NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari wajah Liana yang tampak masih sangat pucat.

Perlahan, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang ia rasakan adalah tangannya yang terasa kaku karena menggenggam sesuatu dengan sangat erat.

Liana tersentak saat menyadari bahwa sejak semalam ia tidak melepaskan ujung baju Abi.

Ia melihat suaminya itu tertidur dalam posisi duduk yang sangat tidak nyaman di lantai, kepalanya bersandar di pinggiran ranjang tepat di samping tangannya.

Ada rasa hangat yang aneh sekaligus perih yang menjalar di hati Liana. Ia segera melepaskan genggamannya dengan gerakan pelan, takut membangunkan pria yang telah melukainya namun tetap menjaganya itu.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka pelan. Mama Prameswari masuk dengan senyum lembut, membawa sebuah tas kain yang mengeluarkan aroma gurih yang sangat khas.

"Selamat pagi, Sayang. Lihat, Mama bawa apa?" ucap Mama pelan agar tidak mengejutkan Liana.

Liana mencoba duduk dibantu oleh sandaran ranjang yang otomatis.

"Mama, Panada-nya?"

"Tentu saja. Masih hangat, baru saja Mama angkat dari penggorengan," jawab Mama sambil meletakkan wadah di atas meja. Mama melirik ke arah Abi yang masih terlelap.

"Dia menjagamu semalaman?"

Liana hanya mengangguk samar, matanya kembali menatap kosong ke arah tangannya yang tadi menggenggam baju Abi.

Mama Prameswari menghela napas, lalu mengeluarkan sepotong panada dan menyodorkannya pada Liana.

"Ayo, makan selagi hangat. Kamu butuh tenaga untuk pindah ke rumah baru nanti sore."

Liana menerima kue itu. Aroma ikan cakalang pedas dan roti yang empuk sedikit membangkitkan seleranya.

Di sisi lain, Abi mulai bergerak, perlahan membuka matanya dan terkejut melihat Liana sudah terbangun dan ada Mama Prameswari di sana.

"Mama sudah datang?" suara Abi serak khas orang bangun tidur.

Ia segera berdiri, mencoba merapikan kemejanya yang kusut bekas genggaman Liana semalam.

"Makanlah, Abi. Liana sudah mau makan panadanya. Setelah ini, urus administrasinya agar Liana bisa segera beristirahat di tempat yang lebih tenang," ujar Mama Prameswari tanpa menoleh, fokus menyuapi putrinya.

Liana memakan panada itu dengan lahap, seolah rasa gurih dan pedas dari kue buatan ibunya itu mampu mengisi kekosongan yang selama ini ia rasakan.

Melihat putrinya memiliki selera makan lagi, binar di mata Mama Prameswari kembali muncul, begitu juga dengan Abi yang merasa seolah satu beban berat telah terangkat dari pundaknya.

"Pelan-pelan, Sayang. Masih banyak," ucap Mama sambil mengusap sudut bibir Liana yang terkena remah roti.

Setelah Liana selesai makan dan tampak lebih tenang, mereka mulai membicarakan persiapan untuk pindah ke rumah baru sore nanti. Namun, saat Liana sedang berbincang pelan dengan Angela yang baru saja menyusul datang, Mama Prameswari menarik Abi ke sudut ruangan, menjauh dari jangkauan pendengaran Liana.

Wajah Mama kembali serius, ada gurat kecemasan yang mendalam di sana.

"Abi, jujur saja. Mama masih takut. Mama tidak tega melihat Liana hancur lagi. Bagaimana kalau kamu berubah pikiran? Bagaimana kalau kamu membiarkan wanita itu masuk lagi ke hidup kalian seperti dulu?"

Suara Mama bergetar, membayangkan penderitaan putrinya yang hampir merenggut nyawa itu terulang kembali.

Abi menatap Mama Prameswari dengan tatapan paling jujur yang pernah ia miliki. Ia menggenggam tangan ibu mertuanya itu dengan sopan namun mantap.

"Ma, Abi sadar Abi sudah melakukan kesalahan fatal yang hampir membuat Abi kehilangan segalanya. Abi sudah melihat Liana dalam kondisi paling hancur di ruang ICU kemarin, dan itu adalah hukuman paling berat bagi Abi," ucap Abi dengan suara rendah namun tegas.

"Abi bersumpah, Ma. Rumah baru itu tidak akan pernah diketahui oleh Genata. Abi sudah memutus semua akses dengannya. Di sana hanya akan ada Abi yang melayani Liana, menjaga jarak sesuai permintaannya, dan memastikan dia merasa aman. Kalau perlu, Abi akan melepaskan pekerjaan Abi jika itu memang mengganggu ketenangan Liana. Tolong, beri Abi satu kesempatan untuk membuktikannya, Ma."

Mama Prameswari menatap mata Abi cukup lama, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang bulat.

"Pegang janjimu, Abi. Karena jika kamu meleset sedikit saja, tidak akan ada kesempatan ketiga," bisik Mama akhirnya sambil mengangguk pelan.

Abi mengangguk mantap. Ia kemudian kembali ke sisi ranjang Liana, mulai mengemasi barang-barang istrinya dengan telaten, bersiap untuk membawa Liana memulai lembaran baru di rumah yang ia janjikan sebagai istana perlindungan bagi istrinya.

Pintu kamar kembali terbuka, kali ini Dokter Spesialis dan seorang perawat masuk untuk melakukan pemeriksaan terakhir sebelum Liana diizinkan pulang.

Suasana terasa jauh lebih lega dibandingkan hari-hari sebelumnya.

"Kondisi fisik Anda sudah jauh lebih stabil, Nyonya Liana. Detak jantung janin juga sudah kuat," ujar Dokter sambil tersenyum ramah. Ia kemudian memberi isyarat kepada perawat.

Perawat tersebut dengan cekatan mulai melepaskan plester yang menempel di punggung tangan Liana.

Dengan perlahan, selang infus yang selama beberapa hari ini menjadi penyambung hidup Liana akhirnya ditarik keluar.

Liana sedikit meringis, namun ada perasaan lega yang luar biasa saat ia tidak lagi merasa terikat pada tiang besi itu.

"Nah, sekarang Anda sudah bebas dari selang ini," kata Dokter sambil merapikan peralatannya.

"Tapi ingat, di rumah nanti, jangan lupa obat dan vitaminnya diminum secara teratur. Ini sangat penting untuk memulihkan tenaga Anda dan menjaga perkembangan bayi Anda agar tetap sehat."

Liana hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia menatap bekas jarum di tangannya yang kini ditutup kapas kecil.

Meskipun wajahnya masih menyimpan kesedihan yang mendalam, ketaatannya kali ini menunjukkan bahwa ia mulai menerima kenyataan bahwa ada nyawa lain yang harus ia jaga.

Abi, yang berdiri di samping ranjang, segera mengambil tas kecil berisi deretan obat dan vitamin yang baru saja diberikan perawat.

"Terima kasih, Dok. Saya akan pastikan Liana meminum semuanya tepat waktu."

"Baiklah, jika semua administrasi sudah selesai, Nyonya Liana sudah bisa pulang sore ini," tutup Dokter sebelum melangkah keluar kamar.

Kini, hanya tinggal hitungan jam sebelum mereka meninggalkan rumah sakit ini menuju rumah baru yang dijanjikan Abi—sebuah tempat yang diharapkan akan menjadi awal dari proses penyembuhan luka yang begitu hebat.

Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah bergaya kontemporer yang asri.

Pagar kayu yang tinggi memberikan privasi penuh, sementara pepohonan hijau di halaman depan memberikan kesejukan yang seketika menenangkan saraf yang tegang.

Abi membantu Liana turun dengan sangat hati-hati, sementara Mama Prameswari dan Angela mengikuti dari belakang.

Begitu pintu utama dibuka, aroma pengharum ruangan beraroma mawar—bunga favorit Liana—menyambut mereka.

Abi membimbing Liana menuju sebuah kamar di lantai bawah.

"Ini kamarmu, Li," bisik Abi pelan.

Saat pintu kamar dibuka, Liana terpaku di ambang pintu. Matanya membelalak, menyisir setiap sudut ruangan itu. Kamar itu memiliki jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang dengan pancuran air kecil.

Cat dindingnya berwarna peach lembut, dengan ranjang kayu putih yang dihiasi kelambu tipis dan rak buku penuh dengan novel-novel kesukaannya.

Liana teringat sesuatu. Ingatan itu membawa jiwanya kembali ke masa ketika ia masih berusia sepuluh tahun.

Saat itu, ia duduk di teras rumah Mama, mencoret-coret sebuah buku gambar dengan krayon, lalu berlari menunjukkan coretan itu kepada Abi.

"Paman Abi, lihat! Nanti kalau Liana sudah besar, Liana mau punya kamar seperti ini. Ada jendela besar biar bisa lihat pohon, ada kelambunya, dan catnya warna ini!"

Liana menoleh ke arah Abi dengan mata yang berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat ia bertanya,

"Mas? Kamu masih mengingatnya?"

Abi menganggukkan kepalanya dengan tulus. Matanya juga tampak basah.

"Mas tidak pernah melupakan coretan itu, Li. Mas menyimpannya di memori Mas. Mas ingin rumah ini benar-benar menjadi tempat di mana kamu merasa impian kecilmu kembali hidup, bukan tempat yang penuh dengan ketakutan."

Liana terdiam, ia menyentuh permukaan meja kayu yang halus.

Ternyata, di tengah semua pengkhianatan dan rasa sakit yang Abi berikan, pria itu masih menyimpan bagian dari masa kecil Liana yang paling tulus di hatinya.

"Terima kasih," bisik Liana sangat pelan. Ia melangkah masuk ke dalam kamar itu, seolah masuk ke dalam dunianya sendiri yang selama ini hilang.

Abi tetap berdiri di ambang pintu, tidak berani melangkah masuk karena ia tahu batasan yang sudah mereka sepakati.

Ia hanya melihat Liana dari jauh, merasa sedikit tenang karena setidaknya malam ini, istrinya tidak akan terbangun melihat dinding rumah sakit yang dingin.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!