NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Akan Menyesal

Malam di Rumah Sakit Jiwa Grogol biasanya hanya diisi oleh suara desis kipas angin dan langkah kaki petugas medis yang berpatroli setiap satu jam sekali. Namun, di dalam sel isolasi yang paling dalam, kesunyian itu adalah sebuah kebohongan. Sheila Nandhita sedang merayap di lantai, gerakannya tidak menyerupai manusia, melainkan seperti reptil yang sedang mencari celah pada mangsanya.

Ia telah menghabiskan waktu berhari-hari untuk melonggarkan baut pada jeruji ventilasi kecil di langit-langit selnya menggunakan sebuah sendok plastik yang telah ia asah menjadi setajam silet selama berminggu-minggu. Kuku-kukunya berdarah, ujung jarinya lecet, namun ia tidak merintih. Dendam adalah anestesi terbaik baginya.

"Satu lagi... satu lagi..." bisiknya, suaranya parau seperti gesekan ampelas.

Tepat saat jeruji itu nyaris terlepas, lampu indikator di atas pintunya berkedip merah. Dokter Kusno, yang sejak peringatan Attar menjadi sangat paranoid, memasang sensor getaran sensitif pada setiap sel isolasi berisiko tinggi.

Nguuuuung!

Sirene keamanan memecah keheningan malam. Sheila tersentak, matanya melotot lebar penuh amarah. "TIDAK! JANGAN SEKARANG!" teriaknya histeris.

Pintu baja itu terbuka dengan dentuman keras. Suster Rima dan dua perawat pria bertubuh kekar masuk dengan sigap. Mereka melihat Sheila yang masih tergantung di dinding, mencoba meraih ventilasi tersebut.

"Sheila! Turun sekarang!" bentak perawat pria itu.

Sheila justru tertawa melengking, suara yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Ia melompat turun dan mencoba menerjang Suster Rima dengan sendok plastik tajamnya. "AKU HARUS KELUAR! LIVIA HARUS MATI!"

Dengan gerakan yang terlatih, para perawat itu berhasil meringkus Sheila sebelum ia sempat melukai siapa pun. Dokter Kusno masuk ke dalam sel dengan wajah yang amat sangat lelah. Ia menatap Sheila yang kini sudah ditindih ke lantai.

"Tingkatkan pengamanan. Pasang fiksasi permanen jika perlu," perintah Dokter Kusno dengan suara berat. "Dan pastikan tidak ada lagi benda plastik atau logam apa pun yang masuk ke ruangan ini. Dia bukan lagi pasien yang bisa disembuhkan secara normal. Dia adalah predator."

Sheila, yang wajahnya tertekan ke lantai semen yang dingin, masih sempat mengeluarkan tawa rendah yang mengerikan. "Dokter... kamu bisa mengunci pintunya, tapi kamu tidak bisa mengunci pikiranku. Aku sudah ada di sana... di toko kue itu... aku sudah melihatnya..."

****

Di belahan Jakarta yang lain, Livia’s Sweet Corner sedang berada pada jam tersibuknya. Aroma cinnamon rolls yang baru matang memenuhi ruangan, memberikan kesan damai yang sangat kontras dengan keributan di rumah sakit jiwa. Livia sedang sibuk menata etalase ketika lonceng di pintu berdenting nyaring.

Ia mendongak, mengharapkan Ayub yang datang membawa bunga atau sekadar senyum manisnya. Namun, yang berdiri di sana bukan dia sendirian seorang wanita dengan pakaian sangat modis, kacamata hitam besar, dan aura yang sangat konfrontatif. Clarissa.

Ayub masuk beberapa detik kemudian dengan wajah merah padam karena menahan amarah. "Clarissa! Cukup! Jangan ikuti aku ke sini!" bentak Ayub, suaranya membuat beberapa pelanggan menoleh kaget.

Livia menghentikan aktivitasnya, menatap bingung pada wanita yang tampak sangat tidak asing itu—ia pernah melihatnya di foto lama media sosial Ayub. "Ayub? Ada apa ini?"

Clarissa melepas kacamata hitamnya, menatap Livia dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan yang menghina. "Oh, jadi ini? 'Mbak' Livia yang legendaris itu? Ternyata benar kata orang, selera Ayub sekarang sudah berubah ke wanita yang... well, sudah punya banyak 'pengalaman' pahit."

"Clarissa, jaga bicaramu!" Ayub berdiri di antara Livia dan Clarissa, melindungi Livia seolah-olah Clarissa adalah ancaman fisik. "Keluar dari sini sekarang. Ini tempat usaha orang!"

"Kenapa? Takut janda kaya ini tahu kalau kita baru saja mengobrol lama di kafe tadi?" Clarissa tertawa sinis, suaranya meninggi, sengaja agar didengar oleh para pelanggan. "Dengar ya, Mbak Livia. Ayub itu atlet. Dia punya masa depan. Dia butuh wanita yang bisa mendukung kariernya, bukan wanita traumatis yang punya penguntit gila dan mantan suami yang lari ke luar negeri!"

Livia merasakan dadanya sesak. Luka yang baru saja mulai mengering itu seolah disiram air garam. "Saya tidak tahu siapa Anda, tapi tolong jangan membuat keributan di toko saya," ucap Livia sesabar mungkin, meski tangannya bergetar di balik meja kasir.

****

Clarissa justru semakin menjadi-jadi. Ia meraih salah satu toples kue di etalase dan menghempaskannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Kue sampah! Kamu pikir dengan jualan gula begini kamu bisa menyembunyikan masa lalumu yang busuk?!"

PRANG!

Suara pecahan kaca itu memicu trauma dalam diri Livia. Ia tersentak mundur, bayangan Sheila yang menghancurkan tokonya beberapa bulan lalu kembali berkelebat. Napas Livia mulai pendek, tanda-tanda serangan panik mulai muncul.

Ayub tidak bisa lagi menahan diri. Ia mencengkeram lengan Clarissa dengan tegas, namun tidak kasar, dan menyeretnya menuju pintu. "Keluar! Jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi, atau aku akan panggil polisi!"

"Lepaskan! Ayub, kamu akan menyesal memilih dia!" teriak Clarissa sambil meronta. Di depan pintu, ia berbalik dan berteriak pada Livia, "Dia hanya merasa kasihan padamu, Mbak Livia! Kamu itu beban! Dan suatu hari nanti, dia akan sadar kalau aku adalah satu-satunya yang selevel dengannya!"

Setelah Clarissa pergi dengan decit ban mobil yang kasar, suasana toko menjadi sunyi yang mencekam. Para pelanggan yang merasa tidak nyaman mulai meninggalkan toko satu per satu.

Ayub segera berlari menuju Livia yang terduduk lemas di belakang meja kasir. "Mbak... Mbak Livia, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Dia hanya masa lalu yang tidak tahu diri."

Livia menatap Ayub dengan mata yang berkaca-kaca. "Apakah benar apa yang dia katakan, Ayub? Apakah aku ini beban bagimu? Apakah kamu bersamaku hanya karena merasa kasihan?"

"Tidak, Mbak! Demi Tuhan, tidak!" Ayub berlutut di depan Livia, menggenggam kedua tangannya yang dingin. "Dia itu racun. Dia sengaja melakukan ini untuk menghancurkan kita. Aku mencintaimu karena kamu adalah kamu, Mbak Livia. Bukan karena masa lalumu, bukan karena traumamu."

****

Malam itu, setelah toko tutup dan Ayub pulang dengan perasaan bersalah yang amat dalam, Livia duduk sendirian di ruang tengah apartemennya. Ia menatap ponselnya, menimbang-nimbang apakah harus menghubungi Attar di Australia atau tidak. Ia merasa dunianya kembali goyah.

Di satu sisi, ada Sheila yang tak pernah berhenti mencoba keluar dari penjara jiwanya. Di sisi lain, muncul Clarissa yang mencoba meracuni hubungannya dengan Ayub.

Livia berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta. Ia tidak menyadari bahwa di bawah sana, di sebuah gang gelap yang menghadap langsung ke arah jendelanya, sesosok wanita berpakaian hitam sedang berdiri diam. Bukan Clarissa. Bukan pula Sheila.

Wanita itu memegang ponsel, mengambil foto bayangan Livia di balik jendela. Ia mengirimkan foto itu ke sebuah nomor rahasia.

Pesan terkirim: "Target terpantau. Ayub sedang lengah karena gangguan Clarissa. Sheila gagal kabur, tapi rencananya masih berjalan. Tunggu instruksi selanjutnya."

Livia bergidik kencang, ia segera menutup tirainya rapat-rapat. Ia merasa, meski Sheila berada di dalam sel isolasi yang paling ketat sekalipun, tangan-tangan kegilaannya masih bisa menjangkau Livia melalui orang-orang yang tidak pernah ia duga.

Badai sesungguhnya belum benar-benar berakhir. Ia hanya sedang berganti rupa.

1
Meri Susana
up terus kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!