Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Utusan Lama
Udara di wilayah Sekte Langit Abadi berubah sebelum siapa pun terlihat.
Qi yang biasanya mengalir pelan di sekitar aula setengah jadi mendadak terasa berat. Tidak ada hembusan angin. Debu di tanah berhenti bergerak, menempel di permukaan batu seperti ditekan dari atas.
Chen Yu sedang merapikan batu di sisi halaman. Gerakannya terhenti. Chen Yu mengangkat kepala dan menatap langit yang cerah tanpa awan, lalu menurunkan pandangan ke gerbang batu yang belum selesai dipahat.
Xu Tian berdiri di depan aula. Kedua kakinya menjejak tanah dengan jarak seimbang. Bahunya lurus. Napasnya teratur, namun aliran qi di sekitarnya menegang dan menyatu rapat ke tubuhnya.
Tiga sosok turun dari udara dan mendarat di luar batas wilayah sekte. Tidak ada suara benturan keras. Tanah hanya menekan sedikit, lalu stabil kembali.
Ketiganya berdiri sejajar. Aura mereka dilepaskan terbuka dan terukur. Tekanan menyebar merata ke seluruh wilayah tanpa lonjakan liar.
Jubah hijau kebiruan mereka bersih dan rapi. Pola awan berlapis terjahit jelas di bagian dada. Ikat pinggang perak memantulkan cahaya sore. Lambang Sekte Awan Giok terlihat tanpa tertutup apa pun.
Utusan terdepan melangkah satu langkah ke depan. Dagunya sedikit terangkat. Pandangannya menyapu aula setengah jadi, pilar kayu yang retak, dan halaman sempit dengan jumlah murid yang bisa dihitung dengan jari.
“Wilayah ini,” kata utusan pertama, “bukan wilayah sekte terdaftar.”
Suaranya datar. Tidak ada tekanan pada nada. Namun aura di sekitarnya menguat setengah tingkat.
Tanah di dekat kaki Chen Yu mengeluarkan bunyi retak halus. Chen Yu mundur setengah langkah. Telapak tangannya mengepal. Bahunya terangkat sesaat, lalu turun perlahan.
Xu Tian mengangkat satu tangan tanpa menoleh. Jari-jarinya terbuka dan berhenti di udara. Tekanan yang mengarah ke belakang melemah tipis.
Chen Yu berhenti bergerak. Kakinya kembali mantap di tanah.
Xu Tian melangkah maju hingga berdiri sejajar dengan batas wilayah. Jaraknya dengan para utusan tinggal beberapa langkah. Posisi tubuhnya lurus. Tatapannya tidak menunduk dan tidak menantang.
“Sebutkan tujuan kalian,” kata Xu Tian.
Utusan kedua tersenyum tipis. Senyum itu tidak mengubah tatapan matanya. Utusan kedua membuka gulungan giok tipis di tangan kanan dan membaca tanpa menatap Xu Tian.
“Atas nama Sekte Awan Giok,” ucap utusan kedua, “kami menyampaikan mandat resmi.”
Gulungan giok memancarkan cahaya redup. Aura di udara memadat. Dinding aula mengeluarkan bunyi kayu berderit.
Utusan pertama melanjutkan tanpa jeda. “Sekte Langit Abadi dinyatakan tidak sah.”
Kalimat itu jatuh singkat. Tidak ada penekanan tambahan. Tekanan aura meningkat satu tingkat.
Beberapa batu kecil di halaman bergeser. Chen Yu menahan napas. Lututnya hampir menyentuh tanah, lalu berhenti.
“Alasan,” lanjut utusan pertama.
Utusan pertama mengangkat satu jari. “Sekte ini berdiri tanpa izin wilayah.”
Jari kedua terangkat. “Teknik yang digunakan tidak sesuai standar dan terindikasi menyimpang.”
Jari ketiga terangkat. “Keberadaan sekte ini mengganggu keseimbangan wilayah sekitar.”
Aura menekan lebih dalam. Ubin batu yang baru dipasang di depan aula retak dan terangkat sedikit.
Chen Yu berlutut dengan satu lutut menyentuh tanah. Giginya terkatup rapat. Lehernya menegang, namun kepalanya tidak tertunduk.
Xu Tian menoleh sedikit ke belakang. “Berdiri,” kata Xu Tian singkat.
Chen Yu menarik napas pendek dan berdiri perlahan. Keringat menetes dari pelipisnya. Punggungnya tegak meski bahunya bergetar.
Utusan ketiga akhirnya berbicara. Suaranya lebih rendah, nadanya dingin dan rapi. “Mandat ini tidak bersifat negosiasi. Pembubaran harus dilakukan segera.”
Xu Tian menatap ketiganya satu per satu. Tatapannya berhenti sejenak pada lambang Sekte Awan Giok di ikat pinggang perak mereka.
Bangunan di belakang Xu Tian bergetar halus. Retakan kecil muncul di permukaan pilar kayu yang belum dihaluskan.
Xu Tian menghela napas pelan dan mengeluarkannya perlahan. Kedua tangannya terlipat di belakang punggung.
“Sekte ini berdiri di tanah kosong,” kata Xu Tian. “Tidak ada sekte lain yang mengklaim wilayah ini saat kami datang.”
Utusan pertama menyipitkan mata. “Wilayah kosong bukan berarti bebas.”
Xu Tian mengangguk sekali. “Aku tidak mengatakan bebas. Aku mengatakan tidak ada klaim.”
Utusan kedua menutup gulungan giok. Cahaya redup menghilang. “Interpretasi tidak mengubah mandat.”
Tekanan aura berdenyut sekali. Udara menekan dada. Beberapa murid lain yang berdiri lebih jauh mundur satu langkah bersamaan.
Chen Yu menggeser kakinya agar tetap seimbang. Aliran teknik sekte bergerak pelan di tubuhnya. Tidak membentuk pusaran. Tidak mendorong balik.
Utusan pertama melirik Chen Yu sekilas. Alisnya terangkat tipis. “Teknik yang tidak lazim.”
Xu Tian tidak menanggapi. Pandangannya tetap pada utusan terdepan.
“Sekte Awan Giok,” lanjut utusan pertama, “telah menjaga keseimbangan wilayah ini selama puluhan tahun.”
Utusan pertama melangkah satu langkah lagi. Batas wilayah bergetar. Garis qi yang menandai wilayah Sekte Langit Abadi menegang, lalu bertahan.
“Kami tidak akan membiarkan sesuatu yang tidak jelas tumbuh tanpa kendali,” kata utusan pertama.
Xu Tian mengingat hari ketika kata-kata serupa diarahkan kepadanya. Saat itu, Xu Tian berdiri di aula lain dengan pakaian murid rendahan. Kepalanya tertunduk. Tangannya mengepal di balik lengan baju.
Kini, bahu Xu Tian tetap tegak.
“Jika kalian datang untuk menyampaikan mandat,” kata Xu Tian, “aku sudah mendengarnya.”
Xu Tian mengangkat pandangan sedikit. “Jika kalian datang untuk menekan, aku juga sudah merasakannya.”
Utusan kedua tersenyum tipis. “Maka pahami posisimu.”
Xu Tian tidak segera menjawab. Xu Tian menoleh ke sisi aula. Tanah di sana masih belum rata. Bekas jejak latihan murid terlihat jelas. Beberapa papan kayu retak akibat pembangunan tergesa.
Xu Tian kembali menatap para utusan.
“Posisiku,” kata Xu Tian, “adalah pendiri sekte ini.”
Nada suaranya datar. Tidak ada pembelaan di dalamnya.
Utusan ketiga menghembuskan napas pendek. “Pendiri tanpa pengakuan tetap tidak sah.”
Tekanan aura meningkat lagi. Kali ini, suara retakan dari ubin batu terdengar lebih jelas.
Chen Yu melangkah ke samping dan berdiri lebih dekat ke Xu Tian. Tangannya gemetar, namun posisinya mantap. Pandangannya lurus ke depan.
Xu Tian tetap berdiri di tempatnya. Tubuh Xu Tian berada tepat di antara tekanan aura dan para murid.
“Mandat kalian menyebut pembubaran,” kata Xu Tian. “Apakah ada tenggat waktu?”
Utusan pertama menatap Xu Tian lebih lama dari sebelumnya. Pandangan itu tidak lagi hanya menilai wilayah, tetapi menakar sikap.
“Segera,” jawab utusan pertama.
Xu Tian mengangguk sekali.
Tekanan aura tidak ditarik. Udara tetap berat. Tiga utusan Sekte Awan Giok masih berdiri di depan batas wilayah, menunggu.
Keheningan menekan lebih dalam.
...
Keheningan bertahan di batas wilayah Sekte Langit Abadi.
Tekanan aura tidak bertambah. Tekanan itu juga tidak ditarik. Udara tetap berat, menekan dada setiap orang yang berdiri di halaman.
Xu Tian memandang utusan pertama. Pandangan Xu Tian tidak bergerak. Posisi kakinya tetap sejajar dengan garis wilayah.
“Segera,” ulang Xu Tian. “Makna kata itu luas.”
Utusan pertama menyipitkan mata. “Kau mencoba membeli waktu.”
Xu Tian menggeleng pelan. “Aku memastikan akibatnya.”
Utusan kedua tertawa pendek tanpa suara. Utusan kedua melangkah setengah langkah ke samping dan membuka kembali gulungan giok. Cahaya redup muncul, lalu padam.
“Akibatnya sederhana,” kata utusan kedua. “Jika sekte ini belum dibubarkan, tindakan lanjutan akan diambil.”
Chen Yu menggeser posisi berdirinya. Telapak kakinya menekan tanah lebih dalam. Retakan kecil muncul di bawah tumitnya, lalu berhenti.
Xu Tian melirik Chen Yu sekilas. Xu Tian menurunkan tangan yang terlipat dan mengangkat telapak tangan ke samping.
Chen Yu berhenti bergerak.
“Tindakan lanjutan seperti apa?” tanya Xu Tian.
Utusan ketiga menjawab lebih dulu. “Penyitaan wilayah.”
Utusan ketiga mengangkat tangan dan menunjuk aula setengah jadi. “Bangunan akan diratakan.”
Utusan ketiga menurunkan tangan dan menunjuk murid-murid di halaman. “Murid akan dipulangkan atau diusir.”
Beberapa murid di belakang Chen Yu bergeser. Langkah kaki mereka terdengar jelas di tanah yang memadat.
Xu Tian menatap aula. Pilar kayu yang retak masih berdiri. Bekas paku terlihat di permukaannya. Tanah di sekitarnya mengeras akibat tekanan aura.
“Pulangkan ke mana?” tanya Xu Tian.
Utusan pertama menjawab singkat. “Ke tempat asal masing-masing.”
Xu Tian mengangguk. “Jika mereka menolak?”
Utusan pertama tidak langsung menjawab. Utusan pertama melangkah satu langkah lagi ke depan. Tekanan aura menguat dan menekan langsung ke arah Xu Tian.
Udara bergetar. Debu di halaman terangkat setipis kabut, lalu jatuh kembali.
Chen Yu menahan napas. Lututnya kembali bergetar. Beberapa murid lain terdorong mundur satu langkah.
Xu Tian melangkah setengah langkah ke depan.
Tekanan itu berhenti tepat di depan dada Xu Tian. Tidak ada benturan. Tidak ada ledakan. Aura Xu Tian menahan tanpa mendorong balik.
Batas wilayah bergetar kuat sekali, lalu stabil.
Utusan pertama menurunkan tangan. “Penolakan akan dianggap perlawanan.”
Xu Tian mengangguk pelan. “Baik.”
Jawaban itu singkat. Tidak ada nada menantang.
Utusan kedua menatap Xu Tian lebih lama. “Kau tidak menyangkal masa lalumu.”
Xu Tian tidak menjawab.
Utusan kedua melanjutkan, “Nama Xu Tian terdaftar di Sekte Awan Giok sebagai murid rendahan.”
Beberapa murid di belakang Chen Yu menoleh tanpa sadar. Chen Yu tetap menatap ke depan.
“Kau pernah gagal ujian,” kata utusan kedua. “Pernah membersihkan aula. Pernah diusir tanpa perlawanan.”
Xu Tian mengangguk sekali. “Benar.”
Utusan pertama tersenyum tipis. “Maka kau seharusnya paham bagaimana dunia bekerja.”
Xu Tian menatap utusan pertama. “Aku paham.”
Utusan pertama menaikkan dagu. “Dan kau tetap memilih berdiri di sini.”
Xu Tian melangkah setengah langkah lagi ke depan. Kali ini, Xu Tian berdiri tepat di garis wilayah. Telapak kakinya menyentuh batas qi yang menegang.
“Aku berdiri di tempat yang berbeda,” kata Xu Tian.
Tekanan aura dari para utusan kembali meningkat. Kali ini, tekanan itu tidak menyebar. Tekanan itu terfokus langsung ke Xu Tian.
Tanah di sekitar kaki Xu Tian mengeras. Retakan berhenti melebar.
Chen Yu mengangkat kepala. Pandangannya tertuju pada punggung Xu Tian yang tetap lurus.
Utusan ketiga mengerutkan kening. “Kau menahan tekanan tanpa teknik penyerangan.”
Xu Tian tidak menjawab.
Utusan pertama melangkah ke samping dan berdiri sejajar dengan Xu Tian, terpisah oleh garis wilayah. Jarak mereka tinggal satu langkah.
“Fondasi sekte ini tidak seperti yang kami duga,” kata utusan pertama.
Xu Tian menatap lurus. “Kalian belum melihat apa pun.”
Utusan kedua menutup gulungan giok dan menyimpannya. “Kesombongan seperti ini,” kata utusan kedua, “biasanya berumur pendek.”
Xu Tian menoleh sedikit. “Aku tidak menyebut umur.”
Utusan pertama tertawa pendek. “Kau berubah.”
Xu Tian mengangguk. “Itu tujuan mendirikan sekte.”
Keheningan kembali turun. Tekanan aura tetap bertahan, namun tidak lagi bertambah.
Utusan ketiga melirik utusan pertama dan utusan kedua. Ketiganya saling bertukar pandangan singkat.
Utusan pertama menarik napas. “Ada satu hal lagi yang perlu kau dengar.”
Xu Tian menatap utusan pertama. “Katakan.”
Utusan pertama menurunkan suara. Nada bicaranya tetap resmi, namun lebih tajam. “Mandat ini dikeluarkan atas nama Zhao Heng.”
Nama itu jatuh tanpa tekanan tambahan.
Udara membeku.
Chen Yu menghirup napas tajam tanpa suara. Jarinya mencengkeram lengan bajunya. Buku-buku jarinya memutih.
Xu Tian tidak bergerak.
Batas wilayah bergetar pelan, lalu berhenti. Aura Xu Tian tetap stabil. Tidak ada lonjakan. Tidak ada reaksi terbuka.
“Zhao Heng,” ulang utusan kedua. “Tetua yang menandatangani pengusiranmu.”
Xu Tian mengangguk sekali. Gerakan itu kecil, namun jelas.
“Jika perintah ini diabaikan,” lanjut utusan pertama, “Zhao Heng akan menganggapnya sebagai penolakan langsung.”
Xu Tian menatap lurus ke depan. Tatapan Xu Tian melewati para utusan, ke arah langit yang mulai condong ke barat.
“Kalau begitu,” kata Xu Tian, “sampaikan balasanku.”
Utusan pertama mengangkat alis. “Katakan.”
Xu Tian menggeser posisi berdirinya. Tubuh Xu Tian sepenuhnya berada di garis wilayah. Tekanan aura dari luar berhenti tepat di depan batas.
“Sekte Langit Abadi tidak akan dibubarkan hari ini,” kata Xu Tian. “Dan tidak akan dibubarkan karena ancaman.”
Utusan kedua menyipitkan mata. “Kau menolak.”
Xu Tian menggeleng pelan. “Aku memilih berdiri.”
Kalimat itu jatuh tenang. Tidak ada gema. Tidak ada tekanan tambahan.
Utusan pertama menatap Xu Tian lama. Lalu utusan pertama tertawa pendek. “Baik.”
Utusan pertama melangkah mundur satu langkah. Utusan kedua dan utusan ketiga mengikuti. Aura mereka perlahan ditarik.
Tekanan di udara berkurang. Murid-murid di halaman menghembuskan napas tertahan. Beberapa lutut gemetar, lalu stabil.
Utusan pertama berhenti di luar batas wilayah. “Kami akan kembali.”
Xu Tian mengangguk. “Aku menunggu.”
Ketiga utusan berbalik dan naik ke udara. Aura mereka menghilang perlahan, meninggalkan udara yang masih berat oleh sisa tekanan.
Tanah di halaman mengeluarkan bunyi retakan kecil terakhir, lalu diam.
Xu Tian tetap berdiri di tempatnya.
Chen Yu melangkah mendekat. “Guru.”
Xu Tian menoleh. Tatapan Xu Tian tenang.
“Perintahkan murid-murid,” kata Xu Tian. “Perbaiki aula. Perkuat batas wilayah.”
Chen Yu mengangguk dan segera bergerak. Murid-murid lain mengikuti tanpa bertanya.
Xu Tian menatap ke arah utara, ke arah Sekte Awan Giok berada.
Nama Zhao Heng masih menggantung di udara yang belum sepenuhnya pulih.