"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Kesibukan di lantai ICU Rumah Sakit Valerio mencapai puncaknya saat fajar baru saja pecah di ufuk timur.
Tim dokter spesialis toksikologi, hematologi, dan kardiologi berkumpul di balik pintu kaca buram, bertarung melawan waktu yang terus menipis.
Di dalam sana, tubuh Veronica yang rapuh menjadi medan tempur antara zat-zat korosif yang merusak dan cairan penawar yang disuntikkan secara presisi.
Azeant berdiri di balik kaca, matanya tidak berkedip. Ia masih mengenakan kemeja yang sama—kemeja yang kini memiliki bercak darah kering yang mulai menggelap. Ia menolak untuk mengganti pakaiannya, seolah darah itu adalah satu-satunya koneksi fisik yang ia miliki dengan istrinya saat ini.
"Prosedur hemodialisis dimulai sekarang! Pantau tekanan darahnya, jangan biarkan turun di bawah 80!" suara dokter kepala terdengar melalui interkom yang tak sengaja terbuka.
Azeant memejamkan mata, tangannya mengepal di atas kaca dingin. Dalam hatinya, ia terus merapal permohonan yang paling tulus, sebuah permohonan kepada Tuhan yang selama ini jarang ia sebut namanya. Ambil apa pun dariku, Tuhan. Ambil hartaku, ambil kekuasaanku, tapi jangan ambil dia. Dia baru saja mulai merasakan hangatnya sebuah rumah.
Jam demi jam berlalu dengan sangat lambat. Setiap menit terasa seperti satu tahun penyiksaan bagi Azeant. Hingga akhirnya, pintu ruangan itu terbuka perlahan. Dokter kepala keluar dengan napas yang tampak lega, meskipun gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Masa kritisnya sudah terlewati, Tuan Valerio," ucap sang dokter dengan suara rendah. "Penawar racun bereaksi lebih cepat dari yang kami duga. Tubuhnya menunjukkan keinginan kuat untuk bertahan hidup. Pendarahan internal sudah terkendali, dan organ-organnya mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi."
Azeant tersandar di dinding, kakinya terasa lemas. Ia hampir terjatuh jika tidak segera ditahan oleh Alvaro yang berdiri di sampingnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah tanpa bisa dibendung.
"Terima kasih... Terima kasih, Tuhan," bisik Azeant dengan suara bergetar. Ia merasa seolah sebuah tangan raksasa baru saja mengangkat beban gunung dari dadanya. Tuhan masih menyayangi istrinya. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahan masa lalu.
Satu jam kemudian, Veronica dipindahkan ke ruang perawatan intensif yang lebih tenang. Meskipun masih dikelilingi oleh kabel-kabel monitor, wajahnya tidak lagi sepucat tadi malam. Ada sedikit semu merah jambu yang mulai kembali di ujung telinganya, meski bibirnya masih terkatup rapat dalam tidur yang dalam.
Pintu kamar terbuka pelan. Florence masuk sambil menuntun Matthew. Balita itu tampak sangat kecil di ruangan yang penuh dengan peralatan medis canggih tersebut. Azeant segera menghampiri mereka, ia berlutut dan merentangkan tangannya.
Azeant merasa dunianya seolah berhenti berputar. Kata-kata Matthew yang polos namun jujur itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada belati mana pun. Ia menunduk, menatap wajah kecil putranya yang masih kesulitan melafalkan kata dengan sempurna, namun mampu menyampaikan penderitaan yang selama ini disembunyikan Veronica.
Azeant membawa Matthew lebih dekat, membiarkan bocah itu berbisik di depan wajah ibunya yang masih terlelap.
"Apa Mommy nyenyak tidul?" tanya Matthew, suaranya kecil dan polos, memecah kesunyian ruangan.
Tenggorokan Azeant terasa tercekat. Ia mengusap pipi putranya dengan lembut. "Ya, Sayang. Mommy sedang tidur sangat nyenyak. Dia sangat lelah, jadi dia butuh istirahat yang lama."
Matthew mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu yang sangat mendalam bagi anak seusianya. Ia mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh ujung jari Veronica yang tidak tertutup selimut.
"Daddi..." Matthew memulai celotehnya, suaranya kecil dan agak cadel, khas anak berusia dua tahun yang sedang berusaha keras menyusun kalimat panjang.
"Dulu... di lumah lama, Mommy ndak pelnah bobo nyenyak, Dad. Mommy selalu bangun malam-malam... teyus Mommy nangis plan-plan," bisik Matthew sambil menunjuk matanya sendiri yang bulat.
Azeant memejamkan mata, membayangkan Veronica menangis di tengah malam dalam kesunyian mansion Garfield yang dingin, tanpa ada bahu tempatnya bersandar.
"Mommy pegang pelutnya gini, Dad..." lanjut Matthew, tangan mungilnya meremas perutnya sendiri, memperagakan rasa sakit yang sering ia lihat. "Teyus Mommy minum air banyaaaak sekali. Mattew tanya, Mommy sakit? Mommy bilang ndak apa-apa, Mattew... tapi wajah Mommy sedih, ndak ada senyumnya."
Bocah itu kemudian mengelus lembut punggung tangan Veronica yang terpasang jarum infus.
"Sekalang biyakin Mommy bobo lama ya, Dad? Jangan diganggu. Bial Mommy ndak cape lagi. Nanti kalau Mommy bangun, Mattew mau kasih peluk yang kuaaat sekali bial Mommy ndak nangis lagi."
Azeant tidak sanggup lagi menahan bendungan di matanya. Ia memeluk Matthew sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher anaknya.
Suara cadel Matthew adalah tamparan paling keras bagi Azeant—sebuah pengingat bahwa saat ia sibuk dengan dunianya, wanita yang ia cintai sedang berjuang sendirian melawan maut yang merayap di dalam nadinya, hanya ditemani oleh seorang balita yang belum mengerti apa-apa.
"Iya, Sayang," bisik Azeant dengan suara yang pecah. "Mommy boleh bobo lama sekarang. Daddy akan jaga Mommy. Ndak akan ada yang bikin Mommy sedih lagi. Daddy janji."
Azeant menghabiskan sisa hari itu dengan duduk di samping tempat tidur Veronica, memegang tangannya tanpa henti. Setiap detak jantung yang terdengar dari monitor bagaikan simfoni terindah baginya. Ia menatap wajah istrinya, merenungkan kata-kata Matthew.
Mommy tidak pernah tidur nyenyak.
Kalimat itu menjadi cambuk bagi Azeant.
"Kau aman sekarang, Vea," bisik Azeant di dekat telinga Veronica. "Tidurlah selama yang kau mau. Aku akan menjaga Matthew. Aku akan menjaga rumah kita. Dan ketika kau membuka mata nanti, dunia yang kau lihat hanya akan berisi kebahagiaan. Aku bersumpah."
Di luar, pengawal keluarga Valerio sudah mengepung kediaman Garfield dan kantor hukum mereka. Alvaro Valerio sudah memberikan instruksi tegas: tidak ada yang boleh keluar, dan tidak ada yang boleh selamat secara finansial maupun hukum.
Namun bagi Azeant, balas dendam adalah nomor dua. Prioritasnya saat ini adalah hembusan napas teratur istrinya. Ia baru menyadari bahwa kemenangan yang paling besar bukanlah saat ia menghancurkan musuhnya, melainkan saat ia bisa melihat dada istrinya naik-turun dengan stabil, menandakan bahwa tidur panjang yang menyakitkan itu telah berakhir, digantikan oleh istirahat yang membawa kesembuhan.
Malam kembali turun di New York, namun kali ini, Azeant tidak takut pada kegelapan. Karena di tengah kesunyian rumah sakit, ia tahu bahwa fajar yang sebenarnya sedang menunggu untuk menyambut Veronica kembali ke pelukannya.
jd teh celup ka dia disana.... 😂