Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 5 -KERAGUAN (5)
Sudah berhari hari berlalu sejak Arta dan tim Elian kembali dari bangkai kapal luar angkasa Nebula yang dingin. Sejak kejadian di ruang kendali itu, Arta seolah kehilangan jiwanya. Ia lebih banyak mengurung diri di kamar tamu kediaman Solarith yang remang-remang.
Baginya, cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela terasa terlalu menyilaukan untuk seseorang yang merasa telah gagal melindungi dunia. Ia jarang bicara, bahkan kepada Elian yang berkali-kali datang membawakannya makanan.
Pagi itu, Helica, sang kepala pelayan, mengetuk pintu kamar Arta dengan sangat pelan, seolah takut suara ketukannya akan menghancurkan Arta yang rapuh. Ia membawa sebuah surat dengan segel lilin merah yang sangat Arta kenali—lambang keluarganya.
"Nona Arta, ada surat dari keluarga Anda di kota seberang. Kurirnya bilang ini sangat penting," ucap Helica dari balik pintu.
Arta yang sedang duduk di pinggir tempat tidur hanya menatap pintu itu dengan pandangan kosong.
Ia tidak perlu membukanya untuk tahu apa isinya. Pasti rentetan pertanyaan tentang keselamatannya, doa-doa tulus, atau permintaan agar ia segera pulang karena ibu kota sudah tidak lagi aman.
"Bawa pergi saja, Helica. Aku tidak ingin membacanya," jawab Arta pendek. Suaranya terdengar kering dan serak.
"Tapi Nona, orang tua Anda pasti sangat khawatir—"
"Aku bilang bawa pergi!" suara Arta sedikit meninggi, bergetar karena emosi yang tertahan. Helica terdiam di balik pintu, lalu suara langkah kakinya perlahan menjauh.
Arta menghela napas panjang, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Rasa bersalahnya masih terlalu besar. Baginya, ia tidak pantas mendapatkan kasih sayang atau kata-kata penyemangat dari keluarganya setelah ia merasa telah menghancurkan harapan kerajaan.
Ia merasa seperti seorang penipu yang memakai gelar "Penyihir Genius" namun tidak bisa melakukan apa-apa saat maut turun dari langit.
Saat ia hendak berbaring kembali untuk melupakan kenyataan, matanya tidak sengaja menatap ke sudut ruangan. Di sana, tergeletak sebuah kubus logam asing yang permukaannya dipenuhi pola rumit.
Barang itu adalah pemberian terakhir Nebula yang sempat ia tendang beberapa hari lalu dengan rasa benci. Karena rasa penasaran yang muncul di tengah keputusasaannya, Arta bangkit dan mendekati benda itu.
Ia tidak berani menyentuhnya secara langsung. Ia memperhatikan permukaan logam itu dengan saksama. Di salah satu sudutnya yang gelap, terdapat sebuah pola yang sedikit menonjol—sebuah tombol yang tersamar dengan sangat rapi.
Arta mundur dua langkah. Trauma dan kewaspadaannya terhadap teknologi Nebula masih sangat kuat. Ia mengangkat jarinya yang sedikit gemetar, merapalkan mantra dasar yang paling stabil.
"Wind Arrow," bisiknya.
Sebuah panah angin kecil melesat dari ujung jarinya, menghantam tepat pada tombol samar di kubus tersebut.
Klik.
Seketika, kubus itu mengeluarkan suara desis udara yang tajam. Bagian-bagian logamnya bergeser secara mekanis dengan presisi yang mustahil diciptakan oleh pandai besi mana pun. Kubus itu terbuka dan memancarkan cahaya biru lembut yang memenuhi ruangan.
Sebuah proyeksi cahaya muncul di atasnya, membentuk partikel-partikel kecil yang berputar cepat sebelum akhirnya stabil menjadi gelombang suara yang bergerak mengikuti irama.
"Sistem diaktifkan. Memulai inisialisasi AI Portabel unit 0-9," suara mesin yang jernih dan tenang keluar dari benda itu.
Arta tertegun. Ia tetap menjaga jarak, namun matanya yang tadinya kosong kini mulai menunjukkan sedikit kilatan rasa ingin tahu yang dulu pernah ia miliki.
"Selamat siang, Arta Valerion. Identitas terverifikasi sebagai pengguna utama," ucap AI tersebut.
"Apa... apa ini?" tanya Arta dengan suara gemetar.
"Saya adalah asisten cerdas yang dirancang oleh Nebula untuk mendampingi Anda. Saya menyimpan data cadangan dan protokol darurat yang tidak sempat ia sampaikan secara langsung akibat keterbatasan waktu dan gangguan sistem," jawab AI itu dengan datar, namun sangat jelas.
Arta merasa jantungnya berdegup kencang. Ia baru saja menghancurkan tubuh Nebula, namun sekarang, sisa-sisa pemikiran makhluk itu justru berada di depannya, siap untuk memberikan jawaban.
"Protokol pertama: Penjelasan mengenai penyerangan bulan dan keberadaan 'Mereka' yang sebenarnya, serta teknologi tempur yang siap dikembangkan dengan sihir Mana telah selesai disesuaikan dan diperbarui." lanjut AI itu.
Arta terdiam membeku. Kata "Teknologi tempur" seolah menjadi kunci baru dari peluang kemenangan yang sangat kecil.
"Baiklah, jelaskan secara rinci tentang teknologi yang di maksud. Jangan ada yang terlewat," ucap Arta dengan nada yang mulai tegas.
"Baik."
Sepanjang hari itu, ruangan Arta dipenuhi oleh teori digital yang menjelaskan tentang perkembangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Jadi selama ini, nebula tidak hanya sedang menghadapi musuh secara diam diam agar tidak menyentuh Kekaisaran tetapi juga mengembangkan magitech ini ya. Setelah itu ia menyadari betapa bodohnya tindakan yang dilakukannya kepada Nebula.
Meski hatinya masih dirundung keraguan, ada sesuatu yang mulai bangkit di dalam diri Arta. Itu bukan lagi kesombongan seperti dulu, melainkan tekad baru yang lahir dari sisa-sisa kehancurannya. Ia sadar bahwa ia tidak bisa terus mengurung diri sementara dunia di luar sana sedang menunggu ajal.
Keesokan harinya, saat fajar mulai menyingsing di ibu kota yang hancur, Arta keluar dari kamarnya dengan langkah yang berbeda. Ia menemukan Elian dan anggota tim lainnya yang sudah bersiaga di aula utama. Arta tidak memberikan senyuman, namun sorot matanya tidak lagi kosong.
"Kita akan pergi jauh," ucap Arta kepada Elian dan anggota tim pahlawan lainnya.
"Persiapkan segalanya. kita akan berlomba dengan waktu." ucap Arta lagi.
Dengan AI portabel di tangannya dan tim yang telah bersumpah untuk bertarung sampai akhir, Arta Valerion berusaha menutup lembaran kelam di masa lalunya. Perjalanan panjang untuk menciptakan senjata baru pun ia jelaskan kepada setiap tim.
Kekaisaran Aurellian mungkin sedang sekarat, tapi perlawanan mereka baru saja menemukan arah barunya.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat