NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — Hal-Hal yang Tak Lagi Sejajar

Bola memantul pelan di lantai kayu, suaranya memanjang di aula yang setengah kosong.

Rakha menangkapnya, memutar di telapak tangan sebentar sebelum mengoper ke Keenan.

"Habis ini ganti posisi," katanya datar.

Keenan mengangguk. Ia sudah bergerak bahkan sebelum kalimat itu selesai. Tidak ada senyum, tidak ada celetukan balik.

Biasanya, di sela latihan seperti ini, selalu ada sesuatu yang menyelip—komentar receh, sindiran tipis, atau sekadar suara napas yang disengaja dibikin berisik.

Sekarang, yang terdengar hanya bola, sepatu yang berdecit, dan napas mereka sendiri.

Terlalu jelas. Terlalu rapi.

Rakha mulai bermain lebih berhitung.

Langkahnya dijaga. Tembakan dipilih. Ia menahan diri pada momen-momen yang biasanya akan ia ambil tanpa pikir panjang.

Seolah setiap gerakan perlu alasan yang benar sebelum dilepaskan.

Ia menghindari kesalahan kecil.

Dan tanpa disadari, juga menghindari tatapan Keenan.

Keenan menyesuaikan ritme. Ia menurunkan tempo, menunggu operan yang biasanya datang lebih cepat. Saat bola akhirnya tiba, jedanya terasa ganjil—sepersekian detik terlalu lama.

Ia berhenti di tengah lapangan.

"Lu kenapa?" tanyanya.

Nada suaranya biasa saja. Terlalu biasa.

Rakha tidak langsung menoleh. Ia mengatur posisi kaki, lalu menggeleng singkat.

"Nggak." Jawaban itu keluar cepat, seperti refleks.

Keenan menggeser berat badannya dari satu kaki ke kaki lain. Bola dipantulkan sekali, dua kali. Ia ingin mengatakan sesuatu—apa saja—tapi tidak ada celah yang terbuka.

Rakha sudah bergerak lagi.

Latihan berlanjut, tapi ritmenya tidak kembali.

Operan mereka tetap sampai, tapi sering tanpa mata yang saling mencari. Setiap kali

Keenan maju setengah langkah, Rakha sudah lebih dulu berpindah arah. Tidak menjauh secara jelas—hanya tidak berada di tempat yang sama.

Keenan menghela napas, pendek. Tangannya mengusap tengkuk, lalu kembali ke posisi.

Ia tidak tahu harus marah ke mana.

Dan Rakha, dari sisi lapangan, terus menahan dirinya di balik gerakan yang rapi—diam yang terlalu terjaga untuk disebut tenang.

Di sela waktu istirahat, ia duduk di lantai dekat garis, punggung bersandar ke dinding.

Kepalanya menunduk. Satu tangan menekan lantai, satu lagi bertumpu di lutut, jari-jarinya terbuka lalu mengepal lagi tanpa sadar.

Keringat menetes dari pelipisnya, jatuh ke lantai. Ia membiarkannya.

Napasnya ia atur pelan, masuk—keluar. Tidak tergesa. Tapi dadanya tetap terasa sempit, seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana sejak siang tadi.

Nayla kembali muncul, datang tanpa diundang. Tenang. Tidak berlebihan. Kalimat singkat yang ia ucapkan waktu itu ikut menyelinap, muncul lagi, lalu menetap.

Rakha menggeser pandangan ke arah lapangan.

Keenan sedang berdiri tidak jauh darinya. Minum dari botol, kepalanya sedikit mendongak. Gerakannya biasa saja.

Entah kenapa, itu justru membuat Rakha menahan napas lebih lama.

"Rakha."

Suara Keenan memotong lamunan itu.

Rakha mengangkat kepala. "Apa?"

Keenan melangkah mendekat, berhenti dua langkah di depannya. Ia tidak langsung bicara. Botol diturunkan, tutupnya diputar pelan.

"Lu kenapa dari tadi…," Keenan menggantung kalimatnya sebentar, "…kayak ngejauh?"

Rakha menoleh ke arah lain, mengusap wajahnya sekali.

"Perasaan lu aja."

Keenan mendengus kecil. "Keliatan banget bohongnya"

Rakha diam.

Keenan melanjutkan, nadanya lebih rendah.

"Masih marah gara-gara gue terlalu ikut campur? terlalu protektif?"

Rakha menggeleng cepat. "Bukan."

"Terus?"

Rakha berdiri. Gerakannya tenang, terlalu tenang. Ia menepuk-nepuk celana trainingnya sebentar, seolah memastikan debu yang tidak ada.

"Ke depannya," katanya akhirnya, suaranya rata, "jangan terlalu peduli sama gue. Kita interaksi cukup di lapangan aja—kapten sama tim."

Kalimat itu jatuh tanpa tekanan.

Dan justru itu yang membuat Keenan terdiam. Ia menatap Rakha beberapa detik lebih lama dari yang perlu. Ia kenal nada itu. Rakha hanya bicara seperti itu kalau ia sedang menarik garis, bukan menjelaskan.

"Rakh—"

Peluit pelatih terdengar. Satu kali pendek.

Rakha sudah melangkah lebih dulu ke tengah lapangan.

Latihan berlanjut, tapi tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula.

Rakha menjaga jarak tanpa terlihat menghindar.

Keenan mendekat tanpa terlihat memaksa.

Gerakan mereka tetap rapi, tapi jedanya salah. Terlalu banyak langkah yang tidak diambil. Terlalu banyak hal yang ditahan.

Beberapa kali mereka berdiri berhadapan, bola di tangan, sama-sama menunggu yang lain bergerak lebih dulu.

Tidak ada yang melakukannya.

Pelatih melintas di pinggir lapangan, melirik sekilas ke arah mereka. Ia tidak berhenti. Mungkin mengira mereka hanya kelelahan.

Padahal yang menggantung di udara jauh lebih berat dari sekadar capek.

Di luar aula, senja turun perlahan.

Cahaya oranye menyusup lewat kisi-kisi jendela, memantul di lantai yang penuh jejak sepatu... menarik bayangan panjang dari dua sosok yang berdiri terlalu dekat, tapi tidak lagi sejajar.

Rakha meraih botol airnya. Keenan masih di tengah lapangan, memantulkan bola ke lantai—pelan, berulang, seperti menunda sesuatu.

"Gue pulang duluan," kata Rakha.

Keenan mengangkat kepala. "Nanti nggak makan bareng?"

Rakha menggeleng. "Nggak lapar."

Keenan menahan napas sejenak. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Rakha sudah berjalan melewatinya tanpa menoleh.

Langkahnya bergema di aula, bersisian dengan bunyi bola yang akhirnya berhenti memantul.

Keenan berdiri di tempat, menatap punggung Rakha sampai sosok itu hampir menghilang dari pandangan. Ada sesuatu yang terasa asing bukan pada jarak mereka, tapi pada cara Rakha membawa dirinya sendiri.

Seperti seseorang yang sedang menutup pintu dari dalam.

Di lorong, Rakha berhenti.

Suasana sunyi. Hanya kipas angin tua yang berderit di ujung aula. Ia menyandarkan kepala ke dinding sebentar, memejamkan mata, lalu membukanya lagi.

Pikirannya tidak ikut tenang.

Ia menghela napas panjang, lalu melangkah pergi.

Beberapa menit kemudian, Keenan keluar.

Rakha sudah di parkiran, berdiri menghadap langit yang mulai gelap. Bahunya kaku, punggungnya lurus—terlalu lurus.

Keenan hampir memanggil namanya.

Langkahnya terhenti.

Ia memilih berjalan lewat, menepuk bahu Rakha singkat. Sentuhannya ringan, nyaris ragu.

Rakha tidak menoleh.

"Besok jam enam lagi, ya?" tanya Keenan.

"Iya."

Satu kata. Tanpa tambahan.

Keenan mengangguk kecil, lalu melangkah pergi.

Rakha tetap berdiri di tempatnya. Ia baru bergerak setelah suara motor Keenan menghilang di kejauhan.

Rakha menarik napas dalam-dalam, menatap kembali ke arah aula.

Tempat yang sama. Lampu yang sama.

Tapi sesuatu di dalamnya sudah bergeser.

Duo yang dulu terasa mudah, saling tahu tanpa perlu bicara kini dipenuhi jeda yang tidak ia pahami.

Rakha menunduk, ponselnya tergenggam erat di tangan.

Ia tahu, sejak sore ini, ada jarak yang tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Dan untuk pertama kalinya, itu membuatnya ragu.

Bukan pada keadaan.

Melainkan pada orang yang selama ini ia anggap paling ia kenal.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!