Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Wartawan
Beberapa minggu setelah rapat itu, jadwal Dara berubah total.
Pagi ke kantor. Malam untuk latihan. Tidur hanya seperlunya.
Di sebuah kafe yang lampunya redup namun tenang, Danu meletakkan stopwatch di meja. Dan tiba-tiba meraih ponsel dan menyalakan rekaman video.
“Ayo. Simulasi wartawan.”
Ia mendekat, sengaja memicingkan mata sinis. “Bu Dara, ada yang mengatakan Anda tidak kompeten. Bagaimana tanggapan Anda?”
Dara tersenyum tipis.
“Orang boleh berpendapat. Tugas saya bekerja.”
“Benarkah posisi Anda sekarang hanya karena warisan keluarga?”
Dara menatap langsung ke kamera. “Posisi bisa diberikan. Kompetensi tidak. Itu akan terlihat besok di ruang rapat.”
Danu menurunkan ponselnya. Sudut bibirnya terangkat.
“Sekarang kamu terdengar seperti pemimpin.”
“Sekali lagi,” katanya santai. “Anggap aku wartawan paling menyebalkan sedunia.”
Dara memutar bola mata. “Kamu memang sudah cocok.”
Danu tersenyum tipis. “Terima kasih. Mulai.”
Ia mencondongkan tubuh, suaranya berubah dingin.
“Benar Anda dipromosikan hanya karena faktor kasihan?”
Dara menarik napas. Ia sudah hafal jebakan itu.
“Tidak,” jawabnya tenang. “Saya dipromosikan karena perusahaan membutuhkan perubahan, dan saya siap bekerja untuk itu.”
Danu mengetuk meja.
“Kurang. Terlalu defensif. Ulang.”
Dara mengulang.
Kali ini ia tersenyum.
“Anda bisa menilai apa pun tentang saya,” katanya. “Tapi kinerja akan menjawab lebih jujur daripada opini.”
Danu terdiam sebentar.
Ia mengangguk. “Bagus. Lagi.”
Latihan berganti.
Bukan wartawan.
Bukan rapat.
Negosiasi.
Danu bersandar, memainkan peran komisaris konservatif.
“Saya tidak percaya pada proposal Anda.”
“Tidak apa-apa,” balas Dara, stabil. “Yang saya minta bukan kepercayaan instan, tapi kesempatan membuktikan.”
“Risikonya besar.”
“Risiko selalu besar jika kita terlalu lama diam.”
Danu menatapnya. Dulu, wanita ini gemetar saat bicara di depan tiga orang. Sekarang matanya kokoh.
Malam demi malam, suara Dara berubah. Bukan lebih keras.
Bukan lebih kasar. Lebih mantap.
Di dinding kaca, bayangannya terlihat, rambut pendek, bahu tegak, bukan sosok yang dulu selalu meminta maaf atas keberadaannya.
Kadang lelah datang.
Kadang ingatan lama menetes pelan.
Di sela jeda, Danu menyerahkan secangkir kopi.
“Takut?”
“Masih,” jawab Dara jujur.
“Bagus,” kata Danu. “Berarti kamu manusia. Yang penting kamu tetap maju.”
Dara mengangguk. Di layar laptopnya, slide presentasi berubah-ubah.
Strategi.
Proyeksi.
Kemungkinan serangan.
Ia belajar satu hal, memimpin bukan berarti tak pernah goyah, tapi tidak berhenti meski goyah.
Di luar kafe, kota masih ramai.
Di dalam dadanya, badai masih berputar. Namun kali ini, ia memilih berjalan ke arahnya.
Latihan belum selesai.
Perang belum dimulai.
Dan nama Arman… masih tersimpan rapi di sudut pikirannya, bukan lagi sebagai luka, tetapi sebagai janji pertemuan.
.
.
Insiden wartawan datang di minggu ketiga latihan.
Danu membawa Dara keluar dari gedung setelah sesi simulasi board meeting. Mereka tidak tahu ada sekelompok wartawan menunggu di depan pintu.
Lampu kamera menyala.
Mikrofon hampir menyentuh wajahnya.
“Bu Dara!”
“Benar Anda menggulingkan sistem lama perusahaan?”
“Benar Anda mengambil alih posisi yang harusnya bukan hak Anda?”
Lalu satu suara terdengar lebih tajam dari yang lain.
Satpam mencoba membuka jalan, tapi kerumunan wartawan semakin rapat. Mikrofon didorong nyaris ke wajahnya. Flashes menyilaukan mata. Suara-suaranya tumpang tindih—tidak semuanya terdengar jelas, tapi satu kalimat memukul paling keras.
“Bu Dara… atau sebaiknya kami panggil nama Anda yang dulu?”
Udara seketika membeku.
Danu bergerak sepersekian detik lebih cepat, berdiri sedikit di depan Dara.
Tatapan para wartawan haus sensasi.
Dara merasakan panas naik ke wajahnya, amarah yang nyaris meledak, bukan karena mereka salah sebut, tetapi karena mereka memperlakukan hidupnya sebagai bahan jualan.
Tenang dahulu, baru jawab.
“Apakah perubahan identitas Anda memengaruhi stabilitas perusahaan?”
Danu sudah melatih skenario ini berkali-kali di kafe sepi, tapi kenyataan selalu lebih berisik daripada simulasi.
Dara merasakan dadanya memanas. Sesaat, emosi lama ingin memantul keluar. Masa lalu. Nama lama. Luka lama.
Ia hampir berbicara dalam nada defensif—lalu satu potong memori datang: Suara Danu, ringan tapi tegas.
“Wartawan tidak selalu mencari kebenaran. Kadang mereka mencari reaksi. Kalau kamu marah, mereka menang. Kalau kamu tenang, kamu yang memimpin.”
Dara menghembuskan napas pelan. Ia menurunkan bahunya, bukan suaranya.
Senyum tipis muncul.
“Terima kasih atas pertanyaannya,” katanya jernih.
Kerumunan langsung hening sepersekian detik. Mereka siap menyambar.
Ia melangkah maju. “Identitas saya, Dara Valencia,” katanya jelas. “Nama yang saya pilih. Hidup yang saya jalani. Dan semua keputusan profesional saya bisa diperdebatkan—tapi dengan etik, bukan dengan hinaan. Tidak mengurangi kemampuan saya,” lanjutnya tenang. “Saya bekerja dengan data, keputusan, dan hasil. Perusahaan tidak bergerak dengan gosip, tetapi dengan kinerja.”
Seseorang dari barisan belakang berseru agak sinis, “Jadi Anda tidak terganggu disebut...”
Dara mengangkat tangan sedikit.
Bukan membentak.
Menghentikan dengan wibawa.
“Saya manusia,” ucapnya pelan, namun terdengar jelas. “Saya pernah jatuh. Saya pernah diremehkan. Saya berubah. Itu bukan kelemahan… itu proses.”
Beberapa wartawan saling melirik dan terdiam. Yang lain masih menyorotkan kamera.
“Dan mengenai perusahaan,” ia melanjutkan, “tolong tulis ini dengan benar. Fokus saya adalah membangun. Jika masih ada yang meragukan, silakan nilai dari hasil kerja saya—bukan dari masa lalu saya.”
Danu menatapnya lama.
Itu bukan dialog latihan lagi.
Itu nyata.
Di sisi lain, dari mobil yang menunggu, Shinta menggenggam tangan Rama. Ada kilatan bangga yang nyaris pecah menjadi air mata.
“Dia tidak lagi bersembunyi,” bisik Shinta.
Rama mengangguk pelan. “Ya. Dan dunia sekarang harus menyesuaikan diri dengannya.”
Salah satu wartawan akhirnya menurunkan kameranya terlebih dulu. Yang lain mengikuti.
Suasana mereda—bukan karena mereka kehabisan pertanyaan, melainkan karena mereka berhadapan dengan seseorang yang tidak mudah dipancing.
Dara mengakhiri dengan kalimat pendek, “Kita bertemu lagi di press conference resmi. Saat ini, izinkan saya kembali bekerja.”
Ia berjalan melewati mereka.
Kakinya gemetar.
Tangannya dingin.
Danu menyusul di sampingnya tanpa berkata apa-apa.
Beberapa langkah kemudian, ia terkekeh kecil. “Nilai 9,2.”
Dara mengerling. “Kenapa bukan sepuluh?”
“Karena kamu masih sempat hampir melempar mikrofon tadi.”
Dara pura-pura manyun, lalu keduanya tertawa kecil memasuki mobil.
Namun jauh di dalam dada, ia tahu satu hal, ini pertama kalinya ia menghadapi dunia sebagai dirinya sendiri, tanpa minta maaf tanpa bersembunyi tanpa menunduk.
“Aku marah sekali,” bisik Dara.
“Aku tahu,” jawab Danu pelan. “Dan kamu tetap tenang. Itu… kelas tertinggi.”
Dara memandang keluar jendela dan masih menahan sisa gemetar di ujung jemarinya.
Mobil melaju meninggalkan area. Dan beberapa menit perjalanan, Danu menghentikan mobil di tepi jalan. Danu keluar dan kembali cepat.
Danu menyodorkan sebatang es krim vanilla ke arahnya.
“Ini obat anti-serangan wartawan,” katanya santai.
Dara menatapnya, lalu tertawa kecil juga. Tegangannya turun setapak.
“Ayo,” lanjut Danu, “malam ini kita nonton film jelek dan tidak membahas apa pun tentang perusahaan.”
Untuk pertama kalinya hari itu, dada Dara terasa ringan. Dunia tidak sepenuhnya keras, masih ada tempat untuk bernapas bersama seseorang yang percaya padanya.