Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Dosa Besar.
Cerita tiga yang lalu ...
Sehari setelah kecelakaan. Di sebuah apartemen mewah, di pusat kota. Dua insan tanpa ikatan resmi saling berpagutan. Bertukar saliva. Nafas menderu, berlomba menuju Nirwana.
"Yeahhh, babyyyy! Pompa terusss! Sebentar lagi sampai!"
"Aahhhh!!!
"Eeuurrgghhhh!"
Keduanya terlentang di atas ranjang, bersimbah peluh setelah bergulat berjam-jam lamanya. Mereguk manisnya surga duniawi.
Tak perduli, seseorang sekarat di dasar jurang dan yang lainnya sibuk mencari keberadaan seorang gadis yang masih menyandang nama Orion-Ambrosia seperti dirinya. Seorang nenek masih berbaring koma di ranjang rumah sakit dengan banyak selang guna menopang kehidupannya.
"Babyyy! Kamu lah terbaik. Memang selalu bisa memuaskan aku sejak pertama kali kita bersama!" ucap si lelaki bernama Calvin Orion dengan nafas memburu.
"Uhhhh, percuma juga kalau tidak segera diresmikan. Omongan doang!" rajuk si wanita bernama Helga Oriza dengan bibir terkatup cemberut sambil mengatur nafas.
Wanita itu segera duduk di ranjang, hanya kain putih tipis yang menyelimuti tubuh polosnya yang masih berpeluh, berpaling sambil merajuk. Dingin yang berhembus dari Air Condition berangka 16 derajat pun tak mampu menghilangkan panas dari sisa percintaan keduanya.
"Ayolah, beb. Jangan cemberut, begitu. Kita kan, habis bersenang-senang bersama. Masa aku saja yang bahagia, kamu cemberut. Barusan kan kita sudah mencapai puncak Nirwana, sekarang terjerembab lagi ke dasar bumi!" rengut Calvin pura-pura merajuk juga.
Helga berpaling pada si pria yang sedang merayunya. Kekesalan masih tercetak jelas di wajahnya yang ayu.
"Cihhh, bagaimana aku tidak kesal!?" dengusnya tak bisa ditutupi.
"Aku tuh yah, sudah bosan dengan rayuan gombalmu. Kapan aku diresmikan!? Janji-janji melulu!" ucapnya kesal.
"Aku tuh yah, sudah eneg minum obat kontrasepsi!" ucap Helga masih cemberut.
"Sabar sayang!"
"Kita baru setahun kurang, menjalin hubungan. Tak enak dengan Om Reynand. Lukanya kan baru pulih. Apa kata keluarga besar!? Apa kata dunia!?" dalihnya merayu wanitanya.
Tangan Calvin mencoba meraih dagu wanitanya, mencoba memagut kembali bibir merah yang tadi direguknya namun Helga menepis halus tangannya.
Pria itu dibuat kaget. Tapi bukan Calvin Orion, kalau tidak bisa menaklukan wanita dengan rayuan mautnya. Makanya Wanita itu takluk padanya.
"Apa kamu memang tak sabar ingin masuk ke keluargaku dan bertemu dengan om aku!? Merajut kembali kisah lama yang tak pernah usai, hem!?" goda Calvin berhasil menjawil dagu belah dua sang kekasih.
"Ihhh, kamu apa apaan, sih!?"
"Aku tuh yah, jijik sama dia! Pria cacat permanen! Bagaimana bisa memuaskan aku di atas ranjang!?" gerutu Helga mendengar mantan tunangannya yang cacat permanen disandingkan dengannya.
Calvin tak sakit hati, kekasihnya mengejek paman kandungnya dan membiarkan wanita itu nyerocos menghina adik kandung ibunya. Toh, pria itu bukan saingannya lagi sekarang.
"Memuaskan seperti aku, maksudnya!?" goda Calvin sambil mengerling.
"Heiii! Dia ganteng, kaya raya, pewaris Ambrosia yang sebenarnya, loh!?" sindir Calvin menggoda kekasihnya.
"Iya! Kaya, ganteng tapi lumpuh! Alias tidak bisa memuaskan aku di atas ranjang. Aku bakalan mati kekeringan, ibarat tanaman tak disiram air, kalau jadi sama dia!" protesnya.
"Puasss kamu mengolokku!" sinis Helga sambil bangkit dari ranjang dengan keadaan polos tanpa sehelai kain menempel di tubuh sintalnya menuju toilet.
"Heiii baby. Jangan ngambek gitu dong, nanti bahenolnya hilang!" bujuknya sambil mengejar kekasihnya yang masih mode ngambek.
Calvin memeluk erat pujaan hati yang sedang merajuk, dari belakang, sesaat sebelum sampai di pintu toilet dengan semua kata rayuan yang dia miliki.
"Aku akan merayu opa dan oma supaya kita bisa bersatu dalam ikatan resmi, secepatnya!" bisik Calvin di telinga kekasihnya sehingga menyurutkan langkahnya menuju toilet.
Tubuh Helga direngkuh erat dari belakang dan dagunya disandarkan di bahunya.
"Kalau tak tembus restu dari opa-omamu!?" tanya Helga penasaran.
Helga paham betul bagaimana eratnya kekerabatan keluarga Ambrosia satu sama lain karena keluarga kekasihnya tinggal di satu atap padahal mereka memiliki rumah pribadi walaupun tak semegah dan semewah mansion Ambrosia dan Orion.
Cukup juga untuk hunian kelas ekonomi strata atas sekelas Damian Orion. Dan perkataan ratu Ambrosia sangat dipatuhi keturunannya. Itu yang dikhawatirkan olehnya. Belum kebencian oma opanya sang kekasih atas kehadirannya.
"Aku ini laki-laki. Tak perlu restu saat menyunting anak orang. Cukup restu dari kedua orangtuaku. Kalaupun orangtua tak setuju, aku masih bisa menyeretmu ke KUA. Cukup restu orangtuamu."
"Kita akan lamaran terlebih dahulu kemudian secepatnya menikah di hotel milik keluarga pihak papa. Yah, setidaknya mengurangi kemarahan oma-opa yang dialamatkan padamu!" jawab panjang Calvin menenangkan sang kekasih dan merengkuhnya erat.
"Kita main cantik!" rayu Calvin.
Helga pun tak keterusan cemberut mendengar ide pujaan hatinya yang logis dan menyenangkan di hati. Senyum kebahagiaan tersungging lebar di bibirnya dan wajahnya kembali sumringah. Berita ini yang sangat dia tunggu semenjak menjalin kasih dengan keturunan Ambrosia.
Tak ada Reynand Armano Ambrosia maka terbitlah Calvin Orion aka keturunan Ambrosia!
"Kita perlu sedikit lagi bersabar supaya meyakinkan mereka bahwa kita saling mencintai dan tidak bisa dipisahkan. Lagipula, aku kan baru kehilangan isteri 'tercinta'. Belum juga dikubur, masak langsung tancap gas, kawin!" sarkas Calvin sambil cengengesan.
"Iya, mau sampai kapan 'berkabung'!? Aku enggak mau yah, disebut pelakor. Dialah yang sebenarnya perebut laki orang!" ucap Helga dengan sewot.
Yap! Kedua teman masa kecil itu resmi berpacaran setelah dekat selama setahun saat keduanya di Amerika (Calvin baru lulus kuliah dan Helga menyembunyikan diri) setelah memutuskan pertunangan dengan paman kekasihnya yang tertimpa musibah.
Tidak etis, kan. Bila langsung muncul di tengah keluarga yang sedang dirundung kemalangan. Walau bagaimanapun keduanya salah tapi tetap memiliki hati.
"Adududuhhh kesayangan maseee. Sangat pengertian!"
"Pokoke sabar dulu yah. Kan kematian 'isteri tercinta' belum diumumkan, begitu terjadi, kita langsung nikah, bagaimana!?" rayu Calvin sambil menangkup aset berharga milik sang kekasih dan wanita itu pun terbit kembali hasratnya yang padam.
"Baiklah! Jangan pake lama!" delik Helga sambil tetap tak bergeming dari berdirinya.
"Siap, sayangku. Nah gitu dong tersenyum manis sama calon suaminya!" ucap Calvin sambil membalikan tubuh kekasihnya agar menghadapnya dan keduanya saling memagut.
"Main lagi yukkkss! Dedek gemes di bawah, meronta-ronta ingin masuk lagi ke rumahnya, rayu Calvin sambil menyesap bibir tipis yang menjadi candunya dan berusaha menggiringnya kembali ke peraduan.
"Ogah ahhh! Udah enggak mood! Gerah badan aku!" jawab Helga jual mahal sambil berusaha menjauhkan diri namun Calvin mengeratkan belitan tangan di tubuhnya.
"Ohhh ayolah! Enggak lihat apa, dedek gemesku udah bangun lagi, pengen mamam 'kue apemmu!" gombal Calvin vulgar sambil berusaha menyeretnya yang masih diam terpaku.
"Ihhh, mesummm!" ucap Helga malu-malu sambil melempar bantal ke arah Calvin begitu berhasil digiring ke arah peraduan.
Maka terjadilah kesekian kali pergulatan tanpa ikatan sah di hadapan Tuhan dan Negara dan dosa besar pun terulang kembali.
----------------
Sementara itu, di salah satu kamar, lantai satu, mansion Ambrosia, pada pukul 13:00 WIB, tampak ketegangan di antara suami isteri. Keduanya sudah berpakaian rapi, bersiap pergi ke rumah sakit. Keduanya telah mengetahui bahwa adik bungsu mereka sudah pergi ke lokasi kecelakaan dari salah satu saudarinya yang turut menjaga ibunya dan pulang jam 12:45 WIB.
"Mam! Sudah dong, jangan mondar-mandir begitu kayak setrikaan, papa pusing jadinya!" seru Damian pada sang isteri.
Ellena tampak gusar dan menggigit kukunya. Tubuhnya mondar-mandir di kamarnya. Sedangkan Damian duduk di kursi kerjanya yang berada di dalam kamar.
"Gimana aku tidak galau, anak itu sudah gercep ke TKP saat kita sedang istirahat. Suruhan kita pun terlambat mengisolir lokasi. Papa tahu sendiri kemampuan anak itu!" ucap Ellena yang tidak bisa menutupi kegusaran di hadapan suaminya padahal sudah mendengar penjelasan.
"Tenang, mam! Papa sudah susun skenario serapih dan selengkap mungkin. Kita juga sudah membersihkan jejak di lokasi. Kecil kemungkinan dia mengetahui sesuatu yang ganjil!" ucap sang suami menenangkan dirinya.
"Ihhh, papa nih! Meremehkan kemampuan dia!"
"Kalau dia sampai tidak bisa menemukan keganjilan, berarti dia tidak bisa menjadi CEO saat ini dan membawa Ambrosia grup ke arah kemajuan seperti sekarang melampaui pencapaian daddy dan mommy!" terang Ellena masih dalam mode gusar.
"Walaupun dia duduk di kursi roda, otaknya tidak lumpuh!"