🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganjaran
Seravina menatap Viktor yang masih tampak kebingungan dengan reaksi tubuhnya sendiri. Sebuah ide licik melintas di benaknya. Ia ingin melihat sejauh mana mesin ini bisa ia rusak.
"Mau coba lagi untuk memastikannya?" tawar Seravina dengan nada menantang.
Viktor sempat ragu. Logikanya menyuruhnya untuk menjauh, tapi rasa penasaran akan adrenalin yang memabukkan itu jauh lebih kuat. Sebelum ia sempat memberi jawaban, Seravina sudah memangkas jarak.
Kali ini, Seravina tidak menyerang. Ia menempelkan bibirnya dengan sangat lembut, sebuah sentuhan yang membuat jantung Viktor seolah berhenti berdetak sesaat sebelum meledak lebih kencang dari sebelumnya.
Sensasi lembut dari bibir Seravina justru menjadi pemicu yang salah bagi insting tempur Viktor. Logikanya mati total, digantikan oleh rasa lapar yang murni. Viktor kehilangan kendali atas kekuatan tubuhnya sendiri. Ia merangsek maju, mencengkeram wajah Seravina dengan telapak tangannya yang besar dan kasar, memaksanya untuk menerima balasan yang jauh lebih brutal.
Chwak... sruup...
Bunyi ciuman yang basah dan berantakan memenuhi kamar mewah itu. Viktor melumat bibir Seravina tanpa teknik, hanya dorongan insting yang meluap-luap. Ia menghisap dan menggigit bibir wanita itu hingga memerah, mengabaikan segala etika ciuman yang ada.
"Mmph... ahh..." desahan tertahan lolos dari sela bibir Seravina yang terhimpit. Ia mencoba meraup udara, namun Viktor terus mengejarnya, membungkamnya kembali dengan lebih ganas.
Suara napas Viktor yang berat dan menderu terdengar seperti binatang buas yang sedang berpesta.
Slurp... mmmgh...
Bibir Seravina kini sudah basah kuyup oleh saliva mereka yang bercampur, wajahnya memerah karena kehabisan napas sekaligus tekanan fisik dari pria tinggi itu. Setiap kali lidah Viktor mencoba masuk secara kasar, Seravina mengeluarkan suara lenguhan yang antara protes dan sesak.
"Vik— akh... mmph!"
Ciuman itu benar-benar kacau. Terlalu banyak tenaga, terlalu banyak liur, dan terlalu banyak kekasaran yang tidak beraturan.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Viktor, membuat wajah pria itu tertoleh ke samping. Seravina mendorong dada Viktor dengan wajah yang memerah karena kesal.
"Kau ini bodoh, ya?!" bentak Seravina, napasnya memburu karena marah. "Apa kau sama sekali tidak tahu cara berciuman?! Kau berantakan sekali! Kau pikir kau sedang merobek daging?!"
Viktor terdiam, matanya yang tadi sempat liar kini membelalak kaget. Ia menyentuh pipinya yang panas karena tamparan itu, menatap Seravina dengan pandangan bertanya-tanya.
Seravina memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang tidak teratur. Ia harus tenang jika ingin menjinakkan anjing ini. Ia kembali membuka matanya, menatap Viktor dengan tatapan yang kini lebih tenang.
"Dengar," bisik Seravina sambil kembali mendekat. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu lebar Viktor, memaksa pria itu menatap matanya. "Aku tidak suka sesuatu yang kasar jika tidak diminta. Berhenti menggunakan ototmu, dan mulai gunakan perasaanmu—jika kau punya."
Seravina memajukan wajahnya perlahan. "Ikuti gerakanku. Jangan melawan, jangan menyerang. Hanya... ikuti."
Ia kembali menyentuhkan bibirnya, kali ini ia bergerak dengan ritme yang lambat dan lembut. Ia mengajarkan Viktor cara menyesap tanpa menyakiti, cara memainkan lidah dengan lembut yang membuat bulu kuduk berdiri. Viktor, yang biasanya hanya tahu cara menghancurkan, kini dipaksa untuk belajar cara merasakan.
Ia mempraktikkannya langsung pada Viktor. Ciuman itu perlahan berubah dari sebuah pelajaran menjadi sesuatu yang sangat intim.
Jantungnya berdetak kencang.
Ciuman itu terus berlanjut, melampaui batas yang dibayangkan Seravina. Menit demi menit berlalu hingga hampir dua puluh menit mereka terperangkap dalam pagutan yang kini terasa jauh lebih sinkron. Viktor, sang murid yang tadinya berantakan, ternyata adalah pembelajar yang sangat cepat—dan berbahaya.
Viktor sudah benar-benar ketagihan. Adrenalin ini jauh lebih candu daripada kemenangan apa pun di arena underground. Ia seolah tidak mau melepaskan sumber kehidupan baru di depannya, tangannya yang besar kini mendekap pinggang Seravina dengan posesif, mencoba menarik wanita itu lebih dalam ke dalam pusaran rasa yang ia ciptakan.
Seravina sudah mencapai batasnya. Paru-parunya perih, bibirnya terasa mati rasa, dan ia mulai merasa kewalahan menghadapi stamina monster yang ada di depannya.
Dengan sisa tenaganya, Seravina mendorong dada bidang Viktor dan menarik wajahnya menjauh. Viktor—dengan tatapan yang masih liar dan bibir yang basah—seolah hendak maju lagi untuk mengejar rasa manis itu.
PLAK!
Seravina dengan kasar membungkam mulut Viktor dengan telapak tangannya, menekan bibir pria itu dengan kuat hingga gerakannya terhenti.
"Sudah cukup!" bentak Seravina dengan napas yang terputus-putus.
Matanya berkilat tajam, menatap Viktor yang kini tampak seperti serigala yang baru saja mencicipi daging segar dan menolak untuk berhenti. Seravina bisa merasakan napas panas Viktor menghantam telapak tangannya, dan ia bisa melihat dada pria itu naik-turun dengan kencang.
"Jangan serakah," desis Seravina, perlahan menjauhkan tangannya dari mulut pria itu, tetap menjaga jarak. "Aku mengajarimu cara berciuman, bukan memberimu izin untuk memakanku sampai habis."
Viktor hanya berdiri mematung. Matanya yang dulu kosong kini dipenuhi oleh obsesi yang mengerikan. Ia menjilat bibirnya sendiri yang terasa basah oleh saliva Seravina, matanya seolah berkata bahwa ia masih menginginkan lebih.
"Kau..." suara Viktor terdengar lebih dalam, serak, dan penuh dengan damba yang belum tuntas. "Kenapa berhenti?"
"Karena aku pemilikmu, dan aku yang menentukan kapan pelajaran ini selesai. Sekarang, mundurlah sebelum kau benar-benar membuatku muak."
Viktor tidak bergerak satu inci pun dari posisinya. Matanya yang tajam dan kini dipenuhi kabut obsesi terus mengunci bibir Seravina.
"Lagi..." ucap Viktor pelan. Suaranya serak, berat, dan mengandung tuntutan yang tidak bisa disembunyikan.
Seravina yang sedang merapikan rambutnya yang berantakan terhenti sejenak. Ia melirik Viktor dari pantulan cermin, lalu perlahan berbalik dengan senyuman yang sangat tipis. Ia tahu umpannya sudah ditelan bulat-bulat.
"Mau lagi?" Seravina terkekeh, suara tawanya terdengar merendahkan namun menggoda. "Kau pikir hal seindah ini gratis? Kau pikir kau bisa mendapatkan hidup yang baru saja kurasakan padamu ini sesukamu?"
Seravina melangkah mendekat, namun kali ini ia berhenti tepat di depan dada bidang Viktor tanpa menyentuhnya. Ia mendongak, menatap pria raksasa itu dengan mata yang dingin dan berkuasa.
"Kalau mau lagi, kau harus menjadi anjingku yang baik dulu," ucap Seravina, setiap katanya ditekankan dengan tegas. "Kau harus bekerja di bawahku. Ikuti setiap perintahku tanpa bertanya, hancurkan siapa pun yang kusuruh, dan jangan pernah tunjukkan taringmu di hadapanku."
Ia mengulurkan tangan, mengusap bekas tamparannya tadi di pipi Viktor dengan gerakan yang tiba-tiba sangat lembut, seperti sedang mengelus hewan peliharaan yang baru saja ia jinakkan.
"Jadilah anjing yang penurut, Viktor. Jika kau bekerja dengan baik, aku akan memberimu ganjaran yang lebih dari sekadar ciuman tadi. Aku bisa memberimu adrenalin yang tidak akan pernah kau dapatkan di ring mana pun di dunia ini."
Viktor menatap tangan Seravina, lalu kembali menatap mata wanita itu.
"Ganjaran..." gumam Viktor, suaranya terdengar seperti sebuah janji yang berbahaya.
"Benar. Ganjaran untuk anjing yang pintar," bisik Seravina. "Sekarang, katakan padaku... apakah kau akan tetap keras kepala dan pulang ke jalanan, atau kau akan mulai belajar cara bersikap manis kepadaku dan dapat banyak ganjaran? Jadi... kau mau apa?"
"Aku mau... bibir," ucap Viktor datar, matanya yang gelap menatap bibir Seravina yang ia anggap itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di ruangan ini.
Mendengar jawaban Viktor, Seravina nyaris kehilangan keanggunannya. Ia tertegun sejenak, menatap pria itu di depannya dengan tatapan tidak percaya.
Ia tidak minta kebebasan, tidak minta uang, bahkan tidak peduli soal tugas berbahaya yang direncanakan Seravina. Si mesin tempur ini benar-benar sedang menunjukkan kepolosannya yang gila. Ia hanya menginginkan rasa manis dan sensasi hidup yang baru saja ia rasakan.
Seravina tertawa lepas, suara tawanya bergema di kamar mewah itu. "Kau ini benar-benar ya... bodoh atau memang sudah gila?"
Ia melangkah maju, menjinjitkan kakinya hingga wajahnya tepat berada di depan Viktor. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu.
"Hanya bibir? Kau rela memberikan nyawamu, kekuatanmu, dan harga dirimu hanya untuk bibir ini?" Seravina menyentuh bibir bawahnya sendiri dengan ibu jari, membuat Viktor menelan ludah dengan susah payah.
"Ya," jawab Viktor singkat. Matanya sama sekali tidak berkedip. Logika tempur sekarang sudah berganti menjadi logika survival: dia butuh ciuman itu agar jantungnya terus berdegup seperti ini.
Seravina menyeringai puas. Ternyata menjinakkan monster ini jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan—hanya perlu sedikit pelajaran dan pria ini langsung kehilangan kewarasannya.
"Baiklah, Anjing Kecilku yang serakah," bisik Seravina sambil menarik kerah kemeja Viktor, memaksa kepala pria itu menunduk. "Kau akan mendapatkannya. Setiap kali kau menyelesaikan tugas dariku dengan sempurna, kau boleh memilikinya. Tapi ingat..."
Seravina menekan telunjuknya ke dada Viktor, tepat di atas jantungnya yang berdebar kencang.
"Hanya jika aku mengizinkan."