Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Singgah Sebentar
Lorong perlahan kembali riuh.
Suara-suara kecil menyusup, mengisi ruang yang tadi sempat menegang. Segalanya berjalan lagi seperti biasa, meski sisa ketegangan itu belum sepenuhnya hilang.
Keenan masih berdiri di sana. Napasnya sudah lebih teratur, meski wajahnya belum sepenuhnya kembali netral.
Rakha meliriknya sekilas sambil menyandarkan punggung ke dinding. Ia tetap di tempat, tidak berusaha mendekat tapi tidak juga menjauh. Seolah menunggu... tanpa pernah benar-benar mengakuinya.
Beberapa detik telah berlalu.
Hingga akhirnya Keenan bergerak lebih dulu.
Ia melangkah pergi melewati Rakha begitu saja, tanpa menoleh. Langkahnya pelan namun pasti, semakin menjauh... menyatu dengan riuh lorong.
Rakha tidak langsung mengikuti.
Ada satu detik, mungkin dua ketika sebuah nama hampir terucap di ujung lidahnya.
Hampir.
Namun Keenan sudah terlalu jauh untuk itu.
Baru setelahnya Rakha melangkah, mengikuti arah langkah Keenan.
Mereka keluar gedung nyaris bersamaan. Matahari sudah condong ke barat, cahayanya jatuh miring ke lantai sekolah, menarik bayangan panjang yang sempat bertaut, lalu terpisah perlahan.
Di area parkir, mesin motor Keenan menyala lebih dulu. Tangannya sempat tertahan di gas, sepersekian detik yang terasa lebih lama dari seharusnya, sebelum motor itu akhirnya melaju ke jalan.
Rakha menyusul tak lama kemudian. Ia tahu, sejak tadi Keenan menyadari keberadaannya.
Namun Keenan tidak menoleh.
Tidak memberi tanda apa pun. Ia hanya melaju, sedikit di atas kecepatan rata-rata, seolah jalan di depannya lebih penting daripada apa pun di belakang.
Beberapa ratus meter kemudian, laju motor Keenan melambat.
Rakha menangkap sebuah warkop sederhana di pinggir jalan... lampunya sudah menyala, kursi plastik tersusun seadanya, satu-dua motor terparkir miring. Keenan menepi tanpa aba-aba, seperti keputusan yang muncul begitu saja.
Bukan untuk kabur.
Mungkin hanya untuk berhenti sebentar.
Menikmati sisa hari yang perlahan turun.
Keenan memarkirkan motornya di tepi jalan. Ia berdiri sejenak di sampingnya, menatap pintu warkop—diam sedikit lebih lama dari yang dibutuhkan orang untuk sekadar masuk.
Lalu ia melangkah ke dalam.
Rakha berhenti beberapa detik kemudian. Pandangannya tertahan pada warkop itu. Ada jeda singkat, seolah ia mempertimbangkan sesuatu... bukan soal berani atau tidak, hanya soal apakah Keenan ingin ditemani saat ini.
Namun kakinya sudah bergerak lebih dulu.
Di dalam, punggung Keenan menghadap meja. Ia menarik satu kursi dan duduk, meletakkan kedua tangannya di atas permukaan meja. Jari-jarinya saling mengunci, terlepas, lalu diam—gerakan kecil yang berulang, tanpa ia sadari.
Rakha berdiri sejenak di dekat meja itu.
Hening turun di antara mereka. Tidak canggung. Tidak juga hangat. Hanya jeda yang dibiarkan ada.
Keenan akhirnya melirik kursi di depannya.
"Lu mau duduk," katanya datar, "atau berdiri aja?"
Rakha menatapnya sebentar. Sudut bibirnya terangkat tipis sebelum ia menarik kursi dan duduk di hadapan Keenan. Seolah sejak awal, kehadirannya memang tidak perlu dipertanyakan.
Tak ada yang langsung bicara.
Rakha menoleh ke arah etalase kecil di samping.
"Dua coklat hangat ya, mas" katanya ke penjaga warkop, singkat.
Keenan bersandar ke kursi saat gelas diletakkan di meja. Uap tipis naik perlahan. Tangannya melingkar di sekeliling gelas, seolah mencari sesuatu dari hangatnya.
Ia menghembuskan napasnya. Lalu tertawa kecil... pendek, tanpa benar-benar lucu.
"Gue bingung," katanya. "Pilihan gue tuh… udah tepat atau belum."
Rakha tidak langsung menimpali. Ia mengangkat gelasnya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali di meja.
"Lu ngerasa itu pilihan lu?" tanyanya akhirnya.
Keenan diam sebentar.
"Iya…"jawabnya pelan. "Setidaknya, itu yang gue mau."
Rakha mengangguk kecil.
Beberapa detik berlalu sebelum ia bicara lagi.
"Terus," katanya pelan, "pas lu ngejalaninnya… rasanya gimana?"
Bukan jawaban yang menyelesaikan apa pun.
Tapi cukup untuk membuat Keenan tetap duduk di sana.
Keenan menunduk ke gelasnya. Jarinya menggeser embun di sisi kaca.
"Nyaman," katanya.
"Happy juga. Dari kecil gue emang suka basket."
Ia terdiam sebentar, lalu tertawa kecil—hambar.
"Gue salah ya," lanjutnya, lebih pelan, "kalau gue suka basket?"
Rakha meliriknya sekilas.
"Nggak," katanya. "Rasa suka mah nggak salah. Apalagi kalau itu bikin lu ngerasa hidup."
Keenan menghembuskan napas pendek, seperti baru sadar ia menahan sesuatu terlalu lama.
"Gue cuma mikirin itu doang."
Rakha mengangkat bahu tipis.
"Ya wajar," katanya santai. "Lu suka, kan? Jalanin aja dulu. Buktiin. Ke diri lu… baru ke bokap lu."
Kalimat itu meluncur ringan, hampir seperti basa-basi.
Justru karena itu, Keenan terdiam.
Ia menatap permukaan meja. Uap dari gelasnya sudah menipis, menyisakan embun yang perlahan turun. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
"Bokap gue itu keras," katanya akhirnya, pelan.
"Dia udah nentuin jalan gue dari awal."
Kata-kata itu keluar begitu saja.
Keenan sendiri terlihat seperti baru sadar apa yang barusan ia ucapkan. Rahangnya mengeras sesaat, lalu mengendur.
Rakha tidak menyela.
Keenan menghembuskan napas pendek, seperti orang yang baru menurunkan beban dari dada.
"Gue jadi ngerasa," lanjutnya lebih lirih, "napas gue pendek tiap kali mikirin itu."
Ia menelan ludah.
"Gue pengen… punya ruang buat impian gue sendiri."
Kalimat itu menggantung di udara. Tidak dicari jawabannya.
Bukan karena Rakha tidak menjawab tapi karena untuk pertama kalinya, isi kepala Keenan terdengar jelas tanpa dipaksa siapa pun.
Rakha tetap di sana. Ia menatap meja sebentar, jari-jarinya mengetuk pelan sekali, lalu berkata ringan.
"Kalau lu masih kepikiran buat perjuangin apa yang lu mau…" ia berhenti sepersekian detik, "berarti sebagian diri lu belum nyerah."
Keenan terkekeh kecil. Kali ini lebih pelan. Lebih jujur.
"Lu nyebelin, tau."
Rakha melirik ke arahnya.
"Tapi lu lebih nyebelin."
Keenan menggeser posisi duduknya, bersandar sedikit ke belakang. Bahunya yang tadi kaku kini turun pelan, seperti baru dilepas dari sesuatu yang menekan terlalu lama.
Rakha menangkap perubahan itu tanpa perlu menatap lama.
Ia berdehem kecil, lalu berkata, nadanya tetap santai nyaris seperti bercanda.
"Gue juga bukan siapa-siapa, Keen. Bukan kapten sok sempurna." Ia mengangkat bahu. "Tapi… ya udah. Jalanin aja dulu. Kalau lu mau serius, kita serius bareng."
Tangannya terulur ke tengah meja. Kepalan ringan. Canggung setengah detik.
Keenan menatapnya, jelas terkejut. Lalu ia tertawa kecil, geli.
"Alay lu, Kapten. Geli ah."
Meski begitu, kepalan tangan Keenan tetap menyambut.
Keduanya diam sepersekian detik sebelum tangan itu terlepas dengan sendirinya. Beberapa kursi di dalam warkop mulai kosong.
Satu-dua orang berdiri, membayar, lalu pergi tanpa banyak suara.
Keenan bangkit lebih dulu dan melangkah keluar. Rakha menyusul tanpa berkata apa-apa.
Di luar, mereka bersandar di dinding warkop. Jalanan di depan masih ramai... kendaraan melintas cepat, lampu-lampu menyala satu per satu. Keenan menatap ke arah jalan, bahunya turun sedikit, seolah melepas sesuatu yang sejak tadi ditahan.
"Lu ngapain masih di sini?" katanya akhirnya. "Pulang sana."
Rakha mengangkat bahu tipis. "Belum pengin."
Keenan meliriknya sekilas. Tidak menanggapi. Tidak juga berpindah posisi.
Beberapa menit berlalu begitu saja.
Lalu, hampir bersamaan, mereka mendorong diri dari dinding.
Motor mereka terparkir tak jauh.
Rakha melangkah ke arah motornya lebih dulu. Keenan mengambil helm yang sejak tadi tergantung di setang, lalu memasangkannya di kepala.
"Rumah lu di mana?" tanya Rakha sambil menyalakan mesin.
Keenan sempat menoleh sepersekian detik. Lalu ia menyebutkan alamatnya. Rakha mengangguk. Tidak ada komentar lanjutan.
Dan tanpa perlu aba-aba, mereka bersiap pulang ke rumah masing-masing.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭