Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah berlalu
Setelah mengawasi kepergian bocah nakal itu hingga benar-benar hilang di antara keramaian, Yanfei dan Li Xia pun berbalik arah. Keduanya melangkah perlahan meninggalkan pusat perayaan yang masih riuh dengan suara tawa, nyanyian, dan gemerlap cahaya lentera yang memenuhi sepanjang jalan. Semakin jauh mereka melangkah, suara kemeriahan itu perlahan mereda, berganti dengan suasana yang lebih tenang namun tetap terasa hangat diterangi cahaya lampu minyak yang terpasang di tiang-tiang jalan.
Di ujung jalan yang agak sepi, kereta kuda milik keluarga Duan sudah terparkir rapi dan menunggu. Pengemudi serta dua orang pengawal yang bertugas menjaga keamanan mereka sejak tadi segera membungkuk hormat begitu melihat kedatangan sang nona.
“Nona, semuanya sudah siap. Silakan naik,” ujar salah satu pengawal dengan nada sopan.
Yanfei mengangguk pelan, lalu naik ke dalam kereta diikuti oleh Li Xia yang segera mengatur posisi duduk dan melapisi tempat duduk dengan kain tebal agar lebih nyaman. Begitu keduanya duduk, pintu kereta ditutup perlahan, dan kendaraan itu pun mulai bergerak pelan meninggalkan kawasan perayaan menuju kediaman keluarga Duan yang terletak di bagian utara kota, jauh dari keramaian pusat ibu kota.
Di dalam kereta, suasana terasa hening namun tidak canggung. Yanfei duduk bersandar pada bantalan lembut, tangannya masih memegang lentera kertas berwarna merah muda yang diberikan oleh bocah nakal itu. Cahaya redup dari lentera itu menerangi wajahnya yang tampak tenang namun terlihat sedang melamun jauh. Bayangan bocah kecil yang sombong itu terus terlintas di pikirannya, membawa serta kenangan pahit yang telah lama ia kubur dalam-dalam.
“Nona, apakah Nona lelah? Perjalanan pulang ini akan memakan waktu sekitar setengah jam lagi,” tanya Li Xia dengan lembut, memecah keheningan di dalam kereta. Ia mengamati wajah majikannya yang tampak tertegun, tahu betul bahwa peristiwa malam ini pasti membangkitkan banyak kenangan yang ingin dilupakan.
Yanfei menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, “Tidak terlalu lelah, hanya sedikit terkejut dengan segala hal yang terjadi malam ini. Siapa sangka hanya sekadar pergi menikmati teh dan pemandangan, justru berakhir dengan bertemu anak kecil yang penuh kejadian itu.”
“Memang benar, Nona. Anak itu sangat berani dan sombong, namun di balik sikapnya itu terlihat jelas ia hanyalah anak yang kesepian dan tertekan dengan aturan ketat di rumahnya. Jika tidak, ia tidak akan nekat kabur dan bersembunyi seperti itu,” jawab Li Xia sambil mengatur selimut tipis untuk menutupi kaki Yanfei agar tidak kedinginan karena angin malam yang mulai bertiup lebih kencang.
Kereta terus melaju melewati jalan-jalan yang semakin sepi. Sesekali terlihat kelompok warga yang berjalan pulang dengan membawa lentera masing-masing, atau suara percakapan samar dari rumah-rumah penduduk yang masih terjaga. Di sepanjang jalan utama, cahaya lentera yang mengapung di atas sungai masih terlihat jelas dari kejauhan, membentuk garis cahaya yang indah membelah kegelapan malam.
Yanfei menatap keluar melalui celah jendela kereta, matanya menelusuri aliran cahaya itu. “Jika anakku masih hidup, mungkin ia akan memiliki sifat yang sama lincahnya, sama ingin tahu seperti dia” gumamnya perlahan, nyaris hanya terdengar oleh telinganya sendiri.
Li Xia yang duduk di sampingnya langsung menoleh, wajahnya terlihat prihatin namun tidak berani menyela. Ia tahu betul luka di hati sang nona, luka yang terbentuk sejak tujuh tahun silam dan tak pernah benar-benar sembuh meski waktu terus berlalu.
“Nona, masa lalu itu sudah berlalu. Sekarang Nona sudah kembali ke kediaman, bersama keluarga yang menyayangi. Semoga malam ini bisa menjadi awal yang baru bagi Nona,” ucap Li Xia dengan nada menenangkan, mencoba mengalihkan pikiran Yanfei dari kenangan yang menyakitkan itu.
Yanfei menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan seolah ingin melepaskan segala beban di dadanya. Ia menoleh ke arah pelayannya, lalu tersenyum lebih tulus kali ini. “Kau benar, Li Xia. Aku tidak boleh terus terjebak dalam apa yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah lagi. Malam ini memang mengajarkan aku satu hal lagi—bahwa anak kecil, seberapa pun nakalnya, tetap memiliki hati yang polos dan bisa menjadi apa saja tergantung bagaimana ia dibimbing.”
Pembicaraan mereka berlanjut dengan nada yang lebih ringan. Li Xia menceritakan berbagai hal kecil yang terjadi di kediaman selama Yanfei pergi, sementara Yanfei sesekali bertanya atau memberikan tanggapan singkat. Suasana di dalam kereta menjadi lebih hangat, mengusir rasa dingin dan sepi yang menyelimuti perjalanan pulang itu.
Tak lama kemudian, kereta mulai melambat. Jalanan di sekitar mereka sudah berubah menjadi kawasan perumahan keluarga bangsawan yang luas dan tertata rapi. Pohon-pohon besar tumbuh di sepanjang sisi jalan, memberikan keteduhan dan keamanan. Di ujung jalan itu, tampak gerbang besar kediaman keluarga Duan yang sudah tertutup rapat, namun masih diterangi oleh lampu-lampu besar yang terpasang di kedua sisi gerbang.
Begitu kereta berhenti tepat di depan pintu utama kediaman, penjaga gerbang segera membukanya lebar-lebar. Pengemudi membuka pintu kereta, dan Li Xia turun lebih dulu untuk membantu Yanfei melangkah turun.
Namun, begitu keduanya menginjakkan kaki di halaman depan, mereka terkejut melihat sosok yang berdiri di sana menunggu. Nyonya Duan, ibu kandung Yanfei, berdiri tegak meski tubuhnya terbalut jubah tebal berwarna gelap yang menutupi hampir seluruh tubuhnya untuk melindungi dari angin malam. Di sampingnya berdiri dua orang pelayan yang siap membantu jika diperlukan.
“Ibu?” Yanfei terkejut, lalu segera melangkah mendekat dengan wajah penuh rasa khawatir. “Mengapa Ibu masih berdiri di luar? Malam ini sangat dingin, Ibu bisa sakit jika begini.”
Nyonya Duan tersenyum tipis, lalu mengangkat tangan lembutnya menyentuh lengan putrinya. “Sudah begitu larut kau baru kembali. Ibu terus menunggu di ruang tengah, namun mendengar suara kereta tadi, Ibu merasa tidak sabar dan memilih untuk menyambut mu di sini. Membuat Ibu cemas saja, apakah perjalananmu lancar atau ada hal yang mengganggu?”
Suara ibunya terdengar lembut namun menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Sejak kejadian tujuh tahun silam, Nyonya Duan selalu merasa was-was setiap kali putrinya pergi keluar rumah, takut hal buruk kembali menimpa gadis yang sangat ia sayangi itu.
“Maafkan aku, Bu. Aku tidak bermaksud membuat Ibu cemas. Tadi kami sempat berhenti lebih lama karena menikmati suasana perayaan dan melihat pemandangan kota dari tempat yang tinggi,” jawab Yanfei dengan nada menyesal. Ia tahu ia seharusnya pulang lebih awal agar tidak membuat keluarga menunggu.
Untuk meredakan kekhawatiran ibunya, ia segera menoleh ke arah Li Xia dan memberi isyarat. “Li Xia, berikan bungkusan yang kita beli tadi.”
Li Xia segera mengeluarkan sebuah bungkusan yang dibungkus kain bersih dan diikat rapi, lalu menyerahkannya kepada salah satu pelayan yang berdiri di sisi Nyonya Duan. “Nyonya, ini adalah kue manisan kacang dan kue lapis kesukaan Nyonya. Nona Yanfei membelinya khusus dalam perjalanan pulang tadi, agar Nyonya bisa mencicipinya saat masih hangat.”
Mendengar itu, wajah Nyonya Duan terlihat semakin lembut dan terharu. Ia mengangguk puas, lalu menepuk lembut bahu putrinya. “Terima kasih, Nak. Ibu senang mendengarnya. Asalkan kau pulang dengan selamat dan dalam keadaan sehat, itu sudah lebih dari cukup bagi Ibu.”
Setelah itu, mereka berjalan masuk ke dalam kediaman. Begitu melangkah melewati pintu utama, suasana hangat langsung menyambut mereka. Udara di dalam ruangan terasa nyaman karena perapian yang menyala terang, menerangi seluruh ruang tengah dengan cahaya yang lembut dan menenangkan. Beberapa pelayan segera bergerak membantu melepaskan jubah luar mereka, menyediakan air hangat untuk mencuci tangan, dan menyiapkan teh hangat agar tubuh terasa lebih segar setelah berjalan di udara dingin malam.
Nyonya Duan duduk di kursi utama, sementara Yanfei dan Li Xia duduk di sampingnya. Ketenangan yang terasa di dalam kediaman ini berbeda sekali dengan suasana riuh di luar tadi. Di sini, hanya ada kedamaian dan rasa aman yang melingkupi setiap penghuninya.
“Jadi, bagaimana suasana perayaan malam ini? Apakah seperti yang kau bayangkan?” tanya Nyonya Duan sambil menuangkan teh ke dalam cangkir dan menyodorkannya kepada putrinya.
Yanfei menerima cangkir itu, lalu tersenyum lebar. “Sangat meriah, Bu. Sungai penuh dengan lentera teratai yang indah, jalanan dipenuhi orang-orang yang berjalan dengan gembira, dan banyak pedagang yang menjual berbagai makanan serta barang unik. Malam ini memang sangat istimewa.”
Ia sengaja tidak menceritakan secara rinci pertemuannya dengan A Yu atau kejadian penggeledahan yang terjadi, tidak ingin membuat ibunya cemas atau membangkitkan lagi kenangan buruk masa lalu. Cukup ia yang menyimpan cerita itu dalam hatinya, sebagai pelajaran dan pengingat bagi dirinya sendiri.
“Syukurlah jika kau menikmatinya. Ibu harap kau bisa merasa lebih tenang dan bahagia setelah kembali ke ibu kota ini,” ujar Nyonya Duan dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia menatap putrinya dengan pandangan yang dalam, seolah ingin memastikan bahwa luka di hatinya perlahan mulai membaik.
Malam itu, mereka mengobrol santai selama beberapa saat lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Li Xia membantu Yanfei menuju kamarnya, menyiapkan segala kebutuhan untuk tidur, dan memastikan tidak ada yang kurang. Sebelum pergi, ia melihat lentera merah muda yang masih tergantung di meja samping tempat tidur, menyala dengan cahaya lembut yang menerangi sudut ruangan.
“Nona, lentera ini indah sekali. Apakah Nona ingin menuliskan doa di atasnya dan melepaskannya besok pagi?” tanya Li Xia sambil menunjuk benda itu.
Yanfei menatap lentera itu dalam-dalam, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tenang. “Tidak perlu, Li Xia. Cukup biarkan ia menyala di sini sebagai pengingat. Doa dan harapanku tidak perlu dikirimkan ke mana pun, cukup aku simpan di dalam hati dan berusaha mewujudkannya dengan langkah yang benar setiap harinya.”
Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk, merasa sangat lelah namun juga lebih tenang dibandingkan saat berangkat tadi. Malam ini telah mengajarkannya banyak hal, membawanya kembali ke masa lalu sekaligus membuka jalan untuk melangkah ke masa depan yang lebih damai.
Di luar jendela, suara kemeriahan perlahan mulai mereda, dan malam semakin larut menyelimuti seluruh ibu kota. Namun di dalam kediaman keluarga Duan, kedamaian dan rasa syukur telah mengisi hati setiap penghuninya, menutup hari itu dengan cara yang sederhana namun bermakna.