NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Siang itu suasana kantor mulai terasa lebih santai. Jam kerja hampir selesai dan sebagian pegawai sudah mulai membereskan meja masing-masing. Beberapa orang bahkan sudah sibuk membicarakan rencana pulang lebih cepat karena hari itu pekerjaan mereka selesai lebih awal. Namun di tengah suasana santai itu, Deni justru terlihat sibuk membuntuti Andika sejak makan siang.

Pria itu terus berjalan di belakang Andika sambil membawa brosur kecil berisi promosi grand opening restorannya Andika.

“Andika, bantu sedikit saja. Undang anak-anak kantor buat datang.”

Andika yang sedang memeriksa laporan hanya melirik sekilas.

“Tidak.”

Deni mendecakkan lidah.

“Kenapa tidak? Mereka teman kantor sendiri.”

“Karena kalau semuanya datang aku bisa bangkrut.”

Deni langsung tertawa sinis.

“Bangkrut katanya. Restoran baru buka sudah bicara rugi. Mental pengusaha macam apa itu?”

Andika menutup map laporannya lalu menatap Deni datar.

“Aku serius. Kalau satu kantor datang dan makan gratis, habis uangku.”

Deni malah duduk di atas meja kosong dekat Andika sambil menyilangkan tangan.

“Grand opening itu bukan soal untung. Yang penting ramai dulu. Restoran penuh, orang lihat, orang penasaran. Dasar pelit.”

“Aku tidak pelit.”

“Lalu?”

“Aku realistis.”

Perdebatan mereka mulai menarik perhatian pegawai lain. Beberapa orang bahkan diam-diam mendengarkan sambil menahan tawa. Sudah menjadi hiburan harian melihat Deni mengganggu Andika.

Namun kali ini rupanya bukan hanya pegawai biasa yang mendengar.

Pak Radit yang baru keluar dari ruangannya berhenti beberapa langkah dari meja Andika. Manager marketing itu memperhatikan mereka dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

“Grand opening restoran?”

Deni langsung berdiri tegak seperti menemukan bala bantuan.

“Nah, Pak Radit dengar sendiri. Teman saya ini buka restoran tapi tidak mau mengundang teman kantor.”

Pak Radit mengangkat alis lalu menatap Andika.

“Kamu buka restoran?”

Andika tampak sedikit menyesal karena percakapan itu terdengar oleh atasannya.

“Hanya usaha kecil, Pak.”

“Bagus itu. Kapan grand opening?”

Deni langsung menjawab cepat sebelum Andika sempat membuka mulut.

“Minggu depan, Pak.”

Pak Radit terlihat antusias.

“Kenapa tidak bilang dari awal? Anak-anak marketing pasti senang kalau diajak makan.”

Andika langsung menggeleng.

“Tidak usah, Pak.”

“Kenapa?”

“Nanti rugi.”

Beberapa pegawai langsung tertawa kecil mendengar jawaban jujur itu.

Pak Radit malah ikut tertawa.

“Kamu ini lucu juga. Grand opening memang butuh biaya promosi.”

Andika tetap tidak berubah ekspresi.

“Promosi juga ada batasnya, Pak.”

Deni menunjuk Andika kesal.

“Lihat, Pak. Dia benar-benar menghitung semuanya.”

Pak Radit melipat tangan sambil berpikir beberapa detik.

“Kalau masalah biaya, saya yang traktir anak-anak kantor.”

Ruangan langsung riuh.

“Serius, Pak?”

“Wah, mantap!”

“Siap datang!”

Andika langsung memijat pelipisnya pelan.

“Pak, tempatnya belum selesai. Masih banyak yang berantakan.”

Pak Radit malah semakin tertarik.

“Tidak masalah. Kami datang untuk mendukung, bukan menilai interior.”

“Iya, Pak!” sahut salah satu staf marketing.

“Kalau perlu kami bantu beres-beres sekalian.”

Pegawai lain ikut bersorak.

“Siap jadi kuli demi makan gratis!”

“Tolong dicatat itu bukan dukungan tulus,” gumam Andika dingin.

Namun tidak ada yang peduli. Semakin Andika menolak, semakin semua orang ingin datang.

Pak Radit bahkan menepuk bahu Andika dengan penuh semangat.

“Sudah, jangan dipikirkan. Anak-anak marketing bisa bantu menata tempat. Anggap saja latihan teamwork.”

“Teamwork demi makan gratis,” celetuk seseorang.

Ruangan kembali dipenuhi tawa.

Andika hanya bisa diam sambil menatap Deni tajam. Semua ini jelas salah sahabatnya.

Deni malah tersenyum puas.

“Akhirnya ramai juga.”

Andika menarik napas panjang. Ia sadar tidak mungkin lagi menolak tanpa terlihat aneh. Apalagi Pak Radit sendiri yang menawarkan diri datang bersama semua pegawai.

Masalahnya bukan mereka.

Masalah sebenarnya hanya satu orang.

Shinta.

Nama itu langsung membuat kepalanya terasa berat.

Sejak awal Andika sudah berusaha keras menjaga kebohongan di depan ayahnya. Ayahnya masih mengira hubungannya dengan Shinta baik-baik saja. Padahal mereka sudah putus setahun lalu.

Dan malam ini ayahnya pasti datang ke grand opening restoran.

Jika Shinta ikut hadir bersama pegawai kantor lain, semuanya bisa hancur dalam satu malam.

Jam pulang kantor akhirnya tiba. Satu per satu pegawai mulai meninggalkan ruangan sambil membicarakan restoran Andika dengan antusias.

“Aku mau pesan yang paling mahal.”

“Tenang, Pak Radit yang bayar.”

“Tolong jangan sampai restorannya langsung tutup setelah kami datang.”

Suasana penuh candaan itu justru membuat Andika semakin gelisah.

Ia tidak langsung pulang.

Pria itu berdiri di dekat lorong menuju lift sambil menunggu seseorang keluar dari ruangan divisi marketing.

Beberapa menit kemudian Shinta muncul sambil membawa tas kerjanya. Wanita itu terlihat sedikit terkejut melihat Andika berdiri sendirian di sana.

“Andika?”

“Aku mau bicara sebentar.”

Nada suara pria itu terdengar lebih serius dari biasanya.

Shinta menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berjalan mendekat.

“Ada apa?”

Andika tampak ragu untuk memulai. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, pria itu terlihat tidak tenang.

“Aku ingin kamu tidak datang Minggu depan.”

Shinta langsung memahami maksudnya.

“Grand opening restoran?”

Andika mengangguk pelan.

“Aku akan bawakan makanan untukmu nanti.”

Shinta justru tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip sindiran.

“Kamu pikir masalahnya makanan?”

Andika diam.

Wanita itu menatap Andika lurus tanpa menghindar sedikit pun.

“Aku capek terus ikut dalam kebohongan ini.”

Andika langsung menegang.

“Shinta…”

“Kita sudah putus sejak setahun lalu.”

Lorong kantor yang tadi terasa biasa mendadak menjadi begitu sunyi.

Shinta melanjutkan dengan suara tenang namun tajam.

“Kamu tidak menginginkanku lagi. Aku juga sudah menerima itu. Jadi kenapa aku masih harus berpura-pura menjadi pacarmu di depan ayahmu?”

Andika menunduk sesaat.

Ia tidak punya jawaban.

Karena semua yang dikatakan Shinta memang benar.

“Ayahmu berhak tahu kenyataannya.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa terus disembunyikan?”

Andika mengusap wajahnya kasar.

“Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat.”

Shinta tertawa kecil tanpa humor.

“Setahun bukan waktu yang cukup?”

Pertanyaan itu menusuk tepat sasaran.

Andika kembali terdiam.

Ia memang pengecut dalam hal ini. Bahkan dirinya sendiri sadar.

Shinta memandang pria di depannya dengan perasaan campur aduk. Dulu Andika selalu terlihat dingin, tenang, dan tidak tergoyahkan apa pun situasinya. Namun sekarang pria itu tampak seperti seseorang yang kehabisan jalan keluar.

“Aku akan jujur kalau ayahmu bertanya nanti.”

Kalimat itu membuat Andika langsung mengangkat kepala.

“Jangan.”

“Aku tidak mau terus ikut berbohong.”

“Aku mohon.”

Shinta sedikit terkejut mendengar nada suara Andika.

Pria itu jarang sekali memohon pada siapa pun.

“Aku benar-benar tidak bisa kalau ayah tahu sekarang.”

“Kenapa?”

Andika terdiam lama sebelum akhirnya menjawab pelan.

“Karena beliau terlalu berharap.”

Shinta menatapnya tanpa bicara.

“Ayah sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri.”

“Itu bukan salahku.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Andika menghembuskan napas panjang.

“Aku hanya butuh waktu sedikit lagi.”

Shinta menggeleng pelan.

“Kamu selalu bilang begitu.”

Andika tampak frustrasi. Ia merogoh rambutnya sendiri lalu berkata dengan suara rendah.

“Aku rela melakukan apa saja asal kamu tidak datang.”

Shinta mengerutkan kening.

“Apa?”

“Aku serius.”

Andika menatapnya penuh tekanan.

“Aku bisa kasih gajiku bulan ini.”

Shinta langsung tercengang beberapa detik.

“Kamu sudah gila?”

“Aku juga bisa bantu pekerjaanmu.”

“Kamu pikir aku bisa dibeli?”

“Aku sedang mencoba menyelesaikan masalah.”

“Dengan menyuap mantan pacar?”

Andika memejamkan mata sesaat seolah sadar betapa menyedihkan dirinya saat ini.

Namun ia tetap melanjutkan.

“Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.”

Shinta memperhatikan wajah Andika dengan perlahan.

Tidak ada nada dingin seperti biasanya.

Tidak ada sikap tenang yang selalu membuat orang lain kesal.

Yang ada hanya seseorang yang terlihat lelah dan terdesak.

Untuk pertama kalinya sejak mereka putus, Shinta melihat Andika benar-benar rapuh.

Pria itu berdiri di depannya seperti orang yang kehilangan pegangan.

Dan anehnya, pemandangan itu justru membuat dada Shinta terasa tidak nyaman.

“Ayahmu memang sangat menakutkan sampai kamu seperti ini?”

Andika tertawa hambar.

Padahal hubungan mereka sudah lama hancur.

“Kamu seharusnya jujur dari dulu.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu jangan salahkan siapa pun kalau semuanya berantakan nanti.”

Andika kembali diam.

Ia memang tidak bisa membantah apa pun lagi.

Shinta memandang pria itu cukup lama sebelum akhirnya menghela napas pelan.

Entah kenapa melihat Andika memohon seperti ini membuat kemarahannya sedikit goyah.

Mungkin karena selama ini Andika selalu tampak terlalu kuat.

Dan sekarang pria itu terlihat sangat tidak berdaya.

Lorong kantor kembali sunyi.

Hanya terdengar suara langkah pegawai lain yang mulai meninggalkan gedung dari kejauhan.

Andika masih berdiri di tempatnya sambil menunggu jawaban.

Sementara Shinta mulai merasa bahwa grand opening itu mungkin akan menjadi awal dari kekacauan yang jauh lebih besar.

1
Erni Purwaningsih
mantap Thor filosofi nya
onimaru rascall: perasaan itu perdebatan dua bocah puber donk kak🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!