Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Krystal berdiri di depan lemari membelakangi ranjang tidur—rambutnya yang pirang bersinar keemasan terkena cahaya bulan, memakai kaus biru dan dress abu-abu, serta tidak alas kaki—dua daun pintu kayu besar yang terbuka lebar ke arah luar. Ia membuka pintu lemari dan—Wuuuung!—sebuah pusaran energi bercahaya biru terang yang intens di dalam lemari, dipenuhi pola partikel seperti bintang atau rona magis yang bergerak.
Ia melangkah masuk lalu—Syuuung!—tubuhnya terhisap masuk ke dalam pusaran, ia memejamkan mata lalu perlahan membukanya setelah tubuhnya terasa ringan. Jeng! Jeng! Jeng!. Matanya terbelalak, ia terkejut—ia berada di sebuah kamar mewah yang luasnya lebih dari satu lantai Istana Aquamarine; kamar bergaya Neo-Klasik yang didominasi palet warna putih pudar, merah muda pastel, lavender, dan sentuhan emas maskulin—sebuah ranjang besar menjadi pusatnya, lampu gantung kristal emas multi-tingkat pada plafon bertingkat, serta sepasang sofa santai di sisi kiri yang dilengkapi sepasang kursi lengan beludru lavender.
"Te—tempat Apa ini? Waaaaah. Bahkan lebih mewah dari kamarku saat di Istana Utama," gumam Krystal dengan mata yang berbinar-binar.
Suara langkah kaki cepat mendekati pintu kamar—Klak!—pintu terbuka. Eros dengan rambut hitam acak-acakan, mengenakan setelan biru muda berhias aksen lambang Biov berwarna emas melangkah masuk. Krystal bersembunyi di balik tirai jendela yang menjuntai.
"Kenapa kau baru datang, Rys? Padahal, aku sudah menyiapkan kamar ini untukmu sejak sebulan yang lalu... Dan kenapa kau bersembunyi?" tanya Eros tanpa berbasa-basi. Ia melangkah menuju tempat Krystal bersembunyi.
"Ah, aku tidak bermaksud bersembunyi darimu, aku hanya takut jika ternyata aku pergi ke tempat yang salah," jawab Krystal sembari membuka tirai.
"Apa kau menyukainya? Ini kamar yang aku persiapkan sendiri. Kamar ini berada tepat di sebelah kamarku loh," ucap Eros dengan bersemangat, ia menarik lengan Krystal. "Di sini ada kamar mandi, di sini ada tempat pakaian dan perhiasan, di sini ada banyak buku yang mungkin kau sukai (sebelumnya Eros sudah bertanya pada Mira tentang apa saja yang Krystal sukai), dan jendela yang menghadap timur dan pemandangan taman bunga. Apa kau menyukainya?"
Krystal menatap kamar yang begitu sempurna itu dengan pandangan menyelidik, alih-alih merasa senang. Kamar mandi, pakaian, perhiasan, bahkan buku-buku yang ia sukai—semuanya terasa seperti sangkar emas yang dirancang terlalu rapi. "Kau menyiapkan semua ini sendiri?" tanya Krystal datar, menatap Eros bergantian dengan pintu penghubung yang mengarah ke kamar pria itu. "Perhatianmu ini hampir terasa seperti jebakan, Eros. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
Eros mengerjapkan matanya, terkejut mendengar tuduhan dingin Krystal. Kedua tangannya langsung terangkat ke udara dengan panik, menggoyangkannya kuat-kuat. "Eh? J—jebakan?! Bukan, demi Semesta bukan begitu!" seru Eros dengan wajah memerah karena panik disalahpahami. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menatap Krystal dengan binar mata yang jujur. "Aku tahu kita baru kenal, dan aku tahu apa yang terjadi pada keluargamu membuatmu sulit percaya. Tapi aku bersumpah, Krystal, tidak ada niat buruk sama sekali. Aku menyiapkan kamar di sebelahku hanya agar aku bisa cepat menolongmu jika kamu butuh sesuatu di malam hari. Aku hanya ingin merawatmu."
Krystal perlahan goyah, binar mata yang berkaca-kaca saat mendengar kalimat terakhir Eros. 'Aku hanya ingin merawatmu.' Kalimat sederhana itu menghantam telak lubuk hatinya yang terluka akibat dibuang keluarga kandungnya. Krystal menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah menahan tangis. "Bodoh..." bisik Krystal dengan suara bergetar. "Kenapa kau harus sepeduli itu pada orang asing yang dibuang seperti aku?" Krystal menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba Grand Duchess melangkah masuk. Ia berjalan dengan anggun, tenang, namun dengan senyuman yang bersahaja. "Apakah kau yang bernama Rys, Nak?" tanya Grand Duchess yang kemudian berlutut agar tatapannya sejajar dengan mata Krystal.
"Kenalkan, Rys. Beliau ibuku. Kau juga boleh memanggilnya ibu," ucap Eros bangga.
Krystal membeku di tempatnya. Ia menatap Grand Duchess yang berlutut di depannya dengan pandangan tidak percaya, lalu beralih menatap Eros yang tampak sangat bangga. Suasana hangat ini terasa sangat asing bagi Krystal yang terbiasa hidup dalam penolakan. Dengan kaku, ia menundukkan kepalanya sedikit untuk membalas tatapan sang Grand Duchess. "S-Salam saya untuk Grand Duchess," ucapnya formal, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Eros terlalu berlebihan... saya tidak pantas memanggil Anda begitu cepat. Tapi... terima kasih karena Anda berkenan menemui saya yang asing ini."
Grand Duchess tidak membalas dengan kata-kata formal. Senyumannya justru semakin melebar, memancarkan aura kehangatan seorang ibu yang tulus. Namun, saat tatapan matanya turun ke bawah, senyuman itu sedikit surut, tergantikan oleh guratan rasa khawatir.
Eros yang berdiri di samping ibunya ikut mengikuti arah pandang sang Grand Duchess. Sedetik kemudian, mata Eros membelalak. "Krystal! Kakimu!" seru Eros panik.
Barulah Krystal menyadari bahwa sejak tadi ia berdiri bertelanjang kaki di atas lantai marmer kamar yang dingin.
Tanpa memedulikan gaun mewahnya yang menyapu lantai, Grand Duchess dengan cepat mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam jemari kaki Krystal yang tampak pucat, lalu mendongak menatap Krystal dengan tatapan menegur yang lembut. "Astaga, Nak... lantainya sangat dingin. Mengapa kau tidak bilang pada Eros?" ucap Grand Duchess, suaranya sarat akan rasa cemas.
Sebelum Krystal sempat mundur karena sungkan, Eros sudah bergerak lebih cepat. Anak itu langsung berbalik ke arah lemari dekat pintu, mengambil sepasang selop kamar berbahan bulu domba yang sangat lembut dan tebal berwarna merah muda pucat—memang sudah dipersiapkan khusus untuk Krystal.
Eros kembali dengan setengah berlari, lalu berlutut di sebelah ibunya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati seolah sedang memegang barang pecah belah yang berharga, Eros memegang pergelangan kaki Krystal yang dingin dan memakaikan selop itu ke kedua kakinya."Nah, sekarang sudah lebih hangat," ucap Eros sambil mendongak, tersenyum lebar dengan wajah yang sedikit memerah setelah menyentuh kaki Krystal.
Grand Duchess perlahan berdiri, lalu menepuk-nepuk pundak Eros dengan bangga sebelum beralih menggenggam tangan Krystal yang juga terasa dingin. " Kami sudah mengenalmu, jadi jangan pernah merasa asing di sini, Rys. Di rumah ini, kenyamanan dan keselamatanmu adalah hal yang paling utama bagi kami," bisik Grand Duchess lembut, meruntuhkan sisa-sisa kecanggungan Krystal.
Setelah memakaikan selop hangat pada kaki Krystal, Eros langsung berdiri mengulurkan tangan kanannya dengan sopan, telapak tangannya terbuka ke atas, mengundang Krystal untuk menyambutnya. "Bagaimana kalau kita turun ke bawah? Kau harus ikut makan malam bersama kami, Rys!"
Grand Duchess yang berdiri di samping Eros ikut mengangguk anggun. Beliau memberikan senyuman menenangkan yang seolah menegaskan bahwa kehadiran Krystal di sambut dengan hangat.