NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Madame Gi

#17

5 tahun kemudian. 

Matanya tajam membidik sasaran, bahkan tak segan menelungkup di tangan demi mengeluarkan gundu milik lawan dari lingkaran. Ini penentuan, karena nilai sementara adalah seri, jika berhasil maka kali ini Biru akan mengalahkan Firza. 

Tapi ternyata—

“Biru— Firza—” 

Seruan sang mamak terdengar di telinga dua anak lelaki yang sedang sibuk main gundu, konsentrasi seketika buyar. Bagaimana tak buyar, jika tidak segera membereskan gundu mereka, maka sang mamak akan datang dengan sapu besar, siap untuk menghajar kedua putranya yang enggan pergi ke surau untuk sholat dan mengaji. 

“Iya, Mak!” teriak Firza, sementara Biru memunguti gundu lalu dimasukkan kedalam kaleng bekas biskuit. 

“Ayo, lekas-lekas! Sebentar lagi ayah kalian pulang dari pasar. Tahu, kan, apa artinya?” 

Karmila dan Ismail, benar-benar menanamkan pendidikan agama yang kokoh pada Biru dan Firza. Sementara ini baru dimulai dari sholat 5 waktu serta mengaji, menyesuaikan usia mereka saat ini. Namun, pelan tapi pasti mereka yakin akan bisa mendidik kedua putra mereka dengan benar, sesuai yang dicontohkan Rasulullah. 

“Ayo, Biru, lekaslah!” seru Firza. 

“Kalau kau tak tolong aku, macam mana boleh selesai, ini,” keluh Biru. 

Akhirnya Firza turut membantu, setelah memastikan semua gundu masuk ke dalam kaleng, mereka menyimpannya di sudut ruang tamu. 

Karmila sedang di dapur menggoreng ayam, serta memasak kuah kari sebagai pelengkap. 

Biru menghentikan langkahnya ketika melewati dapur. “Mak, sedap sangat baunya.” 

“Maka itu, lekaslah mandi, lalu makan dulu sebelum pergi ke surau.” 

“Iya, Mak,” sahut Biru, lalu ke kamar mandi. Firza dan Biru masih suka mandi bersama, Karmila membiarkannya karena mereka masih anak-anak. Tapi nanti seiring berjalannya waktu, barulah ia dan sang suami mengajarkan tata caranya. 

Beberapa menit berlalu, “Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam, Bang.” Karmila meletakkan air teh di atas meja, lalu menghampiri suaminya untuk mencium tangan pria itu. 

“Anak-anak, mana? Sepi sekali rumah ini.” 

“Sedang mandi, Bang.” 

“Sudah lama, kah?” tanya Ismail yang hafal dengan tingkah kedua anaknya yang hobi bermain sambil mandi. 

“Lumayan, coba Abang yang panggil, kalau aku yang panggil, hanya dianggap angin lalu.” 

Karmila kembali ke dapur guna mengambil piring dan gelas. Sementara Ismail menuju kamar mandi untuk mengingatkan anak-anak nya bahwa mereka sudah terlalu lama berada di kamar mandi. 

“Ayo, anak shaleh, lekas-lekas mandinya, ayah juga mau mandi!” seru Ismail. 

Mendengar suara ayah mereka Firza dan Biru pun bergegas menyelesaikan ritual mandi mereka. Hingga tak lama kemudian mereka kembali keluar dengan tubuh berbalut handuk dan wajah hampir membiru karena kedinginan. 

“Tuh, kan. Sampai hampir biru wajah kalian.” 

Namun keduanya mengabaikan hal itu, karena bermain air terlalu menyenangkan. 

Selepas semua mandi, mereka pun bersantap sambil menunggu adzan maghrib berkumandang. 

Lima tahun telah berlalu, Biru dan Firza sama-sama tumbuh besar seperti saudara kembar. Dan setiap hari pula Ismail tak henti mengucap syukur, karena kini perekonomian keluarganya sudah benar-benar mapan serta stabil. 

Toko semakin ramai dan semakin besar, selain itu Ismail kini juga menjadi tengkulak beras, karena ia memiliki banyak relasi di beberapa kota kecamatan, serta kabupaten. Banyak juga para pedagang dan pemilik warung makan yang membeli beras darinya. 

Selain karena Ismail telah dikenal sebagai pria jujur, kualitas beras yang berasal dari tangan Ismail, tak perlu diragukan lagi. Itu sudah menjadi rahasia umum. 

•••

Selepas isya, Ismail menggandeng tangan kedua putranya, mereka berjalan dibawah naungan langit malam, sesekali Ismail berkisah tentang apa saja. Asalkan bisa dipetik hikmah dan pembelajaran untuk Firza dan Biru. 

Karena rumah Bu Halimah lebih dekat dengan surau, maka mau tak mau mereka pasti melewati jalanan di depan rumah sang nenek. 

Kebetulan Bu Halimah juga baru beranjak dari tempat duduknya untuk masuk ke rumah, tapi kedua cucunya melihat, mereka pun berlari menghampiri Bu Halimah. 

“Nenek.” 

Bu Halimah menoleh, dan tersenyum melihat kedatangan Firza, senyumnya memudar ketika Biru juga ikut menghampirinya serta mencium punggung tangannya. 

Seperti apapun tabiat Bu Halimah, Ismail tak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat hal yang sama dengan wanita itu. Karena menghormati orang yang lebih tua, adalah sebuah keutamaan dan pahalanya juga besar. 

“Nenek, aku sudah hafal surat Al-ma'un,” lapor Firza. 

Wajah Bu Halimah sumringah, tak lupa memberi pujian pada Firza. “Wah, hebat kali cucu Nenek yang satu ini,” puji Bu Halimah. 

Berbanding terbalik dengan perlakuannya pada Biru. 

“Nenek, aku juga sudah hafal surat Al-kautsar.” Biru ikut melapor. 

Namun, yang biru dapat, hanya tatapan sinis. Biru menunduk diam, melihat Bu Halimah hanya mengajak Firza bicara dan bahkan menjanjikan sebuah hadiah atas prestasinya. Sementara Biru, terabaikan seperti biasa. 

Biru pun mundur teratur, wajahnya murung, dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Ia masih terlalu muda, tapi sudah menghadapi pahitnya penolakan dari neneknya sendiri. 

Ismail berlutut, tersenyum penuh pengertian pada Biru. Ia tak mengatakan untuk membenci neneknya, ia hanya bilang. “Besok Ayah yang akan beli hadiah untuk Biru. Biru mau hadiah apa?” 

Wajah Biru kembali tersenyum ceria, membayangkan benda-benda yang ingin ia miliki. “Biru mau—”

•••

Sementara itu di lapas. 

Saat ini para penghuni lapas sedang bersiap untuk kegiatan siang seperti biasa, ada yang ke kelas memasak, ada juga yang ke kelas berkebun. Tapi khusus Ayu dan beberapa orang yang baru saja mendapatkan sertifikat penjahit profesional, mereka akan masuk ke kelas baru. 

Yakni belajar mendesain pakaian, bukan hanya membuat pola kasarnya, tapi mereka akan belajar menciptakan desain pakaian jadi yang tak hanya indah di lihat, tapi juga nyaman dan bergaya jika di pakai. 

Lima tahun ini, Ayu sudah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang sesungguhnya, usianya baru pertengahan 20 an tapi prestasinya sungguh mengagumkan. Banyak hal ia pelajari dari balik jeruji, kesemuanya telah berhasil membentuk pribadi seorang Lembayung Senja, yang semakin dewasa, matang, serta berwawasan luas karena banyak buku sudah ia baca hingga tuntas. 

“Kali ini lapas akan kedatangan seorang perancang busana kenamaan dari Ibu Kota Jakarta,” kata Ibu Pembina lapas baru, tempat Ayu berada saat ini. Maklum saja, sudah dua kali Ayu pindah ke lapas baru, karena ada banyak faktor. 

“Beliau masih muda, lulusan dari sekolah mode di perancis. Dan mungkin ibu-ibu semua sering mendengar namanya disebut di acara berita nasional. Perkenalkan beliau adalah Ibu Giana Siswanto, atau yang memiliki nama beken Madame Gi.” 

Tepuk tangan para peserta menggema, dan yang disebut namanya, sedang berjalan memasuki ruangan yang akan menjadi tempatnya mengajar hingga beberapa bulan ke depan. 

Madame Gi, adalah wanita yang cantik, usianya mungkin baru lewat 30 an, setidaknya begitulah yang Ayu lihat. Tubuhnya indah semampai, dengan aura wajah yang tenang serta profesional. 

“Selamat siang, semuanya. Perkenalkan saya Giana Siswanto, pemilik brand pakaian Madame Gi.” 

Giana menundukkan tubuhnya sebagai bentuk rasa hormat, tak ada kesombongan dalam senyumnya. Yang ada adalah keanggunan berbalut kesederhanaan yang tercermin lewat pakaian yang dikenakannya. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!