andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Semua orang di ruangan itu terperangah. Suasana yang semula tegang berubah menjadi beku, seolah napas kami ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Belum sempat siapa pun bereaksi, listrik tiba-tiba padam. Gelap menyelimuti ruangan, disusul layar ponsel yang mendadak memutih tanpa menampilkan apa pun.
Dalam hitungan sepuluh detak jantung, listrik kembali menyala. Televisi di sudut ruangan yang semula mati kini menyala dengan layar putih. Perlahan, sebuah angka muncul di tengah layar.1712100
Angka itu berdiri sendiri, dingin, tanpa penjelasan. Belum sempat kami mencerna maknanya, layar berganti menampilkan foto-foto korban yang sudah meninggal. Wajah-wajah yang sebelumnya hanya kami kenal lewat berkas kini muncul satu per satu, seolah dipamerkan. Dadaku terasa sesak.
Gambar terakhir membuat tengkukku meremang. Pak Darmawan.
Belum ada yang sempat bicara ketika listrik kembali padam. Kali ini lebih singkat. Dalam lima detak jantung, lampu menyala lagi, televisi kembali normal, dan ruangan seolah tidak pernah disentuh apa pun. Namun ketenangan itu hanya ilusi.
Dadaku berdegup kencang, keringat dingin mengalir di pelipis. Ini bukan sekadar teror biasa. Ini horor yang mengancam seluruh kota.
Aku melirik jam tangan. Pukul 15.30.
Tubuhku terasa lemas, seolah seluruh energi terkuras dalam sekejap. Pelaku tidak hanya mengincar para perundung, tetapi juga sistem itu sendiri. Ia menyerang simbol kekuasaan, menyerang orang-orang yang selama ini memilih menutup mata.
Siapa Pak Darmawan?
Pak Darmawan adalah sosok yang tiba-tiba menggantikan Pak Rinto. Pergantian itu sejak awal terasa tidak lazim. Dalam perkiraanku, Pak Darmawan bukan sekadar pengganti biasa, melainkan seseorang yang ditugaskan untuk mengamankan kasus Nirmala. Di bawah kepemimpinannya, kasus itu tenggelam tanpa jejak, seolah tidak pernah ada. Tidak ada lanjutan, tidak ada keadilan.
Kini semuanya terasa jelas. Pelaku teror tidak hanya mengincar mereka yang terlibat langsung dalam perundungan terhadap Nirmala, tetapi juga orang-orang yang berperan menutup kasus tersebut. Ini bukan aksi balas dendam semata, melainkan pesan keras terhadap sistem yang membiarkan ketidakadilan terjadi.
“Ini gawat,” seruku, memecah keheningan rapat.
Aku melihat satu per satu orang di ruangan itu menunduk menatap ponsel mereka. Refleks, aku pun meraih ponselku. Jagat media sosial dipenuhi pembahasan yang sama. Teror 172 menjadi topik utama di mana-mana. Komentar netizen tak terkendali, dipenuhi spekulasi liar yang tak berdasar. Banyak yang mulai meragukan sistem keamanan negara.
Sebagian bahkan menebak-nebak siapa korban berikutnya, lengkap dengan jam kematiannya. Ada pula yang menyarankan agar sekolah diliburkan dan pembelajaran dilakukan daring, karena rumah dianggap tempat paling aman. Ironisnya, mereka tidak tahu bahwa Pak Darmawan justru meninggal di kamar rumahnya sendiri.
“Pak, tidak ada alasan lagi untuk menutupi kasus perundungan terhadap Nirmala,” seruku dengan emosi yang tak lagi bisa kutahan. Suaraku menggema di ruang rapat.
“Pelaku tidak hanya mengincar pelaku perundungan secara langsung, tetapi juga orang-orang yang ikut menutupi kasus Nirmala,” lanjutku. “Ini sudah menyangkut nyawa banyak orang. Setiap kemungkinan, sekecil apa pun, harus kita tanggapi dengan serius.”
Aku menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada lebih keras. “Kalau kita terus menyembunyikan kebenaran, pelaku sebenarnya tidak akan pernah terungkap. Korban berikutnya pun tidak akan bisa kita deteksi. Jangan remehkan ini. Bisa saja target berikutnya orang dengan jabatan jauh lebih tinggi.”
Tidak ada satu pun yang menanggapi ucapanku. Ruangan hening, tetapi aku tidak peduli. Bagiku, diam mereka justru membuktikan ada sesuatu yang selama ini ditutup rapat.
“Kita harus mencari Romi,” ujar Pak Sunarji tiba-tiba.
Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Pak Nurdin.
Pak Sunarji menghela napas panjang sebelum menjawab. “Romi adalah sahabat saya. Dia pernah datang kepada saya, meminta bantuan untuk mengungkap kasus ini secara adil.” Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya. “Tapi waktu itu memang ada perintah dari orang besar untuk menutup kasus ini.”
Ia melanjutkan dengan suara berat. “Romi melapor ke Polres, diabaikan. Ke Polda, hasilnya sama. Bahkan sampai ke Mabes Polri pun tidak digubris. Dia juga mendatangi beberapa LSM dan pengacara, tetapi semuanya mentok.”
Pak Sunarji menunduk sejenak. “Akhirnya dia kecewa. Padahal Romi adalah polisi yang jenius dan jujur. Dia dan Pak Rinto adalah tokoh penting dalam menggagalkan penyelundupan narkoba dua ton. Kasus itu bahkan sempat membuat negara kita berseteru dengan negara tetangga.”
“Dan Romi sekarang terjun ke dunia hitam. Dia menjadi bos klub-klub malam,” ucap Pak Sunarji dengan suara berat.
Ruangan kembali sunyi.
“Jadi kemungkinan pelakunya Romi?” tanya Pak Cipto, nadanya ragu.
“Benar kata Pak Andi,” jawab Pak Sunarji sambil menatapku. “Semua kemungkinan harus kita pertimbangkan.”
Pak Nurdin bangkit dari kursinya. Gesturnya tegas, seolah keputusan besar baru saja diambil. “Yang harus kita lakukan sekarang adalah aksi cepat. Polsek ini kita tetapkan sebagai markas utama pengungkapan kasus ini.”
Ia menatap satu per satu wajah kami. “Pak Sunarji, Anda bertugas mencari keberadaan Romi. Pak Cipto, Anda melist seluruh anggota Polsek Pasar Rebo yang dimutasi dan diberhentikan akibat kasus Nirmala. Pak Andi, Anda mencari keberadaan Ibu Lusi. Koordinasi tetap di sini.”
“Siap,” jawab kami hampir bersamaan.
Situasi semakin genting. Tidak ada lagi ruang untuk ragu. Zaki mendekat dan menawarkan diri untuk ikut bersamaku. Aku mengangguk. Dalam kondisi seperti ini, aku justru merasa lebih tenang jika dia berada di sisiku.
Kami menuju ruang arsip Polsek Pasar Rebo. Ruangan itu sempit, penuh lemari besi tinggi yang dipenuhi map-map usang. Bau kertas lama dan debu langsung menusuk hidung.
“Apakah ada arsip laporan tahun 2019 atas nama Bu Lusi?” tanyaku sambil membuka salah satu lemari.
Zaki tidak langsung menjawab. Ia memanggil seorang anak PKL dan dua pegawai staf. “Tolong keluarkan semua arsip laporan tahun 2019. Fokus nama pelapor atau terlapor atas nama Lusi,” perintahnya.
Map-map diturunkan satu per satu. Kami duduk di lantai, membuka berkas, dan membalik halaman yang sudah menguning dimakan usia. Debu menempel di jari-jariku, membuat tanganku terasa kotor, sementara mataku perih karena harus menelusuri laporan demi laporan tanpa henti.
Menit demi menit berlalu. Namun nama Lusi tidak juga muncul.
“Kenapa tidak ada, Ki?” tanyaku pelan.
Zaki menghela napas. “Gue juga enggak tahu. Gue baru setahun di sini.”
Aku mengangguk. Benar juga. Ia baru bertugas di Polsek Pasar Rebo setahun terakhir. Seharusnya laporan itu dibuat pada Februari 2019, tetapi tidak ada satu pun arsip terkait pelaporan kasus Nirmala atas nama Lusi. Tidak ada laporan masuk, tidak ada catatan pengaduan.
Kasus itu benar-benar ditutup secara sistematis, seolah tidak pernah terjadi.
“Gila,” gerutuku. “Arsipnya saja enggak ada. Gimana kita bisa tahu alamat Bu Lusi?”
Zaki menatapku, lalu berkata, “Kenapa kamu enggak coba tanya ke SMP Nusantara Global? Pasti masih ada data siswa Nirmala di sana.”
Aku terdiam sejenak. Saran itu masuk akal. Sekolah pasti menyimpan data lengkap siswa dan orang tuanya.
Tanpa menunggu lama, aku meraih ponsel dan menghubungi Ibu Marlina. “Bu, apakah Ibu masih menyimpan data Nirmala?” tanyaku.
“Ada, Pak,” jawabnya singkat. “Sebentar, saya kirim.”
Sambungan terputus. Aku menghembuskan napas lega. Setidaknya kini aku memiliki titik awal. Dari data itu, aku bisa mulai melacak keberadaan Lusi dan membuka kembali kebenaran yang selama ini dikubur rapi