NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Was Raised With Power

Rumah keluarga Knox selalu terasa lebih mirip museum dibanding tempat tinggal manusia. Mansion tua berlangit-langit tinggi, lampu kristal mahal, dan lukisan klasik yang tergantung rapi di sepanjang dinding marmer. Semua terlihat sempurna. Elegan, berkelas dan tetap terasa dingin.

Bahkan suara langkah para pelayan terdengar hati-hati, seolah seluruh rumah memahami satu hal yang sama sejak bertahun-tahun lalu, soal keluarga Knox yang tidak pernah benar-benar hangat satu sama lain.

Damien tiba menjelang malam setelah seharian menghadiri konferensi politik bersama Liam Knox. Jas hitamnya masih rapi sempurna, sementara wajahnya tetap tenang seperti biasa ketika memasuki ruang makan utama mansion. Begitu melihat ekspresi ayahnya di ujung meja panjang itu, Damien langsung tahu suasana malam ini tidak akan menyenangkan.

Liam Knox duduk dengan tablet di tangan dan wajah keras yang semakin gelap setiap beberapa detik membaca berita di layar.

Begitu Damien menarik kursinya santai dan duduk, Liam langsung melempar tablet itu ke meja marmer dengan suara cukup keras sampai beberapa pelayan refleks menegang.

“Jangan kira aku tidak tahu.”

Damien bahkan tidak terlihat terkejut. “Apa lagi sekarang?”

“Tanyakan itu pada dirimu sendiri.” Liam menatapnya tajam. “Laki-laki yang mati itu mantan Serena Roe.”

Sunyi langsung memenuhi ruang makan. Ibu Damien yang sejak tadi duduk diam sambil menikmati wine perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bergerak dari Liam ke Damien tanpa banyak ekspresi.

Damien justru terlihat santai. Pria itu menuangkan air ke gelasnya sendiri sebelum menjawab pendek, “Lalu?”

Dan respons datar itu langsung membuat rahang Liam mengeras.

“Kau benar-benar ingin menghancurkan keluarga ini?” bentaknya rendah. “Seluruh media menghubungkan Serena dengan tragedi Julian Hayes, lalu kau muncul di Los Angeles bersamanya seolah tidak terjadi apa-apa.”

Damien menyandarkan tubuh santai ke kursi. “Aku tidak melihat masalahnya.”

Liam tertawa kecil. Namun tanpa humor sedikit pun.

“Tentu saja tidak.” Pria tua itu berdiri perlahan dari kursinya. “Karena sejak kecil kau memang selalu berpikir semua hal bisa kau miliki sesuka hati.”

Tatapan Damien perlahan berubah lebih dingin sekarang. Tetapi suaranya tetap tenang. “Ayah terlalu dramatis.”

“Aku sedang mencalonkan diri sebagai presiden negara ini.” Nada suara Liam semakin rendah sekarang. Semakin mengintimidasi.

“Dan putraku malah terlibat dalam skandal perempuan, kematian CEO muda terkenal, lalu pergi ke Hollywood bersama mantan kekasih korban.” Liam berjalan mendekat ke arah Damien. “Apa kau benar-benar sebodoh itu?”

Damien mengangkat gelas airnya perlahan. “Kau terlalu peduli pada opini publik.”

“Aku seorang politisi.”

“Kau seorang pria tua yang menghabiskan hidupnya untuk mencoba disukai orang.” Kalimat itu langsung membuat udara di ruangan terasa membeku.

Para pelayan bahkan mulai menundukkan kepala mereka lebih dalam.

Liam menatap Damien cukup lama. Tatapan dua laki-laki itu terlalu mirip. Sama dinginnya. Sama kerasnya. Dan mungkin itu alasan mereka tidak pernah benar-benar akur.

“Kau tahu apa yang paling membuatku muak darimu?” gumam Liam rendah.

Damien tidak menjawab.

“Kau terlihat terlalu tenang sejak Julian Hayes mati.”

Keheningan langsung jatuh dalam di meja makan itu.

Ibu Damien perlahan berhenti memutar gelas wine di tangannya.

Sementara Damien hanya menatap ayahnya tanpa berkedip sedikit pun.

“Ayah mulai kehilangan akal sehat.”

“Tidak.” Liam mendekat sedikit lagi. “Aku hanya mengenal anakku sendiri.”

Tatapan pria tua itu turun tajam ke wajah Damien. “Kau selalu terlihat seperti itu saat menginginkan sesuatu.”

Dan untuk sepersekian detik, senyum tipis muncul di bibir Damien. Sangat kecil. Namun cukup membuat Liam semakin marah.

“Kau mendekati Claire lagi, bukan?”

Nama itu membuat suasana berubah semakin dingin.

Damien masih diam. Kini diamnya terasa jauh lebih mengerikan dibanding jawaban biasa.

“Claire sedang berduka,” ujar Damien akhirnya.

“Dan kau menyukai keadaan itu.” Kalimat Liam keluar terlalu cepat dan tajam. Namun tidak ada yang menyangkalnya. Karena jauh di dalam dirinya sendiri, Damien tahu sebagian dari apa yang ayahnya ucapkan adalah benar.

Ia memang menyukai fakta bahwa Claire akhirnya mulai bersandar padanya lagi.

Damien mengusap bibirnya pelan sebelum berkata rendah, “Setidaknya aku tidak menghabiskan hidupku untuk menikahi perempuan yang tidak pernah kucintai.”

Tatapan Liam langsung berubah gelap. Dan kali ini, bahkan ibu Damien perlahan mengangkat wajah. Karena seluruh rumah tahu Damien sedang berbicara tentang Pernikahan orang tuanya.

“Cukup,” gumam Liam tajam.

Namun Damien justru tersenyum kecil. “Aku tumbuh melihat Ayah tidur di kamar berbeda selama dua puluh tahun.” Tatapannya naik lurus ke Liam sekarang. “Jadi, jangan mengajariku soal cinta.”

Rahang Liam menegang keras. Tanpa mengatakan ap pun lagi, pria tua itu akhirnya meninggalkan ruang makan dengan langkah berat dan wajah penuh amarah. Suara langkahnya menggema panjang di lorong mansion sebelum akhirnya menghilang.

Keheningan langsung terasa jauh lebih aneh setelah kepergiannya.

Damien tetap duduk santai di kursinya seolah pertengkaran tadi bahkan tidak menguras emosinya sedikit pun. Ibunya memperhatikan cukup lama dari seberang meja. Perempuan itu masih terlihat elegan sempurna meski usianya tak lagi muda. Rambut hitamnya tersusun rapi, sementara tatapannya pada Damien terasa terlalu tajam untuk seorang ibu yang jarang bicara.

“Kau terlihat bahagia.”

Damien terkekeh kecil sambil menuangkan wine ke gelasnya. “Bukankah itu hal baik?”

“Tidak untuk keluarga ini.” Kalimat itu langsung membuat Damien perlahan mengangkat matanya.

Ibunya menyesap wine pelan sebelum melanjutkan,

“Orang Knox biasanya hanya terlihat bahagia tepat sebelum menghancurkan sesuatu.”

Senyum Damien tidak benar-benar hilang. Namun tatapannya berubah sedikit lebih gelap sekarang.

“Kedengarannya seperti pengalaman pribadi.”

Ibunya tersenyum kecil samar. Ada kesedihan di sana.

“Aku menikahi ayahmu saat usiaku dua puluh tiga.” Tatapannya turun sebentar ke meja makan besar itu. “Aku tahu persis bagaimana rasanya hidup bersama laki-laki yang selalu ingin memiliki semuanya.”

Sunyi beberapa detik. Lalu perempuan itu kembali menatap Damien. “Namun ada satu hal yang masih membuatku penasaran.”

Damien mengangkat alisnya, penasaran. “Apa?”

Ibunya diam cukup lama sebelum akhirnya bertanya pelan, “Setelah semua yang kau lakukan,” tatapannya menajam samar, “sebenarnya perempuan yang kau cintai itu Serena Roe atau Claire Beaumont?”

Keheningan langsung memenuhi ruang makan.

Damien tidak segera menjawab. Pria itu hanya memutar perlahan gelas wine di tangannya sambil menatap cairan merah gelap di dalamnya.

Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya naik kecil. Senyum miring yang terlalu samar untuk dibaca.

Dan entah mengapa, itu terasa jauh lebih mengganggu dibanding pertanyaan apapun.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!