NovelToon NovelToon
Kembali 2.000 Tahun Ke Masa Lalu

Kembali 2.000 Tahun Ke Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Trauma masa lalu / Action / Time Travel / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Adam Erlangga

Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.

Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.

Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Sore hari pun tiba.

Rachel membukanya matanya, lalu ia sedikit termenung sejenak. Di luar, Rudy sedang menyalakan api unggun, menunggu Rachel bangun.

Kratak tak tak. Suara api unggu disana.

"Udara disini cukup dingin." kata Rachel yang tiba-tiba berjalan mendekati Rudy.

"Kau sudah bangun.?"

"Ya, tiba-tiba aku ketiduran." sahutnya sambil duduk di depan api unggun.

Rudy pun melihat Rachel yang memeluk tubuhnya sendiri. "Pakailah mantel itu."

"Ah, terimakasih." sahut Rachel sambil mengenakan mantel.

"Jadi, apa kau sudah memikirkannya.?" tanya Rudy

"Rudyyyyy, jangan paksa aku."

"Kalau bukan kau yang melakukannya, siapa lagi.?"

"Masih ada para pejabat. Bahkan penghianat Brian juga ada di sana. Untuk apa khawatir, biarkan dia yang menyelesaikan nya."

Tak. Rudy pun mematahkan kayu yang ada di tangannya.

"Rachel, kau akan di incar banyak orang, meskipun kau memiliki Axiom sebagai pelindungmu, apa kau rela melepaskan semuanya.?"

"Aku tidak peduli, aku hanya ingin mengikuti mu saja."

"Kalau kau mengikutiku, bagaimana kalau aku pergi darimu.? kau akan tinggal sendirian."

"Apa kau bercanda.? apa kau akan meninggalkan ku sendirian.?"

"Aku tidak bercanda, tujuanku hanya satu, mencegah tragedi pemusnahan masal di masa depan. Kalau kau tidak bertindak, perang akan terjadi, dan itu akan menciptakan dendam masa depan."

"Tapi Rudy...

"Aku tidak sedang bernegosiasi denganmu. Mungkin sekarang kau nyaman berada disini, tapi aku bisa pergi kapan saja. Ingat Rachel, kita tidak bisa hidup sendiri sebagai manusia sosial, kita masih membutuhkan orang lain. Keputusanmu sekarang menentukan arah peradapan masa depan."

Rachel benar-benar terkejut, bahkan matanya mulai memerah.

"Apa kau mengusir ku.? apa kau tidak paham, kenapa aku lebih nyaman disini.?."

Rudy langsung terdiam seketika.

"Kau tidak tau kan.? penderitaan apa yang sudah aku alami selama ini, dan bagaimana perasaanku yang sekarang.?"

Rudy masih terdiam tak membalas perkataannya.

"Ayo jawab. Jawab aku."

"Aku tau, kau hanya memikirkan orang lain saja. Kau tidak pernah memikirkanku kan Rudy.? Kau terus memaksaku masuk kedalam neraka, tanpa mempertimbangkan perasaanku. Kalau kau bisa melakukannya sendiri, kenapa tidak kau saja.? kenapa harus memaksaku."

Air mata Rachel mulai menetes. itu membuat Rudy semakin cemas. "Rachel."

"Aku menyuruhmu untuk membunuhku kemarin, kenapa kau tidak melakukannya, hiks, aku sudah bilang, aku lelah, aku sudah sangat lelah Rudy, hiks. jangan paksa aku. Aku mohon."

Rachel menangis disana. Ia memeluk dirinya sendiri. Itu membuat Rudy merasa bersalah.

"Huh, aku terlalu egois. Demi ambisi masa depan yang belum jelas terlihat, aku menghancurkan mental seorang perempuan."

Rudy pun berdiri, lalu menghampiri Rachel.

"Rachel." sahutnya sambil memegang pundaknya.

"Hiks, jangan sentuh aku"

"Aku minta maaf."

Tiba-tiba Rachel melihat Rudy, dengan perasaan kecewa dan air mata mengalir. Mentalnya terguncang, trauma masa lalu terlintas di kepalanya.

Ia mengangkat tangannya, lalu menunjukkan cincin di jarinya.

"oke, aku mengerti. Aku mengerti Rudy. Kalau begitu, lepaskan cincin ini. Aku akan pergi dari sini."

"Jangan Rachel."

"Kenapa.? biarkan aku mati di tangan orang-orang itu, aku tidak ingin kau melindungi ku lagi. Lepaskan saja cincin ini."

"Rachel."

"Kenapa kau peduli padaku, apa kau merasa kasihan.? apa karena aku sudah gila.? apa aku tidak pantas untuk kau bunuh.?"

Rachel menarik cincin itu dengan paksa. "Uuuuh" darah keluar dari jarinya.

"Rachel, jangan Rachel."

Rudy pun langsung memegang kedua tangannya.

"Lepaskan aku Rudy, hiks, lepaskan aku, hiks"

Rudy memeluknya dari belakang sambil menahan tangan Rachel. "Tidak, aku tidak akan melepaskanmu"

"Hiks, Kau sudah tau kalau aku gila. Sedikit saja kau memancing emosiku, akan jadi seperti ini." kata Rachel sambil menangis.

"Maafkan aku."

"Hiks hiks."

Rudy masih memeluknya, mencoba untuk memenangkan nya.

....

Sampai beberapa jam kemudian, Rachel mulai lelah dengan tangisannya.

"Maafkan aku Rachel." kata Rudy. Tapi Rachel tidak menjawabnya, ia merenung tanpa mengedipkan matanya. Seakan-akan pandangannya kosong.

"Aku hanya ingin bebas, aku hanya ingin melupakan masa lalu. Tapi kau terus memaksaku untuk masuk kedalamnya." kata Rachel

"Tidak, aku tidak akan memaksamu lagi. Apapun jalan yang kau pilih, aku akan mendukung mu."

Rachel tidak menjawabnya. Suasana tiba-tiba sunyi, hanya terdengar kobaran api unggu di sana.

Lalu,

"Aku sudah lelah, aku ingin istirahat, lepaskan aku." kata Rachel.

"Kalau begitu, biarkan aku ikut."

Rachel pun terkejut, lalu ia melihat wajah Rudy.

"Apa kau akan tidur di bersamaku.? jangan bercanda, aku tidak apa-apa. Kau tenang saja,"

Tapi Rudy masih tidak melepaskan pelukannya.

"Hm, aku sudah tenang Rudy, aku tidak akan bunuh diri. lepaskan aku, aku ingin istirahat."

"Oke, tapi kali ini kau tidak boleh tidur di tenda. ikut aku kedalam kapal."

"Hm.?"

"Untuk jaga-jaga, aku juga harus memeriksa kesehatan mu."

"Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Ini permintaan ku, ikut aku kedalam kapal, oke.?"

"Hm, kau memaksaku lagi kan? apa memang ini sudah watakmu, Apapun keputusanmu harus di turuti. Baiklah, kali ini aku turuti."

Rudy pun melepas genggaman tanganya, tapi ia malah memeluk perut Rachel dari belakang. Ia memejamkan matanya, dan Rachel membiarkannya.

"Ada apa.? kali ini kau bersifat manja padaku." kata Rachel sambil memegang tangan Rudy.

"Entahlah, aku merasa nyaman seperti ini."

"Kalau begitu, lakukan saja sesukamu." sahut Rachel.

"Bagaimana dengan jarimu? apa terasa sakit.?"

"Tadinya tidak terasa apa-apa, sekarang aku sudah tenang, jadi terasa sedikit nyeri."

"Baiklah, kita masuk kedalam sekarang." sahut Rudy sambil melepaskan pelukannya.

Tiba-tiba Glep. Rachel menahannya.

"Kau bilang kau sangat nyaman seperti ini kan? lakukan lebih lama lagi, aku juga merasa sangat nyaman."

Rudy pun duduk di samping Rachel, lalu ia memeluknya dan menjadi sandaran nya.

"Apa terasa dingin.?" tanya Rudy

"Ya, sepertinya kau harus memelukku dengan erat."

Rudy pun tersenyum sambil memeluk Rachel dengan erat.

"Kau sudah tau kan, kenapa aku merasa nyaman disini.?" ucap Rachel.

"Karena ada aku.?"

Rachel tersenyum. "Ya, karena kau sudah mengambil hatiku."

Rudy yang mendengarnya langsung membeku seketika. Rachel pun menoleh keatas melihat wajah Rudy.

"Ada apa.?"

Tak pikir panjang, Rudy pun langsung mencium bibirnya. Cum. itu membuat Rachel sangat terkejut. Bahkan ia tidak bisa bergerak sama sekali.

"Hah."

"Sepertinya aku menyukai mu." kata Rudy dengan tulus.

Rachel pun langsung menciumnya. Kali ini mereka berdua beradu ciuman disana.

....

Sampai beberapa saat kemudian, Rachel berbaring di atas kapsul penyelamatan, iya memegang tangan Rudy dengan erat.

"Tidak apa-apa, aku akan menunggu disini. Setelah kau bangun, badanmu mu akan lebih rileks."

Rachel tersenyum. "Tidak kusangka, tempat tinggal mu aneh sekali, sangat terang dan bersih."

"Ini hanya sebuah kapal modern. Besok aku akan membawamu kerumah baru kita."

"Janji.?"

"Tentu saja, sekarang waktunya istirahat."

Cum. Rudy mencium bibir Rachel.

SUING. suara pintu kapsul tertutup. Sebuah suntikan di berikan kepada Rachel, dan ia langsung tak sadarkan diri.

Mesin mulai bekerja mendiagnosis penyakit, dan menyembuhkan semua penyakitnya. Rachel di bius sampai tubuhnya benar-benar sudah stabil dan bangun dengan sendirinya.

....

1
anggita
antara 220 sama 2220...gak jauh selisih 2 tok😉
anggita
mampir like👍, iklan👆saja. moga novelnya lancar.
Adam Erlangga: 🙏terimakasih dukungan nya kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!