NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 : Gosip para residence di IGD

“Benar, aku juga belum lihat kau ke sana,” sahut seorang gadis lain, matanya melirik singkat ke arah ruang yang baru saja dimasuki pasien pagi tadi. Suaranya setengah bertanya, setengah menggoda.

Victoria tidak menoleh, hanya menggeleng pelan. Senyumnya samar, hampir tak terlihat. “Aku kehabisan pita hari ini… aku tak tahu akan ada korban lagi,” ucapnya lirih, seolah menyimpan penyesalan kecil di balik nada santainya.

“Oh, kalau begitu ikut saja dengan Tuan Reed,” celetuk gadis di sebelahnya, sambil bersandar manja ke bahu Victoria. “Sekalian tanyakan nomor kontaknya untukku. Aku tidak berani meminta langsung.”

Namun Victoria segera menolak, menyenggol bahu sahabatnya hingga tubuh itu terlepas. Gerakannya spontan dan penuh kelakar, membuat anak-anak residence yang duduk melingkar tak kuasa menahan tawa. Gelak itu pecah serempak, menggema di lobi IGD yang biasanya hanya dipenuhi suara langkah dan denting peralatan medis.

Suara tawa yang bergemuruh itu membuat beberapa perawat menoleh, bahkan Alexander yang sedang berbincang serius dengan seorang staf ikut menghentikan kata-katanya. Tatapannya mengarah tajam, menelusuri sumber kegaduhan.

“Mereka selalu begitu?” tanyanya datar pada perawat di sampingnya.

Perawat itu hanya tersenyum tipis, seolah sudah terbiasa menghadapi keramaian kecil semacam itu. “Itu sudah biasa, Tuan. Mereka masih muda, jadi momen seperti ini terasa berharga, apalagi saat tidak ada pasien. Hampir setiap hari mereka seperti itu… terutama gadis itu.” Jarinya menunjuk lurus ke arah Victoria yang tengah terkekeh sambil menepuk meja, wajahnya berseri tanpa beban.

“Dia yang paling ceria di antara semuanya,” lanjut perawat itu.

Alexander mengikutkan pandangannya. Namun berbeda dengan senyum hangat sang perawat, tatapan Alexander justru mengeras. Alisnya berkerut, rahangnya menegang. Bukan kekaguman yang muncul, melainkan rasa jengkel yang ia tahan dalam diam. Senyum polos gadis itu justru membakar sabarnya, terutama karena dialah yang tersenyum setelah menabraknya pagi ini tanpa rasa bersalah.

“Penuh tipuan,” gumamnya pelan, matanya menyipit, suara rendahnya terdengar seperti umpatan yang tak dimaksudkan untuk orang lain.

Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Tapi langkahnya tetap berat dan tegas saat mulai mendekati sekumpulan anak residence itu. Sorot matanya tak pernah lepas dari Victoria yang terus tertawa, tawa yang bahkan lebih nyaring daripada cahaya pagi yang masuk lewat jendela.

Bisik-bisik kecil segera muncul begitu sosok tinggi tegap itu semakin dekat.

“Eh, masa Tuan Reed segalak itu?” bisik seorang gadis sambil menutup mulutnya, terkejut sekaligus penasaran.

“Benar. Dia memarahiku pagi ini, padahal aku cuma tidak sengaja menabraknya,” Victoria ikut menimpali tanpa menyadari jarak Alexander yang kian menyempit. Nada suaranya ringan, seolah ia sedang menceritakan hal sepele.

Kata-kata itu membuat Alexander mengepalkan tangannya diam-diam. Ia ingin segera menegur, tapi menahan diri, memilih mendengarkan sampai habis.

“Padahal rumor bilang dia sangat dingin, kenapa bisa jadi begini?” tambah gadis lain, wajahnya penuh rasa ingin tahu.

Suasana yang semula riuh mendadak dipotong oleh suara seorang lelaki di antara mereka. “Hei, sudah, jangan kebanyakan gosip. Hati-hati kalau nanti ditangkap. Tuan Reed itu detektif terkenal, tahu?”

Kalimat itu sontak membuat beberapa gadis terdiam. Ada yang menelan ludah, ada yang saling pandang dengan gugup. Namun hanya Victoria yang tetap santai. Ia malah mendengus kecil, memutar matanya dengan ekspresi malas.

“Terkenal apanya,” gumamnya pelan sambil kembali menggigit roti di tangannya.

Pipinya menggembung lucu saat suapan itu memenuhi mulutnya. Namun momen ringan itu buyar seketika saat sebuah tangan besar tiba-tiba muncul, mencubit pipi kanannya cukup keras hingga ia meringis kaget.

Semua anak residence langsung terperanjat, tatapan mereka serentak mengarah ke belakang kursi Victoria. Alexander berdiri di sana, tegak, dengan tatapan setajam pisau yang menusuk ke arah mereka.

“Ini IGD, bukan tempat bergosip.” Suaranya berat, penuh ketegasan, dan tak ada ruang untuk bantahan. Tangannya belum juga terlepas dari pipi Victoria, menciptakan keheningan canggung yang membuat tawa sebelumnya sirna seketika.

“Habiskan sarapan kalian, lalu kembali bertugas.” Kalimatnya tajam, singkat, namun cukup untuk membuat suasana lobi mendadak membeku.

Anak-anak residence itu buru-buru menghabiskan sisa makanan mereka, bangkit serentak dengan gerakan kaku, lalu menyebar meninggalkan kursi-kursi yang masih berantakan. Suasana riuh seketika berubah hening, menyisakan hanya dua orang di meja itu, Olivia yang menatap gelisah, dan Victoria yang pipinya masih terjepit di antara jari-jari Alexander.

Anehnya, meski terjebak dalam ketegangan, Victoria tetap santai. Roti di tangannya kembali masuk ke mulut, pipinya yang sudah menggembung makin penuh, membuat wajahnya terlihat seperti tengah mengejek meski tak sepatah kata pun ia ucapkan.

Olivia menepuk ringan pangkuan sahabatnya, berusaha memecah suasana yang semakin berat. “Ayo, aku harus turun ke bawah. Jadwalku di lantai enam.”

Victoria hanya mengangguk pelan, mengunyah dengan lambat. Mulutnya masih penuh ketika ia bergumam, “Aku berjaga di sini.”

“Baiklah…” Olivia menarik napas, lalu berdiri sambil meraih wadah makanannya. Sebelum melangkah pergi, ia menundukkan kepala dengan sopan pada Alexander, sedikit ragu, seolah menimbang apakah pria itu akan menegurnya juga.

Namun Alexander hanya menatapnya singkat, dingin, tanpa mengucap sepatah kata. Olivia pun segera beranjak, meninggalkan mereka berdua.

Ruangan yang tadinya penuh tawa kini senyap. Hanya terdengar suara plastik pembungkus roti yang berkeresek di pangkuan Victoria setiap kali tangannya bergerak. Gadis itu asyik dengan makanannya, sementara Alexander berdiri kaku di belakang, tatapannya tajam, menunggu kalimat keluar dari bibir yang terus sibuk mengunyah itu.

Menit terasa berjalan lambat. Kesabaran Alexander menipis. Ia akhirnya menghela napas berat, kasar, seakan menahan amarah yang sudah di ujung batas. Tangannya terlepas dari pipi Victoria, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulitnya.

“Kau!” suaranya menggelegar, tajam bagai perintah militer. “Ikut aku!”

Ia segera berbalik, langkahnya tegas, tanpa menoleh lagi.

Victoria masih duduk, tak tergesa. Jemarinya perlahan terangkat, menyentuh pipinya yang masih panas akibat cubitan tadi. Sentuhan itu lembut, seakan ia mencoba meredakan perih yang ditinggalkan. Tapi sudut bibirnya bergerak samar, naik tipis membentuk senyum kecil yang nyaris tak terbaca.

“...sakit,”

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!