NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28.Setelah pengrebekan.

Seminggu telah berlalu sejak operasi besar penggerebekan gudang tua di pinggiran kota itu berlangsung. Berita tentang keberhasilan pasukan kepolisian menggulung jaringan sindikat perdagangan manusia yang sudah lama mengganggu keamanan masyarakat itu kini menjadi pembicaraan hangat di seluruh penjuru kota.

Puluhan korban yang diselamatkan, belasan pelaku utama dan anggotanya yang berhasil ditangkap hidup-hidup, serta ditemukannya berbagai barang bukti yang sangat lengkap dan kuat, membuat kasus ini tuntas dengan sangat sempurna dan memuaskan. Berkat keberhasilan yang luar biasa ini, nama Rian kini semakin harum di kalangan kepolisian, bahkan sampai terdengar ke telinga para pejabat tinggi di ibu kota.

Pagi itu, di halaman markas besar kepolisian berlangsung upacara pemberian penghargaan yang khidmat namun penuh rasa bangga. Rian berdiri di barisan paling depan, mengenakan seragam lengkap dengan segala atributnya yang berkilau tertimpa sinar matahari pagi. Di dada kirinya kini tersemat sebuah medali emas penghargaan keberanian dan pengabdian tertinggi yang diserahkan langsung oleh Kepala Kepolisian Daerah. Di sebelahnya, Bobby dan anggota tim lainnya juga menerima penghargaan yang sama sebagai bentuk pengakuan atas kerja keras, ketangkasan, dan keberanian yang telah mereka tunjukkan.

Wajah mereka semua tampak bersinar, penuh rasa puas dan bahagia karena usaha dan pengorbanan yang mereka berikan akhirnya membuahkan hasil yang nyata bagi keadilan dan keamanan banyak orang.

Salsa hadir di sana sebagai pendamping, berdiri agak mundur di antara kerumunan keluarga anggota kepolisian lainnya. Ia mengenakan pakaian yang sopan dan rapi, senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya setiap kali matanya menatap ke arah Rian.

Hatinya dipenuhi rasa bangga yang meluap-luap, bukan hanya karena suaminya mendapatkan penghargaan bergengsi, tapi lebih karena ia tahu betapa berat dan berbahayanya tugas yang telah Rian emban hingga bisa sampai ke titik ini. Meski tidak ada seorang pun yang tahu peran sebenarnya dari Salsa di balik layar, meski keberadaannya sebagai penunjuk jalan tetap menjadi rahasia kecil di antara mereka berdua, Salsa merasa cukup dan bahagia hanya dengan melihat senyum tulus yang terukir di wajah Rian pagi ini.

Siang harinya, setelah segala urusan seremonial selesai, Rian, Bobby, dan beberapa rekan lainnya pergi menuju rumah sakit pusat kota untuk menjenguk Melati Anggraini.

Rekan mereka itu kini sudah berada di ruang perawatan khusus, kondisinya sudah jauh lebih baik meski masih harus menjalani pemulihan fisik maupun mental akibat penderitaan yang ia alami selama tertawan. Saat Rian dan rombongan masuk ke dalam ruangan, Melati yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang langsung tersenyum ramah dan menyambut mereka dengan gembira.

“Wah, tamu istimewa datang berkunjung rupanya,” ucap Melati sambil tertawa pelan, meski wajahnya masih terlihat agak pucat. “Terima kasih ya sudah menyempatkan waktu di tengah kesibukan kalian yang sekarang makin menjadi bintang karena kasus kemarin.”

Rian tersenyum lalu duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang pasien, diikuti oleh Bobby dan yang lainnya. “Kamu bicara apa sih, Mel. Bagaimanapun juga, kitalah yang berhutang budi padamu. Kamu sudah bekerja sangat hebat dan berkorban banyak demi tugas negara ini. Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah ada keluhan yang terasa lagi?”

“Aku sudah jauh lebih sehat kok, Pak. Luka-luka fisik sudah mulai kering dan sembuh. Hanya saja mungkin butuh waktu sedikit lebih lama untuk benar-benar pulih sepenuhnya dan bisa kembali bertugas seperti sedia kala,” jawab Melati tenang.

Rian mengangguk pelan, lalu raut wajahnya perlahan berubah menjadi lebih serius. Ia kemudian menanyakan hal yang sebenarnya menjadi tujuan utamanya datang ke sini hari ini, sesuatu yang berkaitan erat dengan benang merah yang menyatukan kasus sindikat perdagangan manusia dengan kasus lain yang sudah lama mereka tangani namun belum menemukan titik terangnya.

“Mel, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku tanyakan terkait tugas penyamaran yang kamu lakukan sebelum akhirnya ditangkap oleh mereka,” ucap Rian pelan namun tegas. “Kamu ditugaskan untuk menyusup dan mencari jejak pembunuh berantai yang kita beri nama kode ‘Si Sepatu Hak Merah’, kan? Pelaku yang selalu menargetkan wanita yang berpakaian seksi dan pasti memakai sepatu hak tinggi berwarna merah. Dari awal kami menduga kasus pembunuhan ini mungkin ada kaitannya dengan kelompok atau jaringan tertentu. Nah, saat kamu sedang menjalankan misi itu, apa sebenarnya yang terjadi sampai kamu bisa tertangkap dan masuk ke dalam kurungan mereka seperti itu?”

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Melati yang tadinya cerah perlahan berubah menjadi muram dan sedih. Ia menatap ke luar jendela sejenak, mengumpulkan ingatan-ingatan yang masih terasa samar namun menyakitkan, sebelum akhirnya kembali menatap Rian dan mulai menceritakan apa yang ia alami.

“Sebenarnya rencananya berjalan lancar di awal, Pak. Aku sudah berpakaian sesuai target, berjalan di kawasan yang sering dijadikan tempat operasi pelaku, dan berusaha bertindak wajar seolah aku hanyalah wanita biasa yang sedang beraktivitas. Aku memang merasa diawasi sejak dari belakang, tapi aku pikir itu hanya orang iseng atau mungkin memang pelakunya yang sedang mengamati calon korbannya. Namun tiba-tiba saja, kepalaku terasa sangat berat dan sakit sekali, lalu pandanganku menjadi kabur… sepertinya aku sudah diracun atau dipingsankan dengan zat penenang dari jarak dekat tanpa aku sadari. Saat aku tersadar, aku sudah ada di dalam tempat yang gelap, lembab, dan bau sekali, di mana aku dikurung bersama banyak wanita lain yang juga menjadi korban penculikan.”

Melati menelan ludah, lalu suaranya terdengar agak gemetar saat menyebutkan satu nama yang sudah mereka kenal. “Di sanalah aku bertemu dengan seorang gadis bernama Riza Amalia. Dia juga ditahan di sana, sama seperti kami semua. Dia orangnya sangat baik dan jujur, meski terlihat sangat ketakutan dan sedih. Dia sempat bercerita padaku kalau dia pernah mencoba untuk meloloskan diri keluar dari kurungan itu, katanya dia hampir berhasil, tapi sayangnya dia tertangkap kembali oleh penjaga mereka…”

Mendengar hal itu, Bobby yang duduk di ujung langsung menyahut dengan nada berat dan sedih. “Ya, kami sudah tahu hal itu, Mel. Jasad Riza-lah yang pertama kali kami temukan dan menjadi kunci utama kami untuk melacak keberadaan tempat persembunyian mereka. Sayang sekali… kemungkinan besar saat dia tertangkap kembali, dia mendapatkan hukuman yang sangat kejam hingga nyawanya tidak tertolong lagi. Kematiannya memang sangat menyedihkan, tapi berkat dia, kami bisa mendapatkan petunjuk berharga dan akhirnya bisa menyelamatkan kalian semua.”

Mata Melati perlahan berkaca-kaca saat mendengar konfirmasi itu. Ia menghela napas panjang, rasa kehilangan dan iba mendalam menyelimuti hatinya mengingat wajah gadis muda yang malang itu. “Kalau begitu benar… dugaan saya memang benar. Saya sudah curiga saat dia tidak ada lagi di sana beberapa hari kemudian dan tidak pernah kembali. Riza memang gadis yang pemberani dan berhati mulia, nasibnya sungguh terlalu kejam.”

Rian kembali menegaskan pertanyaannya, berusaha tetap fokus pada tujuan penyelidikan meski suasana menjadi sedih. “Lalu soal pembunuh berantainya, Mel? Apa kamu sempat melihat wajah atau mendapatkan gambaran siapa pelaku yang sebenarnya? Apakah orangnya sama dengan pemimpin sindikat perdagangan manusia itu atau ada orang lain lagi?”

Melati menggeleng lemah, wajahnya tampak kecewa. “Maafkan saya Pak… selama saya di sana, saya sama sekali tidak mendapatkan petunjuk apa pun mengenai ciri-ciri atau wajah pembunuh yang kita cari itu. Begitu masuk ke sana, saya langsung menjadi tawanan mereka dan sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengamati atau mencari tahu hal lain lagi. Justru saya malah menjadi sasaran mereka dan terpisah dari jalur misi awal saya.”

“Tidak apa-apa, Mel. Kamu sudah melakukan yang terbaik sejauh kemampuanmu. Jangan pikirkan itu dulu, yang terpenting sekarang adalah keselamatan dan kesembuhanmu,” hibur Rian dengan lembut. “Masalah pembunuh berantai itu akan kami selidiki lagi dari awal dengan data dan cara yang berbeda. Istirahatlah dengan tenang, nanti kalau kondisimu sudah pulih sepenuhnya kita bahas lagi bersama-sama.”

Setelah menenangkan hati Melati dan berbincang-bincang sejenak, Rian dan rombongan pun berpamitan untuk keluar dari ruangan rumah sakit.

Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di lingkungan sekolah menengah atas tempat Salsa menempuh pendidikannya, suasana berjalan seperti biasa namun ada perubahan besar yang dirasakan oleh gadis yang memiliki kemampuan istimewa itu. Hari-harinya kini dijalani sebagai seorang pelajar biasa, meski sebenarnya ia memiliki rahasia besar dan kemampuan yang jauh berbeda dari remaja seusianya. Dulu saat masih tinggal di desa, Salsa selalu merasa tersisihkan dan dijauhi oleh teman-teman sebayanya karena dianggap aneh, seram, dan membawa kesialan akibat kemampuannya bisa melihat dan berkomunikasi dengan arwah. Namun ternyata, keadaan di kota besar ini sungguh jauh berbeda dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Anak-anak muda di sini pikirannya jauh lebih terbuka dan tidak mudah merasa takut atau percaya begitu saja pada hal-hal yang berbau mistis, atau jika pun mereka tahu, mereka justru merasa penasaran dan tertarik, bukannya merasa jijik atau menjauh.

Hal ini terbukti jelas dari hubungan persahabatan yang kini terjalin erat antara dirinya dengan Mery, salah satu teman sekelasnya. Beberapa hari yang lalu, Salsa sempat membantu Mery menyampaikan pesan penting dari arwah nenek gadis itu.

Berkat pesan itu, Mery menjadi lebih waspada dan bisa menghindari rencana jahat yang sebenarnya sedang disusun oleh orang tuanya sendiri. Sejak saat itu, bukannya menjauh, Mery malah menjadi orang yang paling dekat dan paling percaya kepada Salsa. Ia sering sekali menyapa, mengajak bicara, dan selalu berterima kasih berkali-kali kepada Salsa atas pertolongan yang sangat berharga itu.

Selain Mery, ada juga dua orang gadis lain yang kini menjadi teman akrab sekaligus bagian dari keluarganya yang hubungannya disembunyikan dari orang luar. Mereka adalah Lusi dan Rani, walaupun hubungan istimewa Rani dengan Salsa sebagai rahasia mereka.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!