NovelToon NovelToon
Don`t Sleep With Dhamphyr!

Don`t Sleep With Dhamphyr!

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Kutukan / Horor / Tumbal / Hantu / Iblis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.

Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.

Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Rowena

...୨ৎ R O W E N A જ⁀➴...

Setelah malam penguntitan itu, sesi terapiku bersama Dr. Darcel makin canggung.

Sial.

“Rowena,” suara pamanku terdengar tegas dari ruang tamu, hampir marah. Aku ragu sebentar, dahiku berkerut.

“Aku sibuuuuk,” teriakku sambil memastikan pintu kamarku terkunci.

“Ke sini sekarang!” desis Tanteku.

Amarah langsung naik waktu aku pasang bulu mata palsu yang kedua, menyempurnakan penampilanku. Aku melangkah ke ruang tamu.

Aroma linen segar dan angin laut langsung memenuhi udara. Aku benci parfum, dan apa pun yang baunya mencolok. Bau-bau seperti itu menyusup ke kepalaku dan membuatku pusing.

Tante dan pamanku duduk di sofa, paha mereka saling menempel rapat. Enggak ada satu pun dari mereka yang mengajakku ngobrol. Aku enggak pernah cocok di rumah ini, meskipun mereka yang membesarkanku sejak lahir.

Mataku melirik ke arah mereka waktu aku berdiri di situ. Ini pasti akan jadi obrolan basi soal aku harus cari tempat sendiri. Tuntutan yang sudah sering banget muncul sejak aku umur delapan belas, dua tahun lalu.

“Polisi nelepon!” kata Tanteku dingin.

Pikiranku langsung kacau.

 Polisi?

Kenapa polisi?

Darcel enggak mungkin telepon polisi.

Mustahil.

Dia itu buronan, dia itu Bloodveil Butcher.

“Gimana kamu bisa ngelakuin ini?” tanya pamanku. “Kami udah kasih segalanya untuk kamu,” desisnya, tanpa menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

“Aku punya surat keterangan medis di atas, yang jelasin gangguan kepribadianku, kalau Om butuh penjelasan,” jawabku sambil memutar mata.

Otakku bekerja keras, menyisir satu per satu kemungkinan hal kriminal yang mungkin aku lakukan belakangan ini. Sulit untuk menentukan mana yang cukup parah sampai melibatkan polisi.

Pencurian?

Kebut-kebutan?

Membobol rumah pembunuh berantai?

“Jangan pakai itu buat alasan,” katanya.

Dan sekali lagi, aku benar-benar bingung sama ketidakmampuan mereka untuk mengerti gangguan mental. Aku bahkan enggak membantah. Enggak pernah ada gunanya. Dia enggak akan mengerti kalau aku enggak bisa berhenti jadi diri aku yang kacau. Dia sama bingungnya sama kondisi mental aku seperti aku bingung sama kondisi mental dia.

“Yang ingin aku tahu cuma satu ... kenapa?” tanya pamanku.

Tanteku kelihatan enggak tertarik sama apa pun yang mau aku bahas. Dia lebih kejam dari aku. Setidaknya paman aku masih berusaha. Tante aku?

Dia cuma benci aku.

Selalu begitu.

Menurut dia, aku yang membunuh saudara perempuannya.

“Kenapa apanya?” balasku.

Tante aku melengos, mata birunya yang dingin, warnanya sama persis seperti mataku.

“Kamu membobol rumah dokter terapi kamu, Rowena. Kita udah tahu!” sambut Tante.

“Dia bilang ke polisi kalau kamu terobsesi sama dia,” kata paman aku.

Ini urusan pribadi. Dan aku benci mereka tahu hal-hal pribadi tentang aku. Rasanya salah. Seperti aku sedang ditelanjangi.

“Aku enggak terobsesi sama dia,” kataku, tanpa melihat ke arah mereka.

Tangan aku mengepal.

Tante aku tiba-tiba melempar sesuatu ke atas meja. Benda itu memantul, lalu meluncur ke arah aku. Mata aku langsung membelalak. aku menerjang ke depan dan langsung meraih buku harianku. Aku peluk ke dada, kedua tangan menyilang di atasnya.

Itu sudah kelewat batas. Itu semua pikiran aku. Dan ada banyak hal buruk di dalamnya. Aku menuangkan semua pikiran gelap aku ke kertas , karena kadang pikiran-pikiran itu muncul begitu saja dan harus dikeluarkan.

Buku ini aku sembunyikan di lemari di bagian paling bawah laci bagian dalam. Artinya, mereka sudah mengacak-acak kamarku. Mereka merusak ruang pribadiku.

Ya sudah.

Wku harap mereka baca bagian tentang betapa bencinya aku sama mereka. Mungkin aku bisa menyobek halaman itu dan menempelkannya di kulkas, biar mereka benar-benar melihatnya.

“Apa aja yang kamu tulis di sana!” kata pamanku dengan jijik, matanya menghindar karena bahkan enggak sanggup menatapku.

Tanteku cuma menatapku tanpa ekspresi.

“Iya, aku mesum. Kaget, ya?” kataku.

“Hidupnya cuma bakal berakhir kayak lintah,” balas Tante.

“Apa maksudnya ... ini?” Jari-jariku mengusap sisi buku harianku dengan gelisah.

“Polisi mau nangkep kamu, tapi Dr. Darcel ngotot, dia enggak mau ngajuin tuntutan,” kata pamanku.

“Kamu bakal dirawat di rumah sakit jiwa, Rowena,” seru Tanteku tiba-tiba, dengan nada lega.

Rahangku ternganga.

“Kalian mau masukin aku ke rumah sakit jiwa? Kalian enggak bisa ngelakuin ini tanpa persetujuan aku!”

Darcel?

Apa dia mencoba memasukkan aku ke rumah sakit jiwa?

Aku enggak mengerti. Ini enggak masuk akal.

“Oh, bisa,” kata Tante sambil menyengir puas.

“Dalam kasus ini, kamu bakal dimasukin ke rumah sakit jiwa tanpa persetujuan kamu.”

Dadaku langsung nyeri.

Darcel bilang kalau aku miliknya selamanya. Apa itu cuma bohong?

Waktu kebebasanku pelan-pelan lepas dari genggaman, akhirnya aku berhenti menahan diri. Aku putus asa. Dan kalau dia mau main, aku juga bisa main. Belahan jiwa enggak harus baik. Cinta kita enggak harus indah.

“Dia pembunuh!” teriakku tiba-tiba. “Dr. Darcel. Aku lihat sendiri. Di bawah, di ruang bawah tanahnya, dia punya mayat dan ember-ember penuh darah!”

“Berhenti. Udah, berhenti,” kata pamanku sambil menggeleng.

Aku tatap mereka berdua dengan bingung. Mereka bahkan enggak sedikit pun kepikiran kalau apa yang aku katakan itu mungkin benar.

“Aku serius!” teriakku lebih keras, sampai mata mereka melebar. Mereka memandangku seperti aku ini enggak waras. Seperti aku ini lebay.

“Aku ketemu dia, dan dia ... aku enggak tahu. Dia bilang aku akan jadi miliknya dan dia maksa aku!” Aku terdiam, keningku berkerut waktu ingat momen paling aneh malam itu. Otakku belum sanggup mencerna semuanya. Terlalu berat.

“Maksa kamu?” tanya pamanku.

“Dia maksa aku minum darahnya,” jawabku pelan.

Aku menggertakkan gigi lagi. Gusiku gatal. Mulut pamanku mengeras jadi garis tegang. Dia menggeleng, kecewa.

“Rowena,” desah Tante sambil memutar mata.

“Aku serius!” teriakku lagi. Mata biru cerah Tante melebar.

“Berhenti omong kosong di depanku,” desisnya. “Tahu enggak? Aku udah muak sama sikap kamu.”

Sebelum aku sempat buka mulut dan mengeluarkan komentar jahat, bel pintu berbunyi. Kepalaku langsung berputar. Paman menghela napas dan berdiri.

“Siapa itu?” tanyaku, menelan gugup.

“Tolong jangan bikin ini makin ribet. Kita udah cukup menderita,” gumamnya.

Rahangku ternganga.

Cukup menderita?

Oh, ini lucu banget.

“Maaf ya kalau keberadaan aku nyusahin hidup kalian,” kataku sambil menggertakkan gigi waktu dia jalan ke pintu.

Langit di luar makin gelap. Di depan pintu berdiri seorang polisi berseragam lengkap dan seorang cowok botak usia tiga puluhan pakai seragam putih. Di belakang mereka, ada van putih besar tanpa jendela parkir di depan rumah.

Ya Tuhan.

“Halo, Pak. Kami di sini untuk menjemput Rowena Scarlett?” kata polisi itu.

1
Adellia❤
ya darcel rowena... siapa lagi😂😂
Adellia❤
hah... kok Apollo enggak mati😂😂
DityaR: dia itu serigala kak,
total 3 replies
Adellia❤
hhh ya mana bisa ketawa lah km beracun yah di mana" cogann itu beracun😂😂
Adellia❤: rumus dunia lah semua cewek di dunia ini tau kalo semua cogan itu beracun 😂😂
total 2 replies
Adellia❤
yaah di hapus lagi ingatan rowena padahal itu penting buat rowena..
Adellia❤
ampuun deh darcel👻👻
Adellia❤
sikopat itu serius rupanya..
Adellia❤
hiii merinding sebadan" tuh orang bener" sikopat eh bukan orang dink👻
Adellia❤
km di cap pasien gila rowena tapi dokter terapi km dy orang gila yg sebenernya👻👻
Adellia❤
serruu karna gak cuman gairah pingin di tindih tapi juga gairah pingin minun darah👻👻👻
Adellia❤
hhhh rowenaaa🤦‍♀️🤦‍♀️
Adellia❤
hah... menguntit??? berati ilmu dr darcel buat menghapus ingatan itu enggak mempan??? 😱😱
DityaR: kan yg di hapus ingatan hari itu aja kak 🙏
total 1 replies
Adellia❤
sereem tapi seruu sekaligus menegangkan semangaatt thorr tulisanmu bagusss💪💪
Adellia❤
sama" senyum tapi beda arti.. hati" rowena dy vampir berbulu dombaa🤗🤗
Adellia❤
dr darcel bolehkah q bertemu km q ingin menghapus ingatanku sama seseorang😭😭
Adellia❤: boleh gak kasih no wa dr darcel thorr pliiisss🙏🙏
total 2 replies
Adellia❤
Torvald... heyyy emang km punya mental🤣🤣 kalo punya mah km enggak bakal tinggal di paragon ✌
Adellia❤
palingan km bakal di gigit sama darcel ..
Adellia❤: itu apa anu😱
total 4 replies
Adellia❤
astaga.. ngegantung🤔
Adellia❤: ciyuuss???
total 14 replies
Adellia❤
ya ampun pak dokter chat mulu... sugardady 😍
Rainn Dirgantara
Beuhh!
Rainn Dirgantara
Pelit kali 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!