[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: 3 Milyar
Keringat bercucuran dari dahi Luis, menetes ke lantai kamar yang kini beralaskan matras tipis.
Ia baru saja menyelesaikan set terakhir push-up dan pull-up yang ia lakukan pada tiang kayu di pintu kamarnya.
Dalam beberapa pekan ini, tubuh remaja yang dulunya kurus dan lemah itu telah bertransformasi.
Bahunya lebih lebar, dadanya lebih bidang, dan otot-otot di lengannya mulai mengeras seperti lilitan kabel baja.
Ia tahu, untuk menghadapi penjahat yang lebih besar, ia tidak bisa hanya mengandalkan sistem, fisiknya harus siap untuk kemungkinan terburuk.
DING!
Layar biru yang familiar muncul, berpendar terang di tengah kamarnya yang remang-remang.
[Selamat! Anda mendapatkan Rp 2.000.000.000(2M) atas pembersihan total kelompok pembully tanpa menimbulkan kecurigaan otoritas.]
[Sisa saldo akan digabung dan dibulatkan menjadi Rp 3.000.000.000.]
Melihat deretan angka nol yang berjejer panjang di depan matanya, Luis menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu terkekeh puas. Tawa itu terdengar sedikit serak namun penuh kemenangan.
"Haha, sistem ini benar-benar mengerti aku. Untuk menghukum penjahat kelas berat, modalnya memang harus besar," gumam Luis sambil menyeka keringat dengan handuk kecil.
Ia kemudian memeriksa menu statusnya yang telah diperbarui.
[Status Inang]
Nama: Luis
Usia: 18 Tahun (Status: Pelajar SMA)
Saldo Saat Ini: Rp 3.000.000.000
Poin Eksekusi: 100
"Poin eksekusi? Baru sadar ada ini. Apa gunanya?" tanya Luis pada udara kosong.
DING!
[Gunakan poin eksekusi untuk meningkatkan level sistem agar dapat menyediakan lebih banyak fitur canggih dalam membantu misi Anda.]
Luis mengangguk paham. Tanpa ragu, ia menekan opsi untuk menggunakan 100 poin tersebut guna meningkatkan sistem.
Cahaya biru di layar itu bergetar hebat sesaat sebelum berubah warna menjadi sedikit lebih gelap dan tajam.
Menu-menu baru mulai terbuka, namun Luis fokus pada tujuan utamanya malam ini: menghancurkan fondasi keluarga Kenzo.
Ayah Kenzo, Pak Wijaya, adalah seorang pebisnis properti dan logistik yang licik.
Ia bisa menjadi donatur sekolah dan memiliki kekuasaan karena uangnya yang mengalir deras dari proyek-proyek kotor dan penggelapan pajak.
Selama ini, Pak Wijaya merasa bisa membeli nyawa dan masa depan orang lain dengan uangnya.
"Mari kita lihat seberapa kuat kau saat uangmu menghilang, Wijaya," desis Luis.
Luis mulai mengoperasikan fitur Penyadap Jaringan Global. Ia harus membayar Rp 500.000.000 untuk sesi ini.
Seketika, di hadapannya muncul ribuan aliran data, panggilan telepon, dan pesan pribadi yang keluar masuk dari perangkat milik keluarga Wijaya.
Sistem bekerja dengan sangat cepat. Luis mendengarkan rekaman percakapan Pak Wijaya dengan salah satu kaki tangannya mengenai suap proyek pelabuhan.
Ia juga menemukan dokumen tersembunyi mengenai laporan keuangan ganda perusahaan logistik miliknya.
"Dapat kau," Luis tersenyum dingin.
Ia beralih ke fitur Pembelian Informasi Rahasia (Black Market Data) senilai Rp 1.500.000.000. Sistem langsung memberikan akses ke akun bank rahasia Wijaya di luar negeri dan daftar aset ilegal yang tidak terdaftar di laporan pajak negara.
Saldo Luis menyusut drastis, namun ia tidak peduli. Investasi ini akan membuahkan hasil yang memuaskan.
Langkah terakhir, Luis menggunakan sisa saldonya untuk mengaktifkan fitur Manipulasi Bukti Digital dan Sabotase Peralatan Otomatis.
Malam itu juga, Luis bekerja di balik layar.
Dengan bantuan sistem, ia mengirimkan seluruh bukti suap, laporan pajak palsu, dan daftar aset ilegal Pak Wijaya ke email Divisi Pemberantasan Korupsi dan kantor pajak secara anonim.
Tidak hanya itu, ia meretas sistem keuangan perusahaan Wijaya, mengalihkan dana operasional ke akun-akun yang sudah dibekukan oleh sistem, sehingga perusahaan itu mendadak lumpuh total.
Keesokan paginya, badai besar menghantam keluarga Wijaya.
Luis berangkat ke sekolah dengan tenang. Di sana, ia melihat berita di ponsel teman-temannya. Kantor pusat perusahaan Ayah Kenzo digeledah polisi.
Aset-aset mewahnya mulai dipasangi garis polisi. Berita tentang donatur besar sekolah yang terlibat korupsi miliaran rupiah menjadi topik utama di setiap saluran televisi.
Zora, pacar Kenzo yang sedang hamil, terlihat duduk lemas di bangku taman sekolah sambil menangis.
Ia baru saja tahu bahwa seluruh fasilitas rumah sakit mewah Kenzo akan ditarik karena semua rekening ayahnya dibekukan. Kenzo harus dipindahkan ke bangsal kelas rendah dengan perawatan seadanya.
Sore harinya, Luis melewati rumah mewah milik keluarga Wijaya.
Ia melihat Pak Wijaya sedang mengamuk di depan gerbangnya sementara petugas pengadilan memasang stiker penyitaan di dinding rumahnya yang berlapis marmer itu.
Mobil-mobil mewah mereka diangkut oleh truk derek satu per satu.
Wijaya tampak frustasi, rambutnya acak-acakan, sangat jauh dari citra pria berkuasa yang dulu Luis ingat.
Luis berdiri di seberang jalan, mengenakan jaket hoodie dan kacamata hitam. Ia menatap kejatuhan itu dengan rasa puas yang tak terlukiskan.
Keluarga itu sekarang jatuh miskin, tidak punya apa-apa lagi, dan yang paling penting, mereka tidak lagi memiliki perlindungan hukum yang bisa mereka beli.
"Sekarang kalian hanya orang biasa yang tidak berdaya," bisik Luis.
Luis memutar sebuah batang besi kecil yang tersembunyi di balik jaketnya. Kini setelah mereka miskin dan tak punya pelindung, Luis bisa mengeksekusi Pak Wijaya secara fisik tanpa perlu takut ada pengacara mahal yang membela atau polisi yang disuap untuk menutup kasus.
"Waktunya mengembalikan uangku penjahat."