Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari cara yang tepat
"Sangat tajam." Selir Yu menyentil ujung anak panah yang masih ada di genggaman tangan Kaisar Xiao Chen.
Pria di sampingnya langsung menatap dingin. "Kau tau jika anak panah akan melesat kearahku?"
Selir Yu mengangguk. "Aku melihat bayangan hitam di atas tembok istana. Jadi aku..."
"Jadi kau gunakan tubuhmu sebagai penghalang anak panah yang akan melesat kearahku!" Kaisar Xiao Chen menambahkan.
Wanita itu melangkah lebih dekat. Tatapan matanya seperti kucing yang ingin di elus pemiliknya. 'Dia sangat mudah di bodohi.' Hatinya di liputi perasaan puas.
Kaisar Xiao Chen tetap tidak memberikan kelembutan. "Panah juga sudah di tembakkan. Kau bisa pergi sekarang." Berjalan menuju meja kerjanya yang berada di samping kanan ruangan.
Sikap dingin pria itu membuat wanita itu memanyunkan bibirnya. Kedua matanya memicing tajam. "Siap dinginnya benar-benar menjengkelkan." Berjalan keluar sembari mendendangkan irama musik yang ia sukai.
"Aaaa... Langit di sini lebih indah. Benar-benar kehidupan yang hanya ada di hayalan." Merenggangkan tubuhnya sembari menatap milyaran bintang di langit malam. Setiap langkah yang ia lakukan membuat dirinya menjadi jauh lebih santai. "Tantangan utama telah terselesaikan. Untuk sementara kematian Selir Yu tertunda. Sebelum keadaan semakin rumit. Aku harus memikirkan cara lain agar bisa keluar dari dunia novel ini. Bagaimana pun caranya."
Membalikkan tubuhnya menatap kearah halaman istana yang sangat megah di belakangnya. "Sekalipun aku harus menjadi sosok karakter Selir Yu. Yang selalu ingin melekat di samping pria kasar itu." Menunjuk kearah istana tempat tinggal Kaisar Xiao Chen.
"Eeehem... Yang Mulia." Suaranya terdengar melambai lembut dengan nada genit.
Detik setelahnya. "Hihii... Tubuhku bahkan mengigil mendengar suaraku sendiri. Cukup menjijikan."
Bulu kuduknya berdiri tegak seperti jarum yang terasa menusuk di kedua telapak tangannya. "Kemana perginya Guyi dan semua pelayan. Sudahlah, aku tidak tahan lagi dengan hawa dingin di tempat ini. Ini terlalu dingin." Selir Yu berlari sekuat tanaga pergi keistananya.
Namun dia tidak tahu, jika semua pelayan wanita yang mengikuti dirinya masih berada di depan aula istana utama.
Pagi tadi di saat Kaisar Xiao Chen membopong Selir Yu pergi. Dia memerintahkan semua pelayan untuk tetap berada di tempat mereka. Dan semua pelayan tentu saja mengikuti perintah yang di berikan kepada mereka. Tidak ada yang berani berpindah tempat sekalipun hanya satu jengkal.
"Pelayan Guyi, kenapa masih saja belum ada perintah dari Yang Mulia."
"Benar. Aku sudah hampir membeku di sini."
Semua pelayan masih berusaha menahan hawa dingin yang semakin menusuk masuk kedalam tulang mereka.
"Tunggu saja. Ini kesempatan emas untuk Selir Yu dapat lebih dekat dengan Yang Mulia. Jangan sampai kita menganggu ketenangan mereka berdua," ujar Pelayan Guyi. "Hhhaa...Cuiuhhh... Hah." Bersin keluar dengan sangat kuat. Sekalipun berusaha menyembunyikannya. Tapi tubuhnya sudah mencapai batasnya.
Jawaban dari pelayan Guyi membuat semua pelayan wanita diam.
"Hahhhh.... Cuiiuuhhh..."
Di ruangan kamar, Selir Yu masih menunggu semua pelayan yang masih tidak terlihat sejak dia keluar dari istana Kaisar Xiao Chen. "Sudah hampir lewat tengah malam. Kemana mereka pergi?" Bangkit dari tempat tidurnya. "Apa pria itu membunuh semua pelayan setia wanita ini." Menatap cemas kearah pintu.
"Di bunuh atau pun tidak. Tidak ada hubungannya denganku." Duduk kembali.
Namun hatinya semakin gelisah. "Ah, iashh... Keadaan di sini terlalu nyata jika sekedar dua dimensi." Bangkit kembali. Selir Yu keluar dari kamarnya setelah mengenakan jubah tebalnya. Baru saja keluar dari halaman kediamannya. Dia langsung menghentikan para prajurit pengawal Kekaisaran yang tengah berjaga malam.
"Selir Yu." Ketua prajurit pengawal Kekaisaran memberikan hormatnya. Di ikuti semua prajurit yang ada di bawah kendalinya. "Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Apa Ketua Pengawal mengetahui keberadaan para pelayan yang selalu ada bersamaku?" Tanya Selir Yu. Berbisik pelan, "Apa Yang Mulia." Tangan kanannya membuat gerakan menyayat di leher. "Membunuh mereka!"
"Semua pelayan anda masih ada di depan aula istana. Atas perintah dari Yang Mulia. Mereka tidak di izinkan meninggalkan tempat itu. Sebelum ada perintah langsung dari Yang Mulia," ujar Ketua prajurit pengawal Kekaisaran memberikan informasi yang ia ketahui.
Mendengar itu Selir Yu cukup terkejut. "Apa dia gila." Sedikit membentak. "Apa Yang Mulia ingin membekukan mereka. Di malam yang dingin seperti ini. Bagaimana mereka dapat bertahan." Kerutan kening terlihat jelas. "Terima kasih." Berlari sekuat tenaga menuju keistana tempat Kaisar Xiao Chen berada.
Tepat di depan pintu masuk kamar. Selir Yu di tahan prajurit pengawal Kekaisaran yang tengah berjaga. "Selir Yu, anda tidak bisa masuk kedalam. Yang Mulia sedang beristirahat."
"Tidak ada waktu untuk menunggu. Katakan kepada Yang Mulia aku ingin bertemu dengannya." Selir Yu yang sudah tidak sabar ingin menerobos masuk kedalam ruangan kamar. "Apa kalian tidak mendengar ucapanku?" Bentaknya kuat.
"Selir Yu, Yang Mulia telah memberikan larangan. Bagi siapapun yang datang mereka tidak akan dapat masuk menemuinya." Prajurit penjaga juga tidak dapat melawan perintah Kaisar yang mutlak adanya.
"Jika aku tidak bisa masuk sampaikan saja pesanku. Aku ingin dia segara mengizinkan semua pelayanku pergi dari pintu masuk aula utama." Kegelisahan wanita itu membuatnya tidak bisa lagi menunggu terlalu lama. "Apa lagi yang kalian tunggu?"
Empat prajurit pengawal Kekaisaran saling berpandangan. Mereka tidak bergeming.
Dengan menekan amarahnya Selir Yu melangkah pergi.
Sedangkan di dalam ruangan kamar. Kaisar Xiao Chen sedang menikmati waktu luangnya. Dia duduk santai di kursi kerjanya dengan segerombol buah anggur hijau ada di meja. Setiap satu lampiran buku cerita ia buka. Satu buah anggur masuk kedalam mulutnya. "Hehehe..." Tertawa girang di saat melihat bagian cerita yang menyenangkan. "Hahahah..."
Kasim kepala berjalan mendekat. "Yang Mulia, Selir Yu meminta bertemu."
"Biarkan saja. Aku sudah cukup malas menanggapinya." Kedua kakinya di naikkan keatas meja. Tubuhnya ia sandarkan ke pembatas kursi. "Hahhaha..." Dia masih tertawa dengan girangnya.
Kasim kepala hanya bisa menghela napasnya. Menatap tidak berdaya.
Dan Selir Yu sendiri tidak benar-benar pergi dari tempat itu.
Di ujung lorong yang gelap. Dia diam menatap kearah obor yang menyala terang. "Mengumpulkan minyak tanah hanya akan menambah waktu yang tidak perlu. Sekalipun aku berhasil membakar kediaman tempat pria narsis itu berada. Aku juga tidak mungkin bisa membakar keseluruhan kediaman yang ia tinggali. Bahkan resikonya terlalu tinggi. Bisa saja aku di tangkap sebelum memulai. Dan di berikan tuduhan pembunuhan." Menyentuh lehernya. "Sama saja aku menggali kuburan ku sendiri."
Pandangan matanya teralihkan kearah pohon persik setinggi atap kediaman. "Hanya ini satu-satunya cara. Meskipun tidak aman tapi memiliki resiko terkecil."
Jubah bulu serigala yang ia kenakan di lepas. Kedua lengan gaunnya di lipat sebatas siku. Dan gaun yang ia kenakan di tali pada bagian bawah. Agar memudahkan dirinya untuk bergerak leluasa seperti keinginannya.
"Selembut apa pun tangan ini. Jika aku yang menggunakannya. Tentu akan jauh lebih berguna," ujarnya sebelum memanjat keatas pohon persik. Setiap pijakan ia lakukan dengan sangat mahir. Di ujung cabang pohon tertinggi, Selir Yu diam memulai aba-aba. "Satu, dua..."
Dia melompat dari batang pohon menuju atap kediaman.
Drakakk...
Dengan cepat wanita itu langsung bersembunyi.
"Ada suara dari atap." Prajurit patroli menyisir setiap ujung atap.
Miauuauu...
Kucing putih melompat turun dari atas atap.
"Aman, hanya kucing."
Semua prajurit patroli kembali menyusuri jalur istana.
Wanita yang sudah berbaring menghadap langit menekan perasaan takutnya. Namun dirinya tidak memiliki banyak waktu lagi.
Pergerakan di lakukan kembali di saat semua telah aman.
"Ini tempatnya." Selir Yu bangkit.
Tepat di atas atap kediaman tempat Kaisar Xiao Chen tinggal. Wanita itu berdiri tegap bersiap untuk melakukan aksinya.
Dree...
Dereee...
Dia terus melompat.
Hingga...
Draaakkkaa...
Breuuummm...
Daaakkkk...
Tubuhnya terjatuh dari atap kediaman itu.
Dengan refleks cepat melebihi otak. Seseorang terlebih dulu melompat dari tempat duduknya naik keatas meja. Sehingga tubuh Selir Yu tidak menghantam barang yang ada di ruangan itu.
Saat sadar Kaisar Xiao Chen menatap terkejut. "Kau mau mati?"
Selir Yu terdiam melihat kedua mata dingin namun tegas.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana