NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata Kamu Bukan Setan

Suasana di kantor pusat Ibrahim Group akhir-akhir ini terasa seperti neraka dunia. Suhu ruangan yang dingin akibat penyejuk udara berjalan maksimal, sama sekali tak sebanding dengan suhu emosi di dalamnya yang sedang membara merah, siap meledak kapan saja. Semua karyawan berjalan tiarap, menundukkan pandangan, dan berbicara berbisik seolah sedang berada di dekat kawah gunung berapi yang akan meletus.

Farzhan Ibrahim sedang berada di ambang batas kesabarannya atau lebih tepatnya, kesabarannya sudah hancur lebur tak bersisa.

Perusahaan baru saja mendapatkan proyek bernilai sangat besar, sebuah kerja sama eksklusif untuk pembuatan film layar lebar bertema sejarah nasional yang menuntut ketelitian presisi dan akurasi setinggi mungkin. Namun sayangnya, tim yang ditugaskan menangani proyek itu seolah-olah kehilangan akal sehat dan fokus. Kesalahan demi kesalahan bermunculan bertubi-tubi, bagai jamur yang tumbuh di musim hujan.

Pagi itu, ruang rapat besar yang luas dan megah dipenuhi oleh anggota manajer, kepala divisi, dan staf kreatif. Wajah mereka semua pucat pasi, keringat dingin bercucuran deras meski ruangan ber-AC sangat dingin. Udara terasa kaku, berat, dan penuh ketakutan.

Di ujung meja panjang itu, Farzhan duduk diam. Wajahnya datar, dingin, tak ada satu pun kerutan emosi yang terlihat. Namun, matanya yang tajam memancarkan aura membunuh yang sangat kuat, menusuk hingga ke tulang sumsum. Di tangannya yang kekar, ia memegang berkas naskah dan papan cerita yang penuh dengan coretan tinta merah, nyaris tak ada halaman yang bersih.

"Saya tanya satu kali saja, dan saya harap jawaban kalian masuk akal," suara Farzhan terdengar pelan, rendah, namun sangat dingin dan tajam seperti pisau bedah yang mengiris udara.

"Ini yang kalian berikan ke meja saya... apakah ini konsep naskah film sejarah, atau sekadar coretan tak bermutu anak-anak TK yang sedang belajar menggambar?"

Seluruh ruangan hening total. Tak ada yang berani bernapas terlalu keras. Suasana begitu sunyi sampai suara detikan jam dinding terdengar menggelegar.

"Kalian bahkan berani bilang ini sudah tahap akhir? Sudah diperiksa? Sudah diverifikasi?" Farzhan beranjak berdiri perlahan, matanya menatap satu per satu wajah bawahannya dengan pandangan menghakimi.

"Lihat tanggal kejadian! Berselisih tiga tahun dari fakta sejarah asli! Lokasi syuting yang kalian pilih sama sekali tidak sesuai dengan geografi dalam konsep cerita! Dan lihat anggaran ini..." Ia mengangkat lembaran berkas itu tinggi-tinggi, lalu melemparkannya kembali ke meja dengan hentakan keras. PLAK! Bunyinya nyaring, membuat semua orang tersentak kaget.

"Kalian pikir saya mencetak uang di ruang belakang kantor?! Anggaran naik hampir 50 persen tanpa satu pun catatan alasan yang logis?! Kalian mau merampok saya dengan cara halus?!"

"P-Pak... m-maaf Pak... ini... ini masih bisa direvisi, masih ada waktu..." cicit salah satu manajer dengan suara gemetar hebat, nyaris tak terdengar.

"REVISI?!"

Suara Farzhan meledak, menggema memenuhi ruangan hingga kaca jendela besar di sisi ruangan itu seakan bergetar. Wajah dinginnya kini berubah tajam, matanya menyala marah.

"Sudah seminggu penuh saya beri waktu! Seminggu! Saya berikan tim terbaik, fasilitas lengkap, akses data terbuka! Dan yang kalian berikan hasilnya sampah begini?!" Ia berjalan maju beberapa langkah, menatap bawahannya dengan pandangan merendahkan.

"Kalian kerja pakai otak atau pakai perasaan dan keberuntungan saja?! Saya tidak butuh alasan! Saya tidak butuh permintaan maaf! Saya butuh hasil yang sempurna dan teliti! Besok pagi, jam tujuh tepat, semua berkas harus sudah ada di meja saya dalam kondisi akurat dan benar! Kalau masih ada satu saja kesalahan sekecil apa pun, kalian semua akan tahu akibatnya. Bubar!"

Farzhan berbalik, meninggalkan ruangan dengan langkah lebar, tegap, dan penuh tekanan. Pintu ruang rapat didorong dan tertutup dengan bunyi bantingan keras yang memekakkan telinga. BRAK!

Di luar ruangan, para sekretaris dan staf lain yang lewat serentak menunduk, tak berani menatap.

Sepanjang hari itu, suasana mencekam tak berubah sedikit pun. Bad mood Farzhan meluas seperti kabut tebal yang menyelimuti seluruh gedung. Ia membentak sana sini, mengembalikan puluhan dokumen dengan catatan kasar, menolak setiap ide yang dianggap kurang matang, dan membuat siapa saja yang bertemu dengannya merasa seolah sedang diadili di tempat militer. Pekerjaan yang menumpuk ditambah ketidakbecusan timnya membuat amarahnya menggunung tinggi, memenuhi setiap ruang di hatinya.

Dan naasnya, ketika hari sudah senja dan ia pulang ke rumah, amarah itu belum juga reda. Ia membawa pulang 'awan hitam' yang pekat dan berat itu bersamanya.

Mobil mewahnya sudah masuk ke pekarangan, Vira sudah menunggu di teras dengan senyum ceria seperti biasa. Ia sudah menyiapkan makan malam hangat di meja, aroma masakan sedap menguar ke seluruh sudut rumah yang sudah ia bersihkan rapi sesuai standar ketat. Semuanya sempurna, tak ada satu pun debu yang tersisa.

"Zhan! Kamu pulang! Ayo cepat mandi. Makanannya sudah siap, tadi aku masak spesial buat..."

Belum sempat Vira menyelesaikan kalimat sambutannya, Farzhan sudah melewatinya begitu saja dengan wajah masam, rahang mengeras, dan langkah kasar. Ia melempar tas kerja kulit mahalnya bukan di rak khusus tempatnya, melainkan sembarangan dan jatuh ke atas sofa empuk.

"Berisik!" sentak Farzhan ketus, suaranya dingin dan tajam.

Vira terhenti di tengah langkah. Senyumnya langsung pudar lenyap, diganti kebingungan. "Hah? A-apa katanya?"

"Kata aku BERISIK!" Farzhan berbalik menatapnya, matanya menyorot tajam penuh emosi yang tertahan.

"Bisa tidak kalau ngomong itu pelan, rendah, dan tidak heboh?! Kepala aku rasanya mau pecah karena suara cempreng kamu!"

Ia kemudian menunjuk-nunjuk ke sekeliling ruangan dengan jari telunjuknya "Dan lihat kekacauan ini! Kenapa rumah berantakan begini?! Kenapa remot TV tidak berada di garis tengah meja seperti peraturan?! Kenapa bantal sofa miring posisinya?! Kamu ini kerja apa saja sih seharian di rumah?!"

Vira melongo tak percaya. Ia menatap sekeliling ruangan yang sangat bersih, rapi, dan simetris itu. Remot TV ada di tempatnya, bantal sofa tersusun rapi. Lalu ia menatap suaminya yang sedang marah tak jelas itu.

"Rumah sudah aku bersihkan dan ku rapikan, remot juga ada di tempatnya. Aku juga ngomong biasa aja." jawab Vira pelan, nada bicaranya mulai terdengar tersinggung dan sakit hati.

"ALASAN TERUS!" Farzhan membentak lagi, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.

"Dasar perempuan! Kamu itu ya, ceroboh, tidak becus, kerja lambat, dan kalau ditanya atau ditegur malah suka membantah! Dasar!"

Farzhan terus mengomel panjang lebar, melontarkan kata-kata pedas dan keras, meluapkan semua kekesalan, tekanan, dan kemarahan dari kantor kepada Vira yang sama sekali tidak tahu apa-apa dan tidak ada salah. Vira hanya diam terpaku di tempatnya, menunduk dalam, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata. Ia tidak melawan, tidak membela diri, meski hatinya terasa perih sekali. Ia tahu Farzhan pasti lelah, tapi rasanya tidak adil menyalahkan hal yang tidak-tidak seperti ini.

Setelah puas mengomel selama lima menit penuh dengan nada tinggi dan wajah mengerikan, Farzhan tiba-tiba berhenti sendiri. Ia menarik napas panjang kasar, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Dan perlahan, kabut amarah di kepalanya menipis, kesadarannya perlahan kembali utuh.

Ia menatap ke depan. Melihat Vira yang berdiri mematung di sudut ruangan, tampak begitu kecil dan rapuh. Wajah gadis itu sedih, bibirnya manyun menahan tangis, dan matanya sudah merah siap menumpahkan air mata kapan saja. Ia melihat sekeliling ruangan lagi dengan mata jernihnya: semuanya rapi, bersih, tertata sempurna sesuai standar yang ia buat sendiri. Makanan hangat terhidang rapi, aroma wangi rumah menyapa hidungnya.

Astaga... apa yang barusan aku lakukan?

Farzhan menepuk jidatnya pelan. Ia marah-marah tak jelas, menumpahkan segala racun emosi pada orang yang paling tidak bersalah dan paling berhak ia lindungi.

Ia berdiri tegak, lalu berjalan perlahan mendekati Vira. Wajah dingin dan galaknya tadi seketika berubah drastis menjadi penuh penyesalan yang mendalam.

"Vira..." panggilnya lembut, suaranya berubah lunak dan rendah, sangat berbeda dengan nada bentakannya tadi.

"Maafkan aku."

Vira tidak menoleh, tetap membuang wajah ke arah jendela. "Hmm."

"Maafkan aku." kata Farzhan lagi, lalu dengan hati-hati sekali ia memegang kedua bahu istrinya, berusaha memutar tubuh itu menghadapnya.

"Tadi itu... aku sama sekali tidak bermaksud marah sama kamu, percayalah. Aku sedang stres berat sekali di kantor, proyek besar berantakan, tim aku banyak sekali kesalahan bodoh, aku sudah marahin mereka seharian penuh, dan pas pulang... aku tidak sadar kalau aku membawa emosi kotor itu sampai ke sini. Kamu tidak salah apa-apa. Rumah juga rapi dan bersih. Maafkan aku ya?"

Farzhan menatap Vira dengan tatapan memohon ampun yang sangat tulus. Ia merasa bersalah luar biasa sudah membentak istrinya yang baik hati itu tanpa alasan.

Vira akhirnya perlahan menoleh. Ia menatap wajah Farzhan lekat-lekat. Melihat rahang yang masih tegang sisa emosi, keringat dingin di pelipis, dan mata yang terlihat lelah, lelah sekali sampai ke tulang-tulangnya.

Untuk sesaat Vira diam, menimbang-nimbang. Farzhan semakin gugup menunggu jawaban, takut Vira akan marah besar atau menangis histeris.

Tapi kemudian...

Vira justru menghela napas panjang yang berat, lalu mengangkat sebelah alisnya dengan wajah santai dan datar yang sama sekali tak terduga.

"Oh..." kata Vira pelan. "Jadi begitu ceritanya."

Farzhan mengangguk cepat berkali-kali. "Iya Vira, benar begitu. Jadi tolong maafkan aku ya. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, tidak akan membawa masalah kantor ke rumah lagi."

Vira tersenyum miring, senyum yang sedikit menyindir tapi tidak jahat, lebih tepatnya senyum lega.

"Tidak apa-apa," jawab Vira enteng, lalu ia melepaskan diri dari pegangan tangan Farzhan.

Farzhan terkejut besar. Ia kira Vira akan rewel berhari-hari seperti biasanya.

"Ka-kamu tidak marah?"

"Tidak," kata Vira sambil berjalan santai melewati Farzhan menuju meja makan untuk mengambil gelas air minum. Lalu ia berhenti sebentar, menoleh lagi ke arah suaminya yang masih diam heran, dan berkata dengan nada datar dan serius yang bikin Farzhan tertegun.

"Tadi aku kira kamu kenapa-napa. Ternyata... kamu masih manusia, bukan setan."

......................................

Farzhan terpaku kaku di tempat. Mulutnya sedikit terbuka tak percaya.

Hah?! Manusia bukan setan?! Maksudnya apa itu?! Selama ini aku dianggap apa?!

Vira melanjutkan bicara lagi sambil menyesap air minumnya dengan tenang.

"Soalnya kan biasanya kamu kalau marah itu keren, dingin, diam, dan galaknya teratur, berwibawa. Tadi... galaknya kacau balau, teriak-teriak, emosi tidak jelas, menyalahkan hal yang tidak ada, begitulah. Baru kali ini aku lihat kamu marah karena stres dan capek gitu, sampai hilang kendali. Jadi sadar, kalau ternyata kamu punya hati, punya perasaan, punya rasa capek dan emosi juga. Bukan patung batu es, bukan robot, bukan setan yang dingin."

Farzhan menepuk jidatnya lagi, kali ini campur antara rasa malu yang luar biasa dan rasa geli yang aneh.

"Jangan samakan aku dengan setan." gerutunya pelan tapi sama sekali tak bisa marah. Justru di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sangat lega sekali. Ternyata Vira mengerti. Ternyata Vira melihat perbedaannya. Dan ucapan Vira itu justru menyadarkannya bahwa dia tidak sendirian.

"Sudah sana mandi cepat!" Vira mendorong pelan punggung suaminya menuju kamar.

"Badan kamu sudah bau keringat dan bau emosi! Makanan sudah siap, nanti duluan dingin. Ingat ya, di meja makan dan di rumah ini, kamu cuma suami aku, bukan Bos Besar yang punya kuasa."

Farzhan tersenyum lebar, senyum paling tulus dan damai yang muncul hari itu. Rasa berat di dadanya hilang seketika, terganti rasa hangat yang menenangkan.

"Iya, Nyonya. Siap laksanakan. Terima kasih, Vira."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Farzhan menyadari satu hal penting: di rumah ini, di dekat wanita ini, dia tidak perlu terus-menerus menjadi sosok dingin, tegas, dan kuat yang tak terkalahkan. Di sini, dia boleh menjadi manusia biasa yang punya kelemahan, yang boleh kesal, yang boleh salah, dan yang paling penting... dia punya tempat untuk pulang.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!