NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Mata Penilai

Malam menutup sudut kota fana itu seperti kain hitam yang dibentangkan perlahan. Angin dingin menyusup melalui celah papan gubuk reyot, membawa bau kayu lapuk dan tanah basah. Sebuah lampu minyak kecil menggantung rendah, apinya bergetar, memantulkan bayangan panjang di dinding.

Xu Tian berdiri dekat pintu, punggungnya lurus, napasnya tenang. Di hadapannya, Chen Yu duduk bersila di lantai tanah, bahu sedikit menunduk. Bekas luka lama di lengan pemuda itu samar terlihat di bawah cahaya redup, seperti sisa-sisa masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.

Saat keheningan mencapai titik paling tipis, sesuatu berubah.

Di hadapan penglihatan Xu Tian, panel yang selama ini ia kenal bergetar halus. Garis-garis cahaya bergeser, susunan simbol yang biasanya statis kini seolah diseret oleh arus tak terlihat. Nada dingin yang familiar muncul tanpa suara.

Fitur baru terbuka.

Tulisan itu tidak meledak atau memancar berlebihan. Ia hadir dengan tenang, rapi, seperti pintu yang sejak awal memang ada, hanya menunggu saat tepat untuk dibuka.

[Mata Penilai — Aktif]

Xu Tian tidak bergerak. Matanya sedikit menyempit, bukan karena panik, melainkan kewaspadaan yang terasah oleh pengalaman pahit. Ia telah belajar satu hal sejak sistem itu muncul: setiap perubahan selalu datang dengan harga.

Tatapannya beralih ke Chen Yu.

Pemuda itu mengangkat kepala, seolah merasakan sesuatu menekan udara di sekelilingnya. Alisnya berkerut tipis. Jari-jarinya menekan tanah, kukunya kotor oleh debu.

“Ada… apa?” suara Chen Yu rendah, hampir tertelan malam.

Xu Tian tidak langsung menjawab. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Papan lantai berderit pelan di bawah sepatunya. Ia mengangkat tangannya sedikit, bukan untuk menyentuh, melainkan untuk menenangkan.

“Diam,” katanya singkat.

Chen Yu menelan ludah dan menurut. Bahunya menegang. Ia pernah duduk seperti ini sebelumnya—di aula batu, di bawah tatapan dingin para tetua, saat hidupnya diputuskan oleh beberapa kata pendek.

Di hadapan Xu Tian, panel bereaksi.

Sebuah simbol muncul perlahan. Bentuknya menyerupai mata, sederhana namun tajam, dengan lingkar cahaya tipis yang berdenyut pelan. Cahaya itu tidak menerangi ruangan. Ia hanya ada dalam penglihatan Xu Tian, fokus, terarah.

Xu Tian mengarahkan perhatiannya sepenuhnya.

Udara di gubuk terasa lebih berat. Api lampu minyak mengecil sesaat, lalu stabil kembali. Debu halus di lantai bergetar, seperti tersentuh napas besar yang ditahan.

Panel mulai bergerak.

Baris demi baris indikator muncul, lalu berhenti, lalu berubah lagi. Beberapa simbol dikenal Xu Tian dari pengalamannya di sekte lama. Namun lebih banyak yang terasa asing—susunan yang tidak mengikuti pola yang pernah ia pelajari.

Prosesnya lambat.

Tidak ada hasil instan.

Xu Tian menunggu tanpa berkedip.

Chen Yu mulai gelisah. Keringat tipis muncul di pelipisnya meski udara dingin. Ia tidak melihat apa pun, tetapi perasaan tertekan itu nyata, seperti berada di bawah langit yang tiba-tiba merendah.

“Xu… senior,” ucapnya ragu, suaranya serak. “Kalau memang… aku tidak cocok… katakan saja.”

Xu Tian menoleh sedikit. Tatapannya tajam, menembus keraguan di wajah pemuda itu.

“Aku belum berkata apa pun.”

Chen Yu terdiam. Rahangnya mengencang. Ia menunduk lagi, seolah menunggu palu jatuh.

Panel bergetar sekali lagi.

Beberapa indikator meredup, digantikan oleh baris analisis baru. Ada jeda singkat, seakan sistem itu sendiri sedang menyusun ulang cara pandangnya.

Xu Tian merasakan denyut halus di pelipisnya. Bukan sakit, lebih seperti tekanan ringan—tanda bahwa sistem bekerja lebih dalam dari sebelumnya.

Ia teringat aula sekte tempat ia dulu berdiri.

Tatapan menghakimi. Batu uji yang dingin. Kata-kata pendek yang memutus masa depan. Tidak ada ruang untuk perbedaan. Tidak ada waktu untuk memahami.

Di sini, prosesnya berbeda.

Chen Yu menggerakkan lututnya sedikit, tanpa sadar. Tanah bergeser. Nafasnya menjadi lebih cepat.

“Aku sudah biasa,” katanya pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri. “Diuji… lalu ditolak.”

Xu Tian tidak menyangkal. Ia tetap menatap panel.

Simbol mata itu berdenyut lebih jelas. Lingkar cahayanya berputar lambat, seolah mengikuti sesuatu yang tidak kasatmata. Beberapa parameter berhenti, lalu muncul tanda peringatan kecil—bukan merah, bukan mencolok, hanya penanda bahwa jalur yang biasa tidak berlaku.

Xu Tian mengangkat alisnya tipis.

“Menarik,” gumamnya.

Chen Yu mendengar gumaman itu. Tubuhnya menegang. Ia menatap Xu Tian, matanya penuh campuran takut dan harap.

“Apa… maksudmu?”

Xu Tian menurunkan tangannya. Ia berjalan memutar sedikit, mengambil posisi di sisi Chen Yu, bukan di depannya. Posisi yang sejajar, meski jaraknya masih menjaga batas.

“Belum ada hasil,” jawabnya jujur. “Diam.”

Chen Yu mengangguk cepat. Tangannya mengepal di atas lutut.

Panel melanjutkan.

Analisis bertahap. Setiap tahap membuka indikator baru, lalu menutup yang lama. Beberapa simbol tampak seperti ditolak, seolah sistem mencoba memasukkan sesuatu ke dalam cetakan lama, lalu menariknya kembali.

Udara di gubuk bergetar halus. Seekor tikus kecil yang bersembunyi di sudut berlari keluar, tergesa, seakan tidak betah dengan tekanan yang tidak bisa ia pahami.

Xu Tian menyadari satu hal.

Sistem ini tidak merespons kekuatannya.

Ia merespons keputusannya.

Ia menyelamatkan Chen Yu tanpa perhitungan. Tanpa rencana. Dan sekarang, sistem membuka mata yang bahkan tidak ia minta.

Kesadaran itu membuat punggung Xu Tian sedikit dingin.

Panel akhirnya berhenti bergerak sejenak.

Simbol mata itu memudar setengah, menyisakan garis cahaya tipis. Seolah menandakan bahwa penilaian belum selesai—baru melewati lapisan awal.

Xu Tian menghembuskan napas perlahan.

Chen Yu merasakan tekanan itu berkurang sedikit. Ia mengangkat kepala, ragu.

“Sudah… selesai?”

Xu Tian menatapnya lama. Wajah Chen Yu kurus, tapi garis rahangnya tegas. Ada sesuatu di sana—bukan kekuatan yang berteriak, melainkan ketahanan yang diam.

“Belum,” kata Xu Tian. “Ini baru permulaan.”

Chen Yu tersenyum pahit. “Selalu begitu.”

Xu Tian tidak membalas. Ia kembali memusatkan perhatian.

Panel mulai bergerak lagi, lebih dalam. Indikator yang muncul kali ini lebih jarang, namun setiap simbol bertahan lebih lama, seolah sistem menolak untuk tergesa.

Di luar gubuk, angin berhenti. Malam menjadi terlalu sunyi.

Xu Tian tahu, apa pun hasilnya nanti, malam ini telah menggeser sesuatu yang tidak bisa dikembalikan seperti semula.

...

Keheningan kembali mengendap setelah denyut terakhir mereda. Lampu minyak menggoyang sumbunya, nyala api memanjang lalu mengecil, seolah ruangan itu ikut menahan napas.

Xu Tian berdiri tanpa bergerak. Di hadapan penglihatannya, simbol mata yang sempat meredup kini berputar kembali. Garis-garis cahaya tipis menyusun diri, lebih rapat, lebih terfokus. Tidak ada lonjakan, tidak ada kilatan berlebihan—hanya ketepatan dingin yang menandakan analisis memasuki lapisan berikutnya.

Panel menampilkan hasil.

Tidak dalam satu tarikan.

Baris pertama muncul, lalu berhenti.

Xu Tian membaca tanpa suara. Alisnya berkerut tipis.

Baris kedua menyusul, susunannya tidak sejajar dengan yang pertama. Seakan sistem sengaja memisahkan informasi, menolak menyederhanakan sesuatu yang tidak bisa diringkas.

Chen Yu merasakan perubahan itu tanpa tahu sebabnya. Punggungnya menegang, bulu kuduknya berdiri. Tanah di bawah telapak tangannya terasa lebih dingin dari sebelumnya.

“Kalau… memang tidak cocok,” ucapnya lagi, kali ini lebih pelan. “Aku tidak akan memaksa.”

Xu Tian tidak segera menjawab. Tatapannya masih terpaku pada panel.

Indikator yang biasa ia kenal—yang dulu dijadikan standar di sekte lama—muncul, lalu langsung diberi tanda penolakan. Bukan disilang, bukan dihancurkan. Hanya dipinggirkan, seperti alat yang tidak relevan.

Sebuah kategori baru terbuka.

Xu Tian menghela napas tipis.

“Tidak cocok,” katanya akhirnya.

Tubuh Chen Yu tersentak kecil. Bahunya mengendur, seperti tali yang dipotong tiba-tiba. Ia tersenyum hambar, senyum yang sudah terlalu sering ia gunakan.

“Aku tahu.”

Xu Tian melanjutkan, suaranya tetap datar. “Tidak cocok dengan jalur yang ada.”

Chen Yu terdiam. Ia mengangkat kepala perlahan.

“Apa bedanya?” tanyanya.

Xu Tian menatapnya. Untuk sesaat, tekanan halus yang menyelimuti gubuk menguat. Debu di lantai bergetar. Papan kayu di dinding berderit pelan.

“Bedanya,” kata Xu Tian, “adalah kau bukan kosong.”

Panel menampilkan klasifikasi akhir.

Anomali.

Kata itu tidak ditulis besar, tidak diberi penekanan. Ia muncul seperti fakta biasa—dingin, objektif, tanpa penilaian moral.

Xu Tian membaca baris-baris penjelasan singkat yang menyertainya. Tidak panjang. Tidak bertele-tele.

Tidak dapat berkembang dalam struktur yang ada.

Tidak responsif terhadap metode umum.

Stabil dalam tekanan non-standar.

Potensi tinggi jika diarahkan dengan metode khusus.

Xu Tian merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan kegembiraan, bukan keterkejutan yang meledak. Lebih seperti kepingan yang akhirnya jatuh ke tempatnya.

Ia teringat wajah-wajah para tetua. Cara mereka menilai hanya dari satu sudut. Cara mereka menyingkirkan yang tidak sesuai cetakan.

Chen Yu menunggu. Keheningan itu terasa lebih berat daripada penolakan langsung. Tangannya mengepal tanpa sadar.

“Xu… senior,” katanya ragu. “Katakan saja. Aku sudah siap.”

Xu Tian menggeleng pelan.

“Kau salah paham,” ujarnya. “Yang ditolak bukan dirimu.”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Tekanan di ruangan itu mengikuti, membuat lampu minyak bergetar. Api condong ke satu sisi, seakan tertarik pada pusat yang sama.

“Yang ditolak adalah cara lama.”

Chen Yu mematung. Kata-kata itu tidak langsung ia cerna. Alisnya berkerut, matanya mencari-cari makna yang tidak biasa ia dengar.

“Senior maksudnya…?”

Xu Tian tidak menjelaskan panjang. Ia bukan tipe yang suka membungkus kenyataan dengan filosofi.

“Jika kau masuk sekte mana pun yang ada,” katanya singkat, “kau akan dibuang lagi.”

Chen Yu tersenyum getir. “Aku sudah menduganya.”

“Tapi,” Xu Tian melanjutkan, “jika kau dipaksa mengikuti jalur mereka, itu sama saja menghancurkanmu perlahan.”

Chen Yu terdiam. Nafasnya tersendat. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak langsung menunduk.

Panel bergerak lagi.

Sebuah rekomendasi muncul, ditandai garis tipis tanpa warna mencolok.

Rekrut sebagai murid inti awal.

Probabilitas keberhasilan: tidak stabil.

Risiko: tinggi.

Dampak jangka panjang: signifikan.

Xu Tian membaca sampai akhir. Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada jaminan.

Ia menyukai kejujuran seperti ini.

Chen Yu menatap Xu Tian lama. “Senior,” katanya perlahan, “aku tidak punya apa-apa. Tidak ada latar belakang. Tidak ada dukungan. Kalau ini hanya rasa kasihan—”

“Berhenti,” potong Xu Tian.

Tekanan di ruangan itu menurun sedikit, cukup untuk membuat Chen Yu menarik napas lebih dalam.

“Aku tidak mengumpulkan beban,” kata Xu Tian. “Aku memilih fondasi.”

Kata itu menggantung di udara.

Fondasi.

Chen Yu menelan ludah. “Aku… tidak mengerti.”

Xu Tian memalingkan pandangannya sesaat, menatap celah papan gubuk tempat cahaya bulan menyelinap masuk.

“Dunia ini hanya mengenal satu jenis jalan,” katanya. “Yang tidak pas, dianggap salah.”

Ia kembali menatap Chen Yu. Tatapannya tajam, menimbang.

“Jika tidak ada jalan untukmu,” lanjutnya, “maka jalannya yang keliru.”

Chen Yu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tangannya bergetar. Ia menunduk, lalu mengangkat kepala kembali, seperti seseorang yang ragu apakah ia pantas mendengar hal semacam itu.

“Senior… apakah aku… benar-benar punya nilai?”

Xu Tian tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia berdiri tegak. Aura yang selama ini ia tekan rapat dilepaskan sedikit—cukup untuk membuat udara di gubuk bergetar, cukup untuk membuat tanah di bawah Chen Yu berderak halus.

Bukan tekanan yang menindas.

Tekanan yang menguji.

Chen Yu mengertakkan gigi. Keringat langsung membasahi dahinya. Ia tidak runtuh. Tidak lari. Ia bertahan, meski lututnya gemetar.

Xu Tian menarik kembali auranya.

“Jika kau bisa berdiri di bawah tekanan yang tidak mengenalmu,” katanya, “maka kau bisa tumbuh di jalan yang tidak mengenal aturan lama.”

Chen Yu terengah. Dadanya naik turun cepat. Namun matanya—untuk pertama kalinya—tidak sepenuhnya kosong.

Panel menunggu.

Tidak ada desakan. Tidak ada hitungan mundur. Hanya satu baris kecil di bagian bawah, statis.

Menunggu keputusan.

Xu Tian menatap Chen Yu lama. Terlalu lama untuk sekadar kasihan, terlalu tenang untuk disebut impulsif.

Di luar gubuk, angin kembali bertiup. Daun-daun kering berdesir, seolah dunia bergerak kembali setelah jeda singkat yang aneh.

Xu Tian tahu, satu langkah ini tidak bisa ditarik kembali.

Jika ia mengangguk, ia bukan lagi orang yang berjalan sendirian.

Jika ia menolak, sistem akan tetap ada—tapi maknanya akan berbeda.

Chen Yu menunduk, lalu berlutut perlahan. Dahi hampir menyentuh tanah, namun ia berhenti sebelum benar-benar menunduk penuh.

“Aku tidak berani meminta,” katanya pelan. “Tapi jika senior memberiku kesempatan… aku tidak akan mundur.”

Xu Tian menutup matanya sejenak.

Ketika ia membukanya kembali, tatapannya mantap.

Panel tetap diam.

Menunggu satu kata.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!