"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Puluh Detik di Kamar Singa
Langkah kakiku terasa begitu ringan namun pasti di atas karpet tebal yang menuju ke koridor barat. Aula pesta yang bising perlahan menjauh, digantikan oleh kesunyian koridor yang hanya dijaga oleh beberapa kamera CCTV. Aku tahu, Zaidan telah memanipulasi putaran visual kamera-kamera itu agar posisiku tidak memicu alarm kecurigaan.
Aku berhenti di depan sebuah pintu kayu ek besar dengan papan nama emas: Ruang Kerja Utama - J.A. Mahendra.
Sesuai instruksi Zaidan, Adrian baru saja keluar dari ruangan ini untuk menyapa tamu VIP lainnya di sisi lain gedung, memberikan jeda waktu tepat lima menit sebelum dia kembali ke sini. Aku merogoh kartu identitas baruku, menempelkan chip mikro di bagian belakangnya ke panel pemindai pintu.
Klik. Pintu terbuka tanpa suara.
Aku menyelinap masuk ke dalam ruangan yang luas dan mewah itu. Aroma cerutu mahal dan minyak wangi maskulin yang tajam langsung menusuk hidungku. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja dari kayu solid berdiri megah, lengkap dengan sebuah komputer layar ganda yang menyala dalam mode siaga.
Aku tidak membuang waktu. Aku berlari kecil menuju meja tersebut. Tanganku bergerak cepat mengambil alat modifikasi siber dari dalam tas jinjingku, lalu mencolokkan chip replika enkripsi Ayah ke port USB komputer milik Adrian.
Layar komputer seketika berkedip. Sebuah bar loading berwarna merah muncul di sudut bawah.
10%... 20%...
Jantungku berdentang seirama dengan angka yang bergerak di layar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku.
30%... 40%...
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dan obrolan beberapa pria dari arah koridor luar. Suara itu semakin mendekat ke arah pintu ruangan ini.
"Tuan Besar, dokumen dari kejaksaan mengenai Ardiantoro sudah kami amankan, tidak ada jejak yang mengarah ke Konsorsium," suara seorang pria terdengar tepat di balik pintu.
"Bagus. Pastikan Ardi tetap bungkam di selnya," jawab suara berat yang sangat kukenali. Adrian Mahendra.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Mereka kembali lebih cepat dari perkiraan!
Aku menatap layar komputer dengan panik. 65%... 70%...
"Zai! Mereka di depan pintu! Bagaimana ini?!" bisikku panik pada mikrofon tersembunyi di balik hijabku.
"Tetap di sana, Laras! Jangan cabut chip-nya! Aku sedang mengalihkan sistem kelistrikan gedung!" suara Zaidan terdengar tegang di pelantang telingaku.
Handle pintu bergerak ke bawah. Pintu mulai terbuka.
85%... 90%...
JEP!
Tepat saat daun pintu terbuka beberapa sentimeter, seluruh lampu di dalam ruangan, koridor, bahkan aula besar di luar mendadak padam total. Kegelapan pekat seketika melanda seluruh gedung pencakar langit itu. Suara dengungan sistem pendingin ruangan mati, digantikan oleh kepanikan instan dari orang-orang di luar.
"Sialan! Kenapa listriknya mati?! Mana genset darurat?!" bentak Adrian dari ambang pintu dalam kegelapan.
Di dalam kegelapan itu, layarku berkedip hijau. 100%. Unduhan Selesai.
Dengan gerakan secepat kilat, aku mencabut chip itu, memasukkannya ke dalam sarung tanganku, lalu merosot ke bawah meja kerja, menyembunyikan tubuhku di celah sempit di bawah laci kayu yang besar. Aku menahan napas, menutup mulutku rapat-rapat dengan kedua tangan.
Langkah sepatu Adrian masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh dua pengawalnya yang menyalakan senter dari ponsel mereka. Cahaya senter itu menyapu ruangan, beberapa kali melewati permukaan meja tempat aku bersembunyi di bawahnya.
"Periksa komputernya! Apakah ada tanda-tangan serangan siber?!" perintah Adrian, suaranya terdengar sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti dari kepalaku.
Salah seorang pengawal memeriksa komputer yang kini mati karena kehilangan daya. "Tidak ada tanda-tanda fisik, Tuan. Sepertinya ini murni gangguan dari gardu utama gedung."
"Kurang ajar. Pesta ini harus tetap berjalan. Ayo keluar, urus orang-orang jurnalis itu agar tidak membuat berita aneh-aneh," gerutu Adrian, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan diikuti pengawalnya.
Begitu pintu tertutup rapat kembali, aku merangkak keluar dari bawah meja dengan tubuh yang lemas karena adrenalin yang meluap. Aku berhasil.
Aku menyelinap keluar memanfaatkan kepanikan di aula pesta yang masih gelap gulita. Lima menit kemudian, aku sudah berada di dalam mobil Zaidan yang melaju kencang meninggalkan area gedung Mahendra.
Zaidan menatapku dari balik kemudi, lalu beralih ke chip yang kini berada di tanganku. "Kau berhasil, Kirana. Kita punya semua data mereka sekarang."
Aku menatap ke luar jendela, melihat gedung Mahendra yang menjulang tinggi di kejauhan. "Ini baru permulaan, Zai. Besok, seluruh dunia akan melihat bagaimana sebuah kekaisaran yang dibangun di atas darah orang tuaku hancur berantakan."
Aku membuka draf novelku di ponsel, mengetik satu baris kalimat penutup untuk bab malam ini: “Ketika sang pemburu mengira dia sedang mengawasi mangsanya, dia tidak sadar... bahwa dia sendiri yang telah berjalan masuk ke dalam jebakan maut.”