Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Suara Rintihan di Hutan Dalam
Tiga hari berlalu sejak Rey menyelesaikan misi pertamanya. Selama itu, ia terus mengambil tugas-tugas tingkat pemula—mengumpulkan bahan, membersihkan makhluk lemah, hingga mengantar barang ke desa-desa sekitar. Ia selalu menyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang ditentukan, namun tetap menjaga penampilan seolah ia bekerja dengan tenaga biasa, tidak terlihat luar biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun pada hari keempat, sebuah misi yang sedikit berbeda menarik perhatiannya.
Di papan pengumuman tertulis:
MISI: PEMERIKSAAN JALUR HUTAN TENGAH
Periksa kondisi jalur perdagangan yang mulai jarang dilalui, laporkan jika ada gangguan atau makhluk yang berkeliaran.
Wilayah: Hutan Tengah, jarak ±5 km dari batas kota
Peringkat yang dibutuhkan: E ke D
Upah: 40 keping perak + bonus jika menemukan penyebab gangguan
Melihat itu, Rey merasa ini adalah kesempatan bagus untuk masuk lebih dalam ke hutan sekaligus menguji kesiapannya. Ia segera mendaftarkan diri, menerima penjelasan singkat dari petugas, lalu berangkat tepat saat matahari mulai naik tinggi.
Perjalanan menuju Hutan Tengah memakan waktu sekitar satu setengah jam. Semakin masuk ke dalam, pepohonan tumbuh semakin rapat dan tinggi, menutupi sebagian cahaya matahari sehingga suasana terasa lebih sejuk dan sedikit gelap. Angin berhembus membawa aroma tanah lembab dan daun kering, sementara suara alam terasa lebih sunyi—hanya sesekali terdengar suara serangga atau burung yang terbang menjauh.
Rey melangkah dengan waspada, indranya yang sudah terlatih sejak kecil bekerja aktif. Ia merasakan aliran energi di sekitarnya, mendeteksi keberadaan makhluk hidup yang ada di sekitar tanpa perlu melihat langsung.
Setelah berjalan sekitar tiga kilometer, ia mulai melihat tanda-tanda yang tidak wajar. Jalur yang seharusnya bersih tertutup semak belukar yang tumbuh liar, dan di tanah terlihat bekas tapak kaki yang besar dan tidak teratur, serta noda cairan lengket berwarna kehijauan yang sudah mengering.
“Bukan bekas hewan biasa… sepertinya ada makhluk yang lebih kuat berkeliaran di sini,” gumam Rey sambil memegang gagang pedangnya dengan santai, namun tetap siap untuk bertindak kapan saja.
Ia melanjutkan perjalanan lebih hati-hati, menyusuri jalan setapak yang semakin sempit. Hingga ketika ia baru saja melewati tikungan yang tertutup tanaman rambat, telinganya menangkap suara samar.
Suara itu lemah, terputus-putus, dan terdengar seperti rintihan kesakitan.
“Aduh… tolong… ada siapa saja…?”
Rey langsung berhenti melangkah, memfokuskan pendengarannya. Suara itu berasal dari arah kanan, agak menjauh dari jalur utama, tersembunyi di balik lebatnya semak berduri.
Tanpa ragu, ia membelokkan arah. Dengan sedikit mengerahkan energi angin untuk mendorong ranting dan duri menjauh tanpa menyentuhnya, Rey membuka jalan masuk. Semakin dekat, suara rintihan itu semakin jelas, bercampur dengan suara napas yang terengah-engah.
Begitu ia berhasil menembus semak-semak itu, pemandangan di hadapannya membuat matanya terbelalak.
Di dasar sebuah jurang dangkal yang tertutup akar pohon besar, terbaring sesosok gadis muda dengan penampilan yang sangat berbeda dari manusia biasa. Ia memiliki telinga runcing yang panjang, rambut perak panjang yang terurai hingga ke pinggang, dan kulit sehalus pualam. Namun kondisinya sangat mengenaskan: luka sayatan panjang terlihat di bahu dan punggungnya, pakaiannya robek dan kotor oleh tanah serta darah kering, dan sebatang panah yang ujungnya beracun masih tertancap di pahanya.
Gadis itu tergolek lemah, matanya setengah terpejam, namun saat mendengar langkah kaki Rey, ia berusaha mengangkat kepalanya dengan susah payah, menatap ke arahnya dengan pandangan yang bercampur takut dan waspada.
“Siapa… kau manusia?” tanyanya dengan suara parau yang hampir tidak terdengar.
Rey segera mengangkat kedua tangannya setinggi bahu sebagai tanda tidak berniat jahat, lalu mendekat perlahan dengan langkah pelan.
“Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya petualang yang sedang memeriksa jalur hutan ini. Aku mendengar suaramu dan datang membantu,” jawab Rey dengan nada lembut namun tegas.
Melihat sikap Rey yang tidak mengancam, ketegangan di tubuh gadis itu sedikit berkurang, namun ia masih memandang dengan curiga. “Mengapa… mau menolong ras elf? Banyak manusia yang hanya ingin menangkap atau menjual kami…”
Rey tersenyum tipis, lalu berjongkok di tempat yang cukup aman, tidak terlalu dekat sehingga tidak membuatnya tertekan. “Setiap orang punya sifat masing-masing. Aku tidak peduli ras apa kau—manusia, elf, kurcaci, atau apa pun. Yang aku lihat sekarang adalah seseorang yang terluka parah dan butuh bantuan. Itu saja.”
Jawaban itu membuat pandangan gadis itu melunak perlahan. Rasa sakit yang menyengat membuat tubuhnya gemetar hebat, dan ia tidak lagi punya tenaga untuk melawan atau lari.
Rey segera menilai kondisinya. “Lukamu cukup parah, terutama panah yang tertancap itu. Ujungnya terlihat mengandung racun yang perlahan menyebar ke tubuhmu. Jika tidak ditangani segera, bahayanya akan bertambah parah.”
Ia membuka tas punggungnya, mengeluarkan kain bersih, air minum, serta ramuan dasar dan bubuk penyembuh yang biasa ia bawa. Namun ia tahu untuk menetralkan racun, bantuan energi juga akan sangat membantu.
Tanpa membuka rahasianya secara terang-terangan, Rey memutuskan menggunakan energi elemen air yang memiliki sifat menenangkan dan membersihkan, serta sedikit energi tanah untuk mempercepat pemulihan jaringan tubuh. Ia akan mengarahkan alirannya secara halus, seolah hanya menggunakan khasiat ramuan biasa.
“Percayalah padaku sebentar. Aku akan mencabut panah itu, membersihkan lukamu, dan mengoleskan obatnya. Akan terasa sakit sebentar, tapi aku akan usahakan sesedikit mungkin rasa sakitnya,” ujar Rey meyakinkan.
Gadis itu mengangguk perlahan, menahan rintihan saat gerakan kecil saja sudah membuat lukanya terasa menyengat. “Baik… aku percaya…”
Rey bekerja dengan cermat dan cepat. Ia memotong bagian batang panah yang panjang terlebih dahulu, lalu dengan satu gerakan tegas namun terukur, ia mencabut sisa ujung panah yang tertancap. Begitu keluar, darah segar langsung mengalir, namun Rey segera menekannya dengan kain yang sudah dibasahi air dan dialiri energi penyembuh.
Sambil membersihkan luka, ia mengarahkan aliran energi air untuk menetralkan sisa racun, dan energi tanah untuk membantu pembekuan darah serta mempercepat perbaikan jaringan yang rusak. Bagi gadis itu, ia hanya merasakan rasa dingin yang menenangkan menjalar dari luka, rasa sakit yang tadinya menyengat perlahan mereda secara ajaib.
“Rasanya aneh… obat apa yang ia gunakan? Rasa sakitnya berkurang sangat cepat, lebih baik dari ramuan terbaik yang aku punya,” batinnya dengan rasa heran yang semakin besar.
Setelah lukanya dibersihkan dan dibalut rapi, Rey membantu gadis itu duduk bersandar di akar pohon. Ia memberinya minum sedikit air dan sepotong roti yang masih ada.
“Terima kasih… namaku Sylfia. Aku berasal dari suku elf yang tinggal di hutan bagian utara,” ucap gadis itu—Sylfia—dengan suara yang sudah lebih kuat dari sebelumnya.
“Namaku Rey. Senang bisa membantumu, Sylfia,” jawab Rey sambil tersenyum ramah. “Sekarang ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau bisa terluka seburuk ini sendirian di tempat yang jauh dari pemukiman?”
Sylfia menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan dengan suara lirih namun jelas. Ia menceritakan bahwa kelompoknya sedang dalam perjalanan berpindah tempat, namun diserang secara tiba-tiba oleh sekelompok pemburu gelap dan penyamun yang menjual ras-ras langka ke pasar gelap. Ia terpisah dari rombongannya saat mencoba mengalihkan perhatian penyerang, lalu terus dikejar hingga ke dalam hutan ini.
“Sekarang mereka mungkin masih berkeliaran di sekitar sini. Kau harus hati-hati, Rey… mereka bukan penjahat biasa, mereka membawa senjata beracun dan jumlahnya cukup banyak,” pesan Sylfia dengan nada khawatir.
Rey hanya mengangguk tenang, namun matanya menyipit tajam. “Pemburu gelap… kalau dibiarkan, mereka bisa mengganggu keamanan jalur ini dan penduduk sekitar. Sepertinya hari ini aku tidak hanya memeriksa jalan, tapi juga punya urusan tambahan.”
Ia menoleh kembali ke arah Sylfia dan berkata, “Tenang saja. Aku akan memastikan tempat ini aman, lalu kita cari tempat yang lebih terlindung untuk beristirahat. Sekarang istirahatlah sebentar, tenagamu masih banyak yang hilang.”
Di bawah naungan pohon tua itu, persahabatan pertama Rey di dunia ini baru saja dimulai—sebuah pertemuan yang akan mengubah arah perjalanan hidup keduanya selamanya.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰