Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emang Cuma Butuh 'Sedikit' Pengorbanan Kok!
Melihat Pak Darman dan timnya bersiap membantu, Bima langsung memberi instruksi, "Pak Darman, tolong tuang semua ikan di drum itu ke dalam kolam pemancingan ya."
Dulu, Vila Dima memang punya fasilitas kolam pemancingan buat wisatawan. Skemanya, pengunjung nyewa joran, terus ikan hasil tangkapan ditimbang per kilo buat dibayar. Habis itu terserah, ikannya mau dibersihkan sendiri buat dipepes atau dibakar di saung.
Bagi pengunjung wisata alam, mancing dan masak sendiri itu ngasih vibes healing tersendiri.
Masalahnya, waktu aset vila ini jatuh ke tangannya, kolam itu udah kerontang nggak ada isinya sama sekali. Jadi, Bima wajib banget nyetok ulang populasinya. Kayaknya dia masih butuh mondar-mandir masuk dimensi game puluhan kali lagi buat menuhin kapasitas kolam raksasa itu. Lagian, label 'Ikan Liar Tangkapan Alam' ini pastinya bakal jadi nilai jual super premium!
Selain mancing sendiri, pengunjung juga dibebaskan buat milih ikan segar langsung dari akuarium lobi kalau mereka males megang joran. Terus tinggal request ke Pak Manto buat dimasak. Tentu saja, harganya bakal di-markup beda.
Tapi percayalah, se-amatir apa pun orangnya, kalau udah masuk arena lesehan pemancingan begini, pasti bawaannya gatal pengen nyewa joran buat nyoba. Walaupun ujung-ujungnya seharian cuma dapet masuk angin doang.
Tanpa banyak cincong, Pak Darman langsung naik ke atas bak motor dan memberi komando pada dua anak buahnya untuk mengangkat drum air raksasa itu.
"Wuidih, gila! Ikannya gede-gede bener, Bos!" seru salah satu satpam kaget begitu melihat isi drum.
"Buset, yang item ini pasti beratnya di atas 15 kilo! Mana ada beberapa ekor lagi yang segede ini!" sahut satpam satunya tak kalah syok.
Suara heboh mereka langsung memancing perhatian Pak Manto yang kebetulan sedang ngaso pakai celemek koki. Begitu melongok ke dalam drum, matanya melotot. "Bos, ini... ini ikan liar tangkapan alam semua?!"
"Wah, mata Sampeyan tajam juga, Pak Manto," kekeh Bima.
"Jian sakti tenan," puji Pak Manto sambil geleng-geleng kepala. "Ikan liar sebanyak ini, ukurannya pada monster semua. Apalagi yang gede-gede itu, per ekornya aja di pasar bisa ditembak seharga sejuta lebih! Itupun kalau ada barangnya, saking langkanya punya duit aja kadang nggak bisa beli. Pasti Bos keluar modal gede banget ya buat borong beginian?"
"Ah, iya. Berkorban 'sedikit' lah," sahut Bima merendah.
Ya kali! Emang beneran cuma pengorbanan sedikit kok. Sedikit buang waktu narik kail di game, sedikit capek mindahin ember dari game ke dunia nyata. Gitu doang!
"Nah kan, udah saya duga! Emang butuh perjuangan buat dapetin barang langka gini!" Pak Manto merasa analisisnya spot-on. Ia tertawa lebar lalu mengusulkan, "Bos, mending ikan monster yang gede-gede itu jangan dicemplungin ke kolam luar deh. Taruh aja di akuarium lobi. Ikan liar segede itu dipajang aja pasti udah jadi daya tarik sendiri."
"Sip, ide bagus!" Bima mengangguk setuju. Ia juga berniat mengatur flow pengeluaran ikan monsternya.
Ikan raksasa Kualitas 2 ini stoknya emang gaib di dunia nyata. Kalau dilepas terlalu banyak ke publik, selain mencurigakan, nilai eksklusivitasnya bakal turun. Dan yang pasti, harganya jelas nggak masuk di kantong pengunjung kelas menengah.
Ikan sakti ini mending disimpen buat konsumsi pribadi nutrisi keluarganya, atau dijadiin jamuan mewah buat tamu-tamu VIP kalau pas dibutuhin biar gengsinya naik.
Setelah menyerahkan urusan evakuasi ikan pada Pak Darman dan Pak Manto, Bima segera memanggil Yaya.
"Bos manggil aku?" Yaya berlari kecil dengan senyum cerianya.
"Ya, denger. Besok saya bakal panggil tim fotografer buat ambil shoot video sama foto promosi di taman bugenvil. Kamu stand by ya, dandan yang paling stunning. Nanti kamu yang jadi model talent-nya. Kalau hasil jepretannya oke, tak kasih bonus tunai dua juta!" instruksi Bima.
Sekarang taman bunganya sudah rampung, langkah krusial selanjutnya jelas: Promosi masif! Biar orang tahu ada surga tersembunyi di sini, konten visual wajib meledak di medsos. Nanti tiket masuk taman juga nggak bakal dibikin cuma kertas putih polos doang, desainnya wajib full color dicetak pakai foto taman yang aesthetic.
Buat urusan talent promosi, Yaya ini udah aset ready to use. Gadis fresh graduate yang polos dan cute-nya natural begini daya tarik visualnya lumayan tinggi. Ngapain juga buang waktu dan duit nyewa model luar?
"Beneran, Bos?! Makasih banyak, Bos!" Yaya melonjak kegirangan mendengar nominal bonus yang fantastis itu.
Bima tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju area taman bunga bugenvil.
Akses masuk menuju taman telah didesain khusus melalui jalur setapak bebatuan koral yang bermula dari samping lobi.
Di ujung jalur tersebut, berdirilah gerbang masuk sekaligus loket tiket khusus taman. Bima berencana mematok tiket entry di angka Rp 100.000 per kepala! Angka ini lumayan mahal kalau dibanding taman bunga sekelas Selecta atau Florawisata San Terra yang range tiketnya cuma Rp 30.000 - Rp 70.000.
Tapi dia sadar diri, buat mancing ombak pengunjung awal, tiket masuk emang nggak boleh dicekik kelewat mahal. Toh kalau traffic manusianya udah meledak, cuan utamanya gampang ditarik dari spending mereka di dalam—termasuk memonopoli penjualan semangka, stroberi, dan okra saktinya di minimarket organik!
Begitu melewati loket, pengunjung tidak akan bisa melipir atau menyusup masuk dari samping karena perimeter luar taman telah dibentengi dengan rapat oleh pagar hidup tanaman bugenvil biasa dari supplier.
Area seluas hampir 2 Hektar itu kini menjelma menjadi pemandangan yang mencengangkan. Barikade luar dari bugenvil biasa saja sudah cukup menyilaukan mata, namun semakin dalam pengunjung melangkah, pesonanya akan semakin menggila! Apalagi saat mereka memasuki zona tanaman gaib produksi game.
Pohon Bugenvil 7 Warna Kualitas 2 dari Lahan Tingkat 3 dibekali deretan atribut mengerikan: Visual Warna-warni +2, Nilai Estetika +2, Daya Tarik Massa +2.
Dan mahkota tertinggi dari lautan bunga ini adalah tiga Pohon Raksasa Bugenvil 7 Warna Kualitas 3 yang menjulang setinggi 4 meter di pusat taman! Dengan efek berantai Visual Warna-warni +3, Nilai Estetika +3, Daya Tarik Massa +3, Fotogenik +3, dan tambahan magis Harmoni Ekosistem +3...
Pusat taman ini ibarat black hole visual. Siapapun yang tak sengaja melirik pasti matanya bakal terkunci dan otaknya melongo nge-blank.
Bima sendiri yang sudah bolak-balik menatap taman ini setiap hari pun selalu merinding terpesona, apalagi orang luar yang baru pertama kali kemari?
Setibanya di altar pusat taman, Bima menghentikan langkahnya. Puluhan kupu-kupu bermotif cantik terlihat menari-nari memutari dahan ketiga pohon raksasa tersebut. Terdengar juga suara tupai-tupai mungil yang asyik kejar-kejaran di sela-sela ranting pohon.
Ini semua adalah anomali magic berkat atribut Harmoni Ekosistem +3. Radius di sekitar ketiga pohon ini berhasil meredam insting defensif hewan-hewan liar.
Bima mengulurkan tangannya pelan ke arah seekor tupai yang sedang hinggap di pagar pembatas. Ajaib, tupai itu sama sekali tak menghindar!
Bima mengeluarkan genggaman biji kenari dari sakunya dan menebarkannya ke tanah. Seketika, beberapa ekor tupai mungil melesat turun dari atas pohon dan sibuk mengangkut kenari tersebut dengan kedua tangan kecilnya.
Bima sengaja menyembunyikan satu biji terakhir di telapak tangannya yang terbuka. Tupai-tupai itu seolah paham, mereka tak beranjak pergi dan menatap tajam tangan Bima dengan wajah imut penuh harap.
Bima tertawa renyah. Ia meletakkan biji terakhir itu. Salah satu tupai langsung menyambarnya, lalu rombongan kecil itu berlari memanjat naik ke atas dahan untuk menyembunyikan hasil rampasannya.
Belakangan ini, Bima sengaja menugaskan Yaya untuk rutin menaruh makanan di area ini. Tupai-tupai itu sepertinya sudah mulai paham rutinitasnya. Setiap sore jelang malam, mereka akan mengangkut makanan itu dan kembali ke habitat aslinya di hutan seberang waduk, lalu keesokan paginya absen hadir lagi di pohon ini.
Kehadiran hewan-hewan eksotis ini mutlak akan melipatgandakan pesona magis taman bunganya.
Keesokan paginya.
Setelah merampungkan setoran okra ke Toserba Makmur Jaya, Bima meluncur memacu motornya menuju ke pusat Kabupaten Jatiroso. Tepatnya ke Studio Harapan Kita, rumah produksi Advertising & Fotografi milik Rendi.
Rendi adalah Co-Founder yang memegang saham studio itu sekaligus merangkap Chief Photographer. Kualitas jepretannya patut diacungi jempol.
Jelas saja Bima datang kemari untuk mem- booking tim fotografer profesional sahabatnya itu demi membuat video cinematic promosi taman bunganya. Ketimbang ngasih cuan ke EO antah-berantah, mending jatahnya dikasih ke sahabat plek sendiri.
Saat Bima melangkah masuk, selain Rendi, ada beberapa orang lain di studio itu. Ada tunangan Rendi—si perawat bernama Rina—dan sepupu matrenya, Mbak Nana, yang juga numpang nongkrong.
"Woi, Bim! Tumben kowe main ke mari?" Rendi langsung melompat dari kursi kerjanya dan menyambut Bima dengan antusias.
"Iya Ren, ada project nih," Bima membalas senyumannya. "Aku mau nyewa jasa Sampeyan buat bikin video cinematic sama foto promosi. Mending kita survey ke venue-nya sekarang yuk, habis itu kita deal-deal-an soal kontrak kerjanya."
Mendokumentasikan lautan bunga seluas 2 hektar jelas bukan kerjaan sehari kelar. Butuh tim lengkap: fotografer darat, pilot drone buat aerial shoot, sampai editor buat bumbu color grading sama visual effects (VFX).
Bima udah riset harga pasarannya. Produksi paket lengkap begini minimal tembus Rp 20 Juta!
"Kontrak dari Hongkong!" Rendi langsung menepuk kasar pundak Bima, berlagak kesal. "Cuma disuruh motret warung semangka kowe aja kok pake bayar segala? Emang kowe ngira aku ini tukang peras temen sendiri?!"
Sebelum Bima sempat protes, Rendi menoleh ke rekan kerjanya di studio, "Bro, sori ya, aku izin cabut keluar bentar nemenin si Bima."
Sebagai Co-Founder, alasan pamitnya ini sah-sah aja. Bantu urusan pribadi partner adalah hal lumrah di industri kreatif.
"Kuy cabut, Bim!" ajak Rendi semangat.
Bima tersenyum masam. Rendi jelas salah paham total. Sahabatnya ini masih mikir kalau Bima cuma mau minta difotoin warung sayur dan semangka kecilnya di pinggir jalan! Padahal skala proyek Bima ini levelnya udah beda dimensi, butuh pasukan crew yang nggak bisa di- handle Rendi sendirian.
Dari sudut ruangan, Rina dan Mbak Nana memperhatikan adegan itu. Rina sih masa bodoh, dia bangga lihat calon suaminya setia kawan.
Tapi Mbak Nana, si wanita penganut sekte materialis, matanya langsung mendelik nyinyir. "Rin, kasih tahu tu cowokmu. Temenan sih temenan, tapi ya jangan dibiasain kerja gratisan! Lama-lama nanti temennya ngelunjak. Liat tuh temennya si Bima, udah dibilang gratis eh dia mah lempeng aja nggak ada sungkan-sungkannya nolak. Orang kok nggak ngerti tata krama networking!"
"Udah ah, biarin aja mereka. Ayo kita hangout ke mall!" sahut Rina malas meladeni omelan sepupunya itu.
Di luar studio, Bima dan Rendi melompat ke atas motor listrik. Rendi langsung nangkring di jok belakang, dan Bima menarik tuas gasnya.
Namun, belum genap sepuluh menit melaju, Rendi merasa ada yang aneh. "Lho Bim, arah warung buahmu kan belok kiri ke Jalan Kali Kulon. Lha iki ngapain malah lurus terus ke jalan arah luar kota? Kowe mau bawa aku ke mana?!"
"Udah, Sampeyan anteng aja. Ntar juga tahu," senyum Bima misterius.