Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Manjanya Rion.
Sore itu matahari mulai terbenam, langit berwarna jingga keemasan saat Zinnia dan Layla baru saja keluar dari mall. Mereka baru saja melangkah menuju area parkiran, siap untuk pulang, tuba-tiba mata Zinnia langsung tertuju pada sebuah mobil mewah yang terparkir rapi dengan berdirinya sosok tinggi tegap dengan setelan jas rapi, tangan di saku celana, menunggu dengan sabar kedatangan mereka. Itu Rion.
"Ya ampun... Sejak kapan dia sudah berada disini.." gumam Zinnia pelan, jantungnya langsung berdegup kencang campur senang.
Rion langsung berjalan mendekat, senyum tipis terukir di bibirnya. Dia tidak langsung bicara, tapi tangannya sigap mengambil semua kantong belanjaan dari tangan mereka dan menyerahkannya pada supir untuk dimasukkan ke bagasi.
"Sudah selesai belanjanya?" tanyanya lembut, matanya menatap Zinnia penuh arti. Jari jemarinya mulai membelai wajah kekasihnya itu.
"Iya sudah. Tapi kenapa kamu ada disini?" tanya Zinnia penasaran.
"Mama telepon tadi. Jadi aku izin pulang lebih awal. Apalagi dia bilang kamu ada sama dia, makin cepet aku pulang. " Jawab Rion membuat Zinnia kaget.
" Kalau mamah gak bilang ada Zinnia, nanti kamu malah males-malesan dan bilang masih sibuk kerja seperti biasa. " Sahut Layla bersamaan dengan langkahnya menuju kedalam mobil.
Rion hanya tersenyum canggung mendengarnya.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil yang sangat luas dan nyaman itu. Layla duduk di kursi depan bersebelahan dengan supir, sedangkan Rion dan Zinnia duduk berdua di kursi belakang yang cukup luas.
Awalnya suasana tenang dan santai. Zinnia masih sibuk membetulkan posisi duduknya, masih merasa malu campur senang karena seharian ini dimanja oleh ibunya kekasihnya.
Tapi tidak butuh waktu lama Jari-jari tangan Rion perlahan mulai bergerak mendekat. Dengan gerakan halus, dia menarik tubuh Zinnia agar lebih dekat, lalu lengan kekarnya melingkar memeluk bahu gadis itu dengan posesif namun sangat lembut.
Belum sempat Zinnia bereaksi, Rion sudah mencondongkan tubuhnya dan mendaratkan kecupan hangat dan lembut tepat di pipi Zinnia.
Cup.
"Kenapa tak bilang kalau kamu pergi dengan ibuku?" bisik Rion tepat di telinga gadis itu, suaranya rendah dan berat, bikin bulu kuduk merinding.
"I... itu... mendadak kok..." jawab Zinnia terbata-bata, wajahnya langsung memerah padam.
"Hm..." Rion tidak menjawab panjang lebar, dia justru kembali mengecup pipi Zinnia sekali lagi, kali ini lebih lama dan lebih manis.
"Ehh Rionn... Kamu ngapain sih..." Zinnia mencoba mendorong dada bidang itu pelan, berusaha menjaga jarak karena rasa malunya memuncak.
"Ibu kamu ada di sini loh..."
"Biarkan saja..." jawab Rion santai banget, malah makin mempererat pelukannya.
"Rion... diamlah..." rengek Zinnia.
"Kenapa?" tanyanya polos tapi jahil.
"Jaga sikapmu dong... sopan dikit..."
"Tidak mau." jawabnya singkat padat jelas, malah menyandarkan dagunya di bahu Zinnia dengan manja banget.
Melihat interaksi keduanya dari kaca spion dalam mobil, Layla hanya bisa menutup mulutnya sambil tersenyum lebar, matanya berbinar-binar melihat pemandangan di belakang sana.
Hatinya berbunga-bunga dan sangat bahagia. Akhirnya... ada orang yang benar-benar bisa membuat anak laki-lakinya itu bersikap semanja ini. Padahal selama ini Rion dikenal sangat cuek, sangat jaga image, dingin, dan terlihat angkuh kalau sedang dengan lawan jenisnya. Dulu saat pacaran pun Rion sangat kaku dan jaim, tidak pernah semanja ini.
Tapi sekarang? Di depan ibunya sendiri pun dia tidak malu-malu untuk menunjukkan rasa sayangnya. Itu bukti kalau Zinnia benar-benar tempat istimewa di hati anaknya.
"Dasar anak manja... dulu sama Mama aja gak pernah semanja ini lho..." gumam Layla pelan sambil terkekeh, merasa sangat lega dan bahagia melihat mereka berdua.
Rion seolah tidak peduli dengan omongan Zinnia. Jemarinya justru bergerak turun, menyentuh bahu gadis itu lalu perlahan menyingkirkan rambut halus yang menutupi leher putih mulus itu.
Tanpa aba-aba, wajahnya mendekat dan bibirnya mendarat tepat di area leher Zinnia, mengecup dan mengisap pelan namun cukup intens.
" R.. Rion !! Kamu ngapain sih? "
Zinnia langsung kaget setengah mati, Tubuhnya menegang, bulu kuduknya merinding semua, dan rasa malu serta panik langsung menyeruak. Karena takut Rion makin berani dan takut ibunya melihat pemandangan 'panas' ini, Zinnia langsung menutup mulut Rion dengan kedua telapak tangannya sendiri!
"Kamu bisa diam gak sih!!!" bentak Zinnia, matanya melotot, napasnya memburu, wajahnya merah padam kayak kepiting rebus. Dia hampir saja berteriak keras karena kelakuan kekasihnya yang terlalu berani ini, padahal di depan sana ada ibunya.
Rion hanya menggeleng-gelengkan kepala pelan, meski mulutnya masih tertutup rapat oleh tangan Zinnia. Matanya menatap manja dan penuh godaan, seolah berkata 'gak mau'.
Dan detik berikutnya...
Dengan gerakan cepat dan kuat, Rion menarik kedua tangan Zinnia menjauh dari wajahnya. Sebelum gadis itu sempat protes atau bergerak mundur, Rion langsung mendekap pinggang Zinnia erat, menarik tubuh mereka berdua menyatu, dan langsung menyambar bibir gadis itu!
Ciumannya kali ini bukan lagi sekadar kecupan lembut, tapi dalam, hangat, dan penuh tuntutan. Zinnia sempat mencoba mendorong dada bidang itu, mencoba melawan, tapi tenaga Rion jauh lebih kuat dan ciumannya begitu memabukkan sampai akhirnya tangan Zinnia lemas jatuh ke samping tubuhnya, membiarkan dirinya dibawa arus oleh rasa sayang itu.
Layla yang melihat kejadian itu dari kursi depan hanya bisa menutup mulutnya dan terkekeh-kekeh geli sendiri.
"Hahaha... dasar anakku... sama persis kayak ayahnya dulu."
Hatinya terasa hangat dan bahagia. Dia jadi teringat masa mudanya dulu, saat dia masih berpacaran atau baru menikah dengan ayahnya Rion. Suaminya dulu juga tipe yang dingin di luar tapi kalau sudah sama dia, bisa sangat romantis, sangat posesif, dan sangat manja... persis seperti apa yang sedang dia lihat sekarang di kaca spion.
"Ternyata benar ya, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya..." gumamnya pelan sambil tersenyum lebar, merasa sangat bersyukur melihat kebahagiaan mereka berdua.
"Sebaiknya kalian cepat menikah saja. " Ucap Layla yang langsung membuat Rion menghentikan aski nakalnya itu.
"Aku dengan senang hati sudah siap melakukannya kapan saja." Balas Rion sambil melirik mengoda ke arah Zinnia.
Wajah Zinnia sudah sangat memerah, menahan malu. Siapa sangka Rion malah bersikap tak tahu malu bahkan di depan ibunya sendiri, dan juga ucapan tiba-tiba dari ibunya Rion itu membuat Zinnia makin kaget.
"Lalu apa lagi yang di tunggu.. "
"Aku menunggu Zinnia siap. " Jawab Rion penuh tanggung jawab.
"Zinnia sayang.. Jangan terlalu lama pacaran ya.. Karna tante mau kamu cepat menikah dengan Rion, biar bisa cepat nimbang cucu."
Zinnia hanya mengangguk mengiyakan dengan wajah malu-malu. Jelas pernikahan baginya bukan hal yang mudah, dan ingin cepat-cepat ia lakukan. Terlebih dia masih mencintai kebebasan.
***