlak. Dengan satu hentakan kasar, Kael menarik tubuh Aurelia turun dari kursi takhtanya, membungkus tubuh ramping wanita itu di bawah dekapannya, dan berguling ke balik podium batu yang tebal di belakang kursi utama. Rasa sakit yang luar biasa kembali membakar bahu kiri Kael saat luka jahitannya meregang paksa, namun pria itu bahkan tidak mengedipkan mata. Fokusnya hanya satu, dan itu adalah memastikan bahwa tidak ada satu peluru pun yang boleh menyentuh kulit Aurelia Vane.

"Kau terluka lagi, Kael," bisik Aurelia di dalam dekapan Kael. Napasnya yang hangat menerpa leher Kael, suaranya tetap sedingin es tanpa ada nada panik, meskipun desing peluru terus mengikis permukaan podium batu di atas kepala mereka.

"Diam dan tetaplah di bawahku, Aurelia," desis Kael parau, matanya yang sehitam elang mengawasi pergerakan bayangan di balik kabut asap dengan Glock 19 yang siap memuntahkan kematian. "Aku sudah mengatakannya padamu... sentuh dirimu, dan mereka harus mati. Aku tidak akan membiarkan tikus-tikus ini mengambil apa yang sudah kujadikan sebagai obsesi hidupku."

Aurelia menyunggingkan senyuman sensual di balik kegelapan asap. Di dalam situasi di mana hidupnya berada di ujung tanduk karena pengkhianatan orang kepercayaannya, ia justru mendapati dirinya menikmati bagaimana sang Perdana Menteri telah sepenuhnya berubah menjadi monster posesif demi dirinya. Aura female dominance miliknya tidak meredup. Ia membiarkan Kael melindunginya, bukan karena ia lemah, melainkan karena ia tahu pria ini telah menyerahkan seluruh jiwanya untuk menjadi pelayan setianya.

Aurelia mengulurkan tangannya ke balik paha gaun satin hitamnya yang terkoyak, menarik sebuah pistol semi otomatis ramping berwarna perak dengan ukiran mawar hitam di gagangnya. "Marcus memegang kendali atas sistem pertahanan udara dan ruang kendali utama pulau ini, Kael. Jika kita tidak menghabisinya di ruangan ini, tim pengawal luar milik Vane Group tidak akan pernah bisa menembus masuk untuk menyelamatkan kita."

"Maka kita akan menghabisinya di sini," jawab Kael dingin.

Kael menegakkan tubuhnya sedikit, mengintip di sela pilar batu. Melalui sisa asap yang mulai menipis karena sistem ventilasi darurat kastil yang mulai bekerja secara otomatis, ia melihat Marcus bersama empat pengawal setianya sedang bergerak maju, mencoba mendekati posisi podium dengan senapan taktis yang terarah lurus.

"Marcus!" Aurelia membuka suara, suaranya yang nyaring dan penuh otoritas menggema membelah aula, menghentikan langkah kaki para pengkhianat itu sejenak. "Dua belas tahun kau bekerja di bawah benderaku, dan kau pikir faksi-faksi kecil di Eropa yang mendanai kudetamu ini bisa menyelamatkanmu dari kemarahanku?"

Marcus tertawa sinis, wajahnya penuh dengan keringat dan keserakahan yang telanjang. "Kau sudah terlalu lama bertakhta, Aurelia! Kau membawa seorang Perdana Menteri ke sini, mengotori kesucian dunia bawah dengan hukum pemerintahan bobrok! Kau sudah melunak karena anjing birokrat ini! Malam ini, Vane Group akan memiliki penguasa baru!"

"Kau salah, Marcus," Kael Arden memotong pembicaraan itu dari balik pilar. Ia tidak lagi berbicara dengan nada seorang diplomat, melainkan suara seorang eksekutor. "Aku tidak membawa hukum pemerintahan ke sini. Aku datang ke sini untuk memastikan bahwa hukum dunia bawah milik ratumu tetap menjadi mutlak."

Sebelum Marcus sempat bereaksi terhadap suara Kael, Kael melompat keluar dari balik perlindungan podium batu. Dengan gerakan taktis yang terlatih, ia melepaskan dua tembakan beruntun. Bam! Bam! Dua pengawal di depan Marcus langsung tumbang dengan peluru menembus tenggorokan mereka.

Di saat yang sama, Aurelia bergerak dari sisi berlawanan dengan keanggunan yang mematikan. Gaun hitam panjangnya berkelebat seperti bayangan maut di tengah aula. Ia melepaskan tembakan tiga kali tanpa ragu, meremukkan dada dua pengawal sisa dan mengenai lengan kanan Marcus hingga senapan taktisnya terlempar ke lantai marmer yang kini banjir oleh darah.

Marcus jatuh terduduk, memegangi lengannya yang hancur, menatap dengan kengerian yang mendalam saat Aurelia Vane melangkah mendekatinya dengan pistol perak yang terarah tepat ke wajahnya. Di belakang Aurelia, Kael Arden berdiri dengan jas yang koyak, bahu yang berdarah, dan tatapan mata yang siap mencabik siapa saja yang berani bergerak.

Para bos mafia yang menyaksikan eksekusi instan itu dari balik perlindungan mereka hanya bisa menelan ludah dengan keringat dingin. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana perpaduan antara sang Ratu Dunia Bawah dan sang Perdana Menteri menciptakan sebuah mesin pembunuh yang tidak terkalahkan.

"Kau tahu apa hukuman untuk seekor anjing yang mencoba menggigit tangan tuannya, Marcus?" Aurelia berdiri di atas tubuh Marcus yang gemetar, menatap pria itu dengan pandangan yang teramat dingin, seolah ia sedang melihat seonggok sampah yang menjijikkan.

"Ratu... ampun... saya hanya..."

BAAM!

Aurelia tidak membiarkan Marcus menyelesaikan kalimatnya. Peluru perak dari pistolnya menembus tepat di antara kedua mata Marcus, mengakhiri malam pengkhianatan itu dalam satu letupan maut yang bersih. Jasad Marcus ambruk di atas lantai batu kastil, menyatu dengan genangan darah para pengawal lainnya.

Aula Utama kembali sunyi, menyisakan kepulan asap mesiu yang tipis dan aroma besi darah yang menyengat. Aurelia menurunkan pistolnya, lalu perlahan berbalik menatap Kael yang masih berdiri tegap di belakangnya dengan napas yang memburu.

Namun, sebelum mereka sempat menenangkan diri, suara alarm darurat kastil tiba-tiba melengking tinggi dengan lampu merah yang berputar liar. Di layar monitor dinding yang retak akibat peluru, terlihat sebuah pesan darurat berkedip dengan kode enkripsi merah:

PEMBERITAHUAN MILITER: ARMADA ANGKATAN LAUT DUNIA ATAS SEDANG BERGERAK MENUJU ISLA DE LA ROSA. WAKTU TIBA: 15 MENIT. OPERASI PEMBENTENGAN NASIONAL ATAS PERINTAH WAKIL PERDANA MENTERI.

Kael Arden menatap layar tersebut dengan rahang yang mengencang. Musuh-musuh politiknya di parlemen ternyata tidak benar-benar menyerah setelah insiden di Bab 14. Mereka telah menggunakan ketidakhadirannya malam ini untuk mengambil alih kekuasaan sementara, menyatakan bahwa Kael Arden telah diculik atau berkhianat, dan kini mereka mengirimkan armada militer penuh untuk meratakan pulau ini beserta seluruh isi Mafia Summit di dalamnya.

Waktu telah habis. Kael kini dihadapkan pada satu titik balik paling ekstrem dalam hidupnya. Pilihan yang akan menentukan takdirnya selamanya: kembali ke negaranya untuk menyelamatkan posisi politiknya, atau menghancurkan seluruh kariernya demi melindungi wanita yang telah menjadi obsesi gila di dalam jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!