Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.
Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."
Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.
Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNTUHNYA SEBUAH ISTANA
POV SERENA
Usia kehamilanku kini sudah menginjak tujuh bulan. Perutku sudah semakin membesar, dan rasa bahagia itu kian membuncah setiap kali aku merasakan tendangan kecil dari dalam rahimku. Minggu ini, Mas Aryo mengajakku ikut serta dalam perjalanan dinasnya ke luar kota. Selain urusan pekerjaannya, aku berniat mendatangi sebuah butik pakaian bermerek yang cukup terkenal di kota ini untuk mencari beberapa gaun hamil yang nyaman.
Mas Aryo menemaniku melangkah masuk ke dalam butik yang bernuansa mewah itu. Namun, baru saja kami melewati pintu kaca, seorang pelayan wanita di sana langsung menyapa suamiku dengan nada yang teramat centil dan akrab.
"Hai, Mas Aryo! Ya ampun... udah lama nih Mas nggak kesini," tegur pelayan itu dengan senyuman lebar.
Aku seketika tersentak. Langkahku terhenti, dan dahiku mengernyit heran. Aku menoleh menatap suamiku, lalu beralih ke pelayan itu. "Eh? Emang kapan suami saya pernah kesini?" tanyaku, mencoba menahan riak kecurigaan yang mendadak muncul.
Melihat reaksiku, wajah Mas Aryo mendadak pias dan gugup. Pelayan butik itu juga langsung kikuk. Mas Aryo buru-buru menarik lenganku pelan sambil mengelak, "Ah, itu... salah lihat kali, Sayang. Dia sok tahu."
"Tapi dia nyebut nama kamu loh, Mas. Jelas-jelas dia panggil 'Mas Aryo'," cecarku, tidak mau kalah.
Mas Aryo menelan ludah kesat, mencoba mencari alasan lain dengan raut wajah yang dipaksakan setenang mungkin. "Ahh... itu, kemaren-kemaren pas aku sempat dinas ke luar kota sendirian, aku memang sempat mampir kesini, Sayang. Niatnya mau beliin kamu baju buat kejutan, tapi nggak jadi. Makanya pelayannya ingat wajahku. Udahlah, gak usah dibahas."
Aku terdiam seribu bahasa. Insting wanita dan seorang istri di dalam dadaku mendadak berteriak bahwa ada sesuatu yang salah. Tanpa banyak bicara, aku langsung berbalik dan keluar dari butik itu, meninggalkan Mas Aryo yang mengekor di belakangku dengan wajah panik.
Sesampainya kami di rumah dinas, Mas Aryo yang tampaknya sangat kelelahan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tertidur pulas. Sementara itu, aku tidak bisa tenang. Pikiranku mendadak melayang ke kejadian delapan bulan yang lalu—saat di mana aku sempat menuduh suaminya menghabiskan uang jutaan rupiah untuk menyewa hotel di belakangku.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membuka tabungan dan catatan mutasi rekening pengeluaran Mas Aryo dari delapan bulan silam. Mataku menyipit tajam saat melihat ada transaksi keluar ke butik mewah tersebut pada tanggal sekian.
Rasa penasaran dan curiga yang membakar dada membuatku nekat. Malam itu juga, aku diam-diam menghubungi salah satu asisten pribadiku. "Tolong cek CCTV butik itu pada tanggal dan jam ini. Dapatkan videonya, bagaimanapun caranya," perintahku mutlak.
Keesokan harinya, asistenku datang menemuiku dengan wajah yang tampak sangat tegang. Tanpa banyak kata, dia menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan sebuah file video. Itu adalah rekaman CCTV dari butik luar kota tersebut delapan bulan yang lalu.
Aku menekan tombol play dengan jantung yang berdegup kencang. Di dalam video itu, terlihat jelas Mas Aryo sedang menggandeng mesra seorang perempuan. Mereka tampak sangat intim memilihkan baju. Aku memicingkan mata, memperhatikan postur tubuh dan pakaian perempuan misterius itu lama sekali. Detik berikutnya, pandanganku terpaku pada baju kurung bermotif khas yang dikenakan perempuan itu.
Deg! Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Seluruh badanku mendadak dingin membeku. Baju itu... baju itu adalah baju yang sama dengan baju yang kukomentari pada Winda delapan bulan lalu!
"Nggak mungkin... Nggak! Nggak mungkin Winda! Gak mungkin sahabatku sendiri!" jeritku histeris di dalam kamar yang sepi.
Air mataku langsung tumpah ruah membanjiri pipi. Dadaku sesak, hancur, dan remuk tak berbentuk saat menyadari bahwa dua orang yang paling kupercaya di dunia ini telah bersatu menusukku dari belakang. Di tengah tangis histerisku yang hebat, tiba-tiba rasa nyeri yang teramat dahsyat menghantam perut bawahku. Rasa sakitnya begitu melilit dan menyiksa hingga aku terpekik memegangi perutku yang terasa menegang keras.
"Aakhh... ssa-sakit..." rintihku dengan peluh dingin yang bercucuran.
Mas Aryo pagi itu sudah berangkat ke kantor, meninggalkanku sendirian. Dengan sisa tenaga yang ada, aku merangkak meraih ponsel dan menelepon asistenku untuk meminta bantuan. Tidak lama kemudian, suara sirine ambulans terdengar meraung-raung di depan rumah. Tubuhku diangkat ke atas tandu. Saat di dalam ambulans, pandanganku perlahan mulai mengabur, menggelap, hingga akhirnya kesadaranku hilang total setelah merasakan sesuatu yang basah mengalir deras dari pangkal pahaku.
Saat mataku kembali terbuka, aku mendapati diriku sudah terbaring lemah di bangsal rumah sakit dengan selang infus dan oksigen. Bau obat-obatan menyeruak, namun yang pertama kali kutangkap adalah sosok Ayahku yang sudah duduk di samping tempat tidur dengan wajah yang teramat layu dan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah..." panggilku sangat lirih.
Ayah menggenggam tanganku yang dingin, lalu mengusap rambutku dengan tatapan mata yang hancur. "Yang sabar ya, Nak... Yang tenang... Kamu harus kuat," bisik Ayah dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Mendengar ucapan Ayah, memori sebelum aku pingsan seketika berputar ulang di otaknya. Aku teringat rasa sakit di perutku dan darah yang mengalir. Tangisku langsung pecah sejadi-jadinya saat Ayah perlahan memberitahuku kenyataan pahit itu; bayiku... anak perempuan yang selama tujuh bulan ini kunantikan, tidak bisa diselamatkan. Dokter gagal menyelamatkannya karena aku mengalami pendarahan yang terlalu hebat akibat syok berat.
"Anakku, Yah... Anakku..." jeritku histeris, memeluk Ayahku dengan sangat erat sembari menangis meraung-raung meratapi hilangnya nyawa malaikat kecilku yang tak berdosa.
Setelah beberapa jam berlalu dan kondisiku mulai sedikit lebih tenang, dengan suara serak aku akhirnya menceritakan semuanya kepada Ayah. Aku menceritakan bahwa penyebab aku syok adalah karena Mas Aryo berselingkuh di belakangku. Namun, di dalam tangisku, aku sengaja menyembunyikan identitas perempuan itu. Aku tidak sanggup menyebut nama Winda, karena aku tahu saat ini Winda juga sedang hamil tua di luar sana.
Tiba-tiba, pintu kamar rawat terbuka perlahan. Winda melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat panik, pucat, dan matanya sembab. Tampaknya dia langsung bergegas ke rumah sakit setelah mendengar kabar duka tentang keguguranku dari Ayah.
Melihat kedatangan Winda, Ayah perlahan melepaskan genggaman tangannya padaku. Beliau berdiri, memberikan senyuman tipis yang layu kepada Winda, lalu melangkah keluar dari kamar rawat untuk memberikan privasi bagi kami berdua yang sudah bersahabat sejak lama.
Cleck. Pintu tertutup rapat setelah Ayah keluar. Kini, hanya ada aku dan Winda di dalam ruangan yang sunyi itu.
Melihatku yang terbaring lemah dengan wajah kuyu, Winda langsung menangis. Tatapan matanya dipenuhi rasa kasihan, ketakutan, dan rasa bersalah yang teramat dalam. Dia berjalan mendekat ke sisi bangsal, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar untuk memegang pundakku.
"Serena..." tangis Winda pecah.
Plakk! Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku langsung menepis kasar tangan Winda dari pundakku. Aku menatapnya dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian, kemarahan, dan rasa jijik yang mendalam.
Winda tersentak kaget, matanya membelalak kaku. "Serena, kamu kenapa...?"
"Win, kamu puas sekarang?!" tanyaku dengan suara bergetar menahan amarah yang mendadak meledak di dada. "Puas kamu setelah anakku hilang dan mati?! Puas kamu setelah berselingkuh bersama suamiku selama ini?!"
Winda seketika membeku. Wajahnya mendadak pucat pasi bagai mayat. "Ser, aku... aku..."
"Pantesan! Pantesan setiap kali diajak ketemu kamu selalu nolak! Pantesan diajak double date kamu selalu punya seribu alasan! Jadi ini alasannya, Winda?! Kamu tidur sama suami sahabat kamu sendiri!" teriakku histeris dengan air mata yang kembali mengalir deras.
Mendengar rahasianya sudah terbongkar total, pertahanan Winda runtuh. Dia langsung menangis sejadi-jadinya, lalu menjatuhkan tubuhnya bersujud di lantai tepat di bawah kakiku. "Maaf, Ser... Maafkan aku... Aku bersumpah demi Tuhan, sekarang aku dan Aryo udah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Kami udah selesai, Ser!" tangis Winda menjerit di bawah kakiku.
Aku tertawa sinis, sebuah tawa yang sarat akan rasa sakit yang teramat luar biasa. Aku memandangi perut buncit Winda yang bersujud di bawah sana. "Sudah sejauh mana kalian melakukannya, hah?! Apa... apa anak yang ada di dalam perutmu itu juga anak Aryo?!" tembakku langsung pada sasarannya.
Winda mendongak, wajahnya dipenuhi air mata dan ketakutan yang luar biasa. "Aku... aku nggak tahu, Ser... Aku bener-bener gak tahu..." tangis Winda pasrah.
"Lalu bagaimana dengan Pak Baskara?! Apa dia tahu kelakuan busuk istrinya di belakangnya?!" cecarku lagi dengan nada tajam.
Winda seketika terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa menjawab, tubuhnya gemetar hebat membayangkan jika Baskara sampai tahu kenyataan ini.
Aku memalingkan wajahku, bener-bener tidak sudi lagi melihat wajah wanita yang selama ini kuanggap sebagai saudara sendiri. "Pergi kamu dari sini, Winda! Pergi yang jauh dan jangan pernah berani mendekati kehidupanku lagi! Pergi!" usirku kejam.
Winda tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan tubuh yang lemas dan tangis yang tersedat-sedat, dia bangkit lalu berjalan keluar dari kamar rawatku. Detik itu juga, persahabatan indah yang kami bangun bertahun-tahun lamanya, hancur lebur berantakan tanpa sisa hanya karena sebuah pengkhianatan.
POV OUT / POV ARYO (DI KANTOR)
Di waktu yang sama, di ruang rapat utama gedung Wijaya Group, suasana mendadak senyap dan mencekam. Aryo sedang berdiri di depan ruangan, memimpin sebuah rapat penting bersama jajaran direksi dan investor besar. Di tengah-tengah presentasinya, layar proyektor besar di balik tubuh Aryo tiba-tiba berkedip.
Bukannya menampilkan grafik keuntungan perusahaan, layar besar itu justru memutar sebuah rekaman video CCTV yang sangat jernih. Di dalam video itu, terlihat jelas sosok Aryo sedang berjalan mesra sembari menggandeng tangan seorang cewek di sebuah butik luar kota.
Bisik-bisik... Suasana rapat seketika riuh rendah. Semua orang di dalam ruangan itu tersentak kaget dan saling berpandangan heran menatap kelakuan minus sang direktur. Aryo yang menoleh ke belakang langsung membelalakkan matanya kaget setengah mati. Wajahnya mendadak mandi keringat dingin. "Ini... ini ada kesalahan teknis! Matikan layarnya!" teriak Aryo panik.
Brakkk!
Pintu ruang rapat digebrak dengan sangat keras dari luar. Sosok Ayah Serena—sang pemilik tertinggi Wijaya Group—melangkah masuk dengan wajah yang merah padam menahan amarah yang teramat dahsyat. Tatapan matanya seolah siap menguliti Aryo hidup-hidup.
"Tidak ada yang salah dengan video itu, Aryo!" bentak Ayah Serena menggema di seluruh ruangan. Beliau berjalan mendekati Aryo, lalu menunjuk wajah menantunya itu dengan jari yang bergetar. "Hari ini juga, kamu SAYA PECAT secara tidak hormat dari perusahaan ini! Dan sekarang, angkat kaki dari sini dan tinggalkan anak saya!"
Aryo yang ketakutan langsung memohon, mencoba meraih tangan mertuanya. "Papa... tolong dengerin penjelasan saya dulu, Pa! Tapi Serena sedang hamil anak saya, Pa! Tolong pikirkan kandungan Serena!"
Mendengar kata 'hamil' keluar dari mulut pria yang sudah menghancurkan hidup putrinya, tawa pahit keluar dari bibir Ayah Serena. Beliau menatap Aryo dengan pandangan mata yang paling dingin. "Anaknya... sudah meninggal tadi pagi, Aryo. Anak kamu sudah mati karena kelakuan busuk ayahnya sendiri!"
Deg. Kepala Aryo serasa dihantam godam besar. Langkah kakinya mendadak lemas, dunianya runtuh seketika. "H-hah?! Meninggal...?" gumam Aryo tidak percaya.
"Sekarang, KELUAR KAMU DARI SINI! Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di kehidupan Serena selamanya!" tanpa ampun, Ayah Serena langsung memanggil pihak keamanan untuk menyeret Aryo keluar dari gedung kantor. Aryo mencoba berteriak dan menjelaskan, namun suaranya sama sekali tidak dipedulikan.
Dengan pakaian yang kusut dan perasaan yang hancur berkeping-keping, Aryo langsung berlari pulang ke rumah dinasnya untuk mencari Serena. Namun, sesampainya di sana, rumah itu sudah kosong melongpong. Serena sudah pergi, tidak ada lagi jejak istrinya di sana, menyisakan Aryo sendirian di tengah penyesalan dan kehancuran total akibat dosanya sendiri.