"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayangan Sang Penakluk
Sinar jingga dari ufuk barat Evlenian menyorot tajam, membakar warna zirah hitam para prajurit yang berdiri mematung. Jacob memutar tubuhnya, menatap barisan pasukannya yang kini mulai memiliki binar kemanusiaan di mata mereka.
"Veldora, dengarkan instruksiku dengan sangat saksama," ucap Jacob dengan wibawa yang menggetarkan udara sore.
Tangan sang raja merogoh saku jubahnya, mengeluarkan beberapa botol kristal berisi cairan Embrio Kehidupan yang diberikan oleh Putri Diana.
"Hamba siap menerima perintah, Baginda. Apakah kita akan langsung meratakan kamp Hamond malam ini?" tanya Veldora sambil mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat.
Jacob menggelengkan kepala perlahan dan menyodorkan botol-botol itu ke arah dada Veldora.
"Bukan. Aku memerintahkan kau dan Natali untuk memimpin lima ratus prajurit ini kembali ke Helios sekarang juga. Gunakan rute paling rahasia dan tercepat," perintah Jacob yang langsung mengundang keheningan.
Natali tersentak hebat, wajahnya menunjukkan keraguan yang tidak bisa disembunyikan sama sekali.
"Kembali ke Helios? Tapi Baginda, bagaimana mungkin kami membiarkan Anda berdiri sendirian di tanah musuh tanpa satu pun pelindung?" tanya Natali dengan suara yang bergetar karena panik.
Raja muda itu menatap wajah Natali dengan sorot mata yang sangat tajam dan penuh perhitungan.
"Bawa botol-botol ini pulang. Pastikan ribuan prajurit Nightmare yang tersisa di barak ibu kota meminumnya hingga mereka mendapatkan kembali jiwa mereka. Aku tidak sudi kerajaanku hanya dijaga oleh sekumpulan boneka baja," tegas Jacob.
{Jika aku menahan pasukan ini di sini, atau membiarkan ribuan prajurit di Helios tetap menjadi mesin pembunuh tanpa kesadaran, pertahanan kita akan sangat rapuh. Helios bisa hancur dari dalam jika diserang saat aku tidak ada.}
"Namun risikonya terlalu besar, Tuanku! Hamond dan Airis memiliki jaringan mata-mata yang sangat luas!" protes Natali yang masih enggan menerima perintah tersebut.
"Justru karena itu kalian harus pulang, Natali. Kalian harus menciptakan ilusi seolah aku masih duduk tegak di atas takhta istana. Tidak boleh ada satu pun yang tahu bahwa takhta Helios sedang kosong," jawab Jacob membeberkan logikanya.
Pernyataan itu seketika membuat Natali terdiam, menyadari betapa berbahayanya jika musuh tahu raja mereka sedang berada ribuan mil dari pusat kekuatan militernya.
||||||||||||||
Pijakan kaki Veldora bergeser mantap saat ia menyimpan botol-botol kristal itu ke dalam kantong zirahnya.
"Hamba mengerti, Baginda. Kami akan menjalankan pemerintahan bayangan dan memulihkan seluruh prajurit sebelum fajar minggu depan," sumpah Veldora dengan nada yang dipenuhi kepatuhan mutlak.
"Bagus. Katakan pada ayahku agar ia tidak perlu cemas. Sampaikan bahwa aku sedang membereskan hambatan logistik kita secara pribadi," tambah Jacob sambil memberikan isyarat tangan.
"Bagaimana dengan Jenderal Kaltos yang terus memeras Evlenian ini, Tuanku?" tanya Natali yang mulai memacu kudanya mendekat.
"Kaltos adalah urusanku. Aku akan menyingkirkan tikus Hamond itu sebagai bayaran untuk Putri Diana malam ini juga," jawab Jacob dengan senyum tipis yang mematikan.
{Kekuatan fisikku dan kemampuan sistem sudah melampaui batas manusia normal. Bergerak sendirian justru akan membuatku tidak terdeteksi oleh radar musuh mana pun.}
[Analisa Panca Indra: Denyut jantung Natali mulai stabil. Kesetiaan Veldora berada di tingkat maksimal. Peluang keberhasilan misi pengelabuan identitas di ibu kota: sembilan puluh tujuh persen.]
"Segera pergi! Jangan menoleh ke belakang sebelum kalian melihat gerbang Helios!" teriak Jacob memberikan perintah final.
Natali menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba menyembunyikan rasa cemasnya sebelum menarik tali kekang kuda dengan keras.
"Kami akan kembali menjemput Anda dengan pasukan yang sempurna, Baginda Raja!" seru Natali sebelum memacu kudanya menembus rimbunnya hutan.
||||||||||||||
Debu yang beterbangan perlahan mengendap seiring hilangnya barisan prajurit Nightmare dari pandangan. Putri Diana melangkah maju mendekati Jacob yang kini benar-benar berdiri tanpa pengawal satu pun.
"Kau memiliki cara berpikir yang sangat gila, Raja Jacob. Kau rela melepas perisaimu demi sebuah ilusi politik di negerimu," ucap Diana dengan nada suara yang penuh rasa takjub.
"Takhta yang terlihat kosong adalah undangan terbuka bagi para pemberontak. Helios harus tetap terlihat memiliki raja yang berkuasa penuh," balas Jacob tanpa memalingkan pandangannya dari sisa debu di jalanan.
"Tapi kau sekarang benar-benar tanpa tameng. Hamond memiliki kamp besar yang dijaga sangat ketat di ujung lembah ini," peringat Diana dengan raut wajah tegang.
Jacob tertawa pelan, tawanya terdengar sangat dingin dan mengintimidasi.
"Jika aku membawa pasukan Helios membantai mereka, Hamond akan langsung mendeklarasikan perang terbuka. Namun, jika jenderal mereka mati di tengah malam tanpa jejak, mereka hanya akan menyalahkan bandit atau kutukan," jelas Jacob.
{Aku akan bergerak sebagai hantu. Tidak ada bendera Helios, tidak ada deklarasi perang. Hanya pembantaian sunyi yang tidak meninggalkan bukti apa pun.}
"Kau berencana menyusup sendirian ke dalam sana? Membunuh Kaltos di tengah ribuan prajuritnya?" tanya Diana dengan mata membelalak.
"Tunjukkan aku jalan paling sunyi menuju kamp mereka. Malam ini aku akan bermain sebagai algojo tanpa nama," perintah Jacob sambil menarik pedang pendeknya dari balik jubah cokelatnya.
"Ikuti jalan setapak di balik bukit batu itu. Kamp mereka berada tepat di dekat sumber air utama," jawab Diana sambil menunjuk arah dengan tangannya yang sedikit gemetar.
"Bagus. Tetaplah di istanamu dan tunggu kabar kematiannya besok pagi," ucap Jacob sebelum melesat pergi meninggalkan sang putri.
||||||||||||||
Suasana malam itu begitu pekat, tidak ada cahaya bulan yang mampu menembus tebalnya awan di atas lembah. Jacob merayap di atas dahan pohon pinus raksasa dengan pergerakan yang sangat halus dan tanpa bobot.
{Setiap langkahku harus diperhitungkan dengan matang. Jika ada satu saja prajurit Hamond yang melihat wajahku dan mengenaliku sebagai Raja Helios, seluruh strategiku akan hancur berantakan.}
[Peringatan: Tiga penjaga menara terdeteksi pada arah jam dua. Pola pergerakan obor tidak teratur. Pengguna disarankan menggunakan teknik peredam napas dan bergerak melalui titik buta di balik tenda logistik.]
"Sistem, ambil alih kendali tegangan otot kakiku untuk meredam setiap suara pijakan," perintah Jacob dalam hati.
Tubuh Jacob meluncur turun dari atas pohon, mendarat di tanah berlumpur tanpa menghasilkan suara decit sedikit pun. Pangeran yang kini menjadi raja itu bergerak layaknya seorang master assassin legendaris, menyatu dengan bayangan di setiap sudut kamp musuh.
{Mereka sangat lengah. Penjagaan ini terlalu longgar untuk ukuran pasukan yang katanya tak tertembus. Aku akan memutus urat nadi mereka tanpa membiarkan setetes darah pun jatuh ke tanah.}
Mata Jacob berkilat tajam dari balik kain penutup wajahnya saat ia melihat tenda utama yang dijaga oleh barisan ksatria elit Hamond. Ia mengatur ritme detak jantungnya hingga berada di titik paling minimal, menyembunyikan hawa keberadaannya secara total dari deteksi musuh.
"Mimpi burukmu telah tiba, Kaltos," bisik Jacob di dalam relung hatinya sambil menggenggam erat gagang pedangnya di tengah kegelapan yang mematikan.
Like komen vote lah.